Dia tumbuh dengan begitu indah, begitu mempesona siapapun yang melihatnya. Gadis cantik yang energik, pintar dan cerdas. Penghargaan pun tidak hanya satu atau dua yang dia dapatkan. Tapi berjejer menghiasi seluruh isi lemari kacar di kamarnya. Terlahir dari keluarga kaya raya, dengan fasilitas mewah dan semuanya bisa dia dapatkan hanya dengan mengatakan satu hal “aku mau ini.” Makan semuanya akan menjadi miliknya. Namun, siapa sangka. Mawar cantik itu menyimpan luka yang begitu dalam. Luka apakah itu? Lalu akankah dia menemukan obatnya? Mari saksikan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta
“Nanti malam kita diundang oleh keluarga bapak Raharjo dalam acara ulang tahun istrinya. Kita semua datang, kalian berpakaian lah yang baik dan layak, jangan buat saya malu.”
“Iya, Pah.”
“Pramidita, bawa mereka membeli gaun yang mahal, ajak mereka ke salon. Awas saja jika kalian sampai membuat saya malu.”
“Iya, Pah. Mama bawa mereka setelah sarapan nanti.”
Sharga meninggalkan meja makan setelah selesai sarapan. Lalu dia pergi dengan supir entah ke mana.
“Luka lebam kalian apa masih ada yang terlihat?”
Dara dana Delana menggelengkan kepala.
“Habiskan sarapan kalian, lalu kita akan pergi setelah mama siap-siap.”
“Iya, Mah.”
Mendengar kata salon dan butik, seharusnya semua wanita di dunia ini merasa senang. Tapi tidak dengan Delana dan Dara. Mereka tahu, sebuah pesta yang diadakan pala konglo itu merupakan ajang menjajakan anak bagi Sharga.
Delana dan Dara saling menggenggam untuk saling menguatkan satu sama lain.
Pramidita yang bisa dipanggil Bu Prami itu membawa kedua putrinya menuju salon untuk melakukan perawatan dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Setelah enam jam lamanya, mereka pergi ke sebuah butik yang sudah di booking sebelumnya agar mereka bisa leluasa memilih pakaian tanpa ada gangguan dari pihak lain.
“Ingat ya, tema kali ini emerald.”
“Iya, Mah.”
“Hmm, lucu sekali nyonya rumah kali ini. Dia tidak suka warna emerald, tapi meminta tamu memakai baju warna ini. Benar-benar merendahkan para tamu.”
Delana dan Dara mulai berjalan sendiri-sendiri untuk memilih gaun yang akan mereka pakai.
“Dara, coba lihat. Menurut kamu baju ini cocok gak buat mama?”
“Bagus, Ma. Elegan dan gak terlalu berlebihan.”
“Selera mama emang oke punya. Mana punya kamu? Udah dapet belum?”
“Ini, Ma.”
“Good! Pakaian ini akan memperlihatkan kulit kamu yang mulus. I like it. Dela, mana punyamu?”
“Gimana, Ma?”
“Mama sih oke. Sederhana, tapi apa nggak terlalu biasa aja?”
“Delana kan emang suka yang begini, Ma. Gak suka yang terlalu rame.” Dara membela.
“Ya sudah, kalian pakailah ini.”
Prami memberikan anaknya masing-masing kotak perhiasan.
“Ayo pakai, setelah ini kita masih harus make up dan hairdo. Jangan sampai telat, nanti papa kalian marah.”
Dalam perjalanan, Prami membeli makanan siap saji untuk mereka makan di dalam mobil. Karena setelah make up mereka tidak boleh makan apapun, mamunggu sampai acara makan di pesta nanti.
“Makan lah ini, nanti kalian akan kelaparan.”
Dara dan Delana mengambil roti isi dari merek terkenal untuk mengganjal perut mereka yang memang sudah terasa perih.
Usai make up, ketiga wanita itu segera pergi menuju tempat acara. Saat mobil berhenti, ada orang yang membukakan pintu untuk mereka, menyambut dengan hangat dan ramah.
Kemegahan acara sudah terasa dari mulai mereka menginjakkan kaki di depan pintu. Red carpet dengan taburan bunga mawar asli, dengan bunga-bunga cantik di sepanjang sisi karpet itu. Lampu-lampu cantik berkilauan menambah nuansa megah dekorasi acara ulang tahun sang Nyonya.
Begitu memasuki pintu ballroom, musik klasik mengiringi hiruk pikuknya obrolan dan tawa para miliarder yang entahlah, tapi terdengar sangat palsu di telinga Delana. Tidak ada ketulusan dalam tawa itu, yang ada hanya saling membutuhkan dan memanfaatkan.
Mereka berjalan menghampiri Sharga yang sedang berbincang dengan beberapa orang.
“Pah.”
Sharga menoleh.
“Hai. Ayo kemari.”
Sharga mengulurkan tangan pada Prami. Lalu memperkenalkan anak dan istrinya pada tiga orang pria yang sedang berbincang dengannya.
Delana melihat sekeliling, banyak para nyonya yang sedang asik bergosip, bapak-bapak yang nampak serius membicarakan bisnis, ada juga yang sedang ngobrol sambil tertawa dan memasang muka ramah kepalsuan. Sementara para anak gadis mereka hanya diam mendampingi orang tuanya, sama seperti dirinya saat ini.
“Halo, Pak Sharga.”
Tiba-tiba seseorang menyapa dari arah belakang Delana. Pria itu berjalan lurus tanpa memperhatikan keberadaan Delana hingga posisi mereka begitu dekat, seolah Delana sedang dikungkung oleh tubuh pria tinggi tersebut.
Data menarik tangan adiknya agar bergeser. Dia tahu dengan jelas pria itu memang sengaja memepet tubuh Delana.
“Selamat malam, Pak Rayden. Lama tidak berjumpa.”
Delana menoleh pada pria yang kini ada di sampingnya. Dia bahkan harus menengadah demi melihat wajah sosok pria yang tadi menempel tubuhnya.
Wah, pria ini lebih lumayan daripada Pak Rex.
Data menyenggol pinggan Delana yang menatap Rayden tanpa jeda.
“Mikirin apa kamu?” Tanya Dara berbisik pelan di telinga Delana.
“Yang ini tampan.” Jawab Delana berbisik juga, namun Rayden cukup jelas mendengar ucapan Delana. Pria itu tersenyum tipis.
“Apa mereka putri-putri Pak Sharga?”
“Iya, mereka putri saya. Dara, Dela. Kenalkan, ini Pak Kai Rayden. Beliau ini pengusaha yang paling disegani di kota ini.”
“Wah, hebat ya. Padahal masih muda. Saya Delana.”
“Saya Dara, putri sulung Pak Sharga.”
“Senang bisa bertemu dengan kalian. Kapan-kapan bisa dong ya Pak Sharga sekeluarga mampir untuk makan malam di rumah saya.”
“Dengan senang hati, Pak.” Sharga sampai membungkuk berterimakasih pada Rayden.
“Kalau begitu, saya permisi sebentar. Belum menyapa yang punya acara.”
“Silakan, Pak. Silakan.”
“Saya permisi…. Delana.” Rayden sedikit membungkuk agar dia bisa melihat wajah Delana dengan jelas. Gadis itu menarik wajahnya beberapa senti agar jaraknya tidak terlalu dekat dengan Rayden.
Pria itu tersenyum puas melihat raut wajah Delana. Dia bahkan menepuk lembut lengan Delana yang terbuka.
Sharga melihat bahwa Rayden menaruh perhatian lebih pada anak bungsunya. Bagi dia, itu adalah peluang besar untuk mendapatkan investasi dari pengusaha muda tersebut.
Acara pun di mulai, acara sambutan, acara inti, potong kue, bernyanyi dan sebagainya telah usai dilalui. Delana yang tidak suka keramaian hanya bisa diam tanpa merasa senang atau antusias sama sekali.
Usai acara, para tamu membubarkan diri melakukan aktifitas masing-masing yaitu kembali mengobrol.
Dara pergi menemui teman nya yang kebetulan ikut hadir juga bersama kedua orang tuanya. Sementara Delana, ya dia tidak punya teman yang berada dari kalangan orang tuanya. Bagi Delana itu adalah hal yang memuakkan, mereka berteman hanya untuk saling memamerkan diri.
Gadis itu pergi mengambil beberapa camilan yang sudah disiapkan oleh yang punya acara.
“Delana.”
Gadis itu menoleh.
“Mba yang waktu itu kan?” Tanya Delana saat melihat Tias.
“Hai, kamu ngapain di sini sendirian?”
“Mba nama mba siapa?”
“Oh iya, kenalkan. Namaku Tias. Aku sekretaris pribadi Pak Rex. Orang tua sama kakak kamu mana?”
“Biasalah, sibuk masing-masing dengan teman nya.”
“Kamu sendiri?”
“Emang mba pikir di ruangan ini ada yang benar-benar tulus berteman?” Bisik Delana. Tias tertawa.