Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GERBANG MENUJU SANGKAR DOSA
Guncangan bus mikro yang keras sepanjang malam membuat kepala Kirana pening. Jalanan berbatu khas pedesaan perlahan berubah menjadi aspal halus yang lurus, menandakan mereka telah keluar dari wilayah administrasi daerah asalnya. Di dalam bus, keheningan terasa begitu pekat. Hanya terdengar dengus napas lelah dan sesekali isak tangis tertahan dari beberapa gadis di bangku belakang. Kirana sendiri hanya menatap lurus ke luar jendela, memeluk tas jinjingnya erat-erat seolah benda usang itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki di dunia ini.
"Minum dulu, Nduk. Perjalanan kita masih beberapa jam lagi," sebuah suara membuyarkan lamunan Kirana.
Pak Broto menyodorkan sebotol air mineral dingin dari kursi depan. Senyumnya masih sama seperti kemarin di pasar—ramah, kebapakan, dan menenangkan.
"Terima kasih, Pak," cicit Kirana. Tenggorokannya memang terasa sangat kering. Ia membuka tutup botol itu dan meminumnya beberapa teguk. Rasa dingin air itu sedikit meredakan gemuruh di dadanya, walau rasa cemas tidak benar-benar hilang.
"Kalian semua tidak perlu takut," Pak Broto bersuara agak keras, menatap sekilas ke arah enam gadis di dalam bus melalui spion tengah. "Di Valerion nanti, kehidupan kalian akan berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi lumpur sawah, tidak ada lagi panas-panas memetik teh. Kalian akan tinggal di mess yang bersih, ber-AC, dan bekerja di bawah naungan orang-orang terpandang. Anggap saja ini langkah awal menuju sukses."
Mendengar kata-kata itu, gadis di sebelah Kirana—seorang gadis berambut ikal dengan mata sembap bernama Wiwin—memberanikan diri bertanya, "Pak... benar kan saya nanti ditempatkan di bagian keuangan restoran? Saya cuma lulusan SMP, tapi saya pintar berhitung."
Pak Broto terkekeh, suara tewanya terdengar sangat renyah. "Tentu saja, Wiwin. Semuanya sudah diatur sesuai bakat masing-masing. Yang penting kalian menurut dan rajin bekerja."
Kirana kembali menatap ke luar jendela. Penjelasan Pak Broto perlahan memupus keraguan di hatinya. Ia membayangkan wajah ibunya saat menerima amplop kiriman uang pertamanya bulan depan. Ia membayangkan Danu memakai seragam sekolah baru tanpa tambalan di bagian siku. Pikiran-pikiran indah itu menjadi jangkar bagi jiwanya yang rapuh, membuatnya terlelap dalam tidur yang gelisah saat bus mulai memasuki wilayah pinggiran kota.
Ketika Kirana membuka mata, dunianya telah berubah warna.
Langit subuh di Kota Valerion tidak berwarna biru bersih seperti di desanya, melainkan abu-abu keperakan, berselimut kabut tipis yang bercampur dengan asap industri. Di kanan kiri jalan, gedung-gedung tinggi menjulang mencakar langit, dengan dinding-dinding kaca yang memantulkan cahaya lampu merkuri. Jalanan sangat lebar, dipenuhi oleh kendaraan mewah yang berlarian cepat bahkan di jam sesubuh ini. Kirana menempelkan wajahnya ke kaca bus, matanya membelalak kagum sekaligus terintimidasi oleh kemegahan kota fiktif ini. Valerion begitu megah, begitu berkilau, dan terasa sangat asing.
Bus tidak berhenti di pusat kota yang gemerlap itu. Kendaraan tersebut berbelok, memasuki sebuah distrik yang disebut Distrik Amethyst. Di sini, jalannya sedikit lebih sempit namun suasananya jauh lebih eksklusif. Rumah-rumah di kawasan ini berarsitektur modern dengan pagar besi yang tinggi menjulang.
Hingga akhirnya, bus berhenti di depan sebuah bangunan megah berlantai tiga yang dicat dengan warna merah marun dan emas. Di depannya terpampang papan nama neon yang saat itu mulai dimatikan: "The Velvet Rose". Dari luar, tempat itu tampak seperti hotel butik mewah atau spa kelas atas bagi kaum borjuis.
"Ayo, semua turun. Kita sudah sampai," perintah Pak Broto. Nadanya kini tidak selembut kemarin. Ada ketegasan yang dingin dalam suaranya yang membuat bulu kuduk Kirana meremang.
Kirana dan gadis-gadis lainnya turun dengan langkah ragu. Mereka menenteng tas masing-masing, berdiri berjajar di lobi bangunan tersebut yang berlantai marmer mengilap. Aroma di dalam ruangan itu sangat pekat—campuran antara wewangian melati yang mahal, aroma rokok premium, dan alkohol yang menguap. Sofa-sofa beludru merah tertata rapi, dan cermin-cermin besar dengan bingkai ukiran emas memenuhi dinding.
"Duduk di sana. Jangan menyentuh apa pun," ketus seorang pria berbadan kekar dengan tato ular di lengannya yang berjaga di dekat pintu masuk.
Kirana menelan ludah. Rasa tidak enak di hatinya yang sempat hilang kini kembali memuncak, bahkan jauh lebih kuat. Ini tidak terlihat seperti sebuah restoran atau mes karyawan biasa.
Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan sepatu hak tinggi yang berirama konstan dari arah tangga marmer. Dari lantai atas, turunlah seorang wanita paruh baya. Penampilannya sangat glamor; gaun sutra ketat berwarna hitam, rambut yang disanggul rapi tanpa cela, dan perhiasan berlian yang melingkari leher serta jemarinya. Wajahnya cantik, namun tatapan matanya sedingin es di kutub. Wanita itu adalah Mami Rosa, pemilik The Velvet Rose.
Di belakang Mami Rosa, Pak Broto berjalan dengan tubuh yang agak membungkuk, kehilangan semua wibawa dan kesombongannya yang ia pamerkan di desa kemarin.
Mami Rosa berdiri di hadapan keenam gadis desa itu. Ia tidak menyapa, tidak pula tersenyum. Matanya yang tajam bak elang menilai mereka satu per satu dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang memeriksa kualitas hewan ternak di pasar. Ketika tatapannya jatuh pada Kirana, langkah wanita itu terhenti.
Mami Rosa mendekat, aroma parfumnya yang menyengat langsung menusuk hidung Kirana. Wanita itu mengulurkan tangannya yang berkuku merah panjang, mencengkeram dagu Kirana dengan kasar lalu memiringkan wajah gadis itu ke kanan dan ke kiri.
"Luar biasa," bisik Mami Rosa, suaranya berat dan serak karena asap rokok. "Broto, kali ini seleramu tidak mengecewakan. Kulitnya bersih, wajahnya memiliki kepolosan yang mahal. Gadis ini akan menjadi ladang emas baru di sini."
Kirana merasa tubuhnya membeku. Cengkeraman di dagunya terasa menyakitkan, namun yang lebih menyakitkan adalah rasa ngeri yang tiba-tiba menjalar ke seluruh sarafnya. "Ma-maaf, Ibu... saya di sini untuk bekerja sebagai pelayan restoran yang dibilang Pak Broto..."
Mendengar ucapan Kirana, Mami Rosa melepaskan cengkeramannya lalu tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya menggema di lobi yang sepi itu, terdengar sangat mengerikan di telinga Kirana. Di sudut lain, Pak Broto hanya tersenyum licik sembari menerima seonggok amplop cokelat tebal dari anak buah Mami Rosa—uang bayaran atas hasil buruannya.
"Pelayan restoran?" Mami Rosa menyeka air mata fiktif di sudut matanya akibat terlalu banyak tertawa. "Broto, Broto... bualanmu selalu klasik tapi selalu berhasil."
Mami Rosa kemudian menatap Kirana dengan pandangan menghina. "Dengar, Gadis Cantik. Tempat ini bukan restoran. Tempat ini adalah The Velvet Rose, kelab paling eksklusif di Kota Valerion. Mulai hari ini, tugasmu bukan mengantar makanan, tapi menghibur para pria kaya yang datang ke sini. Kamu melayani mereka, membuat mereka senang, dan memastikan mereka membuang uang mereka di tempat ini."
Bagaikan disambar petir di siang bolong, lutut Kirana mendadak lemas. Tas jinjing di genggamannya jatuh ke lantai marmer dengan suara pelan. Di sampingnya, Wiwin mulai menangis histeris. "Ndak mau! Saya mau pulang! Pak Broto, katanya saya kerja di restoran! Bohong! Anda bohong!"
Wiwin mencoba berlari menuju pintu keluar, namun dengan cepat pria berbadan kekar bertato ular tadi menangkap lengan Wiwin dan melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi gadis itu. PLAK! Wiwin tersungkur ke lantai, sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Gadis-gadis lain berteriak ketakutan, saling berpelukan dan menangis sejadi-jadinya.
Kirana menatap pemandangan itu dengan mata membelalak. Tubuhnya bergetar hebat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sakit. "Pak Broto... tolong saya, Pak... Ibu saya sakit di rumah... saya harus kerja baik-baik..." Kirana memohon, bersujud di dekat kaki Pak Broto yang sedang menghitung uang di dalam amplop.
Pak Broto bahkan tidak sudi melihat ke bawah. Ia memasukkan amplop itu ke dalam jaketnya, lalu menatap Mami Rosa. "Urusannya selesai ya, Mami. Saya permisi dulu. Masih ada desa lain yang harus saya kunjungi." Pria itu melangkah pergi begitu saja tanpa rasa bersalah sedikit pun, meninggalkan enam jiwa yang baru saja ia hancurkan masa depannya demi tumpukan kertas tak bernyawa.
"Bawa mereka ke kamar belakang. Kurung mereka. Jangan beri makan sampai besok pagi agar mereka tahu siapa yang berkuasa di sini," perintah Mami Rosa dengan dingin, berbalik badan tanpa memedulikan ratapan dan tangisan yang memecah kesunyian subuh itu.
Kirana, Wiwin, dan empat gadis lainnya diseret dengan kasar oleh para penjaga berbadan besar. Mereka dibawa melewati lorong-lorong remang berkarpet tebal, menuruni tangga menuju bagian belakang bangunan yang lembap dan gelap. Mereka dimasukkan ke dalam sebuah ruangan berjeruji besi yang menyerupai sel tahanan. Di dalamnya hanya ada beberapa kasur tipis tanpa seprei di atas lantai semen yang dingin, serta sebuah toilet tanpa pintu di sudut ruangan.
BRAKK!
Pintu besi itu ditutup dengan keras dan dikunci dari luar.
Di dalam kegelapan sel yang pengap itu, tangisan histeris pecah. Wiwin meratapi nasibnya sambil memegangi pipinya yang bengkak. Gadis-gadis lain memanggil nama orang tua mereka, menyesali kepolosan mereka yang telah membawa mereka ke dalam neraka dunia ini.
Sementara itu, Kirana hanya terduduk lemas di sudut dinding semen yang dingin. Ia memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya di sana. Air matanya mengalir deras tanpa suara, membasahi kain celananya. Bayangan wajah ibunya yang pucat, senyum Danu, dan tawa renyah si kecil Lestari berputar-putar di dalam kepalanya bagai kaset rusak.
“Ibu... maafkan Rana...” batinnya menjerit kesakitan.
Ia mengira dirinya sedang melangkah menuju tanah harapan untuk menyelamatkan keluarganya dari kemiskinan. Namun nyatanya, kepolosannya telah menuntun langkahnya sendiri masuk ke dalam sebuah sangkar besi yang kejam. Di luar sana, Kota Valerion mulai terjaga dengan segala gemerlapnya, siap menyembunyikan jeritan derita Kirana di balik dinding-dinding emas The Velvet Rose.