Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 : Dosen Tampan
Namun senyum itu cepat-cepat ia hilangkan saat melihat beberapa mahasiswa di koridor mulai memperhatikannya.
“Ih apaan sih…” gumam Queen malu sendiri lalu buru-buru kembali masuk ke kelas.
Begitu duduk di kursinya, Anggi langsung menyeringai jahil. “Wihhh, senyum-senyum sendiri. Baru juga jadian udah ngebucin aja.”
Queen langsung melempar pulpen kecil ke arah sahabatnya itu. “Berisik lo.”
Anggi malah tertawa makin keras. “Fix. Queen udah bucin sama Nathan. ”
“Anggi, diam!”
Mereka berdua langsung diam saat dosen mulai menjelaskan materi di depan kelas.
Beberapa jam berlalu begitu cepat. Suasana kelas yang awalnya ramai mulai terasa membosankan karena dosen terus menjelaskan materi tanpa henti. Beberapa mahasiswa bahkan sudah terlihat mengantuk.
Sedangkan Queen, ia justru sibuk memainkan ponselnya diam-diam di bawah meja.
Tok... tok... tok.
Tiba-tiba pintu kelas diketuk dari luar.
Semua mahasiswa langsung menoleh. Ternyata rektor kampus masuk bersama seorang pria tinggi yang berdiri tenang di belakangnya.
“Selamat siang semuanya,” ucap Pak Rektor membuat suasana kelas langsung hening.
Para mahasiswa buru-buru duduk rapi.
“Saya ingin memberitahu kalau mulai besok kelas kalian akan diisi oleh dosen tamu dari luar negeri.”
Beberapa mahasiswa mulai berbisik penasaran.
“Dosen tamu?”
“Siapa tuh?”
Rektor tersenyum tipis sebelum melanjutkan, “Beliau salah satu dosen terbaik dari Universitas di Amerika.”
Lalu pria tua itu menoleh ke belakang. “Silakan masuk, Pak Revan.”
Dan seketika, seorang pria berjalan masuk ke dalam kelas dengan langkah tenang dan berwibawa. Ruangan langsung mendadak sunyi, pria itu benar-benar tampan.
Tubuhnya tinggi tegap dengan kemeja hitam yang digulung sampai siku. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan tatapan matanya tajam dingin. Wajahnya bahkan mirip pria Korea yang sering muncul di drama-drama terkenal.
Beberapa mahasiswi langsung menahan napas kagum.
“Gila…”
“Ganteng banget…”
“Ya ampun…”
Namun berbeda dengan yang lain, Queen sama sekali tidak tertarik. Ia masih sibuk mengetik balasan chat Nathan tanpa peduli siapa dosen baru di depan kelas.
Dari belakang, Anggi langsung berbisik heboh sambil mencubit lengan Queen. “Woy! Itu dosen keren abis!” bisiknya excited. “Nggak kalah ganteng sama Nathan!”
Queen mendecih malas. “Apaan sih lo, Nggi? Berisik banget.”
“Serius! Coba lihat dulu!”
Queen menghela napas panjang sebelum akhirnya mendongak malas ke arah depan kelas. Dan detik itu juga, tangannya langsung terdiam di atas ponsel.
Matanya membulat pelan. Untuk beberapa saat, Queen bahkan lupa berkedip. Karena pria bernama Revan itu, benar-benar terlalu tampan untuk ukuran dosen.
Apalagi saat pria itu menatap kelas dengan ekspresi datar dan suara rendahnya mulai terdengar. “Perkenalkan. Nama saya Revan Alister.”
Dan entah kenapa, tatapan mata pria itu berhenti tepat ke arah Queen. Tatapan itu membuat Queen langsung salah tingkah sendiri.
Refleks ia buru-buru membuang pandangan lalu pura-pura sibuk melihat layar ponselnya lagi. Namun anehnya, jantungnya justru berdetak sedikit lebih cepat.
Anggi yang duduk di belakang langsung menyenggol kursinya pelan. "Queen... dosennya lihatin lo!” bisiknya heboh.
Queen langsung melotot kecil. “Berisik lo.”
“Serius lo Queen. Dari tadi matanya ke arah lo terus.”
Queen mendecih malas meski pipinya mulai terasa hangat.
Sementara di depan kelas, Revan masih berdiri tenang di samping Pak Rektor.
“Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik selama saya mengajar di sini,” ucap pria itu dengan suara rendah dan tenang.
Beberapa mahasiswi langsung tersenyum malu-malu mendengarnya. Bahkan ada yang sengaja merapikan rambut.
Sedangkan Queen hanya menopang dagu malas sambil sesekali melirik Revan diam-diam. Dan semakin dilihat, pria itu memang terlalu sempurna.
Cara berdirinya tenang, pembawaannya dingin, ditambah wajah tampannya yang sulit diabaikan.
“Ya ampun…” gumam salah satu mahasiswi pelan. “Kalau dosennya begini gue sih fix nggak akan bolos."
Satu kelas langsung menahan tawa. Namun berbeda dengan mahasiswa lain yang terlihat antusias, wajah Revan tetap datar tanpa banyak ekspresi.
Tatapan tajamnya kembali menyapu seluruh kelas. Hingga tanpa sengaja, matanya bertemu lagi dengan Queen.
Deg.
Queen langsung refleks menegakkan duduknya. Dan yang lebih membuatnya bingung, Pria itu seperti tersenyum tipis kepadanya.
“Gillaaa...” bisik Anggi dari belakang. “Fix. Dia pasti senyum ke lo Queen.”
Queen langsung menoleh cepat. “Anggi, udah deh lo dari tadi berisik banget.”
Belum sempat Anggi menyahut lagi, Pak Rektor kembali bicara. “Pak Revan akan mulai mengajar besok pagi untuk mata kuliah bisnis internasional.”
Suasana kelas langsung ramai.
“Besok?”
“Kenapa nggak hari ini aja Pak.”
“Gue harus masuk dan nggak ada alasan buat bolos.”
Queen hanya menggeleng kecil melihat tingkah teman-temannya. Namun diam-diam, ia kembali melirik ke arah depan.
Dan sialnya, Revan masih melihat ke arahnya. Kali ini lebih jelas. Tatapan pria itu tenang, tajam, namun entah kenapa terasa sulit dijelaskan.
Sampai akhirnya Revan berjalan pelan melewati barisan meja mahasiswa. Langkahnya berhenti tepat di samping meja Queen. Semua orang langsung diam memperhatikan. Sedangkan Queen mendadak menelan ludah gugup.
Revan menunduk sedikit lalu melihat name tag kecil di meja gadis itu. “Queen Faradiva,” ucapnya pelan membaca nama tersebut. Suara rendahnya membuat bulu kuduk Queen meremang aneh.
Lalu pria itu mengangkat pandangan dan menatap langsung ke mata Queen. “Nama yang bagus.”
Queen langsung membeku beberapa detik.
Sedangkan Anggi mulai berbisik lagi. "Queen lo nggak pingsankan."
Queen tidak menjawab ia masih terdiam dengan pipi yamg sudah mulai memerah. Namun Revan terlihat biasa saja. Setelah mengatakan itu, pria tersebut kembali berdiri tegak lalu melanjutkan langkahnya ke depan kelas seolah tidak terjadi apa-apa.
“Baik, saya rasa cukup perkenalannya,” ucap Pak Rektor akhirnya. “Besok kelas akan dimulai seperti biasa.”
Semua mahasiswa langsung mengangguk patuh meski sebagian besar masih sibuk memperhatikan Revan diam-diam.
Sedangkan Queen buru-buru menundukkan kepala sambil berpura-pura fokus pada bukunya.
"Queen,” bisik Anggi dari belakang sambil menahan tawa. "Are you oke.”
Queen langsung menyikut meja pelan. “Lo jangan mulai ya, Nggi.”
“Dia literally muji nama lo di depan kelas.”
“Itu cuma basa-basi.”
“Kalau gue sih rela dipuji tiap hari.”
Queen memutar bola matanya malas. Namun diam-diam, ucapan pria itu terus terngiang di kepalanya. Dan anehnya, suara rendah Revan tadi terasa sulit dilupakan.
Beberapa menit kemudian kelas kembali berjalan normal. Dosen sebelumnya kembali menjelaskan materi, sementara Pak Rektor dan Revan sudah keluar dari ruangan.
Namun suasana kelas jelas berubah. Tidak ada yang benar-benar fokus belajar. Semua mahasiswa sibuk membahas dosen baru mereka.
“Gila sih, auranya itu loh.”
“Kayak CEO muda.”
“Kalau dia senyum dikit aja gue bisa pingsan.”
Anggi bahkan masih terus mengganggu Queen dari belakang. “Menurut lo Nathan atau Pak Revan yang lebih ganteng?”
Queen langsung mendengus. “Pertanyaan yang nggak penting.”
“Jawab dulu.”
“Nathan.”
“Cepet banget jawabnya.”
“Ya iyalah, dia pacar gue.”
Anggi malah tertawa jahil. “Tapi tadi lo bengong lihat Pak Revan.”
Queen spontan melempar tisu ke arah sahabatnya itu. “Lo bisa diem nggak sih!”
30 menit kemudian. Bel pulang akhirnya berbunyi.
“Yeaaay!”
Satu kelas langsung ribut senang.
Mahasiswa mulai membereskan buku dan memasukkan alat tulis ke dalam tas.
Queen juga langsung berdiri sambil meregangkan tubuhnya lelah. “Akhirnya selesai juga,” keluhnya.
Anggi menghampiri sambil menyampirkan tas di pundak. “Jadi sekarang mau langsung pulang atau pergi sama Nathan?”
Mendengar nama pacarnya disebut, Queen langsung teringat sesuatu. “Astaga!”
“Apa?”
Queen buru-buru mengambil ponselnya dari dalam tas. Benar saja sudah ada belasan chat dari Nathan.
Nathan : Gue udah di depan kampus.
Nathan : Queen.
Queen langsung meringis pelan. “Mampus…” gumamnya.
Anggi langsung tertawa keras. “Kasihan banget cowok lo dicuekin.”
Belum sempat Queen membalas chat itu, tiba-tiba suasana koridor luar kelas mendadak ramai. Beberapa mahasiswi langsung heboh sambil berbisik-bisik.
“Itu Pak Revan…”
“Ya ampun dia masih di sini…”
Queen refleks menoleh ke arah luar. Dan di sana, Revan sedang berdiri di ujung koridor sambil berbicara dengan salah satu dosen kampus.
Kemeja hitamnya membuat pria itu terlihat semakin mencolok di antara keramaian mahasiswa. Lalu tanpa sengaja, tatapan mata Revan kembali bertemu dengan Queen dari kejauhan.
Saling support sabi kali ya😉