Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.
Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Akibat keras kepala
Gatra yang masih berdiri tak jauh dari kolam menghela nafas kasar lalu menatap sekitarnya yang masih sepi. "Oke, sebagai orang dewasa saya sudah melakukan yang terbaik. Saya udah memperingati, tapi anak itu ngga mau denger jadi apapun yang terjadi nantinya saya ngga pantas di salahkan."
Tanpa di minta Gatra mengarahkan pandangannya pada anak yang dengan lincah berenang, saat itu ia yakin kalau anak itu tidak hanya sekedar omong kosong saja.
"Ayo, renang bareng, Om." Ajak anak itu dengan nada soknya.
"Ngga kamu saja," tolaknya.
"Ini seger banget loh, Om."
Gatra menggeleng lalu memilih untuk tidak memusingkan anak itu lagi dengan kembali mendekati kursi, meraih tumbler berisi kopi yang mulai dingin, meneguknya rasa pahitnya.
Sebenarnya jarang sekali Gatra berenang siang begini, tapi untuk melepas rasa penat serta rasa bosan karna di hari kedua libur kerja ia malah pergi berkonsultasi dengan psikolog setelah memikirkan selama ribuan kali.
Tadinya ia setelah selesai konsultasi ia ingin mengajak sahabat-sahabatnya, sudah punya kerjaan dan keluarga masing-masing hingga dirinya sungkan untuk, keluar yang urung di lakukannya.
Akhirnya Gatra memilih pulang ke unit apartemen, yang sudah bertahun-tahun ini terasa membosankan. Kadang ia juga menyesal tak punya kegiatan lain selama tidak kerja selain berkumpul dengan sahabatnya yang sudah berkeluarga.
Untuk menyegarkan pikirannya Gatra memilih untuk berenang. Setelah cukup lama duduk di salah satu kursi, Gatra memilih untuk melangkah ke gym yang letaknya tak jauh dari kolam.
Pintu itu terbuka dengan suara desis halus. Di dalam, deretan alat olahraga lengkap tersusun rapi. Gatra memilih treadmill dengan pemandangan ke kaca, bukan untuk memastikan keadaan anak itu, tapi agar bisa melihat gedung-gedung yang sering membuat pikirannya lebih baik.
Ia meletakkan tumbler tak jauh darinya lalu mulai berjalan pelan. Tubuhnya bergerak otomatis, sementara pikirannya melayang ke hal-hal yang tak ingin di pikirannya.
Tiba-tiba saja Gatra mengingat keanehan yang banyak orang katakan tentangnya berapa tahun ini yang di sampaikan pada psikolog. Sebenarnya ia juga merasakannya, tapi memilih untuk mengabaikannya.
Tapi akhir-akhir ini Gatra mulai terganggu, setiap melihat anak-anak rasanya tidak suka sering kali muncul hingga mulutnya tanpa sadar akan mengatakan kata-kata kasar untuk mengusir mereka yang hendak mendekatinya.
Gatra terganggu dengan keberadaan anak-anak, risi, selalu menganggap mereka hama yang harus di jauhi karna mereka memusingkan orang dewasa dan masih banyak lagi yang di sampaikannya pada psikolog.
Pria itu menghela nafas kasar, tanpa sadar melirik keberadaan anak laki-laki yang masih berenang. "Kebanyakkan anak kecil cuma omong kosong untuk menarik perhatian orang dewasa di sekitarnya, tapi beruntung aja anak itu enggak kayak gitu."
Gatra lalu menekan tombol, memutuskan menaikkan kecepatannya dari berjalan kecil sekarang berlari kecil. Untuk itu ia jadi tidak memiliki waktu untuk melirik kolam atau memikirkan masalahnya lagi.
Pria itu sudah bertahun-tahun tinggal di apartemen ini, awalnya Mama sempat menentang keputusannya karna menurut mereka membuang-buang uang saja, tapi Gatra berpendapat percuma dirinya bekerja keras kalau tidak bisa membahagiakan dirinya sendiri.
Gatra mendapatkan rekomendasi apartemen ini dari sahabatnya yang memiliki unit di sampingnya. Tapi sayang pria itu sudah bertahun-tahun mengosongkan unitnya lalu menyewakan pada orang lain.
"Om.... tolong!"
Di sela larinya Gatra menoleh ke kaca untuk memastikan pendengarannya. Di sana ia melihat anak kecil tadi sedang melambai-lambaikan tangan dengan kepala yang mencoba terangkat dari air.
"Palingan cuma mau narik perhatian lagi," kata Gatra memilih melanjutkan olahraga, mengabaikan anak yang melambai-lambai dari kaca.
Sampai beberapa detik kemudian, Gatra sadar anak itu tidak bersandiwara membuatnya buru-buru mematikan alat olahraga dan berlari cepat ke luar untuk masuk ke dalam kolam.
Gatra meraih tubuh anak yang tak di ketahui nya namanya itu, lalu meletakkan tubuh itu di pinggir kolam. Beruntungnya anak itu tidak kehilangan kesadarannya hingga Gatra yang menahan amarah tak perlu memberikan pertolongan pertama.
"Kamu makanya jangan sok hebat!" Kata Gatra akhirnya dengan membentak anak yang masih terbaring lemas itu. "Udah saya bilang kolam itu buat orang dewasa jadi dalam bukan buat anak-anak, tapi kamu malah sok hebat dengan ngomong udah biasa berenang di kolam orang dewasa, kamu pikir tempatmu berenang itu sama dengan di sini?!"
"Mama..."
"Kamu..." Gatra menekan kuat-kuat emosinya yang akan meledak lagi. Ia mengingat kata psikolog untuk sabar menghadapi anak-anak yang belum mengerti baik atau buruk sebaik orang dewasa.
"Mama..."
"Udah, jangan nangis lagi. Saya antar kamu ke unitmu." Gatra menghela nafas kasar lalu menaiki kolam dan mengendong anak kecil yang masih menangis menunju lift. "Kamu tinggal di lantai berapa?"