Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Rahasia di Balik Sampah
Matahari mulai condong ke barat, menandakan waktu sore telah tiba. Halaman depan kediaman utama Clan Lin sangatlah luas, membentang seluas lapangan sepak bola, dipenuhi oleh pohon-pohon hias berdaun lebat yang terus menggugurkan daunnya. Bagi orang biasa, membersihkan ribuan helai daun dan debu dalam waktu tiga jam adalah tugas yang mustahil.
Namun, Lin Fan tidak berniat melakukannya seperti orang biasa.
Ia berdiri di tengah halaman, memegang sapu ijuk yang kasar. Di sekelilingnya, beberapa pelayan lain sedang bekerja dengan santai, sesekali mencuri pandang ke arah Lin Fan dengan tatapan kasihan atau ejekan. Mereka yakin Lin Fan akan dihukum cambuk malam nanti karena tidak mungkin selesai tepat waktu.
Lin Fan menutup matanya sejenak. Ia menarik napas dalam, merasakan aliran Qi tipis di Dantian-nya. Energi itu masih sangat sedikit, hanya setetes embun di lautan luas. Namun, kualitasnya murni. Putih bersih, tanpa kotoran.
“Jika aku tidak bisa menggunakan kekuatan besar, aku harus menggunakan otakku,” batinnya.
Ia mengingat gerakan angin yang ia rasakan saat menghindari tinju Lin Xiao pagi tadi. Angin mengalir mengikuti jalur hambatan terkecil. Sapu juga sama. Alih-alih menyapu dengan tenaga otot lengan yang cepat lelah, Lin Fan mencoba mengalirkan sedikit Qi ke pergelangan tangannya dan ujung sapu.
Tujuannya bukan untuk memperkuat pukulan, tapi untuk menciptakan getaran halus.
Getar.
Ujung-ujung ijuk sapu bergetar sangat cepat, hampir tak terlihat mata. Saat Lin Fan mengayunkan sapunya, getaran itu membantu memisahkan debu dari permukaan batu paving dengan lebih efektif. Daun-daun kering pun seolah-olah "terangkat" sedikit oleh arus udara mini yang dihasilkan getaran tersebut, membuatnya lebih mudah dikumpulkan.
Gerakan Lin Fan berubah. Tidak lagi kaku dan menghentak-hentak, melainkan mengalir seperti air. Ayunan sapunya berirama dan minim pemborosan energi.
Satu jam berlalu.
Separuh halaman sudah bersih.
Dua jam berlalu.
Tiga perempat halaman sudah bersih.
Para pelayan yang tadi mengejek kini mulai berbisik-bisik dengan wajah bingung.
"Hei, lihat Lin Fan. Apakah dia menggunakan teknik sihir? Kenapa dia bergerak begitu cepat tapi tidak tampak kelelahan?"
"Mungkin dia cuma beruntung angin membantu menerbangkan daunnya," sahut yang lain, meski ragu-ragu.
Lin Fan tidak peduli dengan gosip mereka. Keringat memang mengucur, tetapi tubuhnya terasa ringan. Penggunaan Qi untuk hal-hal kecil seperti ini ternyata juga membantu melatih kontrolnya. Setiap kali Qi habis, ia merasa Dantian-nya sedikit lebih "lapar", memaksanya untuk menyerap Qi alam lebih cepat saat ia berhenti sejenak. Ini adalah siklus latihan yang sempurna.
Tepat saat matahari menyentuh ufuk barat, Lin Fan meletakkan sapunya di sudut halaman terakhir. Seluruh area depan kediaman utama bersih kinclong. Tidak ada satu pun daun atau debu yang tertinggal.
Ia menghela napas lega, lalu duduk bersandar pada pilar kayu besar, memejamkan mata untuk memulihkan stamina.
"Wah, wah. Luar biasa."
Suara tepuk tangan lambat terdengar. Lin Fan membuka matanya. Seorang pria paruh baya dengan jubah biru tua berdiri di sana. Wajahnya keriput, namun matanya tajam dan penuh kewibawaan. Itu adalah Paman Lin Guo, kepala pelayan kediaman utama, dan juga seorang kultivator Tahap Fondasi Awal yang sudah pensiun dari tugas tempur.
Lin Fan segera bangkit dan membungkuk hormat. "Paman Guo."
Lin Guo menatap halaman yang bersih, lalu menatap Lin Fan. "Penjaga melaporkan bahwa kau menyelesaikan tugas ini dalam waktu singkat. Dan kau melakukannya sendirian. Bagaimana caranya? Kau bahkan tidak memiliki kekuatan fisik yang memadai."
Lin Fan menunduk, menjaga ekspresinya tetap rendah hati. "Hamba hanya menemukan cara menyapu yang lebih efisien, Paman. Hamba belajar dari cara angin membersihkan debu di jalan."
Jawaban itu ambigu, namun masuk akal secara filosofis bagi seorang kultivator. Lin Guo mengangkat alis, terkesan. Ia tahu Lin Fan adalah "sampah" dengan meridian tersumbat. Fakta bahwa pemuda ini bisa berpikir keluar dari kotak dan menyelesaikan tugas mustahil menunjukkan kecerdasan yang langka.
"Cerdas," gumam Lin Guo. "Kekuatan fisik bisa dilatih, tapi otak yang cerdas adalah bakat alami. Karena kau berhasil, hukuman cambuk dibatalkan. Sebagai gantinya..."
Lin Guo merogoh saku jubahnya dan melemparkan sebuah benda kecil ke arah Lin Fan.
Lin Fan menangkapnya dengan refleks. Benda itu dingin dan keras. Sebuah pil berwarna hijau pucat, sebesar kacang polong.
"Pil Kondensasi Qi Grade Rendah," kata Lin Guo datar. "Ini adalah pil sisa dari batch produksi bulan lalu. Kualitasnya biasa saja, banyak kotorannya, tapi masih bisa membantu pemula mengumpulkan Qi. Anggap ini hadiah atas kerja kerasmu hari ini. Jangan bilang siapa-siapa."
Lin Fan terpaku. Pil Kondensasi Qi!
Bagi anggota klan biasa, pil ini dijual dengan harga 5 Batu Spirit Rendah. Bagi Lin Fan yang miskin, ini adalah harta karun. Namun, yang membuat jantungnya berdebar kencang bukan karena nilai moneternya, melainkan karena efek samping pil murah.
Pil grade rendah biasanya mengandung banyak residu racun atau ketidakmurnian. Jika diminum oleh kultivator biasa, mereka harus menghabiskan waktu berhari-hari untuk membuang kotoran tersebut dari tubuh. Tapi bagi Lin Fan...
Manik Giok Hitam sudah hancur dan menyatu dengannya. Kemampuan 'Pemurnian' itu masih ada di dalam darahnya.
Jika ia memakan pil ini, Manik Giok (atau sisa energinya) akan memurnikan residu pil tersebut, mengubah pil sampah menjadi esensi murni 100%. Efeknya akan berlipat ganda dibandingkan orang lain!
"Terima kasih, Paman Guo!" Lin Fan membungkuk dalam-dalam, kali ini dengan rasa terima kasih yang tulus. Ia menyembunyikan pil itu erat-erat di dalam saku bajunya.
"Pergilah. Jangan lupa makan malammu—meskipun jatahmu dibatalkan, dapur sisa masih punya sup encer untuk pelayan. Jangan sampai kau pingsan sebelum besok pagi," kata Lin Guo sebelum berbalik pergi.
Lin Fan menunggu hingga Paman Guo hilang dari pandangan. Ia tidak pergi ke dapur. Ia lari kembali ke gubuk kecilnya di sudut halaman belakang.
Sesampainya di dalam, ia mengunci pintu rapuh itu. Ia duduk bersila di atas tikar jerami, dan mengeluarkan pil hijau pucat itu. Baunya agak apek, tanda ketidakmurnian bahan herbalnya.
Bagi orang lain, ini adalah obat kelas dua.
Bagi Lin Fan, ini adalah kunci percepatan.
Tanpa ragu, ia menelan pil itu.
Rasanya pahit dan getir di lidah. Begitu pil itu masuk ke tenggorokan, Lin Fan segera memejamkan mata dan fokus pada Dantian-nya.
Seperti yang ia duga, begitu pil itu larut di perutnya, energi Qi yang kasar dan kotor menyebar ke seluruh tubuhnya. Rasa panas yang tidak nyaman muncul, disertai gatal-gatal di kulit—tanda residu racun yang ingin keluar.
Biasanya, kultivator harus meditasi selama berjam-jam untuk mendorong kotoran ini keluar melalui keringat atau napas.
Tapi detik berikutnya, sensasi dingin yang familiar muncul dari pusat dada Lin Fan. Sisa energi Manik Giok bereaksi.
Zzzzt...
Energi kotor dari pil itu ditarik menuju pusat Dantian, disaring, dan dibuang sebagai uap hitam tipis yang keluar dari pori-pori kulit Lin Fan. Proses yang biasanya memakan waktu enam jam, selesai hanya dalam sepuluh menit.
Yang tersisa di Dantian-nya adalah kolam Qi murni berwarna putih susu, yang volumenya bertambah drastis.
Retak.
Sebuah suara halus terdengar di dalam kesadarannya. Penghalang antara Level 1 dan Level 2 retak.
Lin Fan tersenyum lebar dalam kegelapan gubuknya. Dengan satu pil sampah, ia berhasil memadatkan Qi-nya setara dengan mengonsumsi tiga pil berkualitas tinggi.
"Ini gila," bisiknya, matanya berbinar di kegelapan. "Dengan kemampuan ini, aku tidak butuh sumber daya klan. Aku bisa mengambil sampah, limbah, atau pil kadaluarsa, dan mengubahnya menjadi kekuatan murni."
Ia melihat tangannya. Otot-ototnya terasa lebih padat. Pendengarannya lebih tajam. Ia bisa mendengar detak jantung tikus di dinding sebelah.
Lin Fan menyadari satu hal penting: Dia harus merahasiakan kemampuan ini. Jika Clan Lin tahu ia bisa memurnikan pil, mereka akan menjadikannya budak seumur hidup untuk memproduksi pil mahal dan membunuhnya untuk mengambil rahasia tubuhnya.
Dia harus tetap terlihat lemah di luar, sementara di dalam, dia tumbuh seperti monster.
Besok, ada pengumuman penting di aula Clan. Ujian Bulanan. Semua disiplin di bawah usia 18 tahun wajib ikut serta. Biasanya, Lin Fan dibebaskan karena statusnya sebagai pelayan. Tapi tahun ini, rumor beredar bahwa Kepala Klan ingin mengevaluasi ulang semua anggota darah, termasuk yang dianggap gagal.
Lin Fan tahu ini jebakannya. Lin Hu pasti akan mencari alasan untuk mempermalukannya di depan umum.
"Tidak apa-apa," kata Lin Fan pada kegelapan. "Biarkan mereka meremehkanku. Kejutan terbesar dalam hidup mereka baru saja dimulai."
Ia berbaring, membiarkan tubuh barunya yang lebih kuat beristirahat. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Lin Fan tidur dengan nyenyak, tanpa mimpi buruk.