Ketika cinta harus dipisahkan oleh perjodohan orangtua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terus terang
"Kamu gak berniat balik ke kamar? nanti mama nyariin loh?" tanya Leya.
Hari sudah menginjak hampir tengah malam. Angkasa sudah lebih dari 3 jam ada di dalam kamar Leya. Namun pria itu sepertinya masih tidak berniat untuk keluar dari kamar kekasihnya.
"Kamu ngusir Mas, sayang?" Angkasa merajuk, ia membenamkan wajahnya di permukaan perut rata Harleya.
"Bukan begitu!" Leya tersenyum, lucu melihat sikap manja pria dewasa itu. "Aku gak mau buat yang lainnya curiga. Inikan malam pertama kamu sama Mama!" Leya sendiri yang mengatakannya, tapi ia pula yang panas membayangkan hal yang tidak-tidak.
Angkasa bangkit, membawa tubuh kekasihnya agar bersandar di dadanya. "Jangan berfikiran yang tidak-tidak!" Angkasa mencolek hidung mancung Leya yang cemberut.
"Memangnya aku salah? inikan memang malam pertama kamu sama Mama!" ketus Leya, langsung memunggungi Angkasa.
Senyum Angkasa merekah. Inilah serunya menjalin hubungan dengan gadis yang usianya jauh dibawahnya. Labil. Kadang bisa bersikap dewasa, kadang manja, kadang lucu, tapi lebih sering cemburu gak jelas, dan marah untuk hal yang tidak tahu alasannya.
Tetapi meskipun begitu, ia tetap cinta.
"Sudah dong marahnya? Bagaimana kalau kita aja yang malam pertama?" goda Angkasa, menaik turunkan kedua alisnya.
"Jangan macam-macam!" sentak Leya, menutup dadanya pakai kedua tangan.
"Mas hanya bercanda. Kamu tahukan dari awal kita pacaran Mas udah bilang... kalau Mas gak akan pernah maksa kamu. Mas akan tunggu sampai kamu sendiri yang mau melakukanya!" jelas Angkasa.
Leya merona, inilah salah satu alasan yang membuat hubungan mereka awet bertahun-tahun. Angkasa bukan hanya cinta, tapi ia juga sangat menghargai Leya. Apapun yang ia inginkan pasti akan bertanya lebih dulu pada kekasihnya. Jika Leya menolak, ia akan terima dan tetap bersabar.
Seperti saat ini... sudah sejak lama ia ingin merasakan lebih dari sekedar ciuman. Namun karena Leya yang terus menolak, maka Angkasa tidak pernah berani berbuat lebih. Contohnya malam ini, sejak tadi mereka berdua ada di dalam kamar. Tetapi tidak ada hal apapun yang terjadi. Sejak tadi mereka hanya mengobrol, bermesraan, bercanda dengan sesekali diselingi ciuman panas.
"Terima kasih ya Mas, kamu selalu ngertiin aku?" Leya kembali bersandar di dada Angkasa yang nyaman.
"Sama-sama sayang. Apapun akan Mas lakukan untuk kamu! asalkan kamu tetap berada di sisi Mas!" sahutnya.
Karena sudah terlalu lama dan takut yang lainnya curiga. Angkasa dengan berat hati keluar dari kamar kekasihnya.
"Mas balik ke kamar dulu ya sayang?" Angkasa mencium kening Leya dengan lembut.
"Iya! Ingat ya mas jangan pernah sentuh Mama aku! kalau Mas melanggar... Aku bakal balas tidur sama pria lain!" ancam Leya.
"Jangan buat aku menggila sayang!" baru sekedar ancaman saja, Angkasa sudah merasakan panas yang menjalar di dada.
"Makanya Mas jangan macam-macam!" lanjut Leya lagi.
Angkasa mengangguk. Ia patuh, sangat patuh dengan perkataan Leya. Di dunia ini... tidak ada satupun orang yang bisa mengendalikan dirinya. Kecuali... Harleya Putri Calista.
Setelah berpamitan dengan beberapa ciuman panas yang buat bibir bengkak. Angkasa mulai membuka pintu kamar. Ia mengeluarkan kepala, melihat keadaan sekitar, lalu setelah aman ia pun melesat keluar dengan cepat.
Ia melangkah santai, menuju ke kamarnya bersama Sukma yang ada di lantai yang sama.
"Kamu darimana saja Angkasa?" tanya Sukma, sejak tadi mencari suaminya yang tiba-tiba menghilang.
"Dari balkon!" jawab Angkasa temang. Sangat tenang hingga tidak menimba kecurigaan Sukma.
"Oh pantas saja aku cariin gak ketemu. Oh iya aku bawain kamu makanan ke kamar, kamu tadi makan cuma sedikit!" Sukma meraih tangan Angkasa. Tetapi ia langsung melepasnya.
"Bawa turun aja, aku gak laper!" jawabnya.
Angkasa lanjut ke kamar, diikuti Sukma di belakangnya. Meski mereka pasangan suami istri yang sah. Tetapi Angkasa tidak bisa membohongi perasaannya, jika ia sama sekali tidak menemukan kenyamanan... seperti saat ia sedang bersama Harleya. Yang ia rasakan saat bersama Sukma hanya sebatas saling menghargai saja, tidak lebih.
"Kamu mau apa?" tanya Sukma, saat melihat Angkasa mengambil bantal dan selimut dari ranjang.
"Aku tidur di sofa!" jawab Angkasa. Menata bantal di sofa, mencari posisi nyaman untuk tidur.
Wajah Sukma terlihat kecewa. "Kenapa tidak di ranjang saja? kita kan suami istri?" meski awalnya Sukma menolak perjodohan gila itu. Tetapi setelah penemuan dua keluarga, Suka mulai bisa menerima Angkasa. Apalagi berdasarkan informasi yang ia dapatkan, Angkasa bukan tipe pria nakal yang suka menggoda wanita.
Angkasa yang baru saja berbaring terpaksa kembali duduk. Sepertinya, ia harus menjelaskan semuanya. "Sebelumnya aku minta maaf jika apa yang akan aku ucapkan nangi menyakiti kamu. Tapi aku lebih baik jujur dari awal, agar kamu tidak menaruh harapan lebih padaku. Karena aku sudah punya kekasih yang aku cintai dan berencana untuk menikahinya setelah kita bercerai nanti!"
"Kekasih? Bercerai?" Sukma syok mendengarnya.
Angkasa mengangguk. "Ya, aku sudah punya kekasih yang menemaniku selama 4 tahun!"
Sukma terdiam. Ternyata informasi yang ia dapatkan jika Angkasa punya kekasih itu benar.
"Tapi kita susah menikah Angkasa! sudah seharusnya kita buka lembaran yang baru." Sukma tidak ingin berbohong, jika ia punya sedikit harapan dalam pernikahan keduanya kali ini.
"Maafkan aku Sukma!" Angkasa menatap istrinya dengan rasa bersalah. "Aku gak bisa! Aku sangat mencintai kekasihku. Aku tidak mau mengecewakan dia! Lagipula kita menikah atas paksaan orangtua. Aku yakin, kamu pasti sama sepertiku... menolak perjodohan ini!"
Sukma diam beberapa saat, lalu ia mengangguk. "Iya awalnya aku juga menolak perjodohan ini!" ucapnya dengan suara yang pelan nyaris tanpa suara.
"Maka dari itu kita harus cari kesempatan untuk bercerai. Tapi kamu jangan khawatir, meskipun kita bercerai nanti, aku akan tetap berinvestasi di perusahaanmu!"
Angkasa lega, sangat lega setelah mengatakan semuanya. Tadinya ia pikir akan sulit menghadapi Sukma. Tapi sepertinya itu hanya ketakutannya saja.
"Baik. Tapi apa yang harus aku jelaskan ke Papa jika kita tiba-tiba memutuskan untuk bercerai? Bagaimana kalau mereka marah?
"Kamu jangan terlalu banyak berpikir. Jikalau mereka marah, biar aku yang menanggung semuanya!" Angkasa berdiri, memegang salah satu bahu Sukma. "Terima kasih, kamu wanita yang baik Sukma. Kamu pasti mendapatkan pria yang tulus mencintai kamu dan mau berjuang untuk kamu!"
Sukma mengangguk. Ia tidak lagi berkata apa-apa.
"Kalau gitu aku tidur duluan ya? kamu jangan bergadang, gak baik untuk kesehatan!" Angkasa kembali berbaring sofa. Meninggalkan Sukma yang masih mematung ditempatnya.
"Siapakah wanita yang beruntung itu Angkasa?" batin Sukma.
Sukma kembali ke ranjangnya. Ia berbaring menatap langit-langit kamar, lalu menatap Angkasa yang sedang menatap layar ponselnya sambil tersenyum.
"Kamu gak pernah tersenyum selebar itu Angkasa!" gumam Sukma pelan.
Meski mereka tidak pernah dekat sebelumnya. Namun mereka sering bertemu setiap kali ada acara keluarga ataupun perusahaan. Setiap kali bertemu, Angkasa selalu memasang wajah datar, dingin, dsn tak pernah mengeluarkan ekspresi apapun.
Tapi sekarang ia melihat langsung... bagaimana seorang Angkasa bisa tersanyum selebar itu. Dan itu artinya... wanita itu pasti sangat spesial dan berarti baginya.