NovelToon NovelToon
Ramalan Cinta Yang Terkunci

Ramalan Cinta Yang Terkunci

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:437
Nilai: 5
Nama Author: Jasmine Oke

Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI

Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.

~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~

Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.

▪︎Objek Utama:

- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.

- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).

- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.

.
.
.
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Kembali dengan Kekuatan Baru

Keluar dari gerbang Kuil Keseimbangan terasa seperti melangkah keluar dari air yang tenang menuju arus yang deras. Udara di luar terasa lebih segar namun juga lebih berat. Meskipun mereka merasa hanya menghabiskan waktu sehari di luar (padahal sebulan penuh berlatih di dalam), perubahan pada diri mereka sangatlah drastis.

Aura yang memancar dari tubuh mereka kini tidak lagi mengintimidasi atau menakutkan. Sebaliknya, aura itu terasa sangat damai namun mendalam, layaknya lautan yang tenang di permukaan namun menyimpan kedalaman yang tak terukur di bawahnya.

"Kita terlihat berbeda, bukan?" tanya Elara sambil memutar tubuhnya kecil. Ia bisa merasakan energi di dalam dirinya mengalir begitu lancar, tanpa hambatan sedikitpun. Seperti air yang mengalir bebas dari sumbernya.

"Kau terlihat lebih bersinar dari sebelumnya," jawab Kael dengan tatapan kagum. "Dan aku... merasa lebih utuh. Seperti potongan terakhir dari teka-teki hidupku akhirnya terpasang dengan sempurna."

Mereka berjalan menuju kota dengan langkah ringan. Kini, berjalan jauh pun tidak terasa melelahkan. Energi mereka terus terisi ulang secara alami dari lingkungan sekitar.

Namun, saat mereka baru saja memasuki batas hutan pinggiran kota, tiba-tiba suasana menjadi tidak wajar. Burung-burung terbang berhamburan dengan panik, dan udara terasa sangat panas.

"Ada apa ini?" Elara mengerutkan kening. "Terasa seperti ada pertarungan besar yang sedang terjadi tidak jauh dari sini."

"Ayo kita lihat," kata Kael sigap.

Mereka berlari cepat, melesat bagai angin. Dalam hitungan detik, mereka sampai di sebuah bukit kecil dan melihat pemandangan di bawah sana.

Di lembah bawah, terlihat sekelompok pedagang dan warga kota yang sedang dikepung! Bukan oleh manusia, melainkan oleh makhluk-makhluk aneh yang terbuat dari batu dan api. Mereka adalah Golem Lava, makhluk yang seharusnya hanya hidup di daerah gunung berapi aktif. Tapi apa yang mereka lakukan di sini?

Dan yang lebih mengejutkan, di belakang golem-golem itu, terlihat beberapa sosok yang mengenakan jubah hitam dengan lambang mata merah. Mereka bukan anggota Sekte Pembelah Takdir lama, tapi gaya bertarung dan energi yang mereka gunakan sangat familiar.

"Itu... pengikut lama Ayah?" tebak Elara.

"Tampaknya mereka tidak mau menerima kekalahan," jawab Kael dingin. "Mereka mungkin bekerja sama dengan kekuatan lain atau menggunakan sihir terlarang untuk memanggil makhluk-makhluk itu. Lihat, mereka menyandera warga untuk menarik perhatian seseorang..."

"Mereka mencari kita," potong Elara paham. "Mereka tahu kita kembali."

"Kalau begitu, mari kita beri apa yang mereka mau."

Tanpa ragu, Kael dan Elara melompat turun dari bukit.

DUG!

Mereka mendarat tepat di antara para penyandera dan warga yang ketakutan. Kehadiran mereka membuat suasana langsung hening sejenak.

"Lihat! Itu mereka!" teriak salah satu penyihir jahat itu. "Sang Kunci dan Gembok!"

"Serang! Bunuh mereka! Ambil energi mereka!" teriak pemimpin kelompok itu.

Puluhan Golem Lava mengaum keras dan menyerbu ke arah Elara dan Kael dengan langkah berat yang mengguncang tanah.

Warga yang disandera menjerit ketakutan, menutup mata mereka takut melihat pasangan muda itu akan hancur dilindas batu raksasa.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya di luar dugaan semua orang.

Elara dan Kael tidak bergerak mundur sedikitpun. Mereka justru saling berpaling membelakangi satu sama lain, siap menghadapi musuh dari segala arah.

"Elara, bagian kiri milikku," bisik Kael.

"Bagian kanan dan pertahanan, serahkan padaku," jawab Elara tenang.

Saat Golem-Golem itu sudah berada hanya beberapa meter dari mereka, Kael mengayunkan tangannya ke samping.

"Bayangan Pembelah Ruang."

SWOSH!

Bukan gelombang angin biasa yang keluar, melainkan sebuah celah hitam tipis yang melesat sangat cepat. Celah itu melewati tubuh Golem-Golem raksasa itu tanpa suara.

Sesaat kemudian...

TRRRAAAAK!

Badan-badan batu itu terbelah dua dengan sangat rapi, lalu hancur menjadi tumpukan kerikil dalam sekejap!

Para penyihir jahat itu terbelalak kaget. "Mustahil! Golem itu terbuat dari batu adamant! Bagaimana bisa..."

Belum sempat mereka menyelesaikan kalimatnya, Elara mengangkat kedua tangannya.

"Ikatan Cahaya: Penjara Bintang!"

Dari tanah, tumbuh rantai-rantai cahaya perak yang sangat cepat dan lincah. Rantai-rantai itu melilit tubuh para penyihir satu per satu, mengikat tangan dan kaki mereka hingga mereka tidak bisa bergerak atau merapal mantra sama sekali. Prosesnya begitu cepat dan indah, namun sangat efektif.

Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, semua ancaman sudah berhasil dinetralisir. Golem hancur, para penjahat terikat rapi.

Elara dan Kael berdiri tegak di sana, napas mereka bahkan tidak terdengar memburu. Gerakan tadi terasa semudah menghela napas bagi mereka.

Warga yang diselamatkan terdiam terpaku, lalu mulai bersorak sorai dengan heboh.

"Mereka melakukannya! Mereka menyelamatkan kita!"

"Kuat sekali! Itu sihir level apa?"

"Elara! Tuan Kael! Terima kasih!"

Elara tersenyum ramah kepada warga, lalu melambaikan tangan. "Kalian aman sekarang. Silakan lanjutkan perjalanan kalian dengan hati-hati."

Salah satu tetua pedagang mendekat dengan wajah hormat. "Nona Elara, Tuan Kael... kalian harus segera kembali ke kota. Situasi di sana sedang tidak baik-baik saja. Sejak kalian pergi, banyak hal aneh terjadi. Monster-monster mulai keluar dari sarangnya, dan ada kabar bahwa Ordo Pengawas itu sudah mengirim utusan khusus lagi."

Jantung Elara dan Kael berdegup. Ternyata bahaya tidak pernah tidur menunggu mereka siap.

"Terima kasih informasinya, Kek," jawab Kael. "Kami akan segera pergi ke sana."

Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan kecepatan penuh. Sepanjang jalan, mereka bisa melihat tanda-tanda kekacauan. Beberapa jalan rusak, energi alam terasa kacau, dan ketegangan terasa sangat tebal di udara.

Saat gerbang kota Lunaria terlihat di depan mata, mereka melihat sesuatu yang membuat langkah mereka terhenti.

Di atas gerbang utama kota, terpasang sebuah spanduk besar berwarna putih keperakan. Di atasnya tertulis dengan huruf-huruf yang bersinar:

"PENGAKUAN DOSA DAN PENYERAHAN DIRI ADALAH JALAN SATU-SATUNYA. HUKUM ALAM SEMESTA TELAH TIBA."

Di bawah spanduk itu, berdiri dua sosok berseragam perak yang sama dengan yang mereka temui sebelumnya, namun postur tubuh dan aura mereka jauh lebih kuat dan berwibawa.

Mereka tidak masuk ke dalam kota, seolah menghormati batas wilayah, tapi kehadiran mereka sudah cukup membuat seluruh penjaga kota gemetar ketakutan.

"Mereka sudah di sini..." bisik Elara.

"Dan mereka menunggu kita," tambah Kael. Matanya menyala, kali ini bukan karena marah, tapi karena tantangan. "Bagus. Kita sudah tidak lagi anak kecil yang mereka kejar dulu. Kita datang untuk berbicara sebagai setara."

Mereka berdua berjalan maju dengan kepala tegak. Setiap langkah mereka membuat rumput di bawah kaki mereka tumbuh lebih hijau dan kuat, tanda bahwa energi mereka selaras dengan alam.

Saat mereka sampai di depan gerbang, kedua utusan Ordo Pengawas itu menoleh. Di balik topeng mereka, terlihat kilatan kaget saat merasakan kekuatan Elara dan Kael yang kini telah berubah total.

"Akhirnya kalian muncul," suara salah satu utusan itu bergema dingin. "Kami pikir kalian lari dan bersembunyi."

"Kami tidak lari," jawab Kael dengan suara tenang namun memancarkan wibawa yang setara. "Kami hanya pergi memetik buah, dan sekarang... kami sudah siap memakannya."

Utusan itu tampak tidak mengerti metafora tersebut, namun mereka bisa merasakan bahwa target mereka kini bukan lagi mangsa yang mudah.

"Kami membawa perintah baru dari Dewan Tinggi," kata utusan yang satunya lagi sambil mengangkat sebuah gulungan kertas bersinar. "Kalian dipanggil untuk diadili di hadapan Dewan Agung di Markas Besar Ordo. Kalian akan ikut dengan kami sekarang. Secara sukarela... atau paksa."

Elara melangkah maju selangkah. Ia menatap langsung ke arah topeng musuhnya.

"Kami tidak keberatan pergi," kata Elara tegas. "Tapi kami tidak datang sebagai tahanan. Kami datang sebagai duta. Dan ingat... jika kalian berani menyentuh kota kami atau orang-orang yang kami lindungi, kalian akan menyesal telah dilahirkan."

Ancaman itu keluar dari mulut gadis muda yang berpenampilan lemah lembut, namun getarannya membuat udara di sekitar mereka membeku.

Kedua utusan itu terdiam lama. Mereka saling berpandangan. Situasi telah berubah. Keseimbangan kekuatan telah bergeser.

"Baiklah," jawab pemimpin utusan itu akhirnya. "Kami akan menunggu di luar batas dimensi. Bersiaplah. Perjalanan menuju pusat alam semesta bukanlah hal yang mudah."

Utusan itu lalu menghilang menjadi butiran cahaya, meninggalkan Elara dan Kael di depan gerbang kota.

"Jadi... kita akan pergi ke dunia mereka?" tanya Kael.

"Ya," jawab Elara sambil tersenyum mantap. "Kali ini, kita yang akan datang ke rumah mereka. Dan kita akan menunjukkan pada mereka arti cinta yang sesungguhnya."

(Bersambung ke Bab 15...)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!