NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: PROSESI PEMAKAMAN YANG HENING

Bab 31: Prosesi Pemakaman Yang Hening

Langkah-langkah kaki berpakaian serba gelap bergerak lambat membelah jalanan setapak di area Tempat Pemakaman Umum yang terletak di pinggiran kota. Matahari pagi yang mulai meninggi terasa begitu terik, namun sama sekali tidak mampu mengusir hawa dingin mencekam yang menyelimuti rombongan pelayat keluarga Dirgantara. Suara gesekan dedaunan pohon kamboja yang ditiup angin berbaur ganjil dengan gumaman doa-doa lirih, menciptakan atmosfer duka yang teramat sangat pekat.

Di barisan paling depan, keranda jenazah berbahan stainless steel yang ditutupi kain hijau berlafazkan ayat suci digotong oleh beberapa tetangga dan kerabat dekat.

Revan berjalan persis di sebelah kanan keranda. Bahu tegapnya ikut menopang salah satu tiang besi penyangga, membuat kaos hitam yang dikenakannya tampak kusut dan basah oleh keringat. Wajah cowok itu benar-benar kosong. Tatapan matanya lurus menatap tanah merah di sepanjang jalan, seolah jiwanya telah ikut tercabut pergi bersama nyawa yang ada di dalam keranda tersebut. Sepanjang jalan dari rumah duka menuju pemakaman, Revan tidak mengeluarkan suara satu patah kata pun. Ia berjalan seperti robot hidup, mengabaikan bisik-bisik iba dari para tetangga yang menatapnya dengan pandangan penuh keprihatinan.

Sementara itu, beberapa langkah di belakangnya, Miko berjalan sembari merangkul pundak Arka yang tampak sangat rapuh.

Kondisi fisik anak sulung itu benar-benar berada di titik paling mengkhawatirkan pagi ini. Guncangan batin akibat kematian mendadak Ayah membuat tubuh Arka bergejolak hebat secara biologis. Wajah Arka tidak lagi sekadar pucat, melainkan sudah sewarna dengan abu-abu rokok, dengan lingkaran hitam yang teramat pekat di bawah kelopak matanya yang cekung. Langkah kaki Arka terseret-seret kaku, dan tangan kanannya terus-menerus menekan pinggang belakangnya yang terasa sangat melilit.

Arka terbatuk kecil beberapa kali, mencoba menghalau rasa pening luar biasa yang membuat pandangannya berputar. Namun, sekuat apa pun rasa sakit itu menyiksanya, Arka menolak untuk bertumpu pada kursi roda atau pulang duluan. Ia ingin mengantarkan laki-laki paling berjasa dalam hidupnya itu hingga ke tempat peristirahatan terakhir menggunakan kedua kakinya sendiri.

Rombongan akhirnya berhenti di sebuah lubang galian tanah merah berukuran dua kali satu meter yang masih menyebarkan aroma tanah basah yang segar. Dua orang penggali kubur sudah bersiap di dalam liang lahat, mendongak menanti jenazah diturunkan.

"Keluarga... siapa dari pihak putra kandung yang mau turun ke bawah untuk menerima jenazah?" tanya salah seorang pemuka agama setempat sembari mengedarkan pandangan ke arah kerumunan.

Ibu, yang sejak tadi berdiri dipapah oleh seorang kerabat wanita di tepi pembatas makam, perlahan menoleh ke arah Revan. Tatapan mata Ibu masih terasa begitu dingin dan layu, sisa dari dinding pemisah yang sempat terbangun di ruang tamu tadi subuh.

Miko menyenggol pelan lengan sahabatnya. "Van... turun, Van. Ini tugas terakhir lo buat Om Dirga."

Revan tersentak kecil dari lamunannya. Ia menelan ludah yang terasa sebatang kayu di tenggorokannya, lalu mengangguk kaku. Dengan gerakan perlahan, Revan melepas alas kakinya, menurunkan tubuhnya ke dalam liang lahat yang sempit dan dingin. Begitu kakinya menginjak dasar tanah makam, sensasi dingin yang ganjil langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya tersadar secara brutal bahwa ia kini sedang berdiri di ambang batas antara dunia luar dan tempat peristirahatan abadi Ayahnya.

Keranda perlahan dibuka di atas. Tubuh tegap Ayah yang kini telah terbalut rapi oleh berlapis-lapis kain kafan putih diturunkan secara perlahan-lahan menggunakan sepasang kain jarik panjang.

Revan menyambut bagian dada dan kepala jasad Ayahnya. Saat jemari tangannya bersentuhan langsung dengan struktur kaku di balik kain kafan tersebut, dada Revan kembali bergemuruh hebat. Rasa sesak yang luar biasa dahsyat mendadak menghimpit rongga dadanya, memaksa air mata yang sejak tadi ia tahan di sepanjang jalan kini kembali tumpah ruah tanpa ampun, membasahi kain putih pembungkus jenazah.

Bersama dengan bantuan dua orang di dalam liang, tubuh Ayah perlahan direbahkan dalam posisi miring menghadap kiblat. Beberapa gumpalan tanah yang telah dibulatkan mulai diselipkan di bagian belakang punggung dan kepala jasad untuk mengganjal posisinya agar tidak telentang kembali.

"Mas... silakan diadzani dulu Ayahnya sebelum ditutup papan," ucap bapak penggali kubur di sampingnya dengan nada suara yang sangat lembut.

Revan berlutut di dekat kepala Ayah. Tubuhnya membungkuk dalam, mendekatkan wajahnya yang basah oleh air mata ke arah bagian telinga jasad yang telah dibuka sedikit kain kafannya. Revan menarik napasnya yang pendek dan putus-putus, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatan di dalam batinnya yang telah hancur berantakan.

Ia mengangkat tangan kanannya, menempelkan jemarinya di dekat telinga, lalu mulai membuka mulutnya.

"Allahu Akbar... Allahu Akbar..."

Suara Revan yang biasanya terdengar lantang dan tegas saat memimpin tongkrongan anak-anak motor di jalanan, kini terdengar sangat pecah, bergetar hebat, dan sarat akan penderitaan jiwa yang teramat sangat dalam. Baru dua patah kata pertama keluar, tenggorokannya langsung tercekat oleh isakan tangis yang begitu menyakitkan.

Di atas liang lahat, Ibu langsung menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan, menangis dalam keheningan total melihat nasib malang keluarganya.

Revan memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air matanya mengalir deras membasahi tanah merah di bawah lututnya. Ia memaksakan dirinya untuk melanjutkan bait demi bait kalimat suci tersebut, meski setiap kata yang keluar harus diiringi oleh jeda napas yang megap-megap menahan bendungan duka.

"Asyhadu alla ilaha illallah..."

Pikiran Revan kembali berputar liar ke masa-masa di mana ia selalu memandang Ayah sebagai sosok antagonis yang kejam. Ia teringat bagaimana bentakan Ayah selalu ia balas dengan tatapan menantang, dan bagaimana ia sengaja kabur dari rumah hanya untuk meluapkan amarahnya. Kini, di dalam lubang sempit ini, saat suara adzannya mengalun mengantar sang Ayah menuju keabadian, Revan tersadar betapa mahalnya harga dari sebuah kata maaf yang kini sudah tidak akan pernah bisa ia dengar lagi dari mulut pria itu.

Begitu kalimat adzan terakhir selesai diucapkan, Revan tidak lagi mampu menahan bobot tubuhnya. Ia menyandarkan keningnya di dinding tanah liang lahat, menangis sejadi-jadinya dalam keheningan yang luar biasa memilukan.

Di atas makam, kondisi fisik Arka yang memang sudah di ambang batas akibat kelelahan batin mendadak runtuh sepenuhnya. Suara adzan adiknya yang terdengar begitu menderita dari dalam liang lahat seolah meruntuhkan sisa-sisa daya tahan tubuhnya. Pandangan mata Arka mendadak mengabur, dipenuhi oleh kilatan-kilatan cahaya putih yang berputar cepat. Rasa mual dan pening yang teramat sangat dahsyat mendadak menyerang kepalanya.

"Ugh..." Arka mengerang lirih, tubuhnya mendadak limbung ke depan.

"Kak Arka?!" Miko yang sigap langsung menangkap tubuh Arka sebelum anak sulung itu jatuh tersungkur ke arah lubang makam.

Miko terkejut setengah mati saat merasakan suhu tubuh Arka yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan bersimbah keringat dingin dalam jumlah banyak. Bibir Arka sudah memutih sempurna, dan sedetik kemudian, kelopak matanya terpejam rapat saat kesadarannya hilang sepenuhnya. Arka pingsan di pelukan Miko tepat di saat papan-papan kayu mulai diturunkan untuk menutup liang lahat Ayah mereka.

"Kak Arka! Bangun, Kak! Tolong! Ini Kak Arka pingsan!" Teriak Miko panik, memecah suasana khusyuk prosesi pemakaman menjadi riuh.

Revan yang masih berada di dalam liang lahat mendongak cepat mendengar teriakan Miko. Saat matanya melihat tubuh Arka yang digendong lunglai oleh Miko menjauh dari area makam menuju mobil, filter salah paham di kepala Revan justru kembali aktif secara kejam.

Pingsan lagi...? batin Revan tersenyum pahit dengan dada yang terasa terbakar amarah egoisnya. Bahkan di saat terakhir Ayah mau ditutup tanah pun... lo masih harus merebut seluruh perhatian orang-orang, Arka? Lo sengaja bikin drama pingsan ini biar semua pelayat kasihan sama lo, dan biar gak ada yang nyalahin lo atas stresnya Ayah selama ini?! Lo bener-bener anak emas yang egois!

Rasa duka Revan seketika berbaur pekat dengan rasa muak yang mendalam, memperkokoh dinding pembatas salah paham yang akan membawa mereka menuju kehancuran yang lebih besar ke depannya.

Bersambung.....

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!