Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gereja Pagi
"Udah rapi belum, Sya?"
Udara dingin masih menggantung di sekitar halaman gereja yang masih dipenuhi jemaat dengan pakaian terbaik mereka. Para orangtua masih kental pada budayanya, memakai kebaya dan ulos diselempangkan di bahu. Suara sapaan "Horas" terdengar bersahut-sahutan.
"Rok nya cocok kan, Sya??"
Mereka selalu memilih ibadah pagi, karna terasa lebih berbeda baginya.
Suara koor bahkan sudah terdengar bahkan sebelum ibadah dimulai. Jemaat Batak memenuhi gereja dengan senyum dan sapaan hangat.
"Horas ito."
"Sudah lama di sini, Ito?"
"Sekarang udah kerja atau masih kuliah?"
Kalimat-kalimat itu terdengar akrab di telinga mereka.
Elisya berjalan pelan menaiki anak tangga gereja sambil menggenggam Alkitab kecil berwarna coklat miliknya. Rambut panjangnya diikat sederhana, dan gaun krem yang dikenakannya bergerak lembut tertiup angin pagi.
"Gereja pagi gini banyakan anak muda, ya?"
Hari itu sebenarnya sama seperti minggu-minggu lainnya. Duduk mendengarkan khotbah, menyanyi bersama, mengikuti tata ibadah se hikmat mungkin. Habis itu pulang, dan kadang singgah dulu ke tempat makan.
"Kita duduk di sana aja, Sya...."
Elisya hanya mengangguk merespon temannya itu saat Elora menunjuk tempat duduk itu.
Mereka memilih duduk di barisan tengah, tidak terlalu depan tapi juga tidak paling belakang. Menurut mereka, tempat itu yang cukup nyaman untuk mengikuti ibadah.
Elisya meletakkan Alkitabnya, dan mengambil saat teduhnya. Begitu juga dengan sahabatnya.
"Dari tadi kok cuma ngangguk terus sih, Sya?" tanya Elora setelahnya.
Elora mendekatkan wajahnya dengan wajah sedikit kesal, "aku ngomong dari tadi, kamu cuma angguk kepala."
Elisya membalasnya dengan senyum dan menjawab santai, "Karna memang jawabannya semua iya......."
Sampai akhirnya, suara lonceng gereja terdengar sangat indah menyambut pagi dan menandakan ibadah akan segera dimulai.
Lagu lagu rohani pagi itu dinyanyikan begitu merdu memenuhi seluruh ruangan gereja. Suara koor berpadu dengan permainan piano dan perikanan gitar yang lembut, menciptakan suasana hangat yang selalu dirindukan Elisya setiap hari Minggu.
Elisya ikut menyanyikan bait demi bait lagu, dia terlihat sangat menghayati.
"Bagi Tuhan tak ada yang mustahil....."
Suara jemaat terdengar serempak memenuhi ruangan. Dan itu merupakan salah satu lagu yang paling sering didengar oleh Elisya.
Hingga pendeta di mimbar mulai membuka khotbah pagi itu dengan suara menenangkan.
Mereka sangat fokus dengan tatapan lurus ke depan, mendengarkan setiap kata yang disampaikan pendeta.
"Maka mintalah, apapun..... Maka akan diberikan kepadamu,......" jelas pendetanya.
Semua diam mendengarkan.
"APAPUN....." tegas pendetanya itu lagi.
Elisya sesekali menunduk, membuka halaman Alkitabnya. Hingga.....
"Apakah jodoh juga boleh??" lanjut pendetanya.
Kalimat itu membuat Elisya berhenti, kini dia menatap pendeta itu.
"Jelas..... Boleh. Mintalah, minta yang terbaik. Jelaskan secara detail, secara rinci, jodoh seperti apa yang kamu mau....." lanjut pendeta itu menjelaskan.
Elora yang duduk di sampingnya langsung berbisik kecil, "Nah, cocok kali untukmu, Kan?"
Elisya menyenggol lengan sahabatnya pelan tanpa menoleh, "sudah lah. Fokus."
Elora tersenyum jahil.
Elisya memalingkan pandangannya ke samping, dan di saat itulah matanya bertemu dengan seseorang di barisan sejajar paling sudut.
Seorang laki-laki yang sedang duduk tenang dengan satu tangannya memegang Alkitab di pangkuannya. Entah sejak kapan, laki-laki itu ternyata sedang melihat ke arahnya.
Elisya membeku sesaat. Tatapan mereka bertemu begitu saja di tengah suara khotbah tentang jodoh dan pertemuan yang telah diatur Tuhan.
Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan. Tetapi ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuat Elisya sulit berpaling.
Laki-laki itu akhirnya menundukkan kepala lebih dulu, namun sebelum itu Elisya sempat melihat sudut bibir laki-laki itu terangkat kecil.
Dan anehnya, jantung Elisya berdetak semakin cepat.
"Kenapa?" baik Elora saat melihat Elisya tiba-tiba salah tingkah.
Elisya buru-buru menggeleng, "Engga.... Engga kenapa-napa."
Amen.... Amen.... A... Amen....
Nyanyian penutup terdengar memenuhi seluruh gereja sebelum akhirnya perlahan menghilang bersama suara organ terakhir.
Pendetanya menutup ibadah pagi itu dengan ucapan syukur, lalu jemaat mulai saling menoleh dan berjabat tangan satu sama lain.
"Tuhan memberkati....."
Elisya ikut tersenyum kecil sambil bersalaman dengan jemaat di kanan kirinya. Elora bahkan sempat bercanda dengan beberapa naposo yang dikenalnya.
Suasana gereja langsung berubah ramai begitu ibadah selesai. Suara obrolan, tawa kecil dan langkah kaki memenuhi ruangan.
"Sya, aku udah lapar....." guman Elora sambil menggandeng lengan Elisya keluar gereja.
"Kamu ini.... Baru juga selesai ibadah, udah langsung ingat makan aja."
"Ya memang itu tujuan bertahan sampai amin terakhir."
Elisya tertawa kecil untuk pertama kalinya pagi itu.
Mereka menuruni anak tangga gereja dengan hati-hati. Namun, beberapa langkah berjalan.....
"Akh!!!" Elisya mendadak meringis sambil berhenti.
Elora yang berjalan di sampingnya langsung panik, "kenapa???"
Elisya menunduk, lalu wajahnya berubah pasrah. Hak sepatu high heels sebelah kirinya patah.
"Astaga..... Kenapa harus sekarang sih, Tuhan...." Elisya memejamkan mata malu.
Elora justru menahan tawanya, "Makanya jangan pakai yang terlalu tinggi."
Elisya membalas dengan sedikit lirikan sinis.
"Jahat banget jadi teman....."
Elisya mencoba berdiri normal, tetapi langkahnya langsung pincang. Beberapa jemaat yang lewat mulai melirik membuat wajahnya semakin merah karna malu.
"Ini gimana....." gumam Elisya. "Masa aku jalan kayak orang habis keseleo."
Elora ikut bingung. Gerbang di depan masih cukup jauh.
"Kalau dipaksa jalan, nanti makin sakit."
Suara laki-laki terdengar dari belakang.
Elisya menoleh. Dan melihat laki-laki itu lagi.
Laki-laki itu berdiri beberapa langkah di belakang mereka sambil memegang Alkitab di satu tangannya. Tatapannya jatuh pada sepatu Elisya yang patah.
Elisya langsung bergeser ke belakang sahabatnya, sambil menutup wajah setengah malu.
"Astaga..... Malu kali." bisiknya pada Elora.
Laki-laki itu justru tersenyum kecil. "Boleh lihat?"
Elora menoleh sedikit ke belakang. "Ngapain kamu ngumpet di belakang aku?" bisiknya.
"Boleh," jawab Elora. Dia bergeser sedikit ke samping sambil menarik tangan Elisya.
"Boleh lihat?" Ulang laki-laki itu.
Elisya mengangguk pelan. Laki-laki itu kemudian jongkok sebentar memperhatikan sepatu itu sebelum akhirnya terkekeh kecil.
"Ini bukan patah lagi. Tapi.... sudah menyerah....."
Elora spontan tertawa kecil mendengar itu.
Elisya melotot. "Kalian kompak kali ya," sindirnya pada Elora.
Laki-laki itu, tanpa banyak bicara ia melepas sepatu sneakers putih yang dipakainya.
"Pakai aja dulu," katanya santai sambil menyodorkan sepatu itu ke Elisya.
Elisya membeku melihat sepatu itu cukup lama. Melihat itu, Elora tersenyum tipis.
"Itu cuman mau dilihat aja?" tanyanya sambil menepis pelan tangannya.
Elisya mengedipkan matanya, lalu menatap pria di depannya.
"Ini....." Ulang pria itu menyodorkannya.
Elisya tampak ragu untuk menerimanya, "Ta.... Tapi...... kamu pake apa?"
Pria itu tersenyum, membuat Elora berdeham.
"Mau sekalian dipakein?" tanyanya jahil sedikit menyindir.