"Mbak Rani!" Tyas langsung memeluk kakaknya erat.
"Wah, adik Mbak sudah besar sekarang, ya. Makin cantik," puji Rani tulus, mengusap kepala adiknya. Rani kemudian beralih ke suaminya yang berdiri di ambang pintu. "Mas, ini Tyas."
Tyas beralih menyalimi tangan Angga. "Halo, Mas Angga. Mohon bantuannya ya selama Tyas kuliah di sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan yang bersamaan
Asyik mengobrol dan bercanda di ruang tamu membuat Tyas dan Satya benar-benar lupa waktu. Jam dinding digital di sudut ruangan tiba-tiba berbunyi pelan, menunjukkan tepat pukul 13.00 siang.
Brummm...
Suara deru mesin mobil yang sangat familier terdengar berhenti tepat di depan pagar rumah. Itu adalah mobil Rani yang pulang dari kantor sesuai janjinya untuk mengambil koper baju.
Namun, belum sempat Tyas bangkit untuk membukakan pintu, suara klakson mobil Rani disusul oleh raungan mesin yang berbeda. Sebuah motor gede (moge) sport berwarna hitam pekat ikut masuk ke dalam pekarangan rumah. Itu adalah moge milik Angga. Rupanya, jam kerja Angga di bank sedang lowong atau ia sengaja pulang cepat karena bertepatan dengan jam istirahat siang sekaligus ingin mengantar istrinya ke bandara.
Mendengar dua kendaraan itu tiba bersamaan, Tyas langsung panik. Ia refleks berdiri, membetulkan kaus oversize-nya yang sempat agak berantakan, lalu menatap Satya dengan mata membulat.
"Satya, Mbak Rani sama Mas Angga pulang!" bisik Tyas tegang. Walaupun Satya adalah pacar resminya, entah mengapa ada rasa gugup yang mendadak menyerang karena mereka berdua di dalam rumah yang kosong.
Satya ikut berdiri, mencoba bersikap tenang dan merapikan jaket jinsnya. "Oh, iya, gak apa-apa, Sayang. Kan aku cuma bertamu biasa."
Pintu depan kemudian terbuka. Rani melangkah masuk terlebih dahulu sambil menuntit tas kerjanya, wajahnya tampak lelah namun langsung berubah sumringah saat melihat adiknya tidak lagi meringkuk sakit di kamar. Tepat di belakang Rani, Angga berjalan masuk sambil membuka helm full-face miliknya. Kaos polo ketat khas pegawai bank yang ia kenakan membungkus dada bidangnya dengan pas.
"Eh, Tyas? Sudah sehatan, Sayang?" tanya Rani hangat, matanya kemudian beralih ke sosok pemuda di sebelah adiknya. "Lho, ada tamu ya?"
"I-iya, Mbak. Ini Satya, pacar Tyas yang satu kampus itu. Dia main ke sini sebentar karena kami mau bahas soal masuk kuliah hari Senin depan," jawab Tyas agak canggung, sambil menyenggol pelan lengan Satya.
Satya langsung maju selangkah, mengangguk sopan dan mengulurkan tangannya. "Siang, Mbak Rani. Siang, Mas Angga. Saya Satya."
Rani menyambut salaman Satya dengan senyum ramah seorang kakak. "Oh, Satya. Iya, Tyas sering cerita tentang kamu. Silakan duduk lagi, jangan canggung ya."
Namun, suasana hangat itu mendadak terasa dingin di satu sudut. Angga yang berdiri di samping Rani hanya menyambut salaman Satya dengan anggukan kaku dan tatapan mata yang tajam. Sesaat setelah bersalaman, pandangan Angga langsung teralih, turun memperhatikan penampilan Tyas.
Melihat Tyas yang mengenakan kaus longgar dengan celana jin sangat pendek yang memamerkan paha mulusnya di depan pria lain, ada rasa tidak rela yang tiba-tiba bergejolak di dada Angga. Rasa cemburu buta dan ego seorang pria dewasa mendadak terusik melihat adik ipar yang tadi pagi menyenggol dadanya, kini sedang berduaan dengan pemuda seumurnya di rumah ini.
"Mas ke kamar dulu ya, mau ganti baju kerja," pamit Angga memecah keheningan. Suaranya terdengar datar, namun sorot matanya yang tajam sempat melirik ke arah Satya sekali lagi sebelum ia berbalik melangkah menuju kamar utama.
Rani yang tidak menyadari ketegangan kecil itu langsung menepuk pundak Tyas dengan lembut. "Ya sudah, Tyas, temani Satya mengobrol dulu ya. Mbak juga mau ke kamar, mau ambil koper sekaligus mengecek barang-barang di lemari. Takutnya ada dokumen atau baju hangat yang tertinggal, soalnya di luar kota nanti jadwal Mbak padat sekali."
"Iya, Mbak Rani. Silakan," jawab Tyas, tersenyum lega melihat kakaknya yang begitu pengertian.
Rani kemudian menyusul suaminya masuk ke dalam kamar utama. Di dalam kamar, suasana terasa sedikit sibuk. Sebuah koper berukuran sedang sudah tergeletak di dekat ranjang, sebagian isinya telah dirapikan Rani sejak semalam. Rani langsung membuka lemari pakaian, memeriksa kembali map berisi dokumen kerja dan beberapa potong pakaian formal yang akan ia bawa.
Sementara itu, Angga berdiri di dekat cermin besar, membuka kancing kemeja banknya satu per satu dengan gerakan lambat. Pikirannya benar-benar tidak tenang. Bayangan Tyas yang duduk di sofa dengan celana pendek di atas lutut bersama Satya terus berputar di kepalanya. Sambil mengenakan kaus santai dan celana pendek rumahan, Angga sesekali melempar tatapan ke arah pintu kamar yang tertutup, mendengarkan sayup-sayup suara tawa Tyas dan pacarnya dari ruang tamu.
Rani yang sedang menutup ritsleting kopernya menoleh ke arah Angga. "Mas, nanti tolong antar aku sampai depan rumah saja ya. Aku sudah pesan taksi online untuk ke bandara, jadi kamu tidak perlu repot-repot menyetir siang-siang begini."
Angga tersentak dari lamunannya, lalu mengangguk cepat. "Oh... iya, Ran. Nanti Mas bawakan kopermu sampai depan pekarangan."
Di dalam kamar yang tertutup itu, Rani sibuk memastikan semua persiapan perjalanannya sempurna, tanpa tahu bahwa suaminya kini sedang menghitung mundur waktu keberangkatannya dengan debaran yang campur aduk.