NovelToon NovelToon
FROM FAT WIFE TO APOCALYPSE QUEEN

FROM FAT WIFE TO APOCALYPSE QUEEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat / Fantasi
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: blumoon

Di tahun 2030, hujan darah mengubah dunia menjadi neraka penuh monster.
Yara mati tragis… namun terbangun kembali lima bulan sebelum kiamat di tubuh seorang wanita gemuk bernama Elara Quizel, istri presedir yang tak dicintai.
Dengan bantuan Sistem NOX, ia diberi kesempatan kedua untuk mengubah takdirnya.
Dari wanita yang diremehkan, Elara perlahan bangkit menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh.
Kali ini, ia tak hanya ingin bertahan hidup tetapi menguasai dunia yang akan hancur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 : KEMAMPUAN UNIK

Dunia telah berubah menjadi neraka merah dalam sekejap mata. Dari balik dinding kaca anti peluru yang dilapisi filter pelindung, Elara berdiri diam menatap pemandangan mengerikan di luar. Hujan merah itu tidak hanya sekadar air berwarna; itu adalah cairan kental berbau karat yang membawa kiamat. Segala sesuatu yang bernyawa di bawah langit terbuka manusia, tanaman hias di halaman, hingga burung yang terbang seketika bermutasi menjadi monster yang haus darah.

Untungnya, Elara telah bersikap "kejam" sejak awal. Ia melarang Pak Jaka menanam satu pun benih di kebun luar, dan seluruh hewan ternak yang mereka miliki sudah dipindahkan ke area underground yang kedap udara. Jika tidak, mansion ini mungkin sudah hancur dari dalam oleh mutasi tumbuhan dan hewan ternak mereka sendiri.

Suasana di dalam aula utama mansion terasa sangat berat. Tuan dan Nyonya Quizel masih gemetar di sudut ruangan, sementara tim inti Elara berkumpul di tengah. Namun, ada yang aneh. Sejak pendaran Cahaya Biru itu menyelimuti bumi tiga puluh menit sebelum hujan, tubuh mereka mulai bereaksi secara tidak wajar.

Elara merasakan detak jantungnya sendiri jauh lebih tenang dan tajam, namun matanya tertuju pada orang-orang di sekitarnya. Cahaya itu bukan sekadar pertanda kiamat; itu adalah seleksi alam bagi mereka yang memiliki potensi genetik.

"Leonard, tanganmu..." bisik Elara.

Leonard melihat ke arah kepalan tangannya. Aura biru tipis mengalir di antara otot-otot lengannya. Ia merasa kekuatannya meningkat ratusan kali lipat. Tanpa sadar, ia meremas sandaran kursi dari kayu jati padat, dan kursi itu hancur berkeping-keping seolah hanya terbuat dari biskuit.

[Pemberitahuan Sistem: Target Leonard Quizel telah membangkitkan Kemampuan: "Supreme Warrior" (Petarung Abadi). Kekuatan fisik, daya tahan, dan refleks tempur meningkat ke level maksimal.]

"Aku merasa... aku bisa menghancurkan tembok ini hanya dengan satu pukulan," gumam Leonard, menatap telapak tangannya sendiri dengan takjub.

Tidak hanya Leonard. Dokter Sarah tiba-tiba tersentak. Ia baru saja tidak sengaja menyayat jarinya saat menyiapkan peralatan medis. Namun, bukannya terus mengalir, darah merahnya berpendar keemasan dan luka itu menutup dalam hitungan detik.

"Darahku..." Sarah meneteskan sedikit darahnya ke atas seekor tikus percobaan yang hampir mati di laboratorium kecilnya. Tikus itu seketika melompat segar bugar.

[Kemampuan Sarah: "Vitality Blood" (Penyembuh Abadi). Darahnya adalah obat mujarab yang bisa menyembuhkan luka fatal bagi siapa pun yang meminumnya.]

Di sudut lain, Tobi tiba-tiba menghilang dari pandangan mata. Ia bergerak begitu cepat dari kursi satu ke kursi lainnya hingga hanya menyisakan bayangan kabur.

[Kemampuan Tobi: "Shadow Agility". Kecepatan geraknya melampaui batas mata manusia.]

Bara, si insinyur, sedang memegang sebuah batang besi sisa konstruksi. Di bawah tatapannya yang fokus, besi itu melunak seperti lilin dan berubah bentuk menjadi sebuah pedang tajam dengan desain rumit hanya dalam hitungan detik.

[Kemampuan Bara: "Molecular Reformer". Mampu mengubah bentuk benda padat apa pun sesuai keinginan pikiran.]

Herra, sang ahli senjata yang baru direkrut, tampak paling tenang. Ia memegang sebuah pistol kosong, namun anehnya, pistol itu seolah-olah bernapas di tangannya. Ia bisa merasakan setiap komponen di dalamnya. Dengan hanya menyentuh tumpukan besi tua di dekatnya, ia bisa merakit sebuah senapan mesin tanpa membutuhkan instruksi manual.

[Kemampuan Herra: "Weapon Master". Ahli dalam merakit dan menggunakan segala jenis persenjataan dengan akurasi 100%.]

Terakhir, Pak Jaka yang berada di area Underground Farm berteriak kaget. Sebuah benih jagung yang baru ia letakkan di pot tiba-tiba tumbuh setinggi dua meter dalam hitungan detik setelah ia menyentuhnya. Namun, setelah itu, Pak Jaka langsung jatuh terduduk dengan wajah pucat karena seluruh energinya terkuras habis.

[Kemampuan Jaka: "Rapid Growth". Mampu mempercepat siklus hidup tumbuhan secara instan.]

Elara melihat semua fenomena itu dengan senyum tipis. Sistem benar-benar memberikan ia "kartu as" melalui orang-orang yang ia tolong.

"Dengarkan aku!" suara Elara memecah ketakjuban mereka. "Cahaya biru tadi adalah evolusi. Kalian adalah orang-orang terpilih. Tapi ingat, di luar sana, monster-monster yang terkena hujan darah juga berevolusi menjadi lebih kuat dan lebih cepat dari zombie biasa."

Elara berjalan mendekati Leonard, membelai wajah suaminya yang kini memiliki aura jauh lebih mengintimidasi. "Leonard, kamu adalah garis pertahanan pertama kita. Sarah, stok darahmu dalam botol steril mulai sekarang; itu adalah nyawa cadangan bagi tim kita. Bara, buatkan senjata dari logam terkuat untuk Leonard dan Tobi. Herra, bantu Bara memodifikasi senjata api kita agar bisa menembus kulit monster yang mungkin akan mengeras."

Herra mengangguk mantap. "Serahkan padaku, Nyonya. Aku akan membuat senjata yang bahkan setan pun takut melihatnya."

"Dan Pak Jaka," Elara menatap monitor farm di bawah. "Gunakan kemampuanmu hanya untuk tanaman pangan medis dan sayuran berenergi tinggi. Kita butuh pasokan nutrisi yang tidak biasa untuk menopang kemampuan kalian."

Tiba-tiba, Tobi yang berada di depan layar monitor pengawas berteriak. "Nyonya! Ada pergerakan di gerbang utama!"

Layar menampilkan kerumunan makhluk yang tadinya adalah warga komplek mewah. Namun kini, kulit mereka berwarna merah gelap, kuku mereka memanjang, dan mata mereka bersinar kuning kelaparan. Hujan darah masih turun dengan deras, membasahi tubuh mereka yang terus bermutasi.

Salah satu dari mereka, yang tampaknya dulu adalah tetangga kaya yang selalu menghina Elara, tiba-tiba melompat setinggi tiga meter dan menghantam gerbang listrik mansion.

BZZZZTTT!

Suara sengatan listrik berkekuatan tinggi menggema, namun makhluk itu tidak mati. Ia hanya terpental dan segera bangkit kembali dengan raungan yang lebih keras.

"Gerbang listriknya tidak membunuh mereka!" seru Arkan panik.

"Tentu saja tidak," sahut Elara dingin sambil meraih busur panah modern yang tergeletak di meja. "Listrik hanya akan membuat mereka semakin marah. Mereka butuh serangan langsung ke otak."

Elara menatap Leonard. "Sayang, mau mencoba kekuatan barumu?"

Leonard menyeringai, sebuah ekspresi haus darah yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ia mengambil pedang hitam besar yang baru saja dibentuk oleh Bara. "Dengan senang hati, Elara."

"Tobi, gunakan kecepatan mu untuk membuka gerbang kecil dan memancing mereka satu per satu. Herra, siapkan posisi sniping dari balkon lantai dua. Bara, Sarah... kalian tetap di sini dan siapkan tim medis jika ada yang terluka," perintah Elara dengan taktis.

Ia menoleh ke arah orang tua Leonard yang masih ketakutan. "Ayah, Ibu, masuklah ke bunker terdalam bersama Mira. Jangan keluar sampai aku yang memanggil. Dunia yang kalian kenal sudah berakhir. Sekarang, saatnya kami yang berkuasa."

Malam itu, di tengah hujan darah yang mencekam, gerbang Mansion Quizel terbuka sedikit. Perang pertama antara manusia super dan mutan darah dimulai. Elara berdiri di garis belakang, matanya berkilat biru sebuah tanda bahwa sistem miliknya pun sedang berevolusi ke tingkat yang tak terbayangkan.

Kekacauan di depan gerbang mansion baru saja dimulai, namun di dalam ruangan, kejutan belum berakhir. Saat Leonard bersiap di depan pintu baja, Arkan yang tadinya tampak pucat pasi tiba-tiba merasa telapak tangannya panas membara. Secara tidak sengaja, ia menyentuh lengan Leonard saat hendak memberikan sarung tangan taktis.

Tiba-tiba, di depan mata Arkan muncul deretan teks transparan yang melayang di atas kepala Leonard.

> Target: Leonard Quizel

> Status: Awakened (Supreme Warrior)

> Kekuatan:SSS

> Kelemahan: Elara Quizel (Mental), Serangan Mental (Fisik)

Arkan terbelalak dan langsung menarik tangannya. "Tuan... Tuan Muda! Saya... saya bisa melihat sesuatu!"

Elara yang sedang mengawasi monitor langsung menoleh. "Apa yang kamu lihat, Arkan?"

"Informasi, Nyonya! Saat saya menyentuh Tuan Muda, semua datanya muncul di kepala saya. Statusnya, kekuatannya, bahkan kelemahannya!" seru Arkan dengan napas memburu.

[Pemberitahuan Sistem: Arkan telah membangkitkan Kemampuan: "The Analyst" (Tipe Pendukung). Mampu membaca informasi target secara mendetail melalui sentuhan fisik, sekecil apa pun kontak tersebut.]

Elara menyeringai puas. "Luar biasa! Arkan, kamu adalah mata-mata terbaik kita sekarang. Di medan perang nanti, kamu bisa mengetahui titik lemah monster hanya dengan menyentuh ujung kuku atau bulu mereka. Ini adalah kemampuan pendukung tingkat tinggi!"

Di sisi lain mansion, tepatnya di area dapur yang terisolasi, Mira sedang berjuang menenangkan diri. Di tengah kepanikan karena hujan darah, ia mencoba memasak makanan untuk orang tua Leonard yang mulai kelaparan karena stres. Namun, karena pasokan sayuran segar di kulkas atas mulai terbatas dan ia tidak ingin mengambil stok dari kebun bawah tanah milik Pak Jaka tanpa izin, Mira terpaksa menggunakan bahan-bahan seadanya: akar-akaran sisa, sayuran kering, dan bumbu yang sudah hampir kedaluwarsa.

Anehnya, saat Mira mulai memotong dan mengaduk, tangannya seolah bergerak sendiri dengan ritme yang sangat indah. Aroma yang keluar dari panci itu begitu menggoda, bahkan lebih harum dari masakan restoran bintang lima yang pernah ia buat sebelumnya.

"Nyonya Besar, Tuan Besar... silakan makan dulu," ujar Mira sambil menyajikan sup bening sederhana.

Tuan Quizel yang tadinya marah-marah, seketika terdiam saat mencicipi satu sendok. Matanya membelalak. Rasa sup itu tidak masuk akal sangat lezat, gurih, dan seketika memberikan energi yang membuat rasa takutnya berkurang.

[Pemberitahuan Sistem: Mira telah membangkitkan Kemampuan: "God’s Chef". Mampu mengubah bahan apa pun bahkan yang tidak layak makan sekalipun menjadi hidangan lezat yang memiliki efek pemulihan energi dan mental bagi yang memakannya.]

"Mira... ini enak sekali. Bagaimana kamu bisa membuat masakan seperti ini dari dapur yang hampir kosong?" tanya Nyonya Quizel dengan tangan gemetar.

Mira hanya tersenyum tipis, ia sendiri tidak mengerti. Namun, ia merasa jauh lebih berguna sekarang. "Mungkin ini cara saya menjaga kalian, Nyonya."

Melihat semua orang di sekitar mereka mendapatkan kemampuan ajaib, Tuan dan Nyonya Quizel mulai merasa terasing. Mereka mencoba berkonsentrasi, memohon pada langit agar cahaya biru tadi juga memberikan mereka kekuatan. Namun, setelah berjam-jam, tubuh mereka tetap terasa seperti manusia biasa lemah, lambat, dan rapuh.

"Kenapa hanya kita yang tidak dapat apa-apa?" gumam Tuan Quizel dengan nada pahit. "Bahkan pelayan dan asisten pun jadi orang super. Sedangkan aku, pemilik Quizel Group... tidak punya apa-apa."

Nyonya Quizel menatap Elara dengan tatapan iri yang dalam. "Ini tidak adil. Elara, pasti kamu tahu cara mendapatkan kekuatan itu, kan? Berikan pada kami!"

Elara menoleh dengan tatapan dingin yang belum pernah dilihat mertuanya sebelumnya. "Kekuatan bukan barang dagangan yang bisa aku berikan, Ibu. Cahaya biru itu memilih berdasarkan potensi genetik dan kemauan untuk bertahan hidup. Jika kalian tidak mendapatkannya, itu artinya tugas kalian sekarang hanyalah satu: Tetap di dalam dan jangan membuat masalah."

Kalimat Elara terdengar sangat otoriter. Di dunia kiamat ini, status sosial sebagai "pemilik perusahaan" sudah tidak berlaku. Sekarang, kasta ditentukan oleh kegunaan di medan perang.

🧟‍♀️🧟‍♀️🧟‍♀️

"Tobi, sekarang!" teriak Elara melalui intercom.

Pintu kecil di gerbang utama terbuka. Tobi bergerak secepat kilat, keluar dan menarik perhatian tiga mutan darah yang sedang mencakar-cakar pagar. Dengan kecepatannya, Tobi berputar-putar membuat mutan itu pusing.

"Arkan, bersiap!" perintah Elara.

Arkan, yang sudah memakai perlengkapan pelindung, berlari kecil di belakang Leonard. Saat salah satu mutan berhasil dipojokkan oleh tendangan kuat Leonard, Arkan dengan berani maju dan menyentuh ujung kuku mutan yang tajam itu sebelum makhluk itu sempat menyerang balik.

Zing!

"Target mutan tipe pengejar! Titik lemahnya ada di lubang telinga sebelah kiri! Kulit lehernya terlalu keras untuk pedang biasa, Tuan muda!" teriak Arkan dengan cepat.

Mendengar informasi itu, Leonard tidak membuang waktu. Ia mengayunkan pedang hitam raksasanya bukan ke leher, melainkan menusukkannya tepat ke arah lubang telinga mutan tersebut.

CRAAAKKK!

Mutan itu meraung dan seketika roboh, hancur menjadi tumpukan daging busuk yang membeku.

"Berhasil!" seru Tobi dari kejauhan.

Dari balkon atas, Herra yang sudah merakit senapan sniper dengan peluru modifikasi tembaga mulai beraksi. Ia membidik dua mutan lainnya yang mencoba mengepung Arkan.

DOR! DOR!

Dua peluru menembus mata mutan dengan akurasi yang tidak masuk akal. Kepala mereka meledak seperti melon jatuh.

Setelah membersihkan gelombang pertama mutan di gerbang, mereka kembali masuk ke dalam mansion. Kelelahan mulai terasa, terutama bagi Pak Jaka yang energinya paling cepat habis karena memacu pertumbuhan obat-obatan.

"Semuanya, makanlah," suara Mira menyambut mereka di ruang makan.

Di atas meja sudah tersedia hidangan yang mengepul. Meskipun hanya dibuat dari stok daging kaleng dan sayuran layu, rasanya benar-benar membangkitkan selera. Begitu Leonard dan yang lainnya makan, mereka merasakan kelelahan mereka menguap. Luka gores kecil di tangan Arkan langsung menutup berkat efek masakan Mira yang dikombinasikan dengan sedikit darah Sarah dalam sup tersebut.

Elara berdiri di ujung meja, menatap tim impiannya.

"Kita punya petarung terkuat, penyembuh, analis data, pengrajin senjata, insinyur, penyedia pangan, dan koki terbaik. Tim ini... adalah awal dari kekaisaran baru kita," ujar Elara dengan bangga.

Ia menoleh ke arah Leonard yang duduk di sampingnya. "Leonard, besok hujan darah mungkin akan berhenti, tapi kekacauan yang sebenarnya akan dimulai saat orang-orang yang selamat mulai kelaparan dan saling membunuh. Kita harus mulai memperluas area aman."

Leonard menggenggam tangan Elara, tangannya yang sekarang penuh energi "Supreme Warrior" terasa hangat. "Apapun perintahmu, sayang, Aku dan tim ini adalah milikmu."

Di luar sana, suara raungan monster masih terdengar bersahutan dengan bunyi hujan merah yang tak kunjung reda. Namun di dalam Mansion Quizel, harapan baru telah lahir. Elara, dengan berat badan 40kg namun otoritas seberat gunung, telah berhasil membalikkan takdir tragisnya menjadi sebuah kejayaan kiamat yang elegan.

[Progres Hubungan Global: Tim Inti Loyalitas 100%.]

[Misi Baru: 'Ekspedisi Penyelamatan Logistik Kota' Dimulai!]

[Hadiah: Peningkatan Level Infinite Storage & Skill Pasif 'Telepati Kelompok'.]

'Rachel... Tuan Wijaya... aku ingin tahu, apakah kalian masih hidup untuk melihat betapa indahnya duniaku sekarang?' batin Elara sambil tersenyum tipis, menyesap teh hangat buatan Mira.

Bersambung 🧟‍♀️🧟‍♀️🧟‍♀️

1
Mingyu gf😘
sekarang leonard bner bner bucin ya🤭
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
Ela semangat yok bisa berubah yok. ntar kalo udh proporsional bakal byk cowok ngantri pgn jd bucinmu
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mampir kak
Mega Siregar
penasaran, jika jiwanya telah berpindah ke tubuh orang lain, tubuh yara mana ya??
Xlyzy: musnah kah entitas Yara di musnahkan hanya jiwa nya yang di selamatkan sama sistem
total 1 replies
PrettyDuck
setelah ini kalian akan jadi power couple yang melawan akhir zaman /Angry/
PrettyDuck
emang dasar gak pernah puas
PrettyDuck
apa gak makin klepek2 leo ☺️
Three Flowers
baguslah kalo kamu menyadari bahwa apa yang diomongin Elara selalu benar
Three Flowers
padahal Rachel sendiri yang berulah
Three Flowers
serius sudah dikecup? padahal belum maksimal nurunin BB nya🤣
Three Flowers
bonusnya sungguh menggiurkan
Three Flowers
senjata makan tuan ini namanya, Rachel😅
Miu.Nuha
wkwkwk demi kembali menjadi prajurit 🤭 semangat Yara !!!
Miu.Nuha
ini ternyata game toh 😪 ,, syukurlah yara bisa dpt tubuh baru jadi gk mati beneran, hehe...
Filan
elara tinggi berapa sih beratnya cuma 40 doang.
Filan
kalau dulu zombie sekarang mutan.
Rangiku Gin
semangat thorr, sehat selalu yaa 💪🏻😎
nabung chapter dulu untuk yang next 🥰🙏🏻
Rangiku Gin
terlalu cheat langsung ke 15 wkwkw 😂🤭
menarik thorr, lanjutkan 😈🔥
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
kayak gini benar-benar dokter 🥹🥹
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
jangan percaya, itu omongan buaya saja 🤪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!