NovelToon NovelToon
Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Auzora Maleeka

"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"

"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"

Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

"Kalian jangan ribut dulu. Lihat ke sekitar." Kata Pendeta Axel, sehingga membuat mereka yang ada di sana menjadi menoleh ke sekitar, dan menjadi ketakutan.

"ini."

"Ini."

"Murid-murid !" Panggil Pendeta Axel.

"ini."

Mereka semua sangat ketakutan, ada yang lari dan masih ada yang bertahan disitu. Pendeta Axel memfokuskan dirinya, agar bisa mengetahui apa yang akan dilakukan setelah itu.

Tapi, Nadira diam saja dengan tenang karena dia bisa melindungi dirinya sendiri, hingga muncul sinar keemasan melindungi dirinya, orang yang ada di samping Nadira pun menjauh sedikit karena tidak tahan akan silau dari tubuh Nadira.

"Nona Nadira, seperti Dewi. Ya. Cuma Dewi yang bisa menunjukkan tatapan kosong dan angkuh seperti itu." Ujar Adrian dalam hati, yang mana masih sempat-sempatnya menatap kagum dan takjub ke arah Nadira yang masih saja terus bersinar layaknya seorang Dewi itu.

"Aduh, apa yang aku pikirkan di saat genting seperti ini ?" Sambung Adrian dalam hati, sambil memukul kepalanya, karena dia masih sempat-sempatnya kagum ke arah Nadira.

Nadira melihat ke arah Adrian, sehingga Adrian pun paham apa yang diinginkan oleh Nadira.

Adrian pun maju, menuju ke arah dimana Desi dan suaminya berada, lalu kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop dari saku celananya, dang langsung dikasihkan kepada Desi, sehingga Desi pun berhenti menangis.

"Turut berdukacita." Kata Adrian. Sehingga Heri melihat ke arah Adrian begitu pula juga dengan Nyonya Desi.

"Nyonya Desi, kami kesini datang untuk membantumu." Kata Adrian, dimana tangan Adrian masih tergantung di udara memegang amplop tersebut.

Sehingga Adrian pun cepat menoleh ke arah Nadira berada. "Ini. Aku mengerti. Ini ujian. Ujian dari Nona Nadira." Ujar Adrian dalam hati.

"Ahhhhhh...... Nyonya Desi, aku tahu, sekarang kau mungkin nggak percaya pada kami. Tapi sebenarnya kami bukan datang untuk membantumu. Tapi, kami datang untuk membantu Yuna. Ada suatu keinginan Yuna yang tersisa sebelum dia meninggal. Kami disini untuk membantunya mewujudkan keinginan itu." Kata Adrian.

Nyonya Desi pun akhirnya mengambil amplop tersebut dari tangan Adrian, sementara Heri hanya melihat saja.

"Bisa. Akhirnya, aku melewati rintangan pertama." Ujar Adrian dalam hati dengan senang dan langsung menghadap ke arah Nadira.

"Apa keinginan terakhirnya ?" Tanya Nyonya Desi sambil melihat kearah Adrian.

"Oh, ya. Dia pasti. Dia berharap aku bisa membunuh wanita tua sialan ini untuk membalaskan dendamnya 'kan ?. Wanita tua sialan. Aku nggak akan pernah mengampunimu." Sambung Nyonya Desi, yang mana Nyonya Desi akan langsung menyerang Nyonya Rania, tapi masih bisa ditahan oleh Heri.

"Nyonya Desi, Anda jangan terlalu berlebihan. Ibu mertuamu adalah Neneknya Yuna. Dia pasti nggak akan pernah mencelakai nya, aku yakin itu." Cegah Adrian sambil menahan tangannya Nyonya Desi yang akan menerjang ke arah ibu mertuanya itu.

"Mana mungkin nggak ? Dia menginginkan agar Yuna cepat mati, agar aku bisa melahirkan cucu lagi untuknya. Dasar nenek tua bodoh, pasti kau kan yang membunuh Yuna." Teriak Nyonya Desi histeris sambil menunjuk ke arah Nyonya Rania.

Sementara yang lain hanya diam membisu, mononton drama keluarga yang terjadi di depan mata mereka. Karena mereka pun tidak tahu harus berbuat apa.

"Pasti kau 'kan yang mencelakai Yuna" Nyonya Desi terus menerus menunjuk ke arah Nyonya Rania.

"Jangan. jangan. Jangan. Nyonya Desi, Anda jangan terlalu panik. Kalau pelakunya memang lah dia, tim penegak hukum pasti akan menangkapnya. Tapi yang paling penting sekarang adalah mencari tahu bagaimana Yuna bisa meninggal." Kata Adrian sambil memegang tangan Nyonya Desi, untuk menyerang Nyonya Rania. Sedangkan Heri tetap terus memeluk erat sang istri agar tidak lepas kendali.

Mereka pun melihat ke arah Adrian, karena apa yang Adrian bilang itu juga ada benarnya. Seharusnya mereka mencari penyebab kematian sang Anak bukan malah seperti ini, saling menyalahkan satu sama lain.

"Dokter bilang, Yuna meninggal karena gagal jantung. Tapi mana mungkin. Tubuh Yuna selalu sehat. Aku nggak percaya itu. Pasti nenek tua inilah yang telah memberi obat pada Yuna." Kata Nyonya Desi, dan kembali lagi lah diapun menuding Nyonya Rania.

"Sebenarnya, autopsi seharusnya bisa 'kan menunjukkan masalahnya, kenapa kalian tidak melakukan autopsi ?." Kata Adrian, sementara Nyonya Desi pun menoleh ke arah Adrian, kenapa dia tidak pernah sampai kepikiran ke arah situ.

"Meninggal karena serangan jantung.?" Tanya Nadira.

Hingga pada akhirnya, Nadira pun menutup mata, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Yuna sebelum dia meninggal.

"Nggak. Apa ada bekas luka di tubuhnya sebelum dia meninggal ?" Tanya Nadira kepada Nyonya Desi.

"Tidak ada, aku sudah memeriksanya dengan sangat teliti, nggak ada bekas luka sedikitpun di tubuhnya. Aku rasa, wanita tua itu hanya berani memberi obat pada Yuna. Dia nggak berani melukai tubuh Yuna." Jawab Nyonya Desi yang masih saja kembali menyalahkan Nyonya Rania, sedangkan Nyonya Rania hanya bisa menggeleng pelan.

"Nggak ada yang ditinggalkan sebelum kematian, pasti ada yang ditinggalkan setelah kematian." Ujar Nadira.

Sedangkan mereka semua kaget mendengar perkataan Nadira, dan saling menoleh satu sama lain, seakan mereka mengerti apa yang dimaksud oleh Nadira.

"Dimana kau menyimpannya ?" Tanya Nadira.

"Aku menyimpannya di lemari es bawah tanah." Spontan Nyonya Desi menjawab.

Mereka semua yang ada disana tentu saja kaget, dan spontan langsung menutup mulut mereka.

"Desi, bukankah kau bilang jenazah Yuna hilang ?" Tanya Heri.

"Bagaimana bisa aku mengatakan hal itu ? Tapi, entah kenapa tadi aku merasa akan ada konsekuensi yang sangat serius jika aku nggak mengatakannya." Ucap Nyonya Desi dalam hati.

"Bawa jalan." Unjuk Nadira.

Dan kemudian, Nadira berbalik badan untuk menuju ke dalam ruang bawah tanah tersebut, dengan dikawal oleh Adrian pelayan setianya itu.

Sebenarnya belum jadi pelayan sih, dikarenakan kalian tahu sendiri gaes bahwa Nadira itu, adalah orang yang irit bicara, dingin dan kaku.

Merekapun, semua ikut ke dalam ruang bawah tanah tersebut karena juga ingin tahu, keadaan yang sebenarnya, dengan di pimpin oleh Nadira di depan dan Adrian.

Sampai di ruang bawah tanah, merekapun harus berhati-hati untuk turun, karena keadaannya sangat gelap tidak ada lampu sama sekali, kecuali sinar yang ada di tubuh Nadira.

Adrian pun jatuh, sehingga berteriak, mengagetkan mereka yang berada di belakang Adrian. Merekapun menyusul Nadira yang sudah masuk lebih dahulu ke dalam sana, Hingga pada akhirnya merekapun sampai ditempat yang dituju.

"Sudah sampai." Kata Nadira kepada mereka semua.

Nadira mengangkat tangannya, mengarahkan ke suatu tempat dimana disitu berada jenazahnya Yuna. Sehingga sinar emas dari tangan Nadira pun muncul.

Mereka semua kaget apa yang mereka lihat didepan mereka, spontan ada yang menutup mulutnya, ada yang mundur sedikit, ada yang saling merangkul satu sama lain.

"Yuna." Teriak Nyonya Desi, hingga tanpa sadar Nyonya Desi melangkah kedepan dimana jenazah Yuna berada.

"Dimana Yuna ?" Tanya Desi. Entah pads siapa yang jelas dia bertanya.

Hingga pada akhirnya dia berbalik ke belakang dan mencoba memfitnah Nyonya Rania lagi.

"Wanita tua sialan. Apa kau yang diam-diam membawa jenazah Yuna pergi ? Kembalikan Yuna ! Kembalikan Yuna !" Tanya Nyonya Desi, sehingga akhirnya dia kembali menerjang tubuh Nyonya Rania

Heri, suami dari Nyonya Desi pun kewalahan akan tenaga dari sang istri yang terus saja menerjang tubuh Nyonya Rania.

"Desi. Desi." Panggil Heri.

"Lepaskan aku." Sehingga pegangan sang suami terlepas begitu juga pegangan terhadap Nyonya Rania.

Hingga pada akhirnya Nyonya Desi tenang dengan sendirinya, meskipun masih ada sisa-sisa dari tenaga tersebut, nafasnya menjadi terengah-engah dan pada akhirnya Nyonya Desi berlutut di depan sang suami dan juga Nyonya Rania.

"Wanita tua sialan. Tidak, bukan. Ibu." Kata Nyonya Desi sambil memegang kaki nyonya Rania.

"Aku mohon padamu. Kembalikan Yuna padaku. Aku nggak bisa kalau nggak ada Yuna. Aku mohon padamu." Kata Nyonya Desi sambil menggelengkan pelan kepalanya, pertanda dia tak ingin dipisahkan dari sang anak, meskipun dia tahu dia telah salah karena telah menyembunyikan jenazah sang anak.

"Aku nggak bawa Yuna." Kata Nyonya Rania.

"Kau masih nggak mau mengaku ?" Teriak Nyonya Desi histeris.

"Kau jangan kira aku nggak tahu, apa yang sudah kamu lakukan." Sambung Nyonya Desi, sehingga membuat Nyonya Rania begitu ketakutan.

"Desi, Desi, Desi. Tenang dulu."Kata Heri sambil menenangkan sang istri tapi masih saja kalah tenaga juga.

"Sekarang kau cuma ada Heri, satu putra. Aku tanya padamu. Bagaimana dengan lima anakmu sebelumnya ? Bagaimana dengan lima anak perempuanmu ? Ke mana semuanya ?" Kata Nyonya Desi, sehingga membuat Nyonya Rania menjadi pucat dan ketakutan serta badannya menjadi gemetar.

Sedangkan Heri, menatap sang istri tidak percaya, dan juga ia ingin tahu apa maksud dari perkataannya, bahwa sang ibu masih memiliki 5 anak perempuan.

"Kau. Apa yang kau tahu ?" Tanya Nyonya Rania sambil menunjuk ke arah Nyonya Desi.

1
Andira Rahmawati
absend dulu thor...
Chen Nadari
mampir Thorr
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!