Aldo pulang merantau dari kota karena mendengar kabar bahwa sebentar lagi Airin akan segera menikah, Kakak kesayangannya itu akan menikah sehingga dia harus segera pulang.
tanpa dia tahu bahwa sesuatu telah terjadi dan Aldo sama sekali tidak mendengar kabar tentang hal itu, bahkan hal yang begitu buruk akan segera menghampiri dia karena kedatangan dia ke desa ini hanya akan mengungkap apa yang telah terjadi kepada Airin yang telah lama menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Sifat buruk Fitra
"Hah." Senina bisa bangkit ketika wanita yang ada di hadapan dia tadi menghilang begitu saja dari hadapan mata.
"Na!"
"Setan!" Senina bertambah kaget ketika pundak dia dipegang oleh seseorang dari belakang.
"Setan apa siang bolong begini?" Yoga menatap Senina dengan perasaan bingung.
"Astaga, tidak mungkin aku mengatakan kepada dia kalau baru bertemu dengan setan." batin Senina.
Karena tidak ingin bicara panjang lebar lagi tentang masalah itu maka gadis ini segera pergi dari sana, membiarkan perasaan takut itu berkecamuk di dalam hati karena dia juga penasaran kenapa bisa bertemu dengan setan yang tidak pernah dia sangka sebelum ini, tentu semua orang tidak akan menyangka bila akan bertemu dengan setan.
Yoga agak bingung dengan sikap Senina yang mendadak saja berubah seperti itu karena mereka juga berteman sudah cukup lama, tapi memang beberapa waktu terakhir ini gadis itu selalu menjaga jarak dan seolah tidak ingin berbicara dengan dia, entah karena apa Yoga juga tidak paham tentang hal itu.
Karena Senina yang terus menjauh secara mendadak maka itu menjadi tanda tanya besar di dalam kepala Yoga, walau mereka tidak memiliki hubungan spesial namun setidaknya selama ini mereka akan saling mengobrol satu sama lain ketika sedang ada masalah dan terutama masalah Airin yang tidak ada lagi bersama dengan mereka.
"Apa lah?" Yoga jadi pusing sendiri memikirkan itu semua.
Padahal niat dia tadi baik karena melihat Senina yang berdiri seperti orang ketakutan dan dia datang kemari untuk bertanya tentang hal itu, tapi malasan gadis pergi begitu saja meninggalkan dia tanpa ucapan yang bagus sehingga membuat pemuda ini merasa tidak tahu salah dia ada di mana.
"Tapi suasana kebun ini kok agak tidak bagus juga ya." Yoga mengusap tangan dia yang terasa begitu dingin secara mendadak.
Wuuusssh.
Wuuusssh.
"Mungkin karena tidak ada orang panen hari ini sehingga suasana terasa begitu sepi dan juga sembunyi." Yoga segera berjalan pergi dari sana.
Sebab semakin lama dia berdiam diri di dalam kebun sawit itu maka semakin terasa ngeri timbul di dalam hati ini, padahal sebelumnya dia tidak pernah merasakan hal yang seperti itu ketika sedang berjalan sendirian, Yoga masuk kategori pemuda yang pemberani sehingga tidak pernah takut dengan setan gentayangan.
"Apa memang benar kalau kata penduduk desa bahwa kebun sawit ini ada setannya ya?" Batin Yoga karena dia juga belum paham.
"Hei, Ga!" Fitra berteriak keras ketika melihat Yoga yang sedang mengendarai motor itu.
"Apa?" Yoga berhenti walau dia memasang wajah malah saat bertemu dengan Fitra.
"Kau mau ke mana ini? kalau mau main ajak aku lah." Fitra memang seolah tidak ada kerjaan sehingga ingin main ke sana kemari.
"Kau dari kemarin aku merasa kok hanya main saja." Yoga menatap pria kurus yang ada di hadapan dia.
"Aku lagi pusing dan tidak tahu harus apa sehingga lebih baik main saja." Fitra tersenyum kecil.
Yoga menghelai nafas panjang karena dia tahu awal mula pusing Fitra ini karena apa, tabiat Fitra dia juga tahu karena mereka sudah berteman sejak lama dan tentang hubungan pria ini bersama Airin dia juga mengetahui karena seluruh warga kampung pun sudah tahu bahwa mereka akan segera menikah dalam waktu yang cukup dekat.
"Kau lebih baik fokus aja mencari Airin yang sampai sekarang belum ketemu." Yoga berkata agak ketus.
"Loh kan dia sudah berusaha kita mencari tapi dia saja yang menghilang entah ke mana." Fitra berkata seolah dia tidak cemas.
"Ini kau sebenarnya senang atau sedih ketika Airin sudah tidak ada lagi di dunia ini?!" Yoga malah semakin emosi.
Fitra yang melihat sang teman menjadi emosi seperti itu bukan merasa takut atau pun merasa bersalah, justru dia tertawa kencang sehingga Yoga semakin yakin bahwa pria ini sedang di bawah pengaruh barang haram itu sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih apa yang telah terjadi.
"Urus saja semua masalah yang kau miliki itu sendirian karena aku tidak ingin ikut campur." Yoga segera berlalu pergi.
"Sialan!" Fitra mengumpat marah karena dia tidak jadi ikut dengan Yoga.
"Awas saja nanti kalau aku punya kendaraan sendiri maka aku akan membeli dan kau tidak akan pernah aku bonceng!" Fitra mengancam dengan marah.
Sebab dia merasa Yoga keras kepala setelah memiliki kendaraan seperti itu, sedangkan dia sampai saat ini masih belum memiliki kendaraan untuk bepergian ke sana kemari. padahal Fitra adalah tipe pria yang suka berjalan dan terkadang dia sering meminta jemputan dari para teman.
Setelah kecewa dengan sikap Yoga maka Fitra berjalan sendirian sambil membawa jaket di atas pundak, entah apa yang membuat Airin sangat menyukai pria ini sehingga rela melakukan apa saja ketika dia masih ada dulu, itu terkadang yang menjadi pertanyaan bagi para warga yang ada di sekitar sini tentang tabiat Fitra.
...****************...
Hartini berulang kali menarik nafas panjang ketika hari ini dia juga sama sekali tidak mendapat kabar tentang sang anak, selama sebulan lebih ini dia bukan hanya diam saja tanpa melakukan pergerakan mencari keberadaan Airin yang entah ada di mana, setiap hari akan terus mencari sampai dia mendapat info yang tepat.
"Ibu dari mana kok baru pulang jam segini?" Aldo membuka pintu rumah.
"Tentu mencari kabar tentang Airin yang sampai sekarang tidak tahu ada di mana." Hartini membuka sepatu plastik yang dia pakai.
"Ibu diam saja di rumah karena sekarang ada aku di sini dan aku yang akan mencari Kak Airin." Aldo tidak tega melihat Hartini yang tampak begitu lelah sekali.
"Setiap hari Ibu mencari dia namun sampai sekarang tak kunjung ketemu, dan bahkan selenting kabar saja tidak pernah Ibu dapatkan." Hartini berkata dengan nada sedih.
"Pokok nya ibu harus yakin bahwa Kak Airin ini masih hidup Dan suatu saat kita akan bertemu dengan dia." Aldo memberikan semangat yang besar.
"Ya, Ibu juga berharap demikian dan kita bisa berkumpul bersama lagi." Hartini mengangguk kecil dan berusaha untuk tetap yakin juga.
"Kemana aku harus mencari Airin sekarang? sedangkan informasi yang aku cari sampai sekarang tidak ada yang tepat." Aldo membatin di dalam hati.
Namun di depan Hartini dia berusaha untuk tahu segalanya agar wanita itu tidak merasa sedih dan juga semakin cemas, lebih baik Aldo bersikap sok tahu sehingga nanti Hartini bisa percaya bahwa putra bungsu ini bisa mendapatkan info tentang keberadaan Airin, setidaknya itu bisa membuat hati ini merasa tidak terlalu sedih lagi.
pengumuman buat seluruh pembaca autor ya, karya dendam Anisa tidak bisa dilanjut lagi karena autor merasa itu tidak ada guna. sebab tidak lolos 20 bab dan 40 bab terbaik jadi akan berhenti sampai sana saja, terima kasih dan kita lanjut di cerita yang ini.
GK JD member kah