Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MISI GILA DAN RADAR "GANTENG"
Subuh di Pesantren Al-Hidayah adalah mimpi buruk bagi Mentari. Suara speaker masjid yang menggelegar, ketukan pintu kayu yang bertalu-talu, dan dinginnya udara pegunungan yang menusuk tulang membuat gadis itu ingin menghilang dari bumi.
"Mentari, bangun! Subuh berjamaah itu wajib, nanti kena takzir (hukuman) lho!" Hafizah mengguncang bahu Mentari yang masih terbungkus selimut tebal bermotif macan tutul satu-satunya barang yang terasa seperti "rumah" baginya.
"Lima menit lagi, Ma..." igau Mentari.
"Aku bukan Mama kamu. Aku Hafizah. Dan kalau kamu telat, kamu harus bersihin kamar mandi santri putra!"
Mendengar kata "kamar mandi santri putra", mata Mentari langsung melotot. Bukan karena takut bersih-bersih, tapi karena ia membayangkan betapa kumuhnya tempat itu. Dengan terpaksa, ia bangkit. Rambut pirangnya berantakan, namun wajah cantiknya tetap terlihat menonjol meski tanpa sentuhan makeup.
Setelah salat Subuh yang penuh dengan kantuk di mana Mentari hampir jatuh tersungkur saat sujud karena ketiduran mereka kembali ke kamar untuk persiapan kegiatan pagi.
"Tari, Tari!" Bondan menghampiri Mentari sambil menyenggol lengannya genit. "Lo tau nggak? Nanti jam delapan ada jadwal kerja bakti di depan kediaman Kyai. Itu artinya... kita bakal liat Gus Zikri!"
Mentari yang sedang berusaha memakai kerudung instan (yang hasilnya tetap miring) langsung menoleh. "Gus Kulkas itu?"
"Ih, kok Kulkas sih? Dia itu *limited edition*, Tari! Tinggi, wangi, terus kalau ngomong... beuh, bikin hati adem!" cerocos Bondan. Bondan memang tipe santriwati yang paling depan kalau ada cowok ganteng lewat. Matanya bisa berubah jadi bentuk hati dalam sekejap.
Fahma, yang sedari tadi duduk di pojok tempat tidur sambil memegang sikat gigi, tiba-tiba angkat bicara. "Eh... tadi... Gus Zikri lewat depan aula ya?"
Bondan menepuk jidatnya. "Fahma sayang! Itu tadi pas kita mau berangkat salat! Udah lewat satu jam yang lalu!"
Fahma berkedip bingung dengan wajah polosnya. "Oh... pantesan koridornya udah sepi."
Mentari hanya bisa menghela napas. Ia merasa terjebak di antara orang-orang aneh. Namun, ucapan Bondan tentang kerja bakti memicu ide di otak nakalnya.
Pukul delapan pagi. Mentari muncul di halaman kediaman Kyai dengan gaya yang menantang. Ia memakai tunik ketat yang sengaja ia ikat bagian pinggangnya agar tetap terlihat modis, dan kerudungnya sengaja ditarik sedikit ke belakang memperlihatkan anting berliannya.
Hafizah yang melihat itu langsung beristighfar. "Mentari, astaghfirullah... itu kerudungnya dibenerin. Aurat itu!"
"Aduh Hafizah, ini udah gerah banget tahu nggak! Nanti kalau gue pingsan, emang lo mau tanggung jawab?" Mentari mulai beraksi dengan sifat manjanya yang level dewa.
Tak lama kemudian, Gus Zikri keluar dari pintu samping. Ia membawa sebuah Al-Qur'an besar di dadanya. Seperti biasa, ia terlihat tenang, berwibawa, dan sangat tampan. Mentari langsung mengambil sapu lidi dan sengaja menyapu di jalur yang akan dilewati Zikri.
"Aduh! Aduh aduh!" Mentari tiba-tiba menjerit kecil dan pura-pura tersandung akar pohon. Ia menjatuhkan diri ke tanah dengan posisi yang menurutnya paling estetik. "Aww... kaki gue! Sakit banget!"
Bondan hampir saja berteriak "Akting lo keren!", tapi ia segera menutup mulut. Hafizah dan Fahma langsung berlari menghampiri. Gus Zikri menghentikan langkahnya sekitar dua meter dari Mentari. Seperti biasa, ia tetap menundukkan pandangan.
"Ada apa?" tanya Zikri datar.
"Ini Gus, Mbak Mentari jatuh. Sepertinya kakinya terkilir," lapor salah satu santriwati.
Mentari mendongak, memasang wajah paling melas. "Gus... sakit banget. Bisa tolongin nggak? Bantu berdiri kek, atau apa gitu..."
Zikri terdiam sejenak. Mentari sudah yakin pria itu akan luluh. Namun, Zikri justru menoleh ke arah Fahma yang berdiri bingung di dekatnya.
"Fahma, tolong panggilkan Mak Idah di dapur. Minta beliau membawa minyak urut untuk menolong temanmu ini," perintah Zikri tenang.
Fahma berkedip tiga kali. "Hah? Minyak goreng, Gus?"
"Minyak urut, Fahma," tegas Zikri dengan sabar yang luar biasa.
"Oh... iya-iya, Gus. Tunggu ya... tadi mau ke mana ya?" Fahma baru berputar arah setelah beberapa detik berpikir.
Zikri kemudian melanjutkan perjalanannya tanpa sekalipun melirik ke arah Mentari. Mentari yang merasa diabaikan langsung berdiri tegak tanpa ada tanda-tanda sakit.
"Heh! Gus! Gue beneran sakit nih! Kok ditinggal sih?! Dasar cowok nggak punya perasaan! Es batu!" teriak Mentari emosi.
Malam harinya, Mentari duduk di teras asrama bersama tiga teman barunya. Suasana pesantren yang tenang mulai terasa mencekik bagi gadis yang terbiasa dengan kebisingan kota ini.
"Tari, lo tau nggak kenapa Gus Zikri nggak mau liat lo?" tanya Bondan sambil sibuk memakai bedak dingin di wajahnya.
"Ya karena dia sombong, kan?"
"Bukan," Hafizah yang menyahut kali ini. "Dia menjaga pandangan karena dia terlalu menghargai wanita. Dia ingin memberikan tatapan terbaiknya hanya untuk yang berhak nanti."
Mentari terdiam. Kata-kata itu terasa asing di telinganya. Selama ini cowok-cowok melihatnya sebagai objek, tapi Zikri seolah-olah menganggapnya sebagai sesuatu yang terlalu berharga untuk dilihat secara sembarangan.
Namun, gengsi Mentari tetap tinggi. "Gue nggak peduli! Pokoknya, dia harus liat gue. Besok gue bakal bikin rencana yang lebih gila!"
"Rencana apa?" tanya Fahma tiba-tiba setelah sedari tadi diam.
"Nggak ada, Fahma! Udah malem, tidur sana!" sahut Mentari gemas.
Di bawah sinar rembulan pesantren, Mentari mulai menyadari bahwa musuh terbesarnya bukanlah aturan pesantren, melainkan ketenangan seorang Gus Zikri yang pelan-pelan mulai mengusik pikirannya.