"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2
Mereka membaca isi surat itu perlahan, mencoba memahami setiap kata yang tertera. Suasana mendadak hening. Meli menunggu dengan harap-harap cemas.
Saat akhirnya ayahnya menatapnya dengan mata melebar terkejut dan ibunya menutup mulut dengan kedua tangan, air mata mulai menggenang di pelupuk mata Meli.
"Ini beneran, Ca?" suara ayahnya terdengar bergetar. "Kamu dapat beasiswa penuh ke kota?"
Meli mengangguk cepat, matanya ikut berkaca-kaca. "Iya, Pak! Aku diterima di universitas ternama dengan beasiswa penuh! Aku bisa kuliah di fakultas hukum!"
Bu Risma menatap putrinya dengan mata yang sudah berembun. Tangannya terangkat, menyentuh pipi Meli dengan lembut.
"Ya Allah, Ca... Ini beneran? Anakku kuliah di kota?" suaranya bergetar karena haru.
Pak Dani menghela napas panjang, kemudian menundukkan kepala. Ia menggenggam surat itu erat, seolah masih sulit percaya bahwa putrinya—anak desa yang sederhana—bisa mendapatkan kesempatan sebesar ini.
Tak butuh waktu lama sebelum pria itu mengangkat wajah dan tersenyum lebar. "Ica hebat! Kamu benar-benar membanggakan bapak dan ibu!" katanya penuh kebanggaan.
Meli tak bisa lagi menahan air matanya. Ia langsung memeluk kedua orang tuanya erat-erat.
"Terima kasih, Pak, Buk... Berkat doa kalian, aku bisa sampai di titik ini."
Di bawah langit sore yang mulai berubah jingga, Meli merasakan kehangatan yang begitu mendalam. Ini bukan hanya impiannya seorang, ini adalah impian seluruh keluarga mereka.
Berita tentang Meli yang mendapatkan beasiswa penuh ke kota menyebar dengan cepat di antara para tetangga. Pak Dani dan Bu Risma, yang masih diliputi rasa haru dan bahagia, memutuskan untuk mengadakan syukuran sederhana.
"Alhamdulillah, ini rezeki yang harus disyukuri! Anak kita akan kuliah di kota!" seru Pak Dani dengan mata berbinar.
Tanpa ragu, ia segera pergi ke kandang ayam dan memilih beberapa ekor ayam peliharaannya. "Buat lauk nanti malam," gumamnya sembari menangkap salah satu ayam gemuk yang sedang berkeliaran.
Di dapur, Bu Risma dan Meli sibuk mengolah bahan makanan. Beberapa tetangga dekat yang sudah mendengar kabar baik itu datang membantu, ikut meramaikan suasana. Aroma rempah-rempah mulai tercium di udara, bercampur dengan tawa ringan para ibu-ibu yang membantu memasak.
Sementara itu, Yulita—adik perempuan Meli yang baru berumur 11 tahun—baru saja pulang dari bermain. Langkah kecilnya terhenti di depan rumah saat melihat banyak orang berkumpul. Dahinya berkerut.
"Loh, kok rame? Ada acara apa?" gumamnya, lalu melangkah masuk.
Matanya langsung menangkap pemandangan ayahnya yang sedang mencabuti bulu ayam di halaman belakang.
"Pak, kenapa ayam kita dipotong? Itu kan ayam Ita!" protesnya dengan wajah sedikit kesal.
Pak Dani terkekeh, menepuk kepala putrinya dengan lembut. "Besok bapak ganti, ya. Ini buat syukuran mbakmu, lho. Dia mau ke kota."
Yulita terdiam, matanya membesar. "Mbak mau ke kota?" tanyanya, setengah tak percaya.
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berlari ke dalam rumah. "Mbak! Beneran mau ke kota?" serunya begitu melihat kakaknya di dapur.
Meli tersenyum lembut. "Iya, ta. Mbak dapat beasiswa kuliah di sana."
Para tetangga yang sudah berkumpul ikut menimpali.
"Hebat ya kamu, Mel. Orang desa kita jarang yang bisa sekolah tinggi, apalagi sampai ke kota!" ujar Bu Retno dengan penuh kagum.
Meli tersipu, menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Hehehe, iya, Buk. Saya juga nggak nyangka."
"Pokoknya kamu harus rajin belajar! Jangan sampai lupa pulang ke desa, lho!" timpal buk RT sambil terkekeh.
Meli tertawa kecil. "Iya, buk. Pasti!"
Saat malam tiba, semua orang berkumpul di halaman rumah untuk berdoa bersama. Udara malam yang sejuk semakin menambah suasana khidmat. Setelah doa selesai, hidangan syukuran mulai disajikan.
Pak Dani, yang biasanya pendiam, terlihat begitu ceria malam ini. Sesekali ia bercanda dengan para tetangga sambil menikmati makan malam. Obrolan ringan tentang hasil panen, harga pupuk, hingga perkembangan desa pun mengalir hangat di antara suapan demi suapan.
Di lain tempat, Meli duduk diam, mengamati semuanya dengan hati yang penuh syukur.
Ia tahu, malam ini bukan hanya perayaan untuknya. Ini adalah kebanggaan bagi keluarganya, bagi desanya.