"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.
Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.
Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.
"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Diandra menurut lah saya tidak akan berbuat macam-macam, apa kamu tidak percaya dengan saya setelah dulu kita pernah tinggal bersama selama hampir empat bulan lamanya," ucap Alex yang kini menatap lekat mata indah itu.
Dian pun akhirnya hanya bisa menuruti keinginan Alex karena tidak ingin membuat pria itu tersinggung.
"Bicaralah tuan,"ucap Diandra setelah keduanya berada di dalam kamar yang sangat mewah tersebut.
"Tidak sekarang, mandilah dulu, bersih-bersih setelah itu temani saya makan malam dan kita akan bicara sambil makan. Jangan khawatir semua perlengkapan mu ada disana"ucap Alex yang kini menujuk kearah ranjang.
Diandra pun tak bisa protes lagi, dia tau disini dia tidak akan pernah menang, ini tempat Alex, dan Diandra adalah tamu.
Sementara Alex langsung pergi ke luar, dia meminta pelayan menyiapkan makan malam untuk tamunya yang ada dibawah, dan untuk tamu spesial nya yang ada di lantai atas bersamanya.
Tidak sampai satu jam, Diandra sudah selesai mandi dan berpakaian, kali ini dia menatap dirinya di cermin saat menggunakan pakaian yang tidak biasa ia gunakan, yaitu dress selutut berwarna putih lengan pendek.
Dia terpaksa menggunakan itu agar Alex tidak tersinggung, anggap saja dia sedang menggunakan daster milik almarhum ibunya meskipun sungguh jauh berbeda.
"Sudah selesai,"ucap Alex yang kini terdiam di tempatnya saat melihat Dian dengan apa yang dia kenakan dan rambut yang terurai panjang sebahu.
"Sudah,"lirih Dian.
"Ayo ikut saya ,makan malam sebentar lagi siap."ucap Alex yang kini berjalan lebih dulu.
"Tuan dimana keluarga anda, kenapa rumah ini tampak sepi? Maaf jika saya lancang"ucap Dian yang kini terlihat merasa bersalah.
"Keluarga besar saya tinggal di rumah utama, ini rumah peninggalan kakek saya. Yang saat itu bertemu dengan mu... Dia meninggal lebih dulu dari Anggun"ucap Alex yang kini membuat Dian terlihat shock.
"A apa meninggal?"ujar Dian yang kini menghentikan langkahnya.
"Ya, dia meninggal saat melahirkan, Anggun mengalami pendarahan hebat dan anak kami kini dirawat oleh saya di rumah pribadi saya"ucap Alex.
"Saya turut berdukacita atas kepergian mereka berdua"ucap Dian dengan lembut.
"Terimakasih, ah sudah sampai ayo duduklah"ucap Alex yang kini menarik kursi untuk Dian yang hanya bisa patuh.
"Kamu sangat cantik Di, aku sampai pangling karena kamu semakin cantik dengan potongan rambut mu"ucap Alex sambil tersenyum manis.
" Terimakasih tuan, saya rasa anda terlalu berlebihan."balas Dian.
"Saya serius Diandra, kamu sangat cantik dan aku masih sangat mengagumi mu sampai saat ini"ucap Alex yang kini membuat Dian menatap kearah Alex sampai beberapa detik sebelum akhirnya ia menundukkan pandangannya.
"Maaf Diandra, sejak kepulangan ku kesini aku tidak bisa menjenguk mu disana. Pasti semua sangat sulit bagimu dan aku hanya bisa menahan diri untuk tidak membuat mu berada dalam bahaya"ucap Alex yang kini membuat Diandra kembali menatap kearah Alex.
"Saya baik-baik saja tuan, anda tidak perlu khawatir. Oh iya maaf uang itu saya kembalikan karena saya tidak ingin anda mengalami kerugian. anda sudah terlalu banyak membantu saya setelah ayah pergi, saya sangat berterimakasih"ucap Diandra.
"Saya pikir kamu melakukan itu karena selama ini kamu membenci saya. Diandra uang itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan pengorbanan mu selama saya berada di sana bersama dengan kalian. seharusnya kamu menerima itu karena saya benar-benar ikhlas ingin membalas kebaikan mu dan pak Hasan."ucap Alex.
"Tidak tuan, saya dan ayah ikhlas membantu anda tanpa berharap balasan apapun."ucap Dian tulus.
"Saya tahu itu Diandra, tapi saya juga ingin melihat mu hidup dengan baik setelah kepergian saya saat itu"ucap Alex.
"Saya sudah hidup dengan baik tuan, terimakasih atas perhatian anda"ucap Dian lagi.
"Diandra, apa kamu sudah memiliki calon suami atau orang terdekat saat ini,"ucap Alex lagi.
"Tidak tuan, saya tidak punya waktu untuk itu,"ucap Diandra.
"Masih seperti yang aku duga, kenapa kamu masih melakukan pekerjaan berat seperti ini Dian, ingat apa yang ayah mu inginkan?"ucap Alex yang kini menggenggam tangan kiri Dian yang akhirnya Dian lepaskan secara perlahan.
"Saya tidak lupa dengan itu tuan, tapi saya tidak bisa mewujudkan mimpi ayah karena saya tidak berpendidikan tinggi. Saya yakin ayah tau bahwa saya sudah berjuang dan apapun yang saya kerjakan selama ini yang terpenting tidak merugikan orang lain dan saya juga tidak mengemis dijalan, itu sudah jauh lebih baik bagi saya"ucap Dian yang kini melirik dan mengangguk pelan pada para pelayan sebagai tanda hormat nya pada yang lebih tua.
"Makanlah,"ucap Alex yang kini mulai memotong steak Wagyu, sementara gadis yang ada di sampingnya itu malah terdiam sambil menatap lekat kearah aneka hidangan yang ada di hadapannya.
"Kenapa, apa tidak suka dengan menu yang ada? Saya bisa minta mereka menggantikan nya"ucap Alex.
" Tidak tuan, saya hanya teringat dengan teman-teman saya disana mereka juga belum makan malam"ucap Dian yang kini membuat Alex tersenyum manis.
"Lihat ini,"ucap Alex saat menyodorkan handphone nya pada Dian yang kini tengah menunjukkan teman-temannya tengah berpesta pora dengan hidangan lezat yang tengah ia nikmati.
Dian pun tersenyum kecil dan itu membuat Alex semakin mengagumi nya. Gadis cantik itu tidak hanya cantik dari luar tapi juga dari dalam. Diandra pun akhirnya mengambil menu yang sama dengan Alex dan dia mulai memotong daging super mahal itu dan itu juga membuat Alex mengagumi Dian, meskipun Dian gadis desa, tapi dia bisa menempatkan diri dimanapun terutama cara dia makan saat ini benar-benar seperti wanita berkelas meskipun dia tidak berpendidikan tinggi dan mungkin tidak pernah memakan makanan tersebut.
"Mau tinggal disini?"tanya Alex yang kini membuat Dian menghentikan suapannya.
"Tidak terimakasih tuan, saya tidak mungkin terlalu lama meninggalkan rumah"ucap Dian yang kini membuat Alex mengangguk paham.
"Diandra,"ucap Alex yang kini kembali menghentikan pergerakan tangan Diandra.
Gadis cantik itu menatap kearah Alex yang kini juga menatap kearahnya.
"Menikahlah denganku?"ucap Alex dengan lembut.
"Hm... Tuan, bercanda anda tidak lucu...."ucap Dian yang kini kembali menyuapkan makanan nya.
"Apa kamu masih mencintainya?"tanya Alex yang kini mengingatkan Dian pada mantan kekasihnya itu.
"Apa saya terlihat seperti itu tuan?"ucap Dian yang kini membuat Alex menatap lekat wajah cantik itu.
"Tapi itu faktanya, kamu bahkan tidak pernah menjalin hubungan dengan laki-laki lain dan bahkan menolak lamaran saya. Apa namanya jika belum bisa move on"ucap Alex.
"Saya hanya sadar diri tuan, siapa saya dan siapa anda. Jangankan anda yang sangat berbeda dengan saya, orang kampung seperti saya pun tidak ada yang menginginkan wanita tukang kuli seperti saya"ucap Diandra.
"Tapi saya sangat mencintai mu Diandra.
...*****...
Obrolan mereka berdua pun berakhir, Dian tetap dengan pendiriannya menolak lamaran Alex, Dian bahkan menolak saat Alex meminta Dian untuk tinggal di rumah itu.
Dian memutuskan untuk kembali ke desa malam itu juga, tapi saat dia tiba di bawah teman-temannya ternyata sudah meninggalkan nya disana.
Dian sempat mencoba menghubungi Afandi tapi handphone nya tidak aktif, Dian yang kini sudah menggunakan Hoodie dan celana jeans nya pun, sudah membawa tas lusuh nya hendak berangkat menuju terminal bus yang cukup jauh dari perumahan elit tersebut.
Alex yang melihat itu pun langsung meraih jas blazer nya dan bergegas menuju mobil.
Diandra bahkan tidak berpamitan padanya setelah makan malam itu berakhir, Alex pikir dia akan menuruti permintaannya tapi nyatanya gadis cantik itu tetap ngotot untuk kembali ke kampung halamannya.
"Masuklah, aku akan mengantarmu"ucap Alex.
"Tidak tuan, saya bisa sendiri anda istirahat lah"ucap Dian.
"Diandra sekali saja kamu turuti permintaan saya bisa kan?"ucap Alex yang kini terlihat marah dari caranya bicara.
Diandra pun menghela nafas panjang dan akhirnya mengalah masuk kedalam mobil mewah tersebut.
"Gunakan sabuk pengaman mu"ucap Alex lagi.
"Tidak perlu tuan, lagipula haya sampai halte bus saja"ucap Dian.
"Siapa yang bilang?"ujar Alex yang kini membuat Diandra hanya bisa menuruti keinginan pria itu.
Alex yang saat ini sungguh jauh berbeda dengan Alex yang tinggal bersamanya dulu, itulah kenapa Dian hanya bisa pasrah mengikuti perintah pria yang kini memasangkan sabuk pengaman di tubuh nya.
"Saya bisa pulang sendiri dengan bus tuan,"ucap Dian.
"Diandra apa saya begitu asing untuk mu hingga kamu tidak bisa berada di sisiku"ucap Alex yang kini malah mematikan mesin mobilnya.
"Tuan, saya hanya tidak ingin merepotkan Anda, saya juga tidak ingin terjadi sesuatu pada anda, perjalanan sangat jauh saya tidak ingin karena saya anda kelelahan nantinya"ucap gadis cantik itu.
"Kalau begitu tunggu sampai besok pagi baru kamu bisa pulang sendiri"ucap Alex yang dibalas gelengan kepala oleh Diandra.
"Besok satu tahun kepergian ayah saya harus menyiapkan semuanya, jadi biar saya pulang sendiri saja"ucap Diandra.
"Dian, kenapa kamu tidak pernah memberitahu ku tentang itu"ucap Alex yang kini bangkit dari duduknya dan keluar dari dalam mobil dan berjalan cepat menuju lobby rumah megah itu.
"Tuan anda jauh lebih asing bagi saya saat ini, dan dunia kita terlihat jelas sangat berbeda, semoga anda bisa mendapatkan pengganti istri anda secepatnya dan berbahagia dengan nya..."lirih Dian yang kini menghembuskan nafasnya keatas poninya.
Sementara Alex saat ini tengah memasukkan barang-barang pribadi nya kedalam koper, rencananya dia akan tinggal di desa bersama Dian untuk sementara waktu hingga ia putuskan untuk kembali nanti.
Setelah semuanya siap dia pun langsung bergegas pergi menuju mobilnya dimana Dian hampir saja pergi karena terlalu lama menunggu tanpa kepastian.
"Diandra kembali ke mobil,"ucap Alex tegas.
"Saya pergi sendiri saja tuan, lagipula sebentar lagi bus akan lewat,"ucap Diandra yang kini menolak permintaan Alex.
" Diandra masuk atau aku tidak akan pernah membiarkan mu kembali pulang?"ancam Alex yang kini membuat Diandra menurut dan masuk kedalam mobil setelah Alex memasukkan koper miliknya dia pun bergegas menutup pintu dan Diandra terlihat diam sambil menatap kearah jendela mobil yang kini mulai melaju.
"Istirahat lah, aku tau kamu belum istirahat sejak pagi bukan?"ucap Alex yang kini membuat jok yang ditempati oleh Dian menjadi rebahan.
Dian pun hanya bisa menuruti keinginan pria itu, lagipula dia juga merasa lelah dan mengantuk Dian menutup wajahnya dengan kain syal yang ia gunakan.
"Jangan ditutup nanti kamu sesak nafas"ucap Alex.
Dian tidak menuruti kata-kata Alex yang satu itu, tapi kemudian tangan kekar itu merebut syal yang digunakan oleh Dian untuk menutupi wajahnya.
Gadis cantik itu hanya bisa menghela nafas berat kemudian memalingkan wajahnya dan lanjut tidur sementara Alex hanya geleng-geleng kepala.
Duda tampan itu pun kembali fokus pada jalanan sambil sesekali melirik gadis cantik yang tertidur pulas dan terlihat begitu tenang. dua jam sudah Alex mengemudi, dia menghentikan mobilnya di sebuah mini market. Tempat itu masih sama seperti satu tahun lalu dimana Dian mencoba memberi dia makanan terbaik termasuk minum untuk Alex yang saat itu ikut ekspedisi mereka.
Di tempat itu tepatnya di toilet umum yang kini Alex sambangi dia hampir saja mencium paksa Dian karena cemburu pada kedekatan Dian dan Afandi saat itu.
Alex pun tersenyum sambil kembali berjalan menuju mobil dengan dua kantong keresek belanjaan nya itu.
Dian pun terjaga saat Alex menutup pintu mobilnya. Dia menatap kearah Alex yang kini tersenyum padanya.
"Pemberhentian terakhir nona"ucap Alex yang kini membuat Dian langsung bangkit dari rebahan nya.
"Bisa berhenti sebentar, saya ketinggalan barang pribadi disini"ucap Dian.
"Hm... Jangan terlalu lama,"ucap Alex yang kini ikut turun karena khawatir dengan Dian saat tengah malam begini.
"Tuan masuk saja, tidak baik angin malam"ucap Dian sambil berjalan menuju warung makan di samping super market tersebut.
Namun Alex tetap berdiri di samping mobil sambil menatap kearah Dian yang kini berbicara dengan pemilik rumah makan yang seperti sedang terburu-buru untuk tutup.
"Ah baiklah terimakasih,"ucap Dian yang terdengar samar-samar sambil mengambil sesuatu dari dalam sana.
Diandra pun kembali ke hadapan Alex yang kini menatap meminta jawaban atas apa yang ada di tangan Dian.
"Ini rendang kesukaan ayah, saya tidak sempat buat, itulah kenapa saya pesan disini kemarin siang"ucap Dian yang kini membuat Alex terdiam.
"Tuan apa mau lanjut atau kembali saja mumpung masih seperempat jalan, biar saya menunggu bis disini"ucap Diandra yang kini melirik kearah Alex yang masih terdiam di tempatnya.
"Apa yang kamu katakan, gunakan sabuk pengaman nya,"ucap Alex terdengar kesal.
"Hm... Sekarang giliran saya yang mengemudi anda yang istirahat, tenang saja mobil anda akan selamat "ucap Diandra.
"Diandra kamu sudah lelah seharian mengemudi, dan aku tau itu tidak mudah jadi sekarang istirahat, jika mau temani aku saja.