NovelToon NovelToon
Janji Yang Terkubur

Janji Yang Terkubur

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jun

Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur

Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29: Kebangkitan Kekuatan Lama

Selama tiga hari berturut-turut, Raga terbaring lemah di rumah perawat desa. Lira tidak pernah beranjak dari sisi tempat tidurnya, siang dan malam ia menjaga, mengganti perban, memberi makan, dan membasuh wajah suaminya dengan penuh kasih sayang. Luka di punggung Raga perlahan mulai kering, warna wajahnya perlahan kembali memerah, namun kekuatan fisiknya belum pulih sepenuhnya.

Di saat istirahat itu, di tempat yang aman dan jauh dari pengawasan musuh, Raga tidak hanya diam beristirahat. Ia mulai menyusun rencana besar yang sudah lama ia simpan di dalam hatinya. Ia tahu, bersembunyi dan bertahan tidak akan pernah membuat mereka benar-benar aman. Satu-satunya jalan untuk hidup tenang selamanya adalah menghancurkan akar kejahatan Lingkaran Emas sampai habis, sehingga tidak ada lagi yang bisa mengancam nyawa mereka atau orang lain.

Sore itu, saat matahari bersinar hangat masuk lewat jendela, Raga memanggil ketua orang-orang setianya, seorang pria tangguh bernama Dani yang sudah bekerja bersama keluarga Ardiansyah sejak muda.

“Dani, sudah waktunya kita membuka semua kartu yang kita miliki,” kata Raga dengan suara masih lemah namun penuh ketegasan. “Kirim orang ke kota besar, hubungi semua mantan mitra bisnis ayahku, semua pejabat yang dulu pernah dibantu keluarga kita, semua orang yang tahu kejahatan Pak Surya. Katakan padaku, aku Raga Ardiansyah masih hidup, dan aku siap mengambil kembali apa yang dirampas, serta mempertanggungjawabkan semua dosa mereka.”

Dani mengangguk dengan mata berbinar penuh harapan.

“Baik, Tuan Muda. Sudah lama kami menunggu kata-kata ini. Banyak orang yang sebenarnya tidak suka dengan kekuasaan Pak Surya, tapi mereka takut. Begitu mereka tahu Tuan bangkit kembali, mereka pasti akan bergabung. Mereka tahu, keluarga Ardiansyah selalu berdiri di sisi kebenaran.”

“Dan satu hal lagi,” tambah Raga, matanya menatap tajam ke kejauhan. “Cari semua bukti tertulis, rekaman, dokumen yang membuktikan bahwa Lingkaran Emas terlibat dalam korupsi, penipuan, hingga pembunuhan. Semua itu pasti ada, mereka terlalu percaya diri untuk menghapus jejak. Kumpulkan semuanya, sampai kita punya cukup senjata untuk menjatuhkan mereka sekaligus ke dasar tanah.”

Saat Dani pergi melaksanakan perintah, Lira duduk di samping tempat tidur, memegang tangan Raga erat.

“Kamu yakin, Raga? Itu sangat berbahaya. Pak Surya punya kekuatan besar, banyak orang di sisinya,” katanya lembut, penuh kekhawatiran.

Raga membalas genggaman tangan itu, lalu tersenyum lembut.

“Aku yakin, sayang. Dulu aku kalah karena aku sendirian, muda, dan tidak siap. Sekarang aku punya kamu, aku punya orang-orang setia, dan aku punya kebenaran di pihakku. Pak Surya kuat karena ketakutan dan kekayaan curiannya. Tapi kekuatan seperti itu rapuh, Lira. Begitu terbuka semua kejahatannya, orang-orang yang bersamanya akan lari ketakutan, dan kekuasaannya akan runtuh sendiri.”

Ia berhenti sejenak, lalu menatap mata Lira dalam-dalam.

“Selama aku masih diam, mereka akan terus mengejar kita, terus mengancam. Tapi kalau kita menyerang duluan, kita yang pegang kendali. Aku ingin hidup denganmu tanpa harus melihat ke belakang setiap langkah. Aku ingin kita bisa tidur nyenyak di malam hari, tanpa takut ada orang masuk atau ada pesan ancaman. Itu hanya mungkin terjadi kalau Lingkaran Emas sudah tidak ada lagi di dunia ini.”

Lira mengangguk perlahan, rasa khawatirnya perlahan berubah menjadi kekuatan. Ia percaya pada Raga, percaya pada kemampuannya, dan percaya bahwa kebaikan pasti akan menang melawan kejahatan.

“Aku ikut kamu, Raga. Apa pun yang kamu putuskan, aku ada di sampingmu. Kita hadapi semuanya bersama-sama.”

 

Di markas Lingkaran Emas, kemarahan Pak Surya meledak luar biasa. Kabar kegagalan menangkap Lira, kematian banyak anak buahnya, hingga luka parah yang diderita Raga membuat ia tidak bisa menahan amarahnya lagi. Ia melempar benda-benda di ruangannya, wajahnya merah padam karena murka.

“Bodoh! Semuanya bodoh! Kalian tidak bisa menangkap satu wanita lemah, bahkan sampai membiarkan Raga selamat dan semakin kuat! Apa gunanya aku bayar kalian mahal-mahal?” hardiknya keras pada anak buahnya yang menunduk ketakutan.

“Maaf, Tuan. Kami salah perhitungan. Raga ternyata sudah mengumpulkan orang-orang setianya, dan mereka bertarung mati-matian. Selain itu, kabar mulai tersebar di kalangan pejabat dan pengusaha, bahwa Raga Ardiansyah masih hidup dan mulai mengumpulkan kekuatan kembali,” lapor salah satu orang itu dengan suara gemetar.

Wajah Pak Surya berubah menjadi seram dan dingin. Ia tahu betul bahaya apa yang sedang datang. Selama nama Raga Ardiansyah masih ada, selama orang-orang masih ingat kebaikan keluarga itu, posisinya akan terus terancam.

“Kalau begitu, tidak ada lagi cara halus,” ucap Pak Surya dengan suara rendah namun penuh niat membunuh. “Kirim orang terbaikku, pasukan khusus yang belum pernah aku gunakan sebelumnya. Cari tempat mereka bersembunyi, serang dengan kekuatan penuh, dan pastikan kali ini tidak ada yang selamat. Baik Raga maupun istrinya, semuanya harus mati. Jangan sampai ada sisa, jangan sampai ada jejak. Hancurkan sampai rata dengan tanah, supaya tidak ada lagi orang yang berani menentangku.”

“Baik, Tuan. Kami akan laksanakan,” jawab anak buah itu, lalu segera pergi dengan wajah tegang.

Pak Surya duduk kembali di kursinya, jari-jarinya mengetuk pelan di atas meja. Matanya memancarkan kegelapan yang deep.

“Raga… Kamu pikir kamu bisa melawan aku? Dulu ayahmu saja tidak mampu, apalagi kamu yang sudah jatuh miskin. Kali ini aku akan pastikan kamu lenyap selamanya dari muka bumi ini.”

 

Tiga hari kemudian, kekuatan yang dikumpulkan Raga mulai menunjukkan hasil. Banyak orang yang dulu bersimpati pada keluarga Ardiansyah mulai datang satu per satu: pengusaha yang dulu dibantu modalnya, pejabat yang dulu dibantu memecahkan masalah, pengacara yang sudah lama ingin membongkar kejahatan Lingkaran Emas namun takut tidak ada perlindungan.

Rumah perawat desa itu yang tadinya sepi, kini perlahan menjadi tempat pertemuan rahasia yang ramai namun tetap tertutup rapat. Dokumen-dokumen bukti mulai berdatangan: catatan aliran uang gelap, surat perintah pembunuhan yang tertinggal, saksi mata yang berani bicara. Semua itu disusun rapi, menjadi senjata ampuh yang semakin lama semakin tajam.

Raga yang kondisinya sudah jauh lebih baik, duduk di tengah mereka, berbicara dengan wibawa dan kecerdasan yang membuat semua orang kagum. Ia bukan lagi pemuda lemah yang lari ketakutan bertahun-tahun lalu. Ia kini adalah pemimpin yang tegas, cerdas, dan berani, yang tahu persis apa yang harus dilakukan untuk memenangkan pertarungan ini.

Di sampingnya, Lira selalu ada, diam namun tegas. Kehadirannya memberikan ketenangan bagi Raga, dan juga menjadi bukti nyata alasan kenapa mereka semua berjuang: demi keselamatan, demi cinta, demi kebebasan hidup tanpa rasa takut.

Namun, mereka tahu waktu mereka semakin sempit.

Sore itu, seorang pengintai yang ditempatkan di bukit pengawasan berlari masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat ketakutan.

“Tuan Muda! Bahaya datang! Ada rombongan mobil besar, penuh orang bersenjata lengkap, bergerak cepat menuju ke arah desa ini! Jumlah mereka banyak sekali, jauh lebih banyak dari pasukan yang kita punya sekarang!”

Semua orang di ruangan itu seketika tegang. Suasana menjadi hening dan penuh ketegangan.

Raga bangkit berdiri perlahan, napasnya tenang namun matanya tajam penuh kesiapan. Ia sudah menunggu momen ini. Ia tahu Pak Surya pasti akan mengirim kekuatan terbesarnya, dan ini adalah pertempuran penentu.

“Mereka datang lebih cepat dari perkiraan, tapi tidak apa-apa,” kata Raga dengan suara keras dan jelas, terdengar sampai ke seluruh ruangan. “Kita sudah siap. Dani, bagikan senjata dan siapkan pertahanan. Lira, kamu akan dibawa ke tempat perlindungan paling belakang, di gua rahasia di balik desa, dijaga oleh orang-orang terkuatku. Kamu akan aman di sana, apa pun yang terjadi.”

Lira segera mendekat, tangannya menggenggam tangan Raga erat, matanya berkaca-kaca namun tidak ada rasa takut yang terlihat, hanya rasa cinta dan dukungan.

“Kamu harus hati-hati, Raga. Janji padaku, kamu akan bertahan, dan kita akan bertemu lagi dengan selamat setelah semua ini selesai.”

Raga mengangguk, lalu mencium kening istrinya dengan dalam.

“Aku janji. Kali ini aku tidak akan lari, aku tidak akan mundur. Aku akan bertarung sampai akhir, demi kamu, demi kita, demi semua orang yang menderita karena mereka. Tunggu aku, sayang.”

Lira berpamitan pergi bersama pengawal, menuju tempat aman yang tersembunyi. Sementara itu, Raga berbalik menghadap semua orang yang ada di sana, mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

“Teman-teman! Hari ini kita bertarung bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi untuk kebenaran, untuk keadilan, dan untuk masa depan yang bebas dari penindasan! Musuh datang dengan kekuatan besar, tapi kita datang dengan hati yang bersih dan tujuan yang benar! Ingat, kejahatan mungkin kuat sementara waktu, tapi kebenaran tidak akan pernah kalah! Mari kita tunjukkan pada mereka, bahwa keluarga Ardiansyah belum mati, dan keadilan masih ada di dunia ini!”

“HYAAA!!! MERDEKA!!!” teriak semua orang serentak dengan suara menggelegar, penuh semangat dan keberanian.

Suara teriakan itu bergema sampai ke seluruh sudut desa, sampai ke luar hutan, seolah menjawab tantangan besar yang datang menghampiri.

Di kejauhan, debu tanah terangkat tinggi oleh deru mesin mobil yang melaju kencang. Cahaya senjata tajam berkilauan di bawah sinar matahari sore. Pertempuran terbesar, paling berdarah, dan paling menentukan nasib mereka seumur hidup, akhirnya benar-benar akan segera dimulai.

 

(Bersambung ke Episode 30)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!