Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 — Rahasia di Balik Mata Dingin
Nadira tidak bisa tidur semalaman.
Setelah percakapannya dengan Arsen di balkon rumah sakit, kepalanya terasa penuh. Kalimat pria itu terus terulang di pikirannya.
“Kenapa seseorang rela menghilang demi saudara kembarnya?”
Menghilang.
Iya.
Itu memang yang sedang terjadi.
Perlahan-lahan Nadira menghilang, lalu digantikan oleh Nayla.
Ia duduk di sofa ruang rawat VIP sambil memeluk lutut. Jam di dinding menunjukkan pukul dua dini hari.
Lampu kamar diredupkan, hanya menyisakan cahaya kekuningan yang membuat ruangan terasa sunyi.
Di balik tirai pembatas, Nayla masih terbaring tak sadarkan diri.
Mesin monitor berdetak pelan.
Bip… bip… bip…
Nadira menatap wajah saudara kembarnya lama.
Sama.
Benar-benar sama.
Kalau orang asing melihat mereka sekarang, mungkin tidak akan bisa membedakan mana Nayla dan mana Nadira.
Tapi Arsen bisa.
Dan itu membuat Nadira takut.
Pintu kamar terbuka pelan.
Mamannya masuk sambil membawa beberapa paper bag mahal.
“Kamu belum tidur?”
Nadira menggeleng.
“Besok ada konferensi kecil sama keluarga Wijaya dan beberapa relasi bisnis,” ujar mamanya langsung ke inti pembicaraan. “Kamu harus ikut.”
Nadira menatap tak percaya.
“Lagi?”
“Kita nggak punya pilihan.”
“Aku capek, Ma.”
Mamanya mendesah pelan lalu duduk di sebelahnya.
Untuk beberapa detik, wanita itu terlihat lebih tua dari biasanya.
“Papa kamu benar-benar sedang terdesak.”
Nadira diam.
“Keluarga Wijaya itu penyelamat terakhir perusahaan kita.”
“Kenapa perusahaan bisa sampai separah ini?”
Mamannya terdiam sesaat.
Lalu berkata pelan, “Karena Papa terlalu percaya pada orang.”
Jawaban yang menggantung.
Dan Nadira tahu ada sesuatu yang disembunyikan.
Namun sebelum ia sempat bertanya lagi, mamanya sudah berdiri.
“Besok pagi stylist akan datang. Jangan bikin masalah dulu, ya?”
Kalimat itu membuat dada
Nadira terasa sesak lagi.
Jangan bikin masalah.
Seolah keberadaannya sendiri memang merepotkan.
Pagi harinya rumah sakit berubah seperti hotel bintang lima.
Beberapa orang keluar masuk ruangan VIP sambil membawa gaun, makeup, sepatu, hingga aksesori mahal.
Stylist pribadi Nayla bahkan datang sambil membawa koper besar.
“Mbak Nayla kelihatan lebih kurus ya habis kecelakaan,” ujar stylist itu sambil membenarkan rambut Nadira.
Nadira hanya tersenyum tipis.
Ia mulai terbiasa dipanggil Nayla.
Dan itu menyeramkan.
“Mas Arsen nanti datang juga?” tanya salah satu asisten stylist sambil nyengir.
“Katanya sih iya.”
“Duh cocok banget mereka berdua.”
Nadira langsung memalingkan wajah.
Cocok?
Kalau mereka tahu wanita yang sekarang duduk di depan mereka bukan Nayla, mungkin semua orang akan panik.
Satu jam kemudian, Nadira akhirnya selesai didandani.
Gaun hitam sederhana membungkus tubuhnya.
Rambut panjangnya dibuat bergelombang lembut.
Saat melihat pantulan dirinya di cermin, ia sampai terdiam.
Cantik.
Tapi bukan dirinya.
Itu Nayla.
Bahkan cara berdiri mereka kini mulai sama.
“Perfect,” ujar stylist puas.
Nadira tersenyum hambar.
Kalau terus begini… apa ia akan lupa bagaimana menjadi dirinya sendiri?
Acara berlangsung di ballroom hotel milik keluarga Wijaya.
Sejak turun dari mobil, Nadira sudah merasa mual.
Gedung megah itu dipenuhi wartawan dan tamu penting.
Lampu kamera berkedip di mana-mana.
“Miss Nayla! Senyum ke sini!”
“Nona Nayla!”
Nadira refleks mundur kecil.
Ia tidak terbiasa dengan semua perhatian ini.
Berbeda dengan Nayla yang selalu menikmati sorotan.
Papanya langsung menggenggam lengannya erat.
“Ingat, jangan gugup.”
Nadira mengangguk pelan.
Namun begitu mereka masuk ke ballroom utama, langkahnya langsung terhenti.
Arsen berdiri di tengah ruangan.
Setelan abu gelap membuat pria itu terlihat semakin dingin dan mahal.
Beberapa wanita diam-diam meliriknya kagum.
Tapi Arsen sama sekali tidak peduli.
Tatapannya langsung mengunci Nadira.
Dan lagi-lagi…
Pria itu seolah bisa melihat tembok kebohongan yang sedang ia bangun.
“Kemarilah,” ujar papanya pelan.
Nadira berjalan mendekat.
Semakin dekat dengan Arsen, semakin kacau detak jantungnya.
Pria itu lalu mengulurkan tangan.
“Selamat datang.”
Nadira ragu sepersekian detik sebelum menyambut tangannya.
Hangat.
Aneh sekali.
Seseorang dengan tatapan sedingin Arsen ternyata memiliki tangan sehangat itu.
“Kamu kelihatan pucat,” katanya pelan.
“Aku kurang tidur.”
“Karena takut ketahuan?”
Nadira langsung menegang.
Untungnya suara Arsen sangat pelan hingga tak ada orang lain yang mendengar.
Pria itu malah tersenyum tipis melihat reaksinya.
Dan itu pertama kalinya Nadira sadar—
Arsen ternyata suka menggodanya.
Acara dimulai.
Para tamu berbicara soal kerja sama bisnis, investasi, dan rencana pertunangan besar dua keluarga.
Nadira duduk diam sambil sesekali tersenyum.
Ia merasa seperti sedang memainkan peran di drama mahal.
“Nayla.”
Seorang wanita muda tiba-tiba duduk di sebelahnya.
Penampilannya glamor dengan makeup tajam dan gaun merah menyala.
“Aku kangen banget sama kamu!”
Wanita itu langsung memeluk Nadira.
Nadira panik.
Karena ia sama sekali tidak mengenal siapa wanita ini.
“Kamu kenapa sih?” wanita itu tertawa kecil. “Kayak lihat hantu.”
“O-oh…”
“Jangan bilang kamu lupa sama aku.”
Mampus.
Nadira memaksakan senyum.
“Tentu nggak.”
Wanita itu menyipitkan mata curiga.
“Aneh banget.”
Belum sempat Nadira menjawab, seseorang tiba-tiba menarik kursi di sebelahnya.
Arsen.
“Audrey,” katanya datar. “Kamu mengganggu tunanganku.”
Wanita bernama Audrey itu mendecih.
“Galak banget sih.”
“Aku serius.”
Audrey memutar mata malas lalu berdiri.
“Fine. Tapi Nayla aneh hari ini.”
Setelah wanita itu pergi, Nadira langsung mengembuskan napas lega.
“Thanks…”
Arsen menyesap wine-nya santai.
“Kamu bahkan nggak tahu itu sahabat Nayla.”
“Aku nggak hafal semua temannya.”
“Kamu memang nekat.”
Nadira meliriknya kesal.
“Kalau kamu tahu semuanya, kenapa nggak bongkar aja?”
Arsen ikut menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Lama.
Lalu pria itu berkata pelan,
“Karena aku lebih suka melihat sampai kapan kamu bisa bertahan.”
Setelah acara selesai, Nadira buru-buru keluar mencari udara segar.
Ballroom itu terlalu penuh.
Terlalu banyak kebohongan.
Ia berjalan ke taman belakang hotel yang sepi dan akhirnya duduk di bangku dekat kolam.
Angin malam terasa dingin.
Untuk pertama kalinya hari ini, ia bisa bernapas lega.
“Kabur?”
Suara Arsen lagi.
Nadira bahkan tidak kaget lagi sekarang.
“Cuma pengen sendirian.”
Arsen berdiri di depannya sambil membuka dua kancing atas jasnya.
“Aku heran.”
“Apa?”
“Kamu berbeda jauh dari Nayla.”
Nadira tertawa kecil.
“Semua orang bilang kami identik.”
“Wajah iya.”
“Terus?”
“Kepribadian kalian seperti langit dan bumi.”
Nadira menatap air kolam.
Ia tahu itu.
Sangat tahu.
Nayla selalu berani mengambil apa yang ia mau.
Sedangkan Nadira terbiasa mengalah bahkan sebelum mencoba.
“Apa Nayla selalu memperlakukanmu seperti ini?” tanya Arsen tiba-tiba.
“Maksudnya?”
“Membiarkanmu jadi bayangannya.”
Nadira diam.
Lama sekali.
Lalu ia berkata pelan, “Nayla nggak pernah minta dilahirkan lebih disukai.”
“Itu bukan jawaban.”
Nadira menggigit bibir.
“Aku capek dibanding-bandingkan terus.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Mungkin karena ia terlalu lelah berpura-pura.
“Atau mungkin…” suaranya melemah, “aku cuma iri.”
Arsen memperhatikannya tanpa bicara.
“Semua orang selalu memilih Nayla,” lanjut Nadira pelan.
“Kalau kami berdiri bareng, orang pasti lihat dia duluan.”
“Aku nggak.”
Deg.
Nadira langsung menoleh.
Tatapan Arsen serius.
Tidak bercanda.
Dan entah kenapa itu membuat jantung Nadira berdebar aneh.
“Aku selalu bisa membedakan kalian,” katanya lagi.
“Kenapa?”
“Karena kamu melihat dunia seperti orang yang terluka.”
Nadira tertawa hambar.
“Sedih banget kedengarannya.”
“Tapi benar.”
Sunyi sesaat.
Lalu Arsen duduk di sebelahnya.
“Aku juga nggak suka acara tadi.”
“Kamu kelihatan biasa aja.”
“Aku memang terbiasa berpura-pura.”
Nadira menatapnya.
Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari Arsen.
Bukan pria dingin yang muncul di berita bisnis.
Tapi seseorang yang juga tampak lelah.
“Kamu nggak suka pertunangan ini?” tanyanya hati-hati.
Arsen tersenyum tipis tanpa humor.
“Menurutmu orang seperti kami bebas memilih?”
Kalimat itu membuat Nadira terdiam.
Karena ternyata mereka sama.
Sama-sama terjebak.
Pukul sembilan malam mereka kembali ke rumah sakit.
Papanya terlihat sangat puas setelah acara tadi.
“Semua berjalan lancar,” katanya sambil tersenyum lebar. “Bagus, Nadira.”
Langkah Nadira terhenti.
Baru kali ini papanya memujinya.
Meski… karena ia menjadi Nayla.
Lucu sekali.
Mamanya juga terlihat jauh lebih tenang.
“Kamu tinggal bertahan sedikit lagi.”
Sedikit lagi.
Entah kenapa Nadira merasa itu bohong.
Karena semua ini justru baru dimulai.
Tengah malam.
Nadira masuk ke ruang rawat Nayla sendirian.
Lampu kamar remang-remang.
Ia duduk di samping ranjang saudara kembarnya sambil memandang wajah itu lama.
“Aku capek, Nay…”
Tak ada jawaban.
“Tahu nggak? Aku hampir ketahuan berkali-kali hari ini.”
Tangannya menggenggam selimut pelan.
“Aku benci semua ini.”
Air matanya mulai turun.
“Aku benci harus jadi kamu.”
Suara monitor tetap berbunyi stabil.
Dan itu justru membuat ruangan terasa makin sunyi.
Nadira mengusap matanya kasar.
“Cepat bangun, please…”
Karena semakin lama ia hidup sebagai Nayla…
Semakin ia takut kehilangan dirinya sendiri.
Keesokan paginya sesuatu terjadi.
Sesuatu yang membuat semuanya berubah.
Saat Nadira sedang membeli kopi di lobby rumah sakit, dua perawat lewat sambil bergosip pelan.
“Kasihan ya pasien kecelakaan semalam itu.”
“Iya. Katanya rem mobilnya sengaja dirusak.”
Langkah Nadira langsung berhenti.
Jantungnya berdegup keras.
Dirusak?
“Maksudnya kecelakaan Nayla?” tanya Nadira spontan.
Kedua perawat itu kaget.
“Eh… maaf Nona…”
“Jawab.”
Perawat itu tampak ragu.
“Kami juga cuma dengar dari polisi yang datang tadi malam…”
“Kecelakaannya bukan kecelakaan biasa?”
“Mungkin.”
Tubuh Nadira langsung dingin.
Kalau rem mobil Nayla memang dirusak…
Artinya seseorang memang ingin mencelakainya.
Dan lebih mengerikan lagi—
Orang itu mungkin belum selesai.
Sepanjang hari Nadira gelisah.
Ia terus memikirkan perkataan perawat tadi.
Siapa yang ingin mencelakai Nayla?
Saingan bisnis?
Orang yang dendam?
Atau…
Seseorang dari dekat mereka sendiri?
“Nayla.”
Nadira tersentak saat Arsen masuk ke ruang VIP.
Pria itu langsung menyadari wajah pucatnya.
“Ada apa?”
Nadira ragu beberapa detik.
Namun akhirnya ia berkata pelan,
“Kecelakaan Nayla mungkin disengaja.”
Tatapan Arsen langsung berubah tajam.
“Kamu dengar dari siapa?”
“Perawat.”
Arsen diam.
Wajahnya mendadak dingin sekali.
Dan itu membuat Nadira sadar—
Pria ini mungkin sudah mencurigainya sejak awal.
“Kamu tahu sesuatu?” tanyanya hati-hati.
Arsen berjalan mendekat.
“Mobil Nayla memang bermasalah.”
“Kamu tahu?!”
“Aku baru dapat laporan pagi ini.”
Nadira langsung berdiri.
“Terus kenapa nggak bilang?!”
“Karena aku belum yakin.”
“Apa maksudnya?”
Tatapan Arsen menusuk lurus ke matanya.
“Karena target sebenarnya mungkin bukan Nayla.”
Deg.
Dunia terasa berhenti sesaat.
“Maksudmu…?”
Arsen mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan sebuah foto.
Mobil Nayla yang hancur parah.
Bagian rem terlihat rusak.
“Seseorang sengaja melakukannya.”
Nadira menggigil.
“Siapa?”
“Aku belum tahu.”
“Tapi kenapa bilang targetnya bukan Nayla?”
Arsen terdiam beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
“Karena orang itu mungkin tahu akan ada pengganti.”
Napas Nadira tercekat.
Tidak.
Tidak mungkin.
Tak ada yang tahu rencana ini selain keluarga mereka.
Kecuali…
Seseorang memang sudah mengawasi mereka sejak awal.
Dan tiba-tiba bulu kuduk Nadira meremang ketika Arsen melanjutkan kalimatnya.
“Artinya,” ujar pria itu pelan, “orang itu mungkin sedang mengincarmu sekarang.”