NovelToon NovelToon
Aku Ini Istrimu

Aku Ini Istrimu

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.

Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.

Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.

"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."

Bab 2 Suamiku Cemburu

Cahaya matahari pagi yang masuk lewat celah gorden sama sekali nggak bikin suasana hati Renata membaik. Kepalanya berdenyut nyeri, sisa dari tangis yang tertahan semalaman. Dia bangkit dari sofa, merapikan gaun pengantinya yang kini sudah kusut dan tak berbentuk, persis seperti hidupnya sekarang.

Setelah mandi kilat dan mengganti pakaian dengan setelan formal yang paling sopan yang dia punya, Renata turun ke lantai bawah. Dia tahu, menghindari Nyonya Sarah hanya akan memperburuk keadaan.

Di ruang makan, suasana sudah mencekam. Nyonya Sarah duduk sambil memotong buah apel, sementara Siska asyik memainkan ponselnya sambil menyantap potongan buah kiwi. Tak ada tanda-tanda Bara di sana.

"Duduk," perintah Nyonya Sarah tanpa mengalihkan pandangan. "Jangan berdiri di situ kayak patung selamat datang. Bikin mata saya sakit."

Renata menarik kursi paling ujung, sejauh mungkin dari mertuanya. Dia baru saja hendak mengambil sepotong roti ketika Nyonya Sarah meletakkan tabletnya dengan dentuman keras.

"Mulai hari ini, kamu harus tahu aturan di rumah Adiwangsa," ucap Nyonya Sarah dingin. "Jangan pikir karena Papa mertuamu baik, kamu bisa bersantai. Kamu di sini karena uang kami, jadi kamu harus berguna."

"Apa yang Mama mau?" tanya Renata pelan, suaranya serak.

"Sore ini, kamu harus ikut Bara ke kantor. Ada rapat besar dengan klien dari Jepang," Nyonya Sarah menatap Renata dengan pandangan menghina. "Dan singkirkan muka melas itu. Pakai baju yang mahal, dandan yang cantik. Jangan sampai klien mengira Bara menikahi pembantu."

"Tapi Ma, Bara  semalam—"

"Bara tadi malam pergi sama Kak Maya, kan?" Siska memotong sambil tertawa mengejek. "Aduh, Kak Renata... jangan baper deh. Kak Maya itu cinta matinya Kak Bara. Lo itu cuma... apa ya istilahnya? Oh, ban serep."

Renata mengepalkan tangan di bawah meja. "Gue tahu posisi gue, Siska. Lo nggak perlu ingetin terus."

"Oh, berani jawab sekarang?" Siska melotot. "Ma, liat tuh! dia udah ngelawan!"

Tepat saat ketegangan memuncak, suara langkah kaki berat terdengar dari arah tangga. Bara muncul dengan setelan jas abu-abu gelap yang sangat rapi, kontras dengan wajahnya yang terlihat kurang tidur namun tetap tampan dengan cara yang menyebalkan.

Dia langsung duduk di kursinya, mengabaikan keberadaan Renata sepenuhnya.

"Bar, nanti Renata ikut kamu ke kantor. Mama sudah atur jadwalnya," ucap Nyonya Sarah.

Bara berhenti mengoles mentega ke rotinya. Dia melirik Renata sekilas—tatapan yang begitu dingin sampai membuat Renata merasa membeku. "Ngapain? Dia cuma bakal ngerusak konsentrasi aku. Lagian, dia tahu apa soal bisnis?"

"Dia harus belajar, Bara. Citra perusahaan itu penting," sahut Nyonya Sarah tegas.

Bara mendengus, lalu berdiri dan menyambar kunci mobilnya. Dia menatap Renata dengan seringai tipis yang penuh ejekan. "Oke. Lo mau ikut? Silakan. Tapi jangan salahin gue kalau nanti lo cuma jadi bahan tertawaan di sana."

Bara berjalan pergi tanpa menunggu Renata. "Gue berangkat sekarang. Kalau lo telat satu menit sampai di lobi kantor, jangan harap bisa masuk ke ruangan gue."

Renata langsung berdiri, mengabaikan sarapannya yang belum sempat dimakan. Dia harus bergegas. Dia tahu Bara tidak main-main dengan ancamannya. Baru saja Renata sampai di pintu depan, sebuah mobil yang di setir Bara lebih dulu keluar meninggalkan renata.

Renata berdiri mematung di teras, debu dari ban mobil Bara masih mengepul tipis di udara, meninggalkan rasa sesak yang mulai menjalar ke dada. Ia mengusap dahinya yang mulai berkeringat dingin, merutuki nasibnya yang baru sehari jadi istri sudah diperlakukan layaknya sampah yang tak terlihat.

"Sial," gumam Renata pelan, suaranya bergetar menahan amarah.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa, sampai deru mesin mobil sport yang jauh lebih gahar memecah suasana. Sebuah Porsche hitam metalik berhenti tepat di depannya. Kaca jendela turun perlahan, menampilkan sosok Reno yang memakai kacamata hitam dengan senyum tipis yang sulit dibaca.

"Halo cantik! kok ditinggal?" sapa Reno santai, suaranya terdengar seperti ejekan halus.

Renata nggak punya waktu buat basa-basi atau merasa gengsi. Dia melangkah mendekat ke mobil Reno. "Ren, tolong. Antar gue ke kantor Bara sekarang."

Reno menaikkan alisnya, lalu tawa renyah keluar dari mulutnya. Dia membuka kunci pintu penumpang dari dalam. "Masukl. Ternyata kita satu tujuan, kebetulan gue juga ada rapat yang nggak bisa dimulai kalau gue nggak ada di sana."

Renata masuk ke dalam mobil yang aromanya sangat maskulin dan mahal itu. Begitu pintu tertutup, Reno langsung menginjak gas, membuat tubuh Renata sedikit terhenyak ke kursi kulit.

"Bara emang suka main-main sama waktu, tapi dia nggak suka kalau orang lain telat," ucap Reno sambil fokus ke jalanan yang mulai padat. "Lo tahu kan, di perusahaan itu gue orang kedua setelah dia? Kalau lo masuk bareng gue, seisi kantor bakal heboh."

Renata menatap ke depan dengan pandangan tajam. "Gue nggak peduli mereka mau ngomong apa. Yang penting gue sampai sebelum rapat dimulai."

Reno melirik Renata dari balik kacamata hitamnya, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Gue suka gaya lo. Tenang aja, gue bakal pastikan lo masuk ke ruangan itu dengan cara yang paling... berkesan."

Mobil sport itu melesat membelah kemacetan, menuju gedung pencakar langit Adiwangsa Group. Di dalam hati, Renata bersiap-siap. Jika Bara ingin mempermalukannya dengan cara meninggalkannya, maka Renata akan membalasnya dengan muncul di sisi orang yang paling kompetitif dengan suaminya itu.

Begitu sampai di lobi kantor, semua mata karyawan langsung tertuju pada mobil Reno. Dan ketika Renata turun disusul oleh Reno yang berjalan santai di sampingnya, bisikan-bisikan mulai terdengar di sepanjang koridor.

"Itu kan istri Pak Bara? Kok bareng Pak Reno?"

Renata tetap tegak, melangkah mantap menuju lift. Di lantai paling atas, saat pintu lift terbuka, dan di sana sudah berdiri Bara yang sedang memeriksa jam tangannya dengan wajah gelisah. Begitu melihat Renata muncul bersama Reno, rahang Bara mengeras seketika.

Begitu Renata melangkah keluar dari lift, Bara langsung menyambar pergelangan tangan istrinya itu dengan cengkeraman yang terlalu kuat, menyentakkannya menjauh dari Reno.

Dada Bara bergemuruh. Sialan. Melihat Renata bersama Reno dan berdekatan seperti itu memancing sisi posesif yang bahkan tidak dia sadari sebelumnya. Siapa saja, tapi jangan bajingan ini, batin Bara mengamuk.

"Bara, sakit!" ringis Renata, mencoba melepaskan tangannya tapi cengkeraman Bara justru semakin mengerat.

Bara tidak memedulikan ringisan Renata. Matanya beralih menatap Reno dengan tatapan membunuh. "Ngapain lo bareng istri gue? Hah? Lo sengaja mau cari gara-gara sama gue, Ren?"

Reno cuma tertawa enteng, mengangkat kedua tangannya ke udara seolah-olah dia tidak bersalah. Dia sama sekali tidak terintimidasi oleh tatapan Bara. "Santai, Bro. Gue cuma jadi pahlawan kesiangan buat istri lo yang malang ini. Daripada dia telat dan lo amuk, mending gue anter, kan? Logis dong."

"Gue nggak butuh bantuan lo! Dan istri gue nggak butuh pahlawan kayak lo!" bentak Bara, suaranya menggema di koridor lantai atas yang sepi.

"Oke, oke. Kalau gitu, gue duluan ya. Males ribut sama lo," sahut Reno santai. Dia mengedipkan sebelah mata ke arah Renata—gestur provokatif yang disengaja—lalu melenggang pergi menuju ruang rapat besar di ujung lorong tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Bara menatap punggung Reno dengan amarah yang memuncak. Dia kemudian menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi gagal. Dia menyeret Renata menyusul langkah Reno ke ruang rapat, masih dengan cengkeraman erat di lengan istrinya.

"Lo... lo bener-bener murahan, ya?" bisik Bara tajam ke telinga Renata di sepanjang koridor. "Baru sehari jadi istri gue, udah bisa ngegaet Reno. Apa yang lo kasih ke dia sampai dia mau repot-repot anter lo?"

Renata menatap Bara dengan pandangan tidak percaya. Air mata kemarahan mulai menggenang di sudut matanya. "Tutup mulut lo, Bara! Gue nggak serendah itu! Lo yang ninggalin gue, dan Reno cuma kebetulan lewat!"

"Kebetulan?" Bara tertawa sinis, suaranya begitu dingin. "Di dunia ini nggak ada yang kebetulan bagi Reno kalau itu menyangkut barang milik gue, Renata. Lo itu istri gue, paham? Jangan pernah berani lo deket-deket sama dia lagi kalau lo nggak mau liat dia hancur di tangan gue."

Mereka sampai di depan pintu ruang rapat besar. Bara melepaskan cengkeramannya dari lengan Renata dengan sentakan kasar, meninggalkan bekas merah di kulit putih istrinya. Dia memperbaiki setelan jasnya, mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin dan profesional dalam sekejap.

"Dan di dalem nanti, jangan buka mulut lo sedikit pun kalau gue nggak suruh, ggerti?" perintah Bara pelan tapi penuh penekanan.

Renata hanya diam, menahan isak tangis di tenggorokannya. Dia mengangguk pelan, lalu mengikuti Bara masuk ke dalam ruang rapat yang sudah penuh dengan para direksi dan klien dari Jepang. Di ujung meja, Reno duduk dengan senyum miring yang khas, menatap kedatangan mereka dengan pandangan yang sulit diartikan.

Pintu ruang rapat tertutup rapat, mengunci Renata dalam sebuah pertemuan bisnis yang kaku, di antara suami yang posesif tapi kejam, dan sepupu yang licik tapi tampaknya tertarik padanya. Permainan kekuasaan dan hati di Adiwangsa Group baru saja dimulai.

Suasana di dalam ruang rapat itu langsung hening begitu Bara dan Renata melangkah masuk. AC yang disetel suhu paling rendah pun kalah dingin dengan aura yang dibawa Bara. Semua petinggi perusahaan menatap mereka, namun pandangan paling tajam datang dari kolega Jepang di ujung meja.

Bara menarik kursi di sebelahnya, lalu memberi isyarat kasar agar Renata duduk. "Duduk di sini. Jangan bersuara," desisnya sangat pelan.

Baru saja suasana rapat akan dimulai, Reno yang duduk santai sambil memutar-mutar pulpen mahalnya tiba-tiba berdehem. Suaranya cukup keras untuk memecah keheningan.

"Sebelum kita mulai membahas angka-angka yang membosankan ini," Reno membuka suara, matanya menatap Renata dengan binar yang sengaja dibuat kagum. "Saya cuma mau bilang, pilihan Bara kali ini bener-bener luar biasa."

Bara menghentikan gerakannya yang hendak membuka dokumen. Rahangnya mengeras.

"Di sebelah Pak Bara nggak cuma cantik, tapi dia punya kharisma," lanjut Reno sambil tersenyum tipis ke arah klien Jepang yang mulai tertarik. "Harusnya anda bersyukur. Nggak semua orang bisa dapet istri sesempurna kayak dia. Kalau saya jadi Pak Bara, saya nggak bakal tega ninggalin dia sendirian di lobi kantor."

Beberapa direksi saling lirik, suasana jadi makin canggung. Bara meremas pulpen di tangannya sampai buku jarinya memutih. Dia tahu Reno sengaja memancing emosinya di depan klien penting.

"Fokus ke rapat, Reno. Kamu di sini buat bahas proyek, bukan buat ngebahas urusan pribadi saya sendiri," jawab Bara dengan nada rendah yang sarat akan ancaman.

"Ini fakta, Loh!?" sahut Reno enteng, dia menoleh ke arah Mr. Tanaka, klien dari Jepang. "Bukankah begitu, Mr. Tanaka? Kehadiran wanita cantik seperti Nona ini membuat suasana rapat yang kaku ini jadi lebih segar, kan?"

Mr. Tanaka tersenyum sopan dan mengangguk. "Tentu saja, Pak Reno. Istri Pak Bara terlihat sangat anggun. Pasti Pak Bara sangat beruntung."

Bara terpaksa menarik napas dalam-dalam, mencoba menelan amarahnya bulat-bulat. Dia benci saat milik pribadinya, meskipun dia benci isrtinya dipuji-puji oleh orang lain, apalagi oleh Reno.

Renata sendiri hanya bisa menunduk, meremas jemarinya di bawah meja. Dia merasa seperti barang pajangan yang sedang dilelang. Tapi di sisi lain, ada rasa puas kecil di hatinya melihat Bara yang biasanya sombong kini terlihat gelisah dan cemburu karena ucapan Reno.

"Bisa kita mulai?" suara Bara terdengar sangat dingin, seolah ingin membekukan seluruh ruangan.

Rapat dimulai dengan presentasi dari divisi pemasaran, tapi fokus Bara benar-benar terpecah. Setiap kali Reno melirik ke arah Renata atau mencoba mengajak Renata bicara lewat isyarat mata, Bara langsung menggebrak meja dengan alasan menunjuk data di layar.

Puncak ketegangan terjadi saat Mr. Tanaka bertanya tentang visi sosial perusahaan. Renata, yang sebenarnya lulusan administrasi dan mengerti sedikit banyak tentang komunikasi, mencoba membuka mulut untuk memberikan pendapat singkat guna mencairkan suasana.

"Menurut saya, Mr. Tanaka..."

Belum sempat Renata menyelesaikan kalimatnya, tangan Bara di bawah meja langsung mencengkeram paha Renata dengan kuat. Sebuah peringatan bisu agar dia tetap diam.

"Istri saya cuma menemani, Mr. Tanaka. Biar tim saya yang menjelaskan detailnya," potong Bara cepat, suaranya tidak terbantahkan.

Renata terdiam, rasa malu dan marah bercampur jadi satu. Dia melirik ke arah Reno, dan pria itu hanya memberikan tatapan simpati yang seolah berkata, 'Lihat kan, gimana cara dia memperlakukan lo?'

Rapat yang berlangsung selama dua jam itu terasa seperti siksaan abadi bagi Renata. Begitu rapat ditutup, Mr. Tanaka menjabat tangan Bara, lalu membungkuk hormat pada Renata.

Begitu para tamu keluar, Bara langsung berdiri dan menatap Reno dengan tatapan membunuh. "Ikut gue ke ruangan sekarang, Ren. Ada yang perlu kita selesaikan."

Reno berdiri, merapikan jasnya dengan santai. "Apapun buat lo, gue nurut."

Bara kemudian menoleh ke Renata, matanya berkilat marah. "Lo, tunggu di mobil. Jangan berani-berani jalan bareng siapa pun, atau lo bakal tau akibatnya."

Pintu kaca tertutup rapat dengan dentuman yang berat. Di dalam ruangan kerja Bara yang luas dan dingin, suasana mendadak sunyi, hanya menyisakan hembusan AC.

Tiba-tiba Bara melempar map dokumen ke atas meja kerjanya dengan kasar. Dia berdiri membelakangi Reno, menatap pemandangan gedung pencakar langit dari balik dinding kaca setinggi plafon. Bahunya tegang, menunjukkan amarah yang masih tertahan di ubun-ubun.

"Jangan pernah lo berani godain istri gue lagi, Ren," suara Bara rendah, nyaris seperti geraman binatang buas yang sedang menandai mangsanya.

Sebaliknya, Reno tampak sangat santai. Dia berjalan mendekati meja kerja Bara, jemarinya menyentuh miniatur mobil sport yang jadi pajangan di sana, memutarnya pelan dengan ujung telunjuk. Senyum miring masih betah bersarang di wajahnya.

"Gue cuma bercanda, Bar. Tapi bener sih Istri lo emang cantik, dan Mr. Tanaka suka itu. Harusnya lo berterima kasih karena keberadaan dia bikin kontrak tadi hampir seratus persen aman," sahut Reno tanpa beban.

Lalu, dia menoleh, menatap Bara dengan tatapan menantang. "Kenapa? Lo cemburu?"

Bara berbalik kilat, matanya menyipit tajam. "Cemburu? Jangan harap. Dia itu cuma barang yang gue beli buat nyelamatin harga diri gue sendiri. Tapi inget, sekecil apa pun barang itu, kalau udah ada label nama gue, jangan pernah lo sentuh. Paham?"

Reno hanya mengangguk pelan, masih dengan senyum yang sulit diartikan itu. "Oke, Bos. Pesan diterima. Gue nggak bakal sentuh... untuk sekarang aja."

Dia melepas miniatur mobil itu, lalu ekspresi wajahnya berubah drastis. Keramahannya hilang, digantikan dengan raut serius yang jarang dia tunjukkan. Reno menarik kursi dan duduk dengan tegap.

"Sekarang, gue mau bicara soal bisnis," ucap Reno, suaranya memberat. "Gue baru dapet laporan dari tim intelijen pasar. Bahwa Wijaya Group lawan terberat kita, beberapa minggu ini angkanya mulai naik secara nggak wajar di kuartal."

Bara mengernyit, amarah pribadinya seketika tersisih oleh insting bisnisnya yang tajam. Dia mendekat ke meja, menatap layar monitor yang menampilkan grafik persaingan pasar.

"Seberapa besar?" tanya Bara dingin.

"Grafik mereka naik pelan tapi konsisten, hampir lima belas persen dalam dua bulan terakhir," jawab Reno sambil mengetuk-ngetuk meja. "Mereka mulai masuk ke sektor yang sama dengan proyek baru kita. Kalau kita nggak gerak cepat, peresmian proyek yang kemarin kita bahas bisa jadi bumerang."

Bara mengepalkan tangannya di atas meja. "Siapa di balik mereka? Nggak mungkin si tua Wijaya itu bisa secerdik ini sendirian."

"Itu yang lagi gue cari tahu. Tapi denger-denger, mereka punya investor baru yang sangat agresif," Reno berdiri, merapikan jasnya. "Gue bakal pantau terus. Tapi saran gue, mending lo fokus. Jangan sampai urusan rumah tangga lo itu bikin lo lengah di kantor."

Bara tidak menjawab. Dia hanya menatap grafik yang terus menanjak itu dengan pandangan membunuh. Di kepalanya, tekanan mulai datang dari segala arah: perusahaan yang terancam, persaingan dengan Reno, dan kehadiran Renata yang mulai mengacaukan konsentrasinya.

"Keluar lo," usir Bara tanpa menoleh.

Reno terkekeh pelan, berjalan menuju pintu. "Jangan lupa, istri lo nunggu di parkiran. Jangan sampai dia bosen terus malah nyari tumpangan lain lagi."

Pintu tertutup. Bara sendirian di ruangannya yang sunyi. Dia melonggarkan dasinya dengan kasar, merasa oksigen di ruangan itu makin menipis. Dia benci perasaan ini—perasaan di mana dia tidak bisa mengendalikan segala sesuatu sesuai keinginannya.

Di bawah sana, di parkiran yang panas, Renata masih menunggunya.

1
Nanda
salam kenal yah...
neng aja
bintang 5 buat renata hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!