Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?
Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.
Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.
Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.
Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.
Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.
Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.
Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Akses dicabut
Sumarni duduk membeku di tepi ranjang, tangannya mencengkeram erat tepi kasur kapuk. Bulu kuduknya meremang hebat, merespons insting bahaya yang mendadak meledak di kepalanya.
Layar biru transparan tiba-tiba berkedip terang menembus kegelapan ruangan.
[Peringatan Darurat! Ada penyusup berbahaya mendekati paviliun Anda dari arah jendela timur.]
Jantung Sumarni berpacu liar memukul tulang rusuknya. Ia segera meniup mati lampu semprong di atas meja nakas. Kamar itu seketika tenggelam dalam kegelapan pekat.
Napas Sumarni tertahan di tenggorokan saat telinganya menangkap suara langkah kaki berat di luar jendela. Bunyi gemeresik daun kering yang terinjak terdengar sangat jelas di tengah sunyinya malam.
Suara congkelan besi beradu dengan engsel jendela kayu memecah keheningan. Keringat dingin mulai menetes dari pelipis Sumarni.
Ia merayap perlahan ke sudut ruangan, tangannya meraba lantai tegel yang dingin mencari senjata. Jemarinya menyentuh gagang kayu setrika arang yang berat dan padat. Ia menggenggam benda itu erat-erat sebagai pertahanan terakhir.
Kriet.
Jendela kamarnya terbuka paksa. Sosok pria berbadan tegap melompat masuk ke dalam ruangan. Bau menyengat minuman tuak murahan dan keringat masam langsung memenuhi udara, membuat perut Sumarni bergejolak mual.
Pria itu menyalakan sebatang korek api kayu. Cahaya kuning redup memperlihatkan wajah beringas seorang preman dengan bekas luka memanjang di pipi kirinya.
Mata preman itu langsung tertuju pada siluet mesin jahit Singer hitam yang berdiri kokoh di atas meja kayu. Ia menyeringai kotor, lalu mengangkat sebuah linggis besi yang sedari tadi disembunyikan di balik sarungnya.
"Ini barangnya," bisik preman itu parau.
Sumarni menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa kebas. Mesin jahit itu adalah nyawanya. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan tiket kemerdekaannya malam ini.
Trang!
Linggis besi itu berayun keras menghantam roda pemutar mesin jahit. Bunyi nyaring logam yang beradu terdengar sangat memekakkan telinga.
Suhu tubuh Sumarni seakan mendidih. Ia tidak bersembunyi lebih lama lagi. Dengan sekuat tenaga, ia melemparkan setrika arang di tangannya ke arah meja rias berkaca besar.
Prang!
Kaca setebal setengah sentimeter itu pecah berkeping-keping. Suara pecahan kaca yang memekakkan telinga bergema ke seluruh penjuru rumah.
"Maling! Tolong, ada maling di paviliun!" jerit Sumarni sekeras mungkin, membelah kesunyian malam hingga suaranya serak.
Preman itu terkejut bukan main. Linggisnya terlepas dari genggaman dan bergemerincing jatuh ke lantai tegel. Ia bergegas memutar tubuh untuk kabur lewat jendela, tetapi suara derap langkah kaki yang berat sudah lebih dulu mengepung area luar.
Brak!
Pintu kamar paviliun ditendang terbuka dari luar. Harjono berdiri di ambang pintu dengan dada kembang kempis. Pria itu mencengkeram senapan angin laras panjang di tangannya.
Matanya yang merah menyala menatap beringas ke arah preman yang kini gemetar di sudut kamar. Di belakang Harjono, tiga orang penjaga malam rumah utama datang membawa senter terang dan tongkat rotan.
"Jangan bergerak atau peluru ini menembus kakimu!" raung Harjono dengan suara menggelegar, membuat dinding kayu ruangan itu seakan ikut bergetar.
Dua penjaga malam langsung menerjang masuk dan meringkus preman tersebut. Wajah preman itu ditekan paksa ke lantai tegel yang dingin.
Harjono mengabaikan kekacauan itu dan segera melangkah menghampiri Sumarni. Pria itu menarik istrinya ke dalam pelukan yang protektif. Sumarni dengan cerdas membiarkan tubuhnya bergetar hebat di dada suaminya, memainkan peran korban yang sempurna.
Aroma tembakau cengkih dari kemeja Harjono menutupi bau tuak yang menjijikkan. Tangan besar pria itu mengusap rambut Sumarni dengan gerakan kasar namun penuh kekhawatiran.
"Kamu tidak terluka, Marni? Dia menyentuhmu?" tanya Harjono dengan rahang mengeras.
"T-tidak, Mas. Tapi mesin jahit saya," ucap Sumarni terbata-bata, menunjuk ke arah meja.
Mata Harjono menyipit tajam menatap mesin Singer yang kini penyok. Roda pemutar emasnya bengkok parah akibat hantaman linggis besi. Amarah yang meledak-ledak langsung membakar kewarasan Harjono.
Ia berjalan mendekati preman yang sedang ditahan di lantai. Harjono mencengkeram kerah baju preman itu dan menariknya hingga pria itu tercekik.
"Siapa yang menyuruhmu masuk ke rumahku?!" desis Harjono mematikan.
Preman itu terbatuk-batuk, matanya melotot ketakutan melihat senapan angin di tangan Harjono.
"A-ampun, Juragan! Saya cuma disuruh! Saya anak buah Cak Kusno dari pasar Beringharjo!" jerit preman itu panik.
"Cak Kusno tidak akan berani mengusik urusan keluargaku. Siapa yang membayarmu?!" bentak Harjono lagi, kali ini moncong senapan ditekankan tepat di dahi preman tersebut.
"Perempuan, Juragan! Pelayan dari rumah depan! Dia memberi saya segepok uang untuk menghancurkan mesin jahit hitam ini!"
Preman itu merogoh saku celana komprangnya dengan tangan gemetar. Ia mengeluarkan gulungan uang kertas tebal pecahan sepuluh ribuan dan melemparkannya ke lantai.
Harjono terdiam kaku. Matanya menatap gulungan uang itu. Ada pita sutra merah yang mengikat uang tersebut, pita khas yang selalu digunakan Sulastri untuk menyimpan uang belanja bulanannya.
"Seret dia ke rumah utama. Malam ini juga aku akan membuat perhitungan," perintah Harjono dingin kepada para penjaganya.
Langkah kaki Harjono terdengar sangat berat dan mengancam saat ia melintasi halaman tengah. Sumarni berjalan tenang di belakangnya. Tidak ada rasa takut di hatinya, yang ada hanyalah kepuasan yang mendidih.
Pintu kamar Sulastri didobrak paksa dari luar. Istri pertama itu sedang duduk di tepi ranjang dengan wajah pucat pasi. Suara keributan dari paviliun rupanya sudah sampai ke telinganya.
"Mas Harjono, ada apa ini?!" pekik Sulastri pura-pura kaget.
Harjono melemparkan gulungan uang berpita merah itu tepat ke wajah Sulastri. Gulungan itu mengenai dahi Sulastri dan jatuh berserakan di atas kasur.
"Kamu mengenali uang itu, Sulastri?" suara Harjono terdengar sangat tenang, tapi memancarkan aura membunuh yang kental.
Sulastri menelan ludah dengan susah payah. Matanya melirik ke arah preman suruhannya yang kini babak belur dipegangi oleh penjaga.
"I-itu bukan uangku, Mas. Ini pasti fitnah! Marni sengaja menyewa preman ini untuk menjebakku!" tuduh Sulastri histeris. Ia menunjuk ke arah Sumarni dengan jari gemetar.
Preman itu meludah ke lantai. "Saya tidak bohong, Juragan! Uang itu masih bau wangi bunga mawar dari kamar nyonya ini!"
Harjono melangkah maju. Tangannya mencengkeram lengan Sulastri dengan sangat kuat hingga wanita itu meringis kesakitan.
"Kamu sudah gila karena cemburu, Sulastri. Kamu menyewa preman kotor untuk masuk ke area rumah kita. Bagaimana kalau dia melukai anakku?!" raung Harjono, wajahnya memerah padam.
Plak!
Satu tamparan keras kembali mendarat di pipi Sulastri. Istri pertama itu terjerembap ke atas kasur dengan sudut bibir berdarah. Matanya terbelalak tidak percaya.
"Mulai malam ini, semua aksesmu ke luar rumah dicabut. Kamu tidak boleh melangkah keluar dari gerbang tanpa izinku!" putus Harjono tanpa belas kasihan.
Sulastri menangis meraung-raung, meratapi harga dirinya yang kini hancur berkeping-keping di bawah kaki istri keduanya.
[Pembalasan Dendam Sempurna! Status musuh hancur di mata target.]
[Perolehan Poin: 800 Poin Sistem Istri Ideal.]
Sumarni menatap notifikasi itu dengan senyum tipis yang terselip di sudut bibirnya. Ia memutar tubuh dan melangkah kembali ke paviliun bersama Harjono yang masih mengatur napas berantakan.
Namun, kepuasan Sumarni menguap saat ia kembali menatap mesin jahitnya. Ia mencoba memutar roda besinya, tetapi benda itu macet total. Bunyi gesekan besi yang rusak terdengar memilukan.
Jarumnya patah dan as utamanya bengkok parah. Mesin itu benar-benar tidak bisa digunakan sama sekali.
"Aku akan memesan yang baru dari agen di Surabaya besok pagi," kata Harjono menyesal. Pria itu mengusap punggung Sumarni lembut. "Tapi pengirimannya butuh waktu dua minggu."
Jantung Sumarni mencelos. Rasa dingin kembali merayap di tengkuknya. Pesanan Nyonya Wardoyo harus selesai dalam waktu tujuh hari. Jika ia gagal memenuhi tenggat waktu itu, reputasi Sekar Malam akan hancur sebelum sempat berkembang.