NovelToon NovelToon
Operasi Sandi Kala

Operasi Sandi Kala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Tentara / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Baja, Sabuk Pengaman, dan Gravitasi

Deru mesin empat pendorong turboprop pesawat angkut militer C-130 Hercules memekakkan telinga, menggetarkan landasan pacu Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma yang basah oleh sisa hujan dini hari. Udara berbau tajam oleh campuran bahan bakar avtur, aspal basah, dan ketegangan yang pekat.

Pukul 03.00 pagi. Waktu di mana dunia seharusnya tertidur, namun bagi Tim Black Ops Alpha, ini adalah jam kerja.

Dr. Lyra Andini berdiri di tepi landasan, mereka seperti anak sekolah dasar yang salah masuk ke kamp gladiator. Tubuh mungilnya tenggelam dalam perlengkapan taktis standar militer yang jelas tidak dirancang untuk perempuan setinggi 155 sentimeter. Rompi antipeluru berbahan Kevlar hitam itu terasa seperti cangkang kura-kura baja yang meremukkan tulang rusuknya, sementara ransel berisi peralatan dokumentasi arkeologinya terus menarik bahunya ke belakang, mengancam akan membuatnya terjengkang kapan saja.

Di depannya, bayangan raksasa pesawat Hercules menganga lebar dengan pintu ramp belakang yang sudah diturunkan. Para prajurit bergegas masuk dengan efisiensi yang mematikan, gerakan mereka sunyi, terukur, dan memancarkan aura berbahaya.

Dan di tengah-tengah semua itu, berdirilah Kolonel Rayyan Aksara.

Rayyan berdiri tegak di dekat pintu masuk pesawat, memantau loading logistik dengan wajah sedingin pahatan es. Seragam tempur serba hitamnya menyatu dengan kegelapan malam. Sepatu botnya—yang kini sudah diganti baru setelah insiden kopi tragis beberapa jam lalu—menapak kokoh di landasan. Saat tatapan obsidian pria itu tak sengaja bertemu dengan mata Lyra, Lyra rekfles menahan ludah dan memalingkan wajah, pura-pura sibuk membetulkan letak kacamata bulatnya yang kembali melorot.

“Bergerak, Dokter,” sebuah suara berat di dekat telinganya membuat Lyra tersentak. Itu Letnan Dua Jati, wakil komandan tim yang berwajah garang namun memiliki sorot mata sedikit lebih ramah daripada atasannya. “Kita lepas landas tiga menit lagi. Pesawat ini tidak menunggu warga sipil yang melamun.”

“Y—ya! Tentu, maaf,” Lyra tergagap, segera mengangkat kakinya yang terasa seberat timah.

Ia melangkah menaiki ramp baja yang miring dan licin itu. Langkah pertama berhasil. Langkah kedua, berat ranselnya bergeser. Pada langkah ketiga, ujung sol sepatu bot pinjamannya tersangkut di salah satu engsel lantai kargo.

Keseimbangan Lyra hancur. Ia terhuyung ke depan, menutup mata rapat-rapat, bersiap menyapa lantai baja bergerigi dengan wajahnya.

Namun, benturan itu tidak pernah terjadi.

Sebuah tangan yang besar, terbungkus sarung tangan taktis berbahan nomex yang kasar, mencengkeram tali kekang ransel Lyra dari belakang dengan kekuatan cengkeraman rahang singa. Lyra terhenti di udara, berayun pelan seperti anak kucing yang diangkat dari tengkuknya.

“Jika Anda bahkan tidak bisa berjalan di permukaan miring tanpa membahayakan diri sendiri, Dokter,” suara bariton yang berat dan dingin itu menyapu bagian belakang leher Lyra, membuat bulu kuduknya berdiri, “Bagaimana Anda berencana selamat dari jebakan kuil berusia tiga ratus tahun?”

Rayyan melepaskan cengkeramannya, membiarkan kaki Lyra kembali menapak lantai dengan kasar. Pria itu menjulang di hadapannya, aura intimidasinya terasa menyesakkan napas.

Lyra mendongak, menatap rahang Rayyang yang mengeras. “Itu karena rompi ini terlalu besar, Kolonel,” cicit Lyra, berusaha mempertahankan sedikit harga dirinya meski suaranya bergetar. “Dan ransel saya berisi pemindai lidar portabel yang sangat sensitif. Saya hanya… berusaha hati-hati.”

Rayyan bahkan tidak berkedip. “Di hutan, rompi besar tidak membunuhmu. Kelambanan yang akan membunuhmu. Cari tempat duduk dan pasang sabuk pengamanmu. Sekarang.”

Lyra tidak berani menjawab lagi. Ia bergegas masuk ke dalam lambung pesawat yang temaram, hanya diterangi oleh lampu taktis berwarna merah. Ia memilih kursi jaring kanvas merah di barisan paling ujung, berharap bisa menghilang dari pandangan mematikan sang Kolonel.

Namun, keberuntungan sepertinya sedang cuti. Setelah memastikan landasan ramp tertutup, Rayyan berjalan menyusuri lorong kargo dan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, duduk tepat di kursi jaring di seberang Lyra. Lutut mereka hampir bersentuhan karena sempitnya ruang di dalam pesawat.

Pesawat mulai bergerak, menderu keras sebelum akhirnya melesat membelah langit malam dengan sudut kemiringan yang curam. Perut Lyra terasa tertinggal di landasan. Ia memejamkan mata, tangannya mencengkeram erat anyaman kursi hingga buku-buku jarinya memutih.

Tiga puluh menit berlalu dalam keheningan yang tegang, hanya diisi oleh suara bising baling-baling. Lyra berusaha mengalihkan rasa mualnya dengan mengeluarkan buku catatan kulit kesayangannya dari kantong dada. Di bawah cahaya merah yang redup, ia mencoba memeriksa kembali sketsa relief kuil yang menjadi target mereka. Tangannya sedikit gemetar.

Tiba-tiba, pesawat berguncang hebat. Turbulensi udara menghantam C-130 dengan brutal.

Buku catatan Lyra terlempar dari tangannya, jatuh ke tengah lorong. Lyra reflesk menunduk, tangannya terjulur untuk memungutnya, mengabaikan sabut pengaman empat titik yang mengikat dadanya.

“Tetap ditempatmu!” Perintah Rayyan, suaranya memotong suara mesin bak pisau.

Namun, terlambat. Pesawat kembali anjlok puluhan kaki di udara. Tubuh Lyra terlempar ke depan karena sabuk pengamannya ternyata tidak terkunci dengan benar di bagian pinggang. Ia memekik tertahan.

Dalam sepersekian detik, Rayyan mencondongkan tubuhnya ke depan. Tangan kirinya yang kokoh menangkap bahu Lyra, menahan tubuh mungil itu agar tidak membentur lantai baja, sementara tangan kanannya menekan dada Lyra kembali ke sandaran kursi dengan dorongan yang kasar namun penuh perhitungan.

Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Lyra bisa mencium aroma samar bubuk mesiu, hujan, dan peppermin dari napas Rayyan. Mata obsidian pria itu menatap tajam langsung ke dalam bola mata cokelat Lyra. Ada kilat kemarahan di sana, tapi juga sesuatu yang membuat jantung Lyra berdebar lebih cepat dari sebelumnya.

“Sabuk pengamanmu tidak terkunci dengan benar,” desis Rayyan, suaranya terdengar sangat dekat di tengah gemuruh pesawat.

Tanpa menunggu persetujuan, tangan Rayyan turun ke bagian pinggang Lyra. Gerakannya cepat, taktis, dan sama sekali tidak ragu. Jari-jarinya yang kuat menarik tali nilon tebal, menyesuaikan gesper, dan menekan pelat pengunci logam sampai terdengar bunyi klik yang keras di perut Lyra. Sengatan listrik aneh menjalar di perut Lyra akibat sentuhan tak terduga yang begitu efisien tersebut.

Setelah memastikan Lyra terkunci dengan aman di kursinya, Rayyan membungkuk, memungut buku catatan kulit yang terjatuh, dan menamparnya pelan ke atas pangkuan Lyra.

“Dengarkan saya baik-baik, Dr. Andini,” ucap Rayyan pelan, kembali bersandar dikursinya dengan postur menyilang tangan, matanya tidak pernah lepas dari wajah Lyra yang memerah. “Di wilayah musuh nanti, tidak ada turbulensi. Yang ada hanya peluru dan jebakan beracun. Jika Anda tidak bisa menjaga diri Anda sendiri tetap hidup untuk menyalin gambar batu-batu tua itu…” Rayyan mencondongkan tubuhnya sedikit. “Misi ini selesai sebelum dimulai.”

Lyra menelan ludah, mendekap buku catatannya erat-erat di dada. Ketakutannya perlahan digantikan oleh rasa tertantang yang membakar dadanya. Ia mungkin ceroboh secara fisik, tetapi ia tidak akan membiarkan tentara sombong ini meremehkan otaknya.

“Itu bukan sekadar gambar batu tua, Kolonel,” balas Lyra pelan namun sarat akan ketegasan, membalas tatapan tajam Rayyan tanpa gentar. “Itu adalah peta menuju kematian, dan saya satu-satunya orang di pesawat ini yang tahu cara membacanya. Jadi, ya, saya akan tetap hidup.”

Untuk pertama kalinya malam itu, sebuah otot kecil di rahang Rayyan berkedut. Sudut bibirnya hampir, hampir terangkat ke atas membentuk seringai yang sangat tipis, sebelum wajahnya kembali sedingin es.

“Kita buktikan saat mendarat,” sahut Rayyan datar, lalu memejamkan mata, memutus kontak mata yang entah mengapa membuat dada mereka berdua terasa aneh.

Pesawat terus membelah kegelapan, membawa mereka semakin dekat menuju neraka hijau di bawah sana.

1
nur atika
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
nur atika
🥰🥰🥰up trus ya thorr mangattttt
nur atika
🥰🥰🥰
NP: 🥰🥰🥰🥰😍
total 1 replies
nur atika
lanjut author
NP: Inshaallah makasih semangatnya 🥰
total 1 replies
Lutfiah Tunnissa
kerenn Thor
NP: Makasih ya kak, ikuti terus ceritanya ya🥰
total 1 replies
nur atika
😍😍😍
nur atika
🤭🤭🤭🤭🤭
𝗝𝗔𝗧𝗜ᴾᵁᵀᴿᴼ
debar2 cinta
NP
Mas Rayyan, melindungi Lyra banget😍
Akbar Aulia
lyra kamu sangat beruntung dilindungi mas rayan
Akbar Aulia
beruntung lyra kamu direkrut jadi tim alpha,
Akbar Aulia
mungil mungil si cabe rawit tapi pedas rasanya,awas mas Rayyan nanti kamu tersepona
Akbar Aulia
aih...sepatu kesayangan mas Rayyan kena kopi,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!