"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Kilasan Trauma
"Lepaskan aku, Arga!" Keysa menepis tangan suaminya dengan satu sentakan kasar. Matanya memancarkan amarah yang tidak kalah menyala. "Kamu sama sekali tidak berhak mengatur kepada siapa aku boleh tersenyum. Aku sedang bekerja! Aku sedang menyelamatkan uang triliunan rupiah milik perusahaan, bukan sedang merayu laki-laki hidung belang itu!"
"Persetan dengan uang itu!" bentak Arga sangat keras hingga urat lehernya menonjol tegang. Suaranya menggema memenuhi kabin mobil mewah yang kedap suara tersebut. "Aku bisa mencari sepuluh rekan bisnis lain yang lebih kaya dari Bastian! Tapi aku tidak akan membiarkan laki-laki murahan itu menatapmu seolah kamu adalah hidangan penutup yang bisa dia beli!"
"Ini bukan soal uang, ini soal profesionalitas!" Keysa membalas teriakan itu tanpa gentar sedikit pun. Ia mencondongkan tubuhnya, menantang langsung tatapan dominan Arga. "Kamu menghancurkan kerja kerasku selama satu tahun hanya dalam waktu lima menit! Kamu membiarkan emosi bodohmu menguasai otakmu!"
"Emosi bodoh?!" Rahang Arga mengeras kaku. Laki-laki itu kembali mengangkat tangannya, berniat mencengkram bahu istrinya untuk menegaskan kekuasaannya.
Namun, sebelum jemari besar itu sempat menyentuh kemeja Keysa, sebuah serangan rasa sakit yang luar biasa dahsyat tiba-tiba menghantam bagian kanan tengkoraknya.
Arga mengerang keras. Tangannya langsung mencengkeram rambutnya sendiri dengan kuat. Rasa sakit itu bukan sekadar pening biasa. Rasanya seperti ada godam besi yang dipukulkan berulang kali tepat ke titik jahitan bekas operasinya.
"Arga? Ada apa?" Keysa terkesiap kaget, refleks memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menabrak pintu mobil. Ketenangan wajah perempuannya hancur melihat suaminya mendadak membungkuk menahan kesakitan yang ekstrem.
Di dalam kepala Arga, pandangannya mendadak menjadi sangat kabur. Suara mesin mobil dan deru napas Keysa menghilang seketika, digantikan oleh sebuah suara pecahan kaca yang sangat nyaring dan memekakkan telinga.
Prang!
Sebuah kilasan visual berkelebat sangat cepat dan kasar membelah otaknya yang gelap.
Di dalam kilasan itu, Arga melihat dirinya sendiri berdiri di tengah ruang kerja pribadinya di kantor pusat. Wajahnya merah padam dipenuhi kemurkaan yang tidak terkendali. Tangan kanannya baru saja mengayun keras, melemparkan sebuah vas bunga kristal berukuran besar tepat ke arah dinding di dekat pintu masuk.
Vas kristal itu hancur berkeping-keping. Pecahannya berhamburan liar ke segala arah layaknya peluru tajam.
Lalu, kilasan itu bergeser pelan. Arga melihat sosok Keysa berdiri kaku tidak jauh dari titik hantaman vas tersebut. Perempuan itu mengenakan setelan kerja berwarna abu-abu terang. Wajah Keysa sangat datar, sedingin balok es, menunduk patuh tanpa berani menatap matanya.
Satu kepingan tajam dari pecahan kristal itu melayang cepat dan menggores telak sisi kiri pipi Keysa.
Garis merah tipis langsung muncul di atas kulit putih perempuan itu. Darah segar menetes pelan, mengalir turun melewati rahang Keysa dan menodai kerah kemeja putihnya.
Arga di dalam memori itu sama sekali tidak peduli melihat istrinya terluka. Mulutnya justru terus melontarkan makian kejam tanpa ampun.
"Kamu bahkan tidak becus mengurus satu tugas sederhana!" Suara Arga dari masa lalu itu menggema sangat kejam di dalam kepalanya saat ini. "Aku membayar mahal jasamu sebagai tameng, Keysa! Kenapa perempuan tua itu bisa lolos dari penjagaan lobi dan masuk sampai ke depan pintu ruanganku?! Aku tidak mau melihat wajah ibuku! Kamu tuli atau bodoh?!"
Kilasan itu berhenti tepat di sana. Gelap kembali menyelimuti pikiran Arga.
Di dalam kabin mobil yang masih melaju kencang, napas Arga tersengal-sengal putus asa. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras membasahi dahi dan kemejanya. Laki-laki itu masih menunduk dalam, tangannya gemetar hebat mencengkeram lututnya sendiri.
"Pak Sopir, putar balik menuju rumah sakit terdekat sekarang juga!" Keysa memberi perintah cepat dengan nada panik yang sulit disembunyikan. Ia segera mencondongkan tubuhnya mendekati Arga, berniat memeriksa kondisi jahitan di kepala suaminya. "Arga, lepaskan tanganmu. Biarkan aku melihat lukamu."
"Jangan sentuh aku." Arga menepis pelan tangan Keysa yang hendak menyentuh kepalanya.
Keysa membeku di tempatnya. Penolakan itu terdengar sangat berbeda. Bukan penolakan kasar penuh arogansi seperti biasanya, melainkan penolakan yang sarat akan keputusasaan dan ketakutan yang mendalam.
Arga perlahan mengangkat kepalanya. Laki-laki itu menatap wajah Keysa dengan sorot mata yang hancur berantakan. Tidak ada lagi kilat dominasi yang menyala terang. Tidak ada lagi sifat posesif yang memuakkan. Yang ada hanyalah raut kengerian luar biasa saat ia menyadari betapa brutal dan kejam dirinya di masa lalu.
Tatapan Arga turun perlahan, tertuju pada sisi kiri pipi Keysa. Di bawah sapuan riasan wajah yang sempurna, Arga kini baru menyadari ada sebuah bekas luka goresan tipis yang memudar di sana. Bekas luka yang tidak pernah ia perhatikan selama satu bulan hidup berdampingan setelah lupa ingatan. Bekas luka yang ia ciptakan sendiri dengan tangannya.
Tangan besar Arga yang biasanya sangat kuat kini bergetar parah saat terangkat di udara. Laki-laki itu ingin menyentuh pipi istrinya, ingin memastikan bahwa luka itu nyata, namun tangannya tertahan di tengah jalan. Ia merasa sangat kotor dan tidak pantas menyentuh perempuan itu.
Arga menarik tangannya kembali dengan gerakan patah-patah. Dadanya terasa seperti dihimpit bongkahan batu raksasa. Ia baru saja marah besar karena ada laki-laki lain yang berani memuji kecantikan istrinya, tapi ternyata, dialah monster sesungguhnya yang pernah merusak fisik istrinya sendiri.
"Arga? Kamu baik-baik saja? Wajahmu sangat pucat," Keysa memanggil dengan suara tegang, sama sekali tidak memahami pergolakan batin mengerikan yang sedang terjadi di dalam kepala suaminya.
Arga menelan ludah kasar. Tenggorokannya terasa sangat kering dan perih. Ia menatap Keysa lamat-lamat, merekam setiap detail wajah datar perempuan itu yang selama ini ia anggap sebagai tantangan menarik untuk ditaklukkan. Kini ia paham kenapa Keysa selalu membangun tembok setinggi langit untuk menghindarinya.
Pria bodoh macam apa dirinya yang berani menuntut kesetiaan dari seorang wanita yang pernah ia lukai hingga berdarah?
Arga memejamkan mata rapat-rapat. Dia mencoba menarik udara masuk ke dalam paru-parunya yang terasa begitu sempit.
Memori mengerikan itu terus berputar seperti sebuah kaset rusak yang terus-menerus mengulang bagian paling menyakitkan. Suara pecahan kaca kristal itu terasa menusuk gendang telinganya dari dalam.
Selama ini dia merasa sangat berhak atas diri Keysa. Dia merasa memiliki wanita ini sepenuhnya.
Namun kenyataan pahit itu menghancurkan seluruh keangkuhan yang tersisa di dalam hatinya. Pantas saja wanita tangguh ini begitu ingin lari meninggalkannya, menjauh darinya tanpa pernah menoleh lagi.
"Tadi... aku melihat kilasan itu," ucap Arga lirih, raut wajahnya diliputi kengerian terhadap dirinya sendiri. "Aku... pernah menyakitimu secara fisik?"
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..
apalagi Keysa sosok mandiri tangguh dan badass..