NovelToon NovelToon
Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Fantasi Isekai
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Hz. ceria

Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.

ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.

Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.

tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dekrit Dua Meter

Ruangan strategi itu dingin, jauh lebih dingin daripada Ruang Takhta Kecil. Dindingnya terbuat dari batu granit abu-abu yang menyerap panas tubuh, dan satu-satunya sumber cahaya berasal dari obor-api yang berkedip-kedip di sudut-sudut ruangan, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari seperti hantu.

Di tengah ruangan, terbentang sebuah meja raksasa berbentuk peta topografi Kerajaan Mobelle. Kaelia sudah berdiri di sana, tangannya yang bersarung kulit menunjuk ke wilayah perbatasan utara dengan tongkat kayu pendek.

"Delta-7," kata Kaelia tanpa basa-basi. "Pos logistik utama kita. Semalam, gudang penyimpanan gandum dibakar. Tiga puluh tentara tewas. Tidak ada tanda-tanda perjuangan. Mereka dibunuh dalam tidur."

Floren—Amel yang masih bergumul dengan identitas barunya—berjalan mendekati meja. Ia memaksakan kakinya untuk tidak gemetar. Setiap langkah terasa berat, seolah-olah gravitasi di istana ini berbeda dengan dunia modern. Ia berhenti di sisi lain meja, menjaga jarak aman dari Kaelia.

"Zenthoria?" tanya Floren, suaranya datar.

"Atau pengkhianat internal," jawab Kaelia tajam. Matanya menyipit, menatap Floren. "Akses ke rencana penjagaan Delta-7 sangat terbatas. Hanya saya, Anda, dan tiga komandan lapangan. Siapa lagi yang bisa membocorkan informasi itu, Yang Mulia? Atau jangan-jangan... ini adalah cara Anda membersihkan sisa-sisa loyalis ibunda Anda?"

Tuduhan itu tajam, langsung menusuk inti ketidakstabilan politik Floren. Jika Floren terlihat lemah atau curiga, Kaelia—yang memegang pedang dan pasukan—bisa saja memutuskan bahwa Ratu baru ini terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup.

Amel menarik napas dalam-dalam. Ia tidak punya bukti. Ia tidak punya intelijen. Tapi ia punya logika dasar dari buku-buku sejarah dan film perang yang pernah ia tonton di kehidupan sebelumnya.

"Jika aku ingin membersihkan loyalis ibuku," kata Floren perlahan, menatap mata Kaelia tanpa berkedip, "aku tidak akan membakar gudang pangan sendiri. Itu merugikan rakyatku, dan rakyat yang kelaparan adalah rakyat yang memberontak. Aku tidak sebodoh, Jenderal. Negara belum stabil saat ini tindakan membakar hanya akan merugikan diri sendiri."

Kaelia diam sejenak. Ia tampak mempertimbangkan jawaban itu. "Lalu apa saran anda? Menyerang balik secara frontal? Pasukan Zenthoria menunggu kita di rawa-rawa. Kavaleri kita akan tenggelam."

"Tidak," kata Floren. Jemarinya bergerak di atas peta, menunjuk bukit di sebelah timur Delta-7. "Jangan kirim pasukan utama. Kirim unit gerilya kecil. Biarkan mereka berpikir kita panik. Biarkan mereka masuk lebih dalam ke rawa. Saat mereka terjebak di lumpur, hujani mereka dengan artileri dari bukit timur."

Kaelia mengangkat alis. "Itu risiko tinggi. Jika unit gerilya itu habis, kita kehilangan mata-mata terbaik kita."

"Tapi jika berhasil, kita menghancurkan moral mereka tanpa kehilangan satu batalion pun," balas Floren tegas. "Apakah Anda berani mengambil risiko itu, Jenderal? Atau Anda lebih memilih kekalahan yang aman?"

Hening mencekam turun di antara mereka. Kaelia menatap Floren lama, mencari celah, mencari kebohongan. Akhirnya, ia mengangguk pelan.

"Licik," gumam Kaelia. "Sangat licik. Saya akan memerintahkan Komandan Vane—sepupu Julian—untuk memimpin unit itu. Dia kenal medan rawa."

Mendengar nama Julian, Floren merasa sedikit aneh. Tapi ia menekan perasaan itu. "Lakukan. Dan Kaelia..."

"Ya?"

"Temukan siapa yang membocorkan informasi itu. Saya ingin namanya di meja saya sebelum matahari terbenam. Hidup atau mati, tidak penting. Yang penting kebenarannya terungkap."

Kaelia membungkuk singkat, kali ini dengan hormat militer yang sesungguhnya. "Seperti yang Anda perintahkan, Yang Mulia."

Kaelia berbalik dan berjalan menuju pintu. Saat ia mencapai ambang pintu, ia berhenti dan menoleh sekilas. Wajahnya keras, tapi ada kilatan sesuatu di matanya—mungkin rasa hormat, atau mungkin sekadar kepuasan karena Ratu barunya tidak sepenuhnya gila.

"Oh, satu hal lagi," kata Kaelia. "Malam ini adalah presentasi harem. Dua ratus pria tampan dari berbagai penjuru kerajaan telah dikumpulkan di Aula Timur. Mereka menunggu 'pilihan' Anda. Tradisi mengatakan Ratu harus memilih setidaknya sepuluh untuk menemani malam pertamanya setelah kudeta, sebagai simbol stabilitas dan kelanjutan garis keturunan."

Jantung Amel berhenti berdetak sesaat.

Harem? Dua ratus pria? Malam pertama?

Memori Floren meledak di kepalanya. Rasa jijik yang mendalam. Trauma masa kecil melihat ibunya mempermainkan pria-pria itu seperti boneka. Rasa takut akan sentuhan. Rasa muak pada objekifikasi. Amel, yang bahkan belum pernah berpegangan tangan dengan pria mana pun, merasa mual hebat hanya dengan membayangkannya.

"Aku..." suara Floren tercekat.

Kaelia menatapnya等待 (menunggu). "Masalah, Yang Mulia?"

Amel menutup matanya sejenak. Ia tidak bisa melakukan itu. Ia tidak akan melakukan itu. Jika ia membiarkan tradisi ini berlanjut, ia akan kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri, atas mentalnya. Ia harus menetapkan batas. Batas yang mutlak. Tak tergoyahkan.

Ia membuka matanya. Tatapannya berubah menjadi dingin, tajam, dan otoriter.

"Batal," kata Floren.

Kaelia mengerutkan kening. "Batal?"

"Bubarkan mereka," perintah Floren, suaranya menggema di ruangan batu yang dingin. "Kembalikan mereka ke asrama masing-masing. Tidak ada yang dipilih malam ini. Tidak ada yang akan dipilih besok. Atau lusa."

Kaelia melangkah kembali mendekat, wajahnya menunjukkan kebingungan yang jarang terlihat. "Yang Mulia, itu... itu belum pernah terjadi dalam sejarah Mobelle. Para menteri akan menganggap Anda lemah. Atau impoten. Rakyat akan bergosip bahwa Anda tidak mampu mengendalikan hasrat seorang wanita, atau worse, bahwa Anda benci pada pria."

Floren tersenyum tipis. Senyuman yang tidak mencapai matanya. Senyuman predator.

"Biarkan mereka bergosip," kata Floren. "Saya tidak butuh persetujuan mereka untuk tidur. Saya butuh ketenangan untuk berpikir."

Floren berjalan mengelilingi meja peta, mendekati Kaelia, tapi berhenti tepat dua meter darinya. Jarak yang aman. Jarak yang ia tetapkan untuk kewarasannya.

"Dengarkan baik-baik, Jenderal. Mulai hari ini, saya mengeluarkan dekrit baru. Dekrit Mutlak Istana."

Kaelia menyilangkan tangan di dada, menunggu.

"Setiap pria, tanpa terkecuali—baik itu pelayan, bangsawan, tahanan, anggota harem, atau utusan asing—dilarang mendekat kepada Ratu dalam radius dua meter."

Kaelia terdiam. Matanya melebar sedikit. "Dua meter?"

"Ya. Dua meter. Jika ada pria yang melanggar jarak ini, dengan sengaja atau tidak, hukumannya adalah pemotongan tangan. Jika ia mencoba menyentuh kulit Ratu, hukumannya adalah mati."

Ruangan itu hening total. Bahkan api obor seolah menahan napasnya.

"Itu... gila," bisik Kaelia. "Anda mengisolasi diri Anda dari setengah populasi kerajaan. Bagaimana Anda akan memiliki pewaris? Bagaimana Anda akan membangun aliansi melalui pernikahan?"

"Pewaris?" Floren tertawa kecil, suara yang dingin dan pahit. "Mobelle tidak butuh pewaris dari rahim yang dipaksa. Mobelle butuh pemimpin yang kuat. Dan aliansi dibangun dengan tinta dan darah, bukan dengan tempat tidur."

Floren menatap Kaelia lurus-lurus. "Apakah Anda keberatan, Jenderal? Apakah aturan ini mengganggu kemampuan Anda untuk melaporkan strategi perang?"

Kaelia menatap Floren. Ia melihat tekad baja di mata Ratu mudanya. Ia melihat ketakutan yang disembunyikan rapi di balik topeng arogansi. Kaelia adalah prajurit; ia memahami pertahanan. Ia memahami benteng. Dan Floren baru saja membangun benteng tak terlihat di sekeliling tubuhnya.

"Tidak," kata Kaelia akhirnya, suaranya kembali datar. "Selama Anda tetap efektif memimpin, saya tidak peduli berapa meter jarak pria dari Anda. Bahkan, ini mungkin memudahkan pengamanan istana. Lebih sedikit variabel yang tidak terkendali."

Kaelia membungkuk lagi. "Saya akan menyampaikan dekret itu kepada kepala penjaga. Dan kepada... harem."

Ada nada sinis halus di kata terakhir itu. Kaelia tahu betapa hancurnya ego para pria di harem, dan betapa bingungnya para menteri.

"Terima kasih, Jenderal," kata Floren. "Sekarang, pergi. Saya ingin sendirian."

Kaelia berbalik dan keluar. Pintu tertutup berat.

Floren menghembuskan napas panjang yang tertahan. Kakinya lemas. Ia merosot ke kursi di samping meja peta, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Tangannya gemetar hebat.

Apa yang baru saja aku lakukan? batinnya panik. Aku baru saja menyatakan perang pada tradisi seribu tahun. Aku baru saja membuat semua pria di istana ini menjadi musuh potensial.

Tapi di balik kepanikan itu, ada rasa lega yang luar biasa. Rasa aman. Untuk pertama kalinya sejak terbangun di tubuh ini, ia merasa memiliki kendali. Ia memiliki ruang. Ia memiliki batas.

Ia menatap telapak tangannya yang putih.

Dua meter, pikirnya. Itu adalah jarak antara hidup dan mati. Antara diriku... dan mereka.

Di luar ruangan, suara lonceng istana berbunyi, mengumumkan dekrit baru Ratu. Gemuruh suara terkejut, bisikan marah, dan tawa sinis mulai terdengar dari kejauhan, menyebar seperti virus di seluruh koridor istana Mobelle.

Permainan telah dimulai. Dan Ratu Es baru saja melemparkan dadu pertama.

1
Musim
Menarik dan menginspirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!