Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesak di Balik Stagen
Harum kayu cendana di ruang tengah biasanya menenangkan, namun sore itu, aroma tersebut terasa mencekik. Laras tahu, setiap detik keterlambatannya telah dihitung oleh detak jam dinding di ruang tamu.
Sesampai di rumah, Laras memasuki gerbang rumahnya, melihat Pak Joko tertunduk lesu di dalam Pos Security.
Helaan nafas besar Laras begitu berat ketika memegang gagang pintu Jati rumahnya. Suasana rumah sangat sepi, bahkan lebih sepi dari biasanya.
"Eh, non Laras sudah pulang?" tanya Mbak Ina
Laras hanya mengangguk.
"Anu non... ehm... non Laras ditunggu Eyang Putri dari tadi," lanjutnya dengan suara terpatah-patah.
Laras bergegas ke kamar Eyang Putri.
"Assalamualaikum.." Laras mengetuk pintu kamar Eyang Putri.
"Ini Laras Eyang" lanjutnya lirih.
"Walaikumsalam, masuklah," terdengar suara Eyang Putri dari dalam kamar.
Laras memasuki kamar Eyang Putri dan melihat ada Ibu di dalam. Tampang Ibu tidak marah tidak pula ramah.
Di sana, sebuah kebaya kutubaru berwarna hijau botol sudah tersampir di atas manekin. Kain jarik bermotif parang terhampar rapi di sisi tempat tidur, seolah-olah siap membungkus jati diri Laras.
Ibu mendekat, membawa stagen hitam panjang. Laras berdiri tegak, merentangkan kedua tangannya. Ibu mulai melilitkan stagen itu ke perut Laras. Satu putaran, dua putaran. Laras menarik napas panjang, namun di putaran ketiga, lilitan itu mulai terasa mencengkeram.
Setiap lilitan kain itu seolah-olah menghapus sisa-sisa keberanian Laras saat ia menolak telepon Ibu di ruang OSIS tadi. Stagen itu melilit tulang rusuknya, membuat napasnya pendek-pendek. Di cermin besar, Laras melihat bayangannya sendiri bertransformasi. Mata tajam Eyang Putri meneliti setiap inci penampilan Laras.
"Jalannya coba, Nduk." perintah Eyang.
Laras melangkah, namun dadanya terasa sesak.
"Bagus. Cucu Eyang memang cantik. Kamu adalah pemegang martabat," ucap Eyang sambil mengelus bahu Laras yang kaku.
"Tingkah lakumu hari ini, Eyang anggap sebagai kekhilafan remaja. Jangan diulangi lagi. Perempuan keluarga ini tidak pernah membiarkan orang lain menunggu," tambah Eyang sambil memperbaiki letak bros di dada Laras dengan gerakan yang sangat presisi, seolah sedang mengunci kebebasan Laras di balik kain hijau botol itu.
Ibu hanya memandangi Laras tanpa berkata apa-apa. Itu jauh lebih menyakitkan bagi Laras daripada bentakan. Karena pada dasarnya, di keluarga ningrat atau aristokrat, amarah seringkali tidak disampaikan dengan teriakan, melainkan dengan diam yang membeku.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Laras melangkah masuk ke kamarnya. Di depan cermin meja riasnya, ia berdiri menatap pantulan dirinya sendiri. Tatapannya layu, sebuah potret menyerah yang sempurna.
Keheningan itu pecah oleh ketukan pelan namun menuntut di pintu. Sosok Ibu muncul, membawa aroma melati. Tanpa basa-basi, Ibu bertanya dengan nada datar yang dingin,
"Kenapa telepon Ibu kamu abaikan, Nduk?"
Bibir Laras bergetar.
"Bukan diabaikan, Bu," suara Laras serak, hampir tenggelam oleh degup jantungnya sendiri.
Ibu melangkah mendekat, bayangannya di cermin seolah mengunci pergerakan Laras. Tangan Ibu yang dingin menyentuh pundak Laras, mencoba merapikan lipatan kain yang sebenarnya sudah tak bercela.
"Hidup ini soal pilihan, Nduk. Kamu ingin menjadi angin yang bebas tapi tak punya arah, atau menjadi akar yang kuat meski harus terhimpit tanah?"
"Tapi aku sesak, Bu!" Laras berbalik, membuat tangan Ibu terlepas.
"Eyang bicara seolah-olah masa depanku hanyalah hiasan sanggul yang harus tampak cantik dari luar tanpa peduli seberapa berat beban di dalamnya" lanjut Laras.
Ibu terdiam. Untuk pertama kalinya, Laras melihat binar yang berbeda di mata ibunya—bukan kemarahan, melainkan pantulan luka lama yang mungkin sudah terkubur puluhan tahun.
"Ibu juga pernah punya mimpi yang sama, Nduk," bisik Ibu pelan.
"Dalem, Bu?" tanya Laras yang kehilangan tangkapan suara ibunya.
Ibu menghela napas panjang dan tidak mengulangi kalimatnya.
"Ya sudah, segera mandi lalu turun ke meja makan. Mbak Ina sudah menyiapkan makan malam. Jangan buat Eyang menunggu lagi."
Ibu meninggalkan kamar tanpa menoleh. Laras terpaku, memandangi punggung ibunya yang menghilang di balik pintu. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia butuh waktu untuk melepas semua penat yang menggumpal di dadanya.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Ruang makan terasa dingin saat makan malam berlangsung. Kursi Laras kosong. Setelah doa sesudah makan diucapkan dengan khidmat, Bapak memecah kesunyian.
"Laras mana, Bu?" tanya Bapak sembari mengelap sudut bibirnya dengan serbet.
"Laras di kamarnya, Pak. Mungkin kelelahan karena kegiatan sekolah," jawab Ibu lembut namun diplomatis.
Eyang Putri hanya menatap Ibu sekilas, tatapan yang mengandung banyak arti namun tanpa suara. Setelah itu, Bapak dan Ibu berlalu ke ruang keluarga. Bapak menyalakan televisi, jemarinya lincah menekan remote, mencari saluran yang menarik.
"Pak, Laras sudah mulai beranjak dewasa," kata Ibu tiba-tiba, duduk di samping Bapak.
Bapak menoleh sejenak. "Iya, Bu. Ada apa? Langsung saja, Laras kenapa?"
"Dia mulai menunjukkan perlawanan," jelas Ibu.
"Tadi, Laras pulang terlambat sekali. Padahal dia sudah berjanji untuk langsung pulang karena harus mencoba kebaya dari Kanjeng Ibu. Kamu tahu sendiri bagaimana sifat Kanjeng Ibu jika aturannya tidak ditaati, kan?"
Bapak menghentikan jemarinya di satu saluran berita. Ia menghela napas, lalu meraih kedua tangan Ibu yang sedari tadi bergerak gelisah di atas pangkuan.
"Iya, nanti kalau ada waktu, Bapak akan bicara empat mata dengannya."
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Suara detak jam dinding di kamar Laras terdengar begitu nyaring di kesunyian malam. Tiba-tiba, mata Laras terbelalak. Ia terjaga dari tidur ayamnya.
"Astaga... jam berapa sekarang?" gumamnya panik.
Ia menyadari dirinya masih terbalut kebaya lengkap dengan stagen yang masih melilit erat. Ia melirik jam dinding. Pukul 23.00.
"Rupanya aku tertidur cukup lama," bisiknya pada diri sendiri.
Krucuk... krucuk...
Perutnya tidak bisa diajak kompromi.
"Aku lapar sekali," keluhnya.
Di rumah ini, ada aturan tak tertulis bahwa wanita dilarang makan setelah pukul tujuh malam demi menjaga bentuk tubuh dan sopan santun.
Dengan gerakan cepat, Laras melepas kebaya dan stagennya. Ia merasa seolah-olah baru saja keluar dari penjara bawah tanah. Ia kemudian membongkar tas ranselnya, mencari-cari sisa perbekalan.
"Untung tadi aku sempat menyimpan roti," katanya lega sembari melahap roti cokelat yang ia beli di kantin sekolah siang tadi.
Ia makan dengan lahap, duduk di lantai kamarnya. Laras mengambil ponselnya yang sedari tadi terabaikan. Ada beberapa notifikasi masuk, salah satunya dari Yudhis.
[Yudhis]
Ras, hasil rapat tadi tolong segera dibagikan ke grup ya.
Secepat kilat, Laras mengetik hasil rapat yang sudah ia catat di buku kecilnya dan membagikannya ke grup WhatsApp OSIS. Hanya dalam hitungan detik, sebuah pesan pribadi masuk.
[Yudhis]
Kamu nggak apa-apa kan, Ras?
[Laras]
Aku nggak apa-apa kok.
[Yudhis]
Yakin?
[Laras]
Iya.
[Yudhis]
Sudah malam, segera istirahat ya. Jangan begadang.
Laras hanya membaca pesan terakhir Yudhis dari jendela notifikasi tanpa berniat membukanya. Ia menatap layar ponselnya yang meredup, menyisakan kegelapan di kamarnya.
Ijin mampir🙏