NovelToon NovelToon
Selamat Tinggal Orang Yg Kusayang

Selamat Tinggal Orang Yg Kusayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Dunia Masa Depan
Popularitas:776
Nilai: 5
Nama Author: Arsih Mom

"Bukan berarti apa yang dekat dengan kita adalah yang terbaik, bisa jadi kebaikan itu ada jauh dari kita ataupun tidak terlihat"
Aku pergi karena sangat menyayangi kalian, suatu saat nanti jika masih ada kesempatan aku akan menjemput kalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arsih Mom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penantian Si Bayi Kecil

..."Sudah tiga hari lebih Santana belum pulang, bagaimana dengan anak ini?"...

Bu Bidan dibantu dengan tetangga Santana sekuat tenaga menjaga dan memberikan kasih sayang pada bayi perempuan yang tak berdosa itu. Bahkan setiap hari para tetangga bergantian membelikan susu formula untuk bayi itu. 

..."Bu Bidan, apa yang harus kita lakukan dengan anak ini, apa lebih baik kita berikan pada yayasan panti asuhan untuk merawatnya?"...

Bu Bidan hanya terdiam, Dia masih teringat dengan ucapan Santana yang secara terang-terangan tidak menginginkan bayi itu. 

(Bagaimana ini apa yang harus aku lakukan, jika melihat wajah bayi ini yang begitu cantik dan menggemaskan rasanya berat sekali memberikannya pada pihak lain. Tapi keadaanku saat ini juga tidak begitu mendukung untuk membiayai nya) 

..." Bu Bidan kita harus bagaimana?"...

Bu Bidan pun dengan sekuat tenaga meyakinkan warga agar tetap bisa mempertahankan bayi itu. Dia meminta warga untuk menunggu nya kembali dari Rumah Sakit.

..."Tenang dulu, aku nitip bayi ini pada kalian. Aku akan coba menemui ayahnya lagi sekalian mau memastikan kondisi Santika."...

Warga pun setuju dengan Bu Bidan, mereka secara bergantian menggendong dan memberikan susu formula untuk bayi yang menggemaskan itu. 

Selang lima jam datanglah Bu Bidan dengan wajah yang terlihat murung masuk ke dalam rumah Santana. Warga pun berharap Bu Bidan pulang dengan membawa kabar baik untuk Si Bayi. 

..."Bagaimana Bu Bidan, di mana Santana apa Dia tidak ikut pulang?"...

Duduk di kursi kayu dengan wajah murung, Bu Bidan meminta Si bayi dan memangkunya. 

(anak malang, kamu benar-benar tidak diinginkan ayahmu) 

Melihat tingkah Bu Bidan yang semakin aneh, warga pun sudah bisa menebak kalau kabar buruk lah yang di bawa Bu Bidan pulang. 

..."Lalu apa yang harus kita lakukan dengan anak ini Bu, kalau saja kondisiku memungkinkan aku mau merawatnya"...

Sebenarnya banyak warga yang begitu sayang pada Si bayi, cuma karena mereka juga pekerja keras, mereka takut kalau mau mengambil alih pengasuhan Si bayi. Warga benar-benar tidak habis fikir dengan sifat Santana yang dikenal mereka sebagai sosok pria idaman yang penuh tanggung jawab. 

Meskipun belum lama mereka mengenal Santana dan istrinya tapi setahu mereka selama tinggal berdampingan pasangan muda itu sangat ramah dan baik hati. Cukup lama waktu terlihat tenang tanpa ada suara yang keluar dari bibir mereka. Hanya tampak senyum dari mereka yang tertuju pada Si bayi yang menggemaskan itu. 

Keheningan itu pudar ketika Santana dengan langkah cepat dan tanpa permisi masuk ke rumahnya untuk mengemasi pakaiannya. Mereka pun tertegun dibuatnya. Hingga salah satu warga menghadang Santana saat Dia hendak melangkahkan kakinya keluar. 

..."San kamu mau ke mana lagi, apa kamu tidak mau melihat anak mu dulu?"...

Santana tidak menggubris ucapan tetangganya bahkan Dia juga berusaha menghempaskan tangan yang menghadangnya. 

..."Jangan halangi aku, bukannya aku sudah bilang, aku tidak menginginkan anak itu dan kalau kalian mau ambil ya.. ambil saja!"...

Seketika itu amarah warga mulai terpancing. Bukan hanya satu ataupun dua orang yang mulai melontarkan kata-kata buruk pada Santana. Ada juga yang meminta Santana untuk istigfar dengan ucapannya itu. Meskipun banyak perhatian yang diberikan tetangga pada nya, Santana tetap saja pada pendiriannya. Dia hanya ingin hidup bersama wanita yang sangat dicintainya yaitu Santika. 

Melihat perdebatan yang tak ada hentinya, Bu Bidan pun memberanikan diri untuk mengambil alih hak asuh Si Bayi. Dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan Bu Bidan akhirnya menjadikan Si Bayi sebagai anak angkatnya. 

..."Baiklah Pak Santana, aku akan ambil alih kewajibanmu sebagai orang tua bayi ini, tapi aku harap kamu tidak akan pernah menyesal dengan keputusan yang telah kamu ambil saat ini."...

Masih dengan keras kepalanya Santana tetap pergi melangkahkan kakinya dengan cepat. Para warga pun sangat kecewa dan menyayangkan dengan keputusan yang diambil Santana. 

..."Huh.. aku baru tahu ternyata penampilan itu bisa menutupi sifat buruk seseorang!"...

..."Kasihan kamu Nak, ayah kandungmu saja tidak mau menerimamu di dunia ini."...

..."Hiks.... Hiks.... "...

..."Dasar manusia tidak tahu diuntung, tidak bisa bertanggung jawab!"...

Begitu banyak kata-kata dan umpatan dari warga untuk Santana. Bu Bidan masih terus menenangkan warga agar tetap tenang. 

Dari hari itu dengan disaksikan warga sekitar Si bayi diangkat lah anak oleh Bu Bidan. 

..."Bismillah, mulai saat ini Bayi perempuan yang menggemaskan ini sudah menjadi anakku dan kuberi Dia nama Nur, Cantika Nurlela."...

Sontak warga tercengang dan berubah wajahnya menjadi bahagia. Yang semula diselimuti amarah dan kecewa sekarang mereka sudah bisa menerima kenyataan yang sebenarnya. 

Tidak mau membuang waktu lagi, Bu Bidan dibantu dengan warga yang ada mulai mengemasi semua perlengkapan Si Nur. Mereka terlihat sibuk memasukan baju-baju bayi milik Si Nur yang di dapat dari pemberian warga sekitar. 

Lima belas menit berlalu mereka sudah selesai dengan kesibukannya. Bahkan ada pula yang mengambil beberapa barang serta bahan makanan dari rumah yang akan di bawakan pula pada Bu Bidan. Sungguh sangat terlihat kompak dengan rasa kekeluargaan yang sangat kental terpancar di rumah sederhana milik Santana. 

..."Bu , mungkin hanya ini yang bisa kami lakukan dan beri untuk kalian. Kami berharap Si Nur bisa tumbuh dengan baik dan menjadi anak yang sangat membanggakan."...

Tangisan haru terlihat dari warga yang benar-benar tulus dan merasa simpati pada nasib Si Nur. Harapan besar dari mereka agar Si Nur bisa mendapatkan kasih sayang selayaknya seorang anak yang benar-benar menjadi cahaya dalam keluarga. 

..."Kalau begitu saya pamit dulu Bapak dan Ibu, doakan kami agar kedepannya dipermudah jalan dan kelancaran rejeki"...

Kalimat penutup dari Bu Bidan sebelum melangkah pergi meninggalkan rumah itu, membuat warga semakin terharu bahkan ada yang menangis histeris. 

Bu Bidan pun menggendong Nur dengan pelukan yang sangat hangat. Langkah mereka yang tanpa arah pun membuat warga semakin tambah histeris. Hanya lambaian tangan dan ucapan selamat jalan yang keluar dari bibir mereka. 

..."Hati-hati Bu Bidan, jangan lupakan kami, datanglah pada kami kapan pun kalian membutuhkan!"...

Tiba di pinggir jalan besar Bu Bidan mulai memandangi jalanan untuk mencari angkot yang lewat menuju terminal. 

(Sabar ya Nur, Ibu akan membawamu pulang kampung, Ibu janji akan menyayangimu seperti anak sendiri) 

Tidak selang lama datanglah angkot dan membawa mereka menuju terminal. Dalam perjalanan pun Bu Bidan terus memandangi Si Nur kecil yang menggemaskan sambil berdoa dalam hati. 

Bu Bidan yang hanya seorang wanita lajang dan masih mempertahankan untuk tidak menikah sampai dengan usianya yang sudah menginjak 40 tahun lebih itu, memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan memilih hidup di kampung halamannya. Tekatnya yang sudah bulat membuatnya semakin mantab dan yakin kalau Si Nur akan tumbuh lebih baik lagi bersamanya. 

..."Terminal jambu, terminal jambu!"...

Suara kernet yang lantang dan keras membuat Bu Bidan beranjak dari kursinya. 

..."Pak saya turun sini saja!"...

Sambil membantu membawa barang bawaan Bu Bidan, kernet itu memandanginya tanpa berkedip. 

..."Haya...?" Apa benar kamu Cahaya gadis yang tinggal di kampung rambutan?"...

Bu Bidan pun kaget mendengar nama nya disebut kernet bus itu. Dia juga memandangi kernet dengan penuh tanya dan sambil mengingatnya. 

..."Apa kita pernah kenal?"...

..."Haya, apa kamu lupa denganku? Aku Indro teman sekelas mu waktu SMP!"...

Setelah kernet itu menyebutkan namanya barulah Bu Bidan ingat kalau Indro adalah teman semasa SMP nya yang sering membantu saat Dia sering dibully teman-teman sekelasnya. 

..."Oh... Kamu Ndro, maaf aku lupa."...

Indro pun membawa Bu Bidan turun dari angkot dan menepi. 

..."Kamu dari mana, mau kemana dan apa ini anak kamu? terus... "...

..."STOP!.. Aku tahu arah pembicaraan mu mau ke mana, yang pasti aku mau pulang ke rumah dan untuk yang lainnya bisa ku ceritakan lain kali kalau kita bertemu lagi."...

Indro sangat paham benar bagaimana karakter teman nya itu. Dia pun terus terdiam dan membantunya mencari ojek untuk mengantarkannya sampai rumah. 

..."Ya sudah naiklah, sampai rumah nanti jangan lupa langsung istirahat. Hem... Kamu masih tinggal di rumah yang dulu kan?"...

Bu Bidan hanya menganggukkan kepala saja tanpa mengucap satu katapun. 

..."Hati-hati Haya...!" (Andai saja dulu kamu menerima lamaran ku dan tidak memilih pria tengik itu, mungkin kita sudah hidup bahagia) ...

Antara sedih dan bahagia Indro terus menatap kepergian Haya. 

..."Ndro! Ayo buruan narik lagi, kamu kenapa bengong di situ!?"...

..."Ya... sebentar!"...

Indro kembali ke pangkalan angkot untuk menarik penumpang yang sudah berjibun menunggunya. 

Sesampainya di rumah yang lama sudah tidak ditinggali itu, Bu Bidan dibantu tukang ojek untuk menaruh barang bawaannya. 

..."Terima kasih ya Pak, ini ongkosnya!"...

..."Maaf Bu, tadi sudah dibayar sama Mas Indro."...

Bu Bidan semakin terkejut dengan sikap Indro yang masih saja seperti dulu. Dia jadi teringat masa-masa saat bersama nya. Ke mana-mana selalu Indro lah yang menjadi pelindung dan pengayom kemanapun mereka pergi. 

(Maafkan aku Ndro, dulu kebodohanku membuatku menjadi seperti ini) 

Bu Bidan masuk ke dalam rumah dan mulai menidurkan Si Nur di kamar nya dulu. Rumah yang sudah lama Dia tinggal merantau ternyata masih sama dan tidak ada perubahannya sama sekali. Hanya kotor dan berdebu saja yang menempel di perabot serta dinding rumah. Tidak mengenal capek sama sekali, setelah Si Nur dengan pulasnya tidur, Bu Bidan mulai beberes rumah agar terlihat layak untuk ditempati. 

..."Huh.. baru tiga bulan tidak ku kunjungi rumah ini sudah seperti kandang ayam. Tetap semangat, aku harus kuat untuk Si Nur."...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!