NovelToon NovelToon
NEW SAGA WARISAN PRIMORDIAL

NEW SAGA WARISAN PRIMORDIAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Abai Shaden

Ribuan tahun setelah Kaisar Primordial Wang Tian menghilang ke dalam keheningan dimensi untuk menjaga keseimbangan alam, silsilah darahnya telah bercabang menjadi klan-klan besar yang menguasai berbagai penjuru dunia.

​Istri pertama, Lin Xuelan, melahirkan garis keturunan Penjaga Samudra. Istri ketiga, Mora, melahirkan klan Bayangan Langit. Istri keempat, Lin Xia (setelah menjadi manusia sepenuhnya), melahirkan garis Pedang Dewa. Namun, cerita kita kali ini bermula dari garis keturunan istri kedua, Sui Ren, Sang Permaisuri Angin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 : BANGKITNYA PENGUASA ANGIN

Sampah dari Kota Badai

Langit di atas Kota Badai tidak pernah benar-benar tenang. Awan kelabu selalu berputar, menciptakan tarian angin yang konstan di antara menara-menara kristal milik Keluarga Wang-Sui. Bagi penduduk Benua Tengah, keluarga ini adalah perwujudan dari kemegahan Permaisuri Kedua, Sui Ren. Namun, di balik kemegahan tembok-tembok marmernya, terdapat sebuah sistem kasta yang kejam, di mana kemurnian darah adalah segalanya.

Wang Jian berdiri di tengah lapangan luas yang dikelilingi oleh ribuan mata. Hari ini adalah Upacara Penentuan Takdir, sebuah ritual yang dilakukan setiap sepuluh tahun untuk menguji potensi para keturunan darah Wang. Di tengah lapangan, berdiri sebuah pilar batu hitam yang dikenal sebagai Pilar Pengukur Roh.

"Selanjutnya, Wang Jian, dari Cabang Ketujuh!" teriak suara bariton milik Penatua Penguji, Wang Ruo-shan.

Bisik-bisik menghina mulai menjalar di antara kerumunan.

"Lihatlah dia, cicit dari selir rendahan di garis Sui Ren. Kudengar meridiannya bahkan tidak bisa menampung embun pagi, apalagi Qi alam."

"Memalukan nama besar Leluhur Wang Tian. Bagaimana mungkin darah penguasa mengalir di tubuh selemah itu?"

Wang Jian mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Wajahnya yang tirus namun memiliki garis rahang yang tegas menunjukkan ketabahan yang luar biasa. Ia melangkah maju, setiap langkahnya terasa berat di bawah tatapan tajam para jenius klan yang duduk di tribun kehormatan. Di sana, duduk Wang Feng, jenius nomor satu dari garis utama yang sudah mencapai Ranah Pemurnian Qi Bintang 5 di usia enam belas tahun.

Wang Jian meletakkan telapak tangannya pada pilar dingin itu. Ia memejamkan mata, mencoba menarik setitik energi dari Dantiannya yang terasa seperti sumur kering.

Hening.

Satu detik... lima detik... sepuluh detik berlalu. Pilar batu itu tetap hitam legam. Tidak ada cahaya, tidak ada getaran.

"Wang Jian. Ranah Pembersihan Tubuh: Bintang 0. Tidak memiliki bakat kultivasi. Gagal!" Teriak Penatua Ruo-shan dengan nada jijik yang tidak ditutup-tutupi.

Tawa meledak di seluruh arena. Wang Jian menarik tangannya. Ia tidak menangis. Matanya justru menatap ke arah langit yang mendung. Di dalam tubuhnya, ia merasakan sesuatu yang tidak dirasakan orang lain. Sesuatu yang sangat panas namun sekaligus sangat dingin berputar di titik tersembunyi di balik meridiannya yang "tersumbat".

"Tunggu," sebuah suara dingin memecah tawa. Itu adalah Wang Meili, jenius dari garis keturunan Istri Pertama (Wang-Xuelan). Ia berdiri dengan keanggunan seorang dewi samudra. "Penatua, bukankah aturan klan menyatakan bahwa siapa pun yang gagal dalam ujian harus diasingkan ke Lembah Pembuangan untuk menjadi pelayan tambang?"

Wang Jian menoleh. Meili menatapnya bukan dengan kebencian, tapi dengan ketidakpedulian yang jauh lebih menyakitkan. Baginya, Wang Jian hanyalah noda kecil di atas permadani sutra klan Wang.

"Benar, Nona Meili," jawab Penatua. "Wang Jian, kau memiliki waktu hingga matahari terbenam untuk meninggalkan Kota Badai. Kau dilarang membawa nama Wang mulai hari ini."

Malam di Tebing Terlarang

Wang Jian berjalan menuju pinggiran kota, ke sebuah tempat yang bahkan para penjaga pun enggan mendekatinya: Tebing Ratapan Angin. Di sana, hanya ada gubuk reyot tempat tinggal seorang pelayan tua yang sudah pikun, Kakek Ge.

"Kek, aku diusir," bisik Wang Jian saat memasuki gubuk.

Kakek Ge, yang sedang membersihkan debu dari sebuah kotak kayu tua, menatap Wang Jian dengan mata yang tampak kabur namun dalam. "Diusir? Hahaha... Bagus. Elang tidak akan pernah belajar terbang jika ia terus meringkuk di dalam sangkar emas yang penuh dengan kotoran burung pipit."

Kakek Ge melemparkan sebuah gulungan kain sutra yang sudah kusam ke pangkuan Wang Jian. "Cicit Sui Ren... kau selalu mengeluh tentang meridianmu yang tersumbat. Kau bodoh. Meridianmu tidak tersumbat. Mereka hanya terlalu 'lebar' sehingga Qi tipis dari kota ini tidak cukup untuk mengisinya. Kau butuh sesuatu yang lebih... liar."

Wang Jian membuka gulungan itu. Seketika, angin kencang bertiup di dalam gubuk kecil itu, memadamkan lilin. Di dalam kegelapan, huruf-huruf emas mulai menari di depan mata Wang Jian.

> "Teknik Sembilan Putaran Angin Primordial: Tahap Satu - Pembersihan Napas Langit."

>

"Ini..." Wang Jian terbelalak. Teknik ini tidak memiliki tingkatan yang jelas, namun auranya jauh lebih mendalam daripada teknik Badai Mengamuk milik keluarga utama.

"Duduklah, Bocah. Jangan gunakan Dantianmu untuk menarik Qi. Gunakan pori-porimu untuk 'memakan' udara. Jangan biarkan angin melewatimu, jadilah angin itu sendiri," perintah Kakek Ge.

Wang Jian mengikuti instruksi itu. Saat ia mulai mengatur napasnya sesuai pola yang rumit dalam gulungan, rasa sakit yang luar biasa menghantam tubuhnya. Rasanya seolah-olah ribuan pisau kecil masuk melalui kulitnya, mengikis kotoran yang menempel di otot dan sarafnya.

Ini adalah proses Ranah Pembersihan Tubuh Bintang 1. Biasanya, kultivator butuh waktu bulanan dengan bantuan pil untuk mengeluarkan impuritas tubuh. Namun, di bawah teknik Primordial, Wang Jian dipaksa melewati proses itu dalam hitungan jam.

Cairan hitam berbau busuk mulai merembes keluar dari pori-porinya.

"Aaaarrghh!" Wang Jian menjerit tertahan.

"Tahan! Jika kau pingsan sekarang, kau akan menjadi sampah selamanya!" teriak Kakek Ge.

Tiba-tiba, suara KREK terdengar dari dalam tubuhnya. Lapisan kotoran di meridiannya pecah. Energi alam yang ganas di Tebing Ratapan mulai tersedot masuk ke tubuh Wang Jian, membentuk pusaran kecil di perutnya.

[Pemberitahuan Sistem Kultivasi Bab 1]:

 * Wang Jian: Mencapai Ranah Pembersihan Tubuh Bintang 1 (Sempurna).

 * Kondisi Fisik: Otot-ototnya mulai memadat, indra pendengarannya meningkat tajam. Ia kini bisa mendengar arah angin sebelum angin itu bertiup.

Awal Alkimia Tanpa Api

Keesokan paginya, Wang Jian terbangun dengan tubuh yang terasa sangat ringan. Kakek Ge melemparkan beberapa tanaman obat liar kepadanya. "Aku lapar. Buatkan aku sesuatu yang bisa memperpanjang umurku."

"Tapi Kek, aku tidak punya kuali, dan aku tidak punya api jiwa untuk alkimia," protes Wang Jian.

"Siapa bilang Alkimia butuh api?" Kakek Ge menunjuk ke arah angin yang berputar di celah dinding gubuk. "Api hanya alat untuk memisahkan sari pati. Tekanan... tekanan bisa melakukan hal yang sama tanpa merusak esensi."

Wang Jian tertegun. Ia mengambil tanaman Rumput Embun Pagi dan meletakkannya di telapak tangannya. Ia mencoba menggunakan teknik angin barunya untuk menciptakan pusaran udara yang sangat kecil namun sangat cepat di telapak tangannya.

Wuuusss...

Tanaman itu berputar hebat. Tekanan udara yang ekstrem mulai memeras cairan hijau dari batang tanaman tersebut. Tanpa panas yang membakar, khasiat tanaman itu tetap murni 100%.

Setelah satu jam percobaan yang melelahkan, sebuah butiran kecil terbentuk. Bukan berbentuk bulat sempurna seperti pil alkemis api, melainkan berbentuk cakram kecil transparan.

"Pil Embun Murni. Kualitas... Ilahi?" Wang Jian hampir tidak percaya. Meskipun itu hanya obat luka luar, tingkat kemurniannya melampaui apa pun yang pernah ia lihat di balai lelang Kota Badai.

Kakek Ge tersenyum tipis, memperlihatkan beberapa giginya yang hilang. "Petualanganmu masih panjang, Bocah. Ingat, kau adalah keturunan Wang Tian. Jangan pernah biarkan siapa pun merantai anginmu."

Wang Jian berdiri, membungkuk dalam-dalam kepada Kakek Ge, lalu menatap ke arah jalan keluar lembah. Di matanya, tidak ada lagi keraguan. Hanya ada tekad dingin yang siap membakar dunia—atau lebih tepatnya, meniupnya hingga rata dengan tanah.

1
evelyn Syaquita
new saga
adalah bacaan wajib bagi penggemar genre kultivasi yang mencari cerita dengan kedalaman emosional dan aksi yang memukau. Meskipun memiliki beberapa kiasan (tropes) klasik genre Xianxia, eksekusinya tetap terasa segar dan membuat ketagihan.
evelyn Syaquita
Tahapan dari Qi Condensation hingga [Tahap Tertinggi] dijelaskan dengan detail yang memuaskan, membuat pembaca ikut merasakan jerih payah sang protagonis dalam bermeditasi dan menerjang kesengsaraan langit (Heavenly Tribulation).😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!