Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema Suara yang Membelenggu
Pagi itu, atmosfer di dalam kontainer Oil and Fuel terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena pendingin ruangan yang bekerja terlalu keras, melainkan karena keheningan yang sengaja diciptakan oleh Rana.
Ponselnya mati karena terjatuh dan LCD-nya retak. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Rana merasa lega karena menjadi "tidak ada" bagi dunia luar, terutama bagi Ibunya. Namun, melarikan diri dari bayang-bayang keluarga tidaklah semudah menekan tombol power.
Saat jam makan siang tiba, pintu kontainer terbuka dengan suara decit logam yang khas. Mas Rinta, suami dari Mutia; kakak sepupu Rana melangkah masuk. Rinta bekerja sebagai Trainer Operation di divisi yang berbeda, namun siang itu ia sengaja menyeberangi area tambang yang berdebu hanya untuk mencari adik iparnya.
"Rana," panggil Rinta saat melihat Rana sedang menatap kosong ke layar komputer.
"Ponselmu mati? Mutia mencarimu sejak tadi pagi. Katanya Ibumu meneleponnya sambil menangis karena kamu tidak bisa dihubungi."
Rana tersentak. Dadanya berdenyut nyeri. Ia sudah menduganya; jika ia menutup pintu, Ibunya akan mencari jendela, dan jendela itu adalah Mutia.
"Mutia bilang, kalau kamu tidak sibuk, mampirlah ke rumah malam ini. Kita makan malam bersama. Dia cemas sekali, Na," lanjut Rinta dengan nada suara yang lembut namun mengandung desakan.
Rana menarik napas berat. Ia tidak bisa menolak Mutia. Mutia adalah satu-satunya pelabuhan bagi Rana sejak kecil; satu-satunya orang yang tidak pernah meminta sesuatu darinya, tapi justru selalu memberi dan menjadi sandarannya.
Langit Kalimantan sudah sepenuhnya gelap saat Rana berjalan kaki menuju rumah kontrakan yang ditempati Mutia dan Rinta di area perkampungan.
“Kenapa tidak ngomong kalau kamu jalan kaki, Na? Masmu kan bisa jemput,” tanya Mutia begitu melihat Rana muncul di ambang pintu.
“Hari ini hari pasar, Mbak. Jalanan ramai, banyak orang lewat, jadi aman saja,” jawab Rana dengan senyum tipis yang dipaksakan.
Jarak mess dengan perkampungan memang lumayan jauh, sekitar dua kilometer. Ia tidak ingin menambah beban Rinta untuk menjemputnya di mess.
Setelah meletakkan tas dan barang bawaannya, Rana segera menyingsingkan lengan baju. Ia membantu Mutia menyiapkan makan malam di dapur kecil yang harum oleh aroma tumis kangkung dan ikan goreng. Makan malam itu berlangsung hangat, sebuah kontras yang tajam dengan suasana tegang di rumah Ibunya.
Di sini, Rana merasa dimanusiakan. Ia tidak dipandang sebagai mesin penghasil uang, melainkan sebagai adik kecil yang perlu disuapi perhatian.
Usai makan, Rana bersikeras mencuci piring. Mutia berdiri di sampingnya sambil membersihkan meja kompor. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Mutia buka suara.
“Kenapa ponselmu mati, Na? Ibumu telepon Mbak sampai lima kali.”
“Rusak, Mbak,” jawab Rana singkat, fokus pada piring di tangannya.
“Kenapa tidak beli baru saja? Ponselmu itu sudah terlalu sering reparasi, Na. Jangan disiksa terus.” Rana mengembuskan napas berat, gerakan tangannya melambat.
“Jika aku beli ponsel baru, apakah nanti Rani juga akan meminta ponsel baru, Mbak?” tanya Rana dengan suara bergetar.
Tangannya tiba-tiba membeku di bawah kucuran air.
Pertanyaan Rana seketika membuat Mutia tertegun. Ia menatap punggung Rana yang tampak begitu rapuh. Ia sadar, Rana masih terjerat dalam "bakti" yang mencekik kepada Ibunya yang selalu memanjakan Rani.
Mutia melihat Rana tumbuh. Sejak dulu, Rana memang tidak mendapatkan limpahan kasih sayang seperti Rani, tapi setidaknya dulu ia tidak ditekan sehebat ini.
Dulu, saat Rana masih sekolah, ia bekerja sampingan sebagai buruh cuci dan setrika. Uang hasil jerih payahnya ia gunakan sendiri untuk uang saku. Rana juga sempat mengenyam kebebasan di tahun pertamanya bekerja setelah lulus SMK dengan susah payah.
Tapi semenjak Om Pambudi, ayah Rani meninggal, Tante Retno seolah kehilangan arah dan menjadikan Rana sebagai tulang punggung tunggal untuk memenuhi semua gaya hidup mewah Rani.
Mutia segera mengambil alih piring dari tangan Rana, mencuci bersih sisa sabun di tangan adiknya, lalu membawanya ke ruang tengah. Ia masuk ke dalam kamar sebentar dan kembali dengan sebuah ponsel di tangannya.
“Kamu pakai saja ponsel lama Mbak,” katanya sambil menyerahkan ponsel itu ke tangan Rana.
“Tidak usah, Mbak. Merepotkan.”
“Pakai saja dulu sampai kamu bisa membeli yang baru, atau sampai ponselmu bisa diperbaiki. Tidak ada tapi-tapi,” tegas Mutia.
Rana menatap ponsel itu lama. Ia enggan menerimanya karena sadar, membeli ponsel baru bukanlah prioritas dalam waktu dekat. Selain alasan Rani, ia juga merasa sayang.
Gajinya memang besar, hampir sepuluh juta rupiah sebulan karena banyaknya jam lembur yang ia ambil. Namun, setelah dipotong setengah untuk Ibu dan tambahan satu juta ekstra, ia hanya memegang empat juta. Dua juta masuk ke rekening virtual untuk tabungan kuliah dan tiket pesawat, sementara sisanya untuk hidup di perantauan yang serba mahal.
Dua bulan lagi adalah jatah cutinya. Beberapa kali cuti, ia hanya menghabiskan waktu di mess dan rumah Mutia karena uang tiket pesawatnya "dipinjam" Ibu untuk biaya pesta ulang tahun Rani atau kebutuhan mendadak.
“Pakai saja, Na. Mbak sudah beli yang baru. Mas Rinta juga tidak keberatan, kan?” Mutia melirik suaminya.
“Iya, Na. Pakai saja. Kalau ponselmu mati, kamu juga yang repot. Info pekerjaan di grup WhatsApp kantor kan jalan terus,” tambah Rinta.
Rana akhirnya mengangguk. Air matanya hampir tumpah, namun ia tahan.
“Terima kasih, Mbak. Nanti setelah aku ganti LCD ponselku, aku akan mengembalikannya.”
Keesokan harinya, begitu Rana menyalakan ponsel pemberian Mutia dengan kartu SIM-nya, notifikasi beruntun masuk bagaikan banjir bandang. Di barisan paling atas, nama "Ibu" mendominasi dengan puluhan panggilan tak terjawab dan rentetan pesan teks.
Rana memberanikan diri membalas satu pesan terakhir soal laptop Rani.
Rana: Maaf Bu, Rana tidak bisa. Laptop Rani baru dipakai dua tahun. Bawa saja ke tukang servis kalau lemot.
Rana merasa miris. Ia saja yang masih dengan laptopnya yang berumur 5 tahun tidak bisa mengeluh karena baterainya sudah tidak bisa menyimpan daya, mengharuskannya menggunakan adapter setiap kali menggunakannya.
Hanya butuh beberapa detik sampai ponsel di tangannya bergetar hebat. Panggilan masuk. Rana mengangkatnya dengan jantung berdebar.
“Apa maksudmu, Rana?!” suara Ibu melengking di seberang sana.
“Laptop lemot itu minta ganti, bukan dibawa ke tukang servis. Kamu ini kenapa pelit sekali sama adik sendiri?”
“Bu, Rana cuma pegang empat juta sekarang. Jika harga laptopnya enam juta, bukankah uang yang Rana kirim kemarin sudah cukup?”
“Kalau uang kemarin dipakai buat laptop, bagaimana dengan tunggakan bulanan Rani? Belum lagi uang belanja dan uang saku Rani. Kamu ini tidak berpikir jernih ya?”
“Kalau Ibu sudah tahu uangnya mepet, kenapa masih bertanya, Bu?” suara Rana mulai bergetar.
“Rana juga punya kebutuhan di sini. Biaya hidup di Kalimantan sangat tinggi. Harga bahan pokok bisa tiga kali lipat karena jauh dari pemukiman.”
Rana berusaha menekan suaranya agar tidak meninggi, namun emosinya sudah di ujung tanduk. Tiba-tiba, saat Ibunya hendak membalas dengan bentakan yang lebih keras, layar ponsel di tangan Rana mendadak gelap. Mati. Baterainya habis karena Rana tidak memperhatikannya.
Rana mengembuskan napas kasar. Ia merasa seperti pecundang yang diselamatkan oleh baterai habis.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Rana bergegas mandi dan bersiap. Ia bahkan tidak sempat sholat dengan tenang; di kantin, ia hanya mengambil nasi kotak dan segera berlari menuju bus jemputan yang sudah menderu di parkiran.
“Begadang ya? Matamu merah,” tanya Mas Budi saat Rana duduk di kursinya dengan napas tersengal.
Rana hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Ia membenahi duduknya, berharap pekerjaan hari ini akan memberinya sedikit ruang untuk bernapas. Namun, takdir berkata lain.
Pekerjaan hari itu benar-benar menguras energi. Ada selisih data yang cukup besar dalam laporan pengeluaran bahan bakar dari shift malam. Rana harus memeriksa satu per satu form pengeluaran, mencocokkannya dengan sisa fisik di tangki penyimpanan dan spedometer mesin.
Bip! Telepon interkom di mejanya berbunyi.
“Rana! Kenapa data belum masuk ke sistem?” tanya atasan Rana dengan nada tidak sabar.
“Maaf, Pak. Banyak selisih di data, saya harus mengeceknya satu-satu agar tidak salah input.”
“Satu jam lagi harus selesai. Manajer mau melihat laporannya!”
“Baik, Pak.”
Hari itu menjadi salah satu hari terberat bagi Rana. Selain laporan pagi yang bermasalah, stok oli di gudang juga menunjukkan kuantitas yang tidak akurat karena ada pengeluaran barang tanpa catatan WO (Work Order). Ia harus menghubungi semua rekan mekanik, termasuk yang sedang libur, hanya untuk melacak siapa yang mengambil barang tanpa melapor.
Saat jam pulang kerja tiba, Rana berjalan dengan langkah gontai menuju parkiran bus. Pikirannya benar-benar buntu. Ia naik ke bus dan duduk di bangku kosong barisan keempat tanpa memperhatikan siapa pun di sekitarnya.
Hingga saat bus berhenti di halte mess dan ia turun, barulah ia tersadar. Seorang laki-laki berjalan di sampingnya dengan langkah yang tegap namun santai.
Pradika.
Laki-laki itu menatap Rana yang tampak berantakan dengan hijab yang hanya disampirkan sembarang di kedua bahunya dengan mata yang jelas terlihat lelah. Pradika tidak bertanya, ia hanya memberikan senyum kecil yang anehnya terasa sangat menenangkan di tengah kekacauan hari Rana.
"Hari yang panjang?" tanya Pradika pelan.
Rana menatapnya, lalu hanya bisa mengangguk pasrah dan berpisah karena mess laki-laki dan perempuan yang berbeda arah.