NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Awal di Rumah yang Megah

Mobil mewah itu berhenti di depan sebuah gerbang tinggi berwarna hitam dengan ornamen emas yang terlihat kokoh. Begitu ada isyarat dari Aldo, gerbang itu terbuka otomatis, memperlihatkan halaman rumah yang sangat luas dan tertata rapi. Rumah itu berdiri megah bergaya modern minimalis dengan dinding berwarna krem dan jendela kaca besar yang memantulkan cahaya matahari. Halamannya dipenuhi rumput hijau yang terawat sempurna dan beberapa jenis bunga yang berwarna-warni, menciptakan suasana yang asri namun terasa sepi dan dingin.

Naura menatap dengan mata terbelalak, merasa seperti memasuki istana dalam dongeng. Selama hidupnya, ia tidak pernah membayangkan akan berada di tempat semewah ini. Jantungnya berdebar kencang, perasaan cemas dan takut bercampur dengan rasa kagum memenuhi dadanya. Ia merasa sangat kecil dan tidak pantas berada di lingkungan seindah ini.

"Masuklah," perintah Aldo singkat sambil mematikan mesin mobil. Ia turun lebih dulu dan berjalan menuju pintu utama tanpa menoleh ke belakang.

Naura buru-buru mengikuti di belakangnya, membawa tas kain berisi barang-barangnya yang terlihat sangat sederhana dibandingkan dengan kemewahan yang ada di sekelilingnya. Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, matanya semakin terbelalak. Lantai marmer yang mengkilap memantulkan bayangan mereka, langit-langitnya tinggi dengan lampu gantung kristal yang indah, dan perabotan yang terbuat dari kayu mahoni serta kulit asli terlihat sangat mahal dan berkelas. Suasana di dalamnya sunyi senyap, hanya terdengar suara langkah kaki mereka yang bergema.

"Ini rumahmu mulai hari ini. Kamu akan tinggal di kamar pembantu di lantai bawah, dekat dengan dapur," jelas Aldo sambil berjalan menuju ruang tengah. Ia berhenti sejenak dan menatap Naura dengan pandangan tajam yang membuat gadis itu merasa sedikit ciut. "Ingat aturannya: jangan menyentuh barang-barang pribadiku tanpa izin, jangan masuk ke ruang kerjaku kecuali dipanggil, kerjakan tugasmu dengan baik, dan jangan banyak bertanya. Mengerti?"

Naura mengangguk cepat. "Mengerti, Tuan Aldo. Saya akan berusaha mematuhi semua peraturan Tuan."

Aldo mengangguk puas, meski raut wajahnya tetap datar. "Baik. Sekarang saya tunjukkan bagian-bagian rumah ini. Dapur ada di sebelah sana, peralatan masaknya lengkap. Kamu bisa memasak makanan sederhana untukku, tidak perlu yang mewah. Kamar mandi tamu ada di ujung lorong, dan kamar tidurmu ada di sebelahnya. Istirahatlah hari ini, besok pagi kamu mulai bekerja pukul enam pagi."

Setelah menunjukkan beberapa bagian penting, Aldo meninggalkan Naura sendirian di ruang tengah dan masuk ke ruang kerjanya. Naura menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia berjalan perlahan menuju kamar yang ditunjukkan, membuka pintunya, dan melihat sebuah kamar tidur yang cukup luas dengan tempat tidur yang rapi, lemari pakaian, dan meja kecil. Meskipun tidak semewah kamar utama, kamar ini jauh lebih baik dan nyaman dibandingkan tempat tidurnya yang sempit dan keras di rumah paman.

Ia meletakkan tasnya di atas tempat tidur, lalu duduk sejenak. Perasaannya masih campur aduk. Di satu sisi, ia merasa beruntung mendapatkan tempat berteduh dan pekerjaan yang layak, namun di sisi lain, ia merasa cemas menghadapi sikap dingin majikannya itu. Namun, ia berjanji pada dirinya sendiri akan bekerja dengan sebaik mungkin agar tidak diusir dan bisa membuktikan bahwa ia layak dipercaya.

Pagi harinya, tepat pukul lima pagi, Naura sudah terbangun. Ia mandi dengan air yang hangat—sesuatu yang jarang ia rasakan di rumah sebelumnya—lalu mengenakan pakaian kerja yang sederhana namun bersih. Ia berjalan menuju dapur, membuka lemari es, dan melihat banyak bahan makanan yang tersedia. Ia memutuskan untuk memasak bubur ayam hangat dan beberapa gorengan sederhana untuk sarapan, sesuai dengan kebiasaan yang ia ketahui.

Saat jam menunjukkan pukul tujuh pagi, Aldo turun dari lantai atas. Ia terlihat segar dengan pakaian kantornya yang rapi. Hidungnya langsung menangkap aroma masakan yang sedap dari arah meja makan. Ia melangkah mendekat dan melihat sarapan yang sudah tersusun rapi.

"Apa ini?" tanyanya dengan nada datar.

"Sarapan, Tuan. Bubur ayam dan tempe goreng. Apakah Tuan tidak menyukainya?" tanya Naura dengan hati-hati, takut salah menyiapkan makanan.

Aldo duduk di kursi dan mencoba sedikit bubur itu. Rasanya sederhana namun lezat, hangat dan menenangkan perutnya. Sudah lama ia tidak merasakan masakan rumahan yang begitu alami. Selama ini ia biasanya sarapan di restoran mahal atau hanya minum kopi saja karena tidak ada yang menyiapkan dengan tepat.

"Tidak apa-apa," jawabnya singkat, tanpa memuji namun juga tidak menolak. Ia menghabiskan sarapannya dengan tenang, lalu berangkat ke kantor tanpa banyak bicara.

Sejak hari itu, rutinitas mereka berjalan dengan pola yang sama. Naura bangun pagi, membersihkan seluruh rumah dari lantai atas hingga bawah, menyapu halaman, mencuci pakaian, menyiapkan makanan, dan mengurus segala keperluan rumah tangga. Ia bekerja dengan sangat teliti dan rajin, tidak pernah mengeluh meski tugasnya banyak. Sementara Aldo, setiap hari berangkat pagi dan pulang malam, hanya berbicara jika diperlukan, nada bicaranya tetap dingin dan tegas.

Namun, seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit ada perubahan kecil yang tidak disadari oleh Aldo. Ia mulai terbiasa dengan kehadiran Naura. Ia terbiasa menemukan kopi hangat di meja kerjanya tepat saat ia butuhkan, terbiasa rumah yang selalu bersih dan wangi, terbiasa dengan masakan sederhana yang ternyata sangat ia sukai. Ada kalanya ia melihat Naura yang sedang membersihkan taman dengan wajah yang tenang, atau membaca buku bekas di sudut teras saat istirahat, dan hatinya terasa sedikit tergerak.

Suatu sore, saat Aldo pulang lebih awal dari biasanya, ia melihat Naura sedang berdiri di depan lemari kaca yang berisi vas antik yang sangat berharga. Gadis itu tampak bingung, berusaha membersihkan debu di atasnya namun takut menyentuhnya terlalu keras. Tiba-tiba kakinya tersandung sedikit, tubuhnya terhuyung ke depan, dan tangannya secara refleks menyentuh vas itu.

Hati Naura berdebar kencang. Ia pikir vas itu akan jatuh dan pecah. Namun, sebelum sempat terjadi apa-apa, sebuah tangan besar dan kuat dengan sigap menahan vas itu dan menempatkannya kembali dengan aman. Naura menoleh dan terkejut melihat Aldo yang berdiri di belakangnya.

"Maaf, Tuan! Saya tidak sengaja! Saya hanya ingin membersihkannya..." kata Naura dengan panik, wajahnya memucat karena takut dimarahi.

Aldo menatapnya sejenak, lalu menurunkan tangannya. "Hati-hati lain kali. Vas ini sangat berharga, tapi tidak perlu takut berlebihan sampai tidak bisa bergerak. Kalau bingung, panggil saya saja." Nada bicaranya tidak sekeras biasanya, meski tetap terdengar datar.

Naura menghela napas lega. "Terima kasih, Tuan. Saya akan lebih berhati-hati lagi."

Kejadian kecil itu membuat suasana di antara mereka sedikit mencair. Aldo mulai menyadari bahwa Naura bukanlah gadis yang ceroboh atau tidak bertanggung jawab. Ia selalu bekerja dengan sepenuh hati, tidak pernah mengambil barang yang bukan haknya, dan bahkan sering membuang sisa makanan yang tidak dimakan dengan rapi tanpa membuang-buangnya.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Sekitar dua minggu kemudian, saat Naura sedang menyiram bunga di halaman depan, sebuah mobil motor berhenti mendadak di depan gerbang. Dari sana turun Paman Surya dan Bibi Rina dengan wajah yang penuh harapan dan keserakahan. Mereka telah mencari tahu tempat Naura bekerja dan datang dengan niat yang tidak baik.

"Naura! Keluar kamu! Kami tahu kamu ada di sini!" teriak Bibi Rina dengan suara nyaring, menarik perhatian penjaga gerbang dan membuat Naura terkejut setengah mati.

Jantung Naura berdegup kencang. Ia tahu, masalah yang selama ini ia hindari akhirnya datang juga. Ia berjalan mendekati gerbang dengan wajah tegang, berharap mereka tidak membuat keributan besar.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Naura dengan suara rendah, berusaha menenangkan diri.

"Apa kami lakukan? Kami datang menjenguk keponakan kami yang bekerja di rumah orang kaya ini! Cepat buka gerbangnya! Kami ingin bicara denganmu," kata Paman Surya dengan nada memerintah.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Silakan pulang saja," tolak Naura tegas.

Bibi Rina tertawa sinis. "Tidak bisa! Kami dengar kamu bekerja di sini dengan gaji yang lumayan. Kami butuh uang untuk kebutuhan hidup. Cepat berikan kami uang, atau kami akan membuat keributan sampai majikanmu tahu dan memecatmu!" ancamnya dengan nada yang penuh tekanan.

Naura merasa ketakutan. Ia tahu betul sifat mereka. Jika tidak diberi uang, mereka pasti akan membuat keributan yang memalukan. Namun, sebelum ia sempat menjawab, suara berat dan dingin terdengar dari belakangnya.

"Ada apa ini?"

Naura menoleh dan melihat Aldo berdiri di sana dengan tatapan tajam yang menusuk, membuat Paman Surya dan Bibi Rina terdiam seketika dan merasa sedikit gentar melihat wibawa pria itu.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!