NovelToon NovelToon
Holong Di Balik Adat

Holong Di Balik Adat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:192
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepikiran

"Tapi nanti kamu pakai apa?" tanya Elisya sambil melirik pada Elora.

"Pakai aja dulu," jawabnya santai sambil meletakkan sepatu itu di depan kaki Elisya.

"Kalau aku bisa jalan pakai kaus kaki sampai parkiran." lanjutnya.

"Tapi....." Elisya masih terlihat ragu.

"Tidak apa-apa." potongnya cepat. "Daripada kalian berdiri di sini terus jadi tontonan satu gereja."

Di tengah suasana canggung itu, Elora diam-diam memperhatikan mereka berdua, laki-laki itu yang berdiri hanya dengan kaus kaki di lantai gereja yang masih dingin dan sahabatnya, Elisya yang masih terlihat enggan untuk menerimanya. Elora menahan senyum kecil.

"Kalau begitu saya duluan ya....." ucap laki-laki itu.

Namun baru melangkah beberapa langkah, suara dari belakang menghentikannya.

"Nama kamu siapa?" tanya Elisya.

Laki-laki itu tersenyum tipis sebelum balik badan, menoleh. Dia melangkah mendekat kembali.

Menyodorkan tangannya, "Namaku Asido Markus Pardosi."

Elisya tak langsung membalas dengan mengucapkan namanya juga, hanya tangan itu yang saling menggenggam.

Elora kembali menepis lengan sahabatnya, "kok bengong sih??" bisiknya.

"Oh.... Namaku Elisya Mayura Pasaribu." balasnya sambil menarik tangannya.

Elisya menunjukkan ekspresi aneh, ekspresi yang sulit untuk dijelaskan.

"Kenapa?" tanya Asido spontan.

Elisya menggeleng cepat, "Enggak apa-apa..... Oh ya, terimakasih ya untuk sepatunya."

"Iya, sama-sama."

Asido pergi meninggalkan tempat itu, berjalan menuju gerbang. Elisya dan Elora memperhatikan dia yang berjalan hanya menggunakan kaos kaki itu.

"Cie..... Cie....." ucap Elora tiba-tiba.

Elisya hanya melirik sekilas, lalu menunduk memakai sepatu itu. Memakai sepatu yang pastinya kebesaran.

Elora terkekeh melihat itu, tapi lirikan Elisya langsung menghentikannya.

"Sorry, sorry.... Tapi kamu lucu pakai itu," ucap Elora sambil menahan tawanya dengan menutup mulutnya.

"Udah? Udah ketawanya?" sindir Elisya sambil melotot kecil ke arah Elora.

Elora buru- buru membuang muka karna masih ingin tertawa melihat Elisya berjalan dengan sneakers putih yang jelas kebesaran di kakinya.

"Sya, kau jalannya kayak anak kecil pakai sepatu bapaknya," bisik Elora pelan.

"Elora!!" protes Elisya malu.

Elora tertawa kecil sebelum mempercepat langkahnya dari belakang dan menggandeng lengan sahabatnya supaya tidak jatuh.

"Hati-hati lah," katanya sambil menahan senyum. "Nanti patah lagi yang lain." sindirnya lagi.

Sindiran-sindiran jengkel Elora masih terdengar bahkan sepanjang perjalanan pulang sampai ke kontrakan mereka.

Elisya langsung menoleh kesal sambil membuka pintu kontrakan, "Ketawalah terus!!"

Elora terkikik kecil sambil menjatuhkan tasnya ke sofa ruang tamu mungil mereka.

Elisya duduk sambil melepas sneakers putih itu. Dan entah kenapa, ekpresinya berubah diam.

Elora yang sedari tadi masih ingin menggoda akhirnya memperhatikan temannya lebih serius.

"Eh..... Kamu kenapa?"

Elisya menatap sepatu itu beberapa saat sebelum berdecak pelan. "Orang itu baik kali ya...."

"Elah,...." Elora langsung duduk di sampingnya. "Baru dikasih pinjam sepatu udah mulai...."

"Aku serius woi....."

Elora menaikkan alis jahil. "Jangan-jangan ada yang jatuh cinta di gereja tadi."

Elisya melemparkan bantal kecil ke arah temannya.

"Ngawur,"

Tetapi pipinya yang perlahan memerah membuat Elora malah tertawa semakin keras.

"Woii..... Jadi benar rupanya!" godanya sambil mengguncang baju Elisya.

"Elora!!!" suara tawa mereka memenuhi kontrakan kecil itu untuk pertama kalinya setelah minggu-minggu melelahkan hidup di perantauan.

Di tengah suara tawa itu, hp Elisya berdering.

"Siapa? Orang yang tadi ya?" tanya Elora masih iseng.

"Apaan sih? Ini Mamaku.....Diam!!" balas Elisya.

"Horas, Oma....." ucap Elisya.

Suara ibunya terdengar jelas dari seberang, penuh nada bahagia.

"Horas, Boru..... Sehat doho kan?"

"Sehat, Ma..... Kenapa, Ma? Sepertinya suara Oma terdengar sangat bahagia..."

"Iya Boru..... Kakak mu minggu depan Martuppol. Jadi mulak maho tu huta on."

Elisya yang tadinya santai langsung diam.

"Serius? Sitoho do on, Ma?"

"Olo.Tinggal persiapan aja ini."

Elora yang tadi penasaran langsung mendekat.

"Kenapa? Kenapa?" bisiknya heboh.

Elisya menutup sedikit bagian bawah HPnya.

"Kakak ku mau Martuppol....."

"Boi do, Boru?" tanya ibunya lagi dari ujung telepon, memastikan Elisya bisa pulang ke kampung untuk acara itu.

Elisya melirik temannya sebentar sebelum menghela napas pelan.

"Taida ma jolo, Ma....." jawabnya hati-hati.

Di seberang sana, ibunya terdiam sesaat lalu bersuara lebih lembut.

"Olo Boru.... Tapi usahakan lah ya....."

Telepon itu ditutup. Suasana kontrakan tadi mendadak sedikit tenang.

"Jadi pulang kampung ini?" tanya Elora.

Elisya menjatuhkan tubuhnya ke kasur tipis sambil menatap langit kamar.

"Aku juga belum tahu......"

Elisya bingung. Ia tahu itu penting dalam keluarga mereka, apalagi itu adalah hal pertama bagi keluarganya. Tapi jadwal sekolah memang sedang padat padatnya.

Di saat suasana kontrakan masih membahas dan mencari solusi dari kabar Martuppol kaka Elisya. Suasana di kontrakan lain terdengar agak heboh, berisik.

Teman temannya Asido sedang bernyanyi nyanyi di teras kontrakan itu. Saat itu, motor Asido memasuki gerbang kontrakannya.

Semua yang duduk di depan langsung melongo.

"Woi.... Mana sepatumu?!?" Asido ikut menunduk melihat kakinya yang hanya dibalut kaos kaki hitam. Ia hanya mematung sebentar.

"Anjir......." teman temannya mulai ketawa pecah.

"Naik motor pakai kaos kaki doang??"

"Sepatunya dimakan jalan kah?"

"Atau abang ini baru kabur dari sekolah?"

Asido mengacak rambutnya saat mendengar ledekan teman temannya itu tapi masih tetap berusaha santai.

"Tadi..... ada masalah kecil."

"Masalah kecil gimana sampai sepatu hilang dua duanya," potong yang lain cepat.

"Asli sih, ini pertama kali kulihat orang pulang naik motor kayak habis dirampok sepatu."

"Asido, kau taruhan apa lagi, Lae?"

Asido yang sudah malas menanggapinya langsung berjalan cepat ke arah pintu kontrakan.

"Awas.... Awas..." ucapnya sambil mendorong pelan bahu mereka supaya minggir.

"Bagi-bagi cerita lah, Bro...."

Asido mendecakkan lidah.

"Urusin aja diri kalian," balasnya ketus. "Hari Minggu tapi gak gereja. Sibuk ngurus kaki orang."

"Woiiii......"

"Bawa bawa gereja lagi dia!!"

Teman temannya langsung ribut membela diri.

"Aku mau gereja sore, woi..."

Suasana depan kontrakan kembali ricuh.

"Dasar rese!!!" ucap Asido sambil menjatuhkan tubuhnya begitu saja di kasur tipisnya.

Tatapan tadi kembali terlintas. Tatapan Elisya di gereja tadi. Awalnya cuma sekilas. Tapi, entah lah, matanya malah ingin terus mencari perempuan itu selama ibadah.

Asido mengusap wajahnya kasar, "Kebetulan....?"

Lalu ingatan berpindah lagi pada kejadian tadi. Elisya berdiri canggung dengan wajah setengah kesal, setengah malu karena sepatunya rusak.

"Kok bisa ya.....?"

Sekarang kalau dipikir pikir, itu benar-benar tindakan paling tidak masuk akal yang pernah dia lakukan.

Asido mengangkat tubuhnya,duduk dan melihat kaos kakinya sendiri.

"Kalo mereka tau pasti dibilangnya..... Makanya jangan sok pahlawan."

Namun bukannya kesal, sudut bibirnya malah terangkat tipis mengingat ekspresi Elisya.

"Lucu......" gumamnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!