Orang bilang, cinta masa SMA itu, adalah cinta monyet? Aku rasa iya. Tapi ini berbeda, sejak mengenal gadis cantik bernama Cinta Alisya, disitulah aku sadar, kalau ini lebih dari sekedar cinta monyet. Aku Rangga 18th. Aku akan berjuang demi Cinta, untuk sebuah ungkapan... KATAKAN CINTA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiket Satu Arah
Kabar tentang keberhasilan Rangga menembus beasiswa internasional ke London menyebar seperti api yang ditiup angin kencang di kalangan alumni SMA Bina Karya. Warung kopi Mak Iyoh malam itu mendadak penuh sesak, bahkan meluber hingga ke bahu jalan. Anak-anak tongkrongan yang biasa mengenakan kaos oblong dan sendal jepit berkumpul untuk menggelar acara syukuran kecil-kecilan yang riuh.
Suasana dipenuhi tawa dan kehebohan yang khas. Mereka sibuk memberikan barang-barang aneh sebagai bekal Rangga di negeri orang. Ada yang membawa satu kardus jamu masuk angin, beberapa botol sambal ulek buatan ibunya, hingga jaket tebal bekas dari pasar loak dengan kombinasi warna hijau neon yang norak.
"Inget, Ngga. Di sana dinginnya bukan main, gak kayak malam Minggu di Jakarta. Jangan sampai lu menggigil pas ketemu si Tuan Kresna," seloroh salah satu anak tongkrongan yang disambut gelak tawa riuh dari yang lain.
Di balik segala candaan kocak itu, ada rasa bangga yang luar biasa besar yang terpancar dari mata anak-anak jalanan ini. Bagi mereka, Rangga adalah simbol perwakilan kasta bawah yang berhasil menembus dinding tebal Eropa bukan dengan koneksi uang, melainkan dengan kejeniusan otaknya sendiri.
Rangga tersenyum lebar, memeluk satu per satu sahabat tongkrongannya dengan rasa haru yang dia tahan di dalam dada. Dia tahu, dari sinilah kekuatannya berasal.
Keesokan harinya, suasana di bengkel "Bina Karya Motor" tampak jauh lebih tenang. Rangga berdiri di depan meja kerjanya, menatap celengan kaleng berkarat bertuliskan *London* yang selama dua tahun ini setia dia isi. Dengan menggunakan sebuah obeng besar, Rangga menghancurkan bagian atas kaleng tersebut, mengeluarkan seluruh gulungan uang ratusan dan lima puluh ribuan hasil keringatnya ke atas meja.
Aldi yang sedang membersihkan kunci pas menoleh dengan dahi berkerut. "Lu hitung duitnya buat sangu di sana, Ngga?"
Rangga menggeleng. Dia merapikan seluruh tumpukan uang tersebut, lalu mendorongnya ke arah dada Aldi. "Uang ini gak bakal gue bawa ke London, Al. Ini buat lu. Pakai buat modal memperbesar bengkel kita, beli alat-alat baru yang lebih modern."
Aldi tersentak, matanya membelalak tidak percaya. "Ngga, lu gila?! Ini kan duit tabungan lu selama dua tahun buat ke London!"
"Fasilitas keberangkatan dan biaya hidup gue di sana udah ditanggung penuh sama perusahaan, Al," ucap Rangga sambil menepuk pundak sahabat terbaiknya itu dengan sangat kuat. "Bengkel ini adalah masa depan kita berdua. Gue titip tempat ini selama satu tahun ke depan. Jaga wilayah kita baik-baik."
Aldi menatap tumpukan uang di depannya, lalu beralih menatap mata Rangga. Kedua cowok yang sudah melewati ratusan badai sejak masa sekolah itu akhirnya saling berpelukan erat, mengunci sebuah janji setia persahabatan laki-laki untuk sukses di jalan masing-masing.
Malam terakhir sebelum keberangkatan, Tasya meminta Rangga untuk bertemu berdua. Tempat yang dipilih Tasya sangat sentimental—di depan area parkir kafe *The Glasshouse*, tempat di mana Aldi pertama kali memperkenalkan mereka berdua dua tahun silam.
Angin malam Jakarta bertiup lembut, mempermainkan ujung rambut Tasya yang malam itu mengenakan kardigan rajut. Dia berdiri bersandar pada kap mobilnya, menatap Rangga yang berjalan mendekat dengan jaket jins Bina Karya andalannya.
Tasya merogoh kursi belakang mobilnya, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan kain rapi dan menyerahkannya kepada Rangga. "Buka deh."
Rangga membuka bungkusan itu, menemukan sebuah syal rajutan wol berwarna hitam pekat yang dibuat dengan sangat rapi dan tebal. "Ini... lu yang bikin sendiri, Sya?"
"Iya. Gue ngerajut itu sebulan penuh sampai jari gue hampir kram," ucap Tasya dengan nada ketus yang sengaja dibuat-buat untuk menutupi rasa gengsinya. Namun, sedetik kemudian, wajahnya melunak. Sepasang mata indahnya menatap langsung ke dalam manik mata Rangga dengan ketulusan yang luar biasa murni.
Tasya tersenyum, sebuah senyuman paling ikhlas yang pernah dia tunjukkan selama dua tahun ini. Dia telah berdamai dengan takdirnya sendiri. "Gue udah jagain lu selama dua tahun di Jakarta, Ngga. Sekarang tugas gue sebagai bayangan lu udah selesai. Pergi ke London, kejar impian lu, dan bawa balik Cinta ke sini secara terhormat di depan bokapnya."
Rangga tertegun. Dia merasakan keharuan yang luar biasa melihat kedewasaan jiwa gadis di depannya ini. Rangga langsung melangkah maju, memeluk tubuh Tasya dengan sangat erat sebagai bentuk rasa hormat dan terima kasih tertinggi seorang laki-laki. "Makasih banyak, Tasya. Lu sahabat terbaik yang pernah gue punya di dunia ini."
Tasya membalas pelukan itu sejenak, memejamkan matanya untuk merekam kehangatan dada Rangga untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya dia melepaskan pelukan itu dengan kepala tegak. Dia telah merelakan cintanya pergi demi kebahagiaan cowok yang dia puja.
Hari keberangkatan pun tiba. Narasi waktu bergerak cepat menampilkan momen Rangga melangkah masuk melewati gerbang imigrasi Bandara Soekarno-Hatta dengan hanya membawa satu koper hitam besar. Burung besi yang membawanya melesat membelah langit malam, meninggalkan gemerlap lampu kota Jakarta di belakang, menempuh perjalanan belasan jam melintasi benua.
*Jedug.*
Roda pesawat mendarat dengan hentakan mantap di atas landasan pacu Bandara Heathrow, London.
Begitu Rangga melangkah keluar dari pintu kedatangan internasional, udara dingin musim gugur daratan Eropa yang berkisar di angka sepuluh derajat Celsius langsung menusuk kulitnya hingga ke tulang. Rangga langsung mengenakan syal hitam pemberian Tasya di lehernya, sementara jaket jins Bina Karya miliknya tetap terpakai dengan gagah di balik mantel tebal hitamnya.
Rangga berdiri di tengah keramaian ribuan orang asing dari berbagai negara, menatap papan petunjuk kota London dengan tatapan mata yang menyala tajam. Langkah pertamanya di tanah Britania resmi dipijak. Tembok kasta Tuan Kresna kini sudah berada di depan matanya.
Rangga tersenyum tipis, membetulkan letak tali kopernya. "Gue datang, Cinta," gumamnya lirih penuh determinasi.
Namun, takdir tampaknya terlalu tidak sabar untuk memulai drama baru.
Tepat beberapa puluh meter di sebelah kanan koridor kedatangan, sesosok cowok keturunan elite dengan setelan mantel musim dingin bermerek mahal sedang berdiri memegang papan nama untuk menjemput seseorang. Cowok itu adalah Nicholas.
Nicholas yang secara tidak sengaja mengedarkan pandangannya ke arah kerumunan mendadak menghentikan gerakannya. Matanya terpaku pada sebuah logo bordir usang bergambar elang di bagian punggung jaket jins seorang cowok yang baru saja melewatinya. Logo ikonik milik SMA Bina Karya Jakarta.
Nicholas mengucek matanya berulang kali, wajahnya seketika memucat dan berubah menjadi sangat syok saat melihat profil wajah samping cowok yang sangat dia kenali dan dia benci setengah mati selama dua tahun ini.
"Rangga...?! Gak mungkin! Ngapain anak jalanan itu ada di London?!" desis Nicholas dengan rahang yang gemetar menahan rasa tidak percaya yang luar biasa.
Pertemuan tidak sengaja di gerbang masuk London ini langsung menyalakan kembali api permusuhan lama yang siap meledak jauh lebih dahsyat di tanah Eropa.
btw saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen.. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Hey//Smile/