Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penugasan
Bab 1 — Penugasan
Sore itu langit Jakarta mulai berubah jingga.
Kedai bakso di sudut gang sempit itu selalu ramai menjelang petang — uap panas mengepul dari kuah kaldu sapi yang mendidih, aroma bawang goreng mengambang di udara, dan suara sendok beradu mangkuk menjadi musik tersendiri yang khas.
Di meja pojok dekat jendela, tiga perempuan duduk santai. Nampan bakso di hadapan mereka hampir tandas, es teh tinggal separuh, dan obrolan mereka mengalir begitu saja seperti sudah terbiasa — karena memang begitulah mereka. Sahabat sejak kuliah.
Nayla menyandarkan punggungnya ke kursi plastik, . Matanya yang sipit tampak lelah — lelah yang bukan sekadar capek fisik, tapi lelah yang menumpuk dari shift panjang, pasien yang tak ada habisnya, dan bau antiseptik yang sepertinya sudah meresap sampai ke mimpinya.
Jari-jarinya yang lentang mengaduk bakso di mangkuk pelan-pelan, tanpa semangat.
"Serius, Nay?"
Suara Dita memecah lamunannya.
Nayla mendongak. Dita — perempuan dengan kacamata bulat dan rambut pendek sebahu — menatapnya dengan ekspresi antara tidak percaya dan kasihan. Dita seorang guru honorer di sekolah dasar pinggiran kota. Badannya kecil, tapi suaranya nyaring kalau sudah mulai bicara.
"Iya, Dit." Nayla menjawab singkat. Wajahnya menekuk — bibir turun, dahi sedikit berkerut. Ekspresi orang yang sudah pasrah tapi belum benar-benar ikhlas.
"Lo ditugasin ke sana? Beneran?"
"Beneran."
Hening sedetik.
Lalu—
"GILA SIH!"
Diana nyaris melompat dari kursinya. Perempuan berambut cokelat dengan anting panjang itu menepuk meja, membuat sendok di mangkuknya bergemerincing. Beberapa pengunjung meja sebelah menoleh sebentar, lalu kembali ke urusan masing-masing — mungkin sudah terbiasa dengan kebisingan yang datang dari meja pojok itu.
Diana bekerja di sebuah perusahaan swasta, kantornya rapi dan ber-AC, hidupnya teratur. Maka wajar kalau ia yang paling kaget.
"Nay, lo tau nggak itu daerahnya sejauh apa?" Diana melanjutkan, kali ini suaranya turun sedikit tapi matanya masih bulat. "Itu di pelosok, Nay. Beneran pelosok. Bukan pelosok yang masih bisa GoFood, tapi pelosok yang—"
"Yang apa?" tanya Nayla datar.
"Yang listriknya aja belum merata." Diana mengangkat alisnya. "Ku dengar sering mati. Berjam-jam. Kadang seharian."
Nayla tidak menjawab. Ia mencomot sebutir bakso, mengunyahnya perlahan.
"Belum lagi sinyalnya," sambung Dita, kali ini nadanya lebih pelan — lebih seperti kekhawatiran ketimbang keterkejutan. "Nay, sinyal di sana itu nggak stabil. Sering ada, sering juga hilang. Lo bisa kebayang nggak, kalau ada darurat terus lo nggak bisa hubungi siapapun?"
"Udah kebayang," jawab Nayla.
"Terus?"
"Terus apa?" Nayla akhirnya menaruh sendoknya. Ia menatap dua sahabatnya bergantian — Dita yang cemas, Diana yang masih setengah tidak percaya. "Gue nggak bisa nolak, Dit. Ini penugasan. Bukan tawaran."
Diana membuang napas panjang, bersandar ke kursi.
"Berapa lama?" tanyanya akhirnya.
"Belum tahu pasti. Kata kepala rumah sakit, minimal dua bulan."
"dua bulan." Dita mengulang kata-kata itu pelan, seolah sedang mencernanya. "Nay..."
"Gue tau."
"Lo bakal jauh banget."
"Gue tau, Dit."
Ketiganya diam sejenak. Di luar jendela, motor berlalu lalang. Seorang anak kecil berlari mengejar layang-layang putus. Penjual bakso di balik gerobak menyeka keringatnya dengan handuk yang tergantung di leher.
Nayla menatap mangkuk baksonya yang tinggal kuah.
Dalam hatinya, ada sesuatu yang belum bisa ia beri nama. Bukan takut — atau mungkin iya, tapi bukan hanya itu. Ada sedikit penasaran. Ada sedikit ngeri. Dan ada sesuatu yang terasa seperti... firasat.
Firasat bahwa dua bulan ke depan tidak akan sesederhana yang ia bayangkan.
Mereka berpisah di depan kedai bakso ketika langit sudah benar-benar jingga kemerahan.
Diana melambai sambil berjalan ke arah halte, earphone sudah terpasang di telinga sebelum tubuhnya benar-benar menghilang di tikungan. Dita memeluk Nayla sebentar — erat, tanpa kata — lalu menepuk bahunya dua kali sebelum pergi ke arah berlawanan.
Nayla berdiri sejenak di depan motornya.
Motor bebek putih kusam yang catnya sudah mulai mengelupas di bagian bodi kanan. Spionnya yang kiri sedikit miring karena pernah jatuh dua tahun lalu dan belum sempat — atau lebih tepatnya, belum mau — diperbaiki. Joknya sudah retak di bagian tepi, ditambal selotip hitam seadanya.
Orang-orang mungkin heran. Nayla, dokter muda dengan gaji yang cukup untuk mencicil mobil, masih setia dengan kendaraan tua ini.
Tapi Nayla tidak pernah merasa perlu menjelaskan.
Motor ini yang menemaninya dulu — saat ia kuliah sambil kerja paruh waktu, saat hujan deras dan ia terpaksa berteduh di teras orang asing karena jas hujannya bocor, saat ia menangis diam-diam di lampu merah karena nilai ujiannya jeblok tapi ia tidak punya waktu untuk benar-benar patah semangat. Motor ini saksi bisu dari setiap jalan panjang yang sudah ia tempuh.
Meninggalkannya rasanya seperti mengkhianati bagian dari dirinya sendiri.
Nayla menarik napas, lalu menstarter motor. Mesinnya menyala dengan suara khas yang sudah ia hafal betul — seperti orang tua yang bangun pagi dengan sedikit mengerang, tapi tetap berdiri.
Jalanan sore itu tidak terlalu macet untuk ukuran kota.
Angin menerpa wajahnya begitu ia melaju — sejuk, sedikit basah, membawa aroma tanah yang mulai mendingin setelah seharian dipanggang matahari. Di atas kepalanya, langit berubah perlahan. Jingga memudar menjadi ungu, ungu memudar menjadi biru tua, dan di ujung cakrawala di antara gedung-gedung, satu bintang pertama mulai mengintip malu-malu.
Apakah benar separah itu?
Gumamnya dalam hati. Suara Diana masih terngiang — listriknya belum merata, sinyalnya sering hilang — diucapkan dengan ekspresi dramatis seperti biasa, tapi Nayla tahu Diana tidak sedang melebih-lebihkan.
Nayla menggeser motornya ke lajur kiri, membiarkan sebuah truk besar mendahuluinya.
Ia bukan takut soal Alfamart atau Indomaret. Bukan itu yang membebani pikirannya. Nayla sudah terlalu lama hidup sederhana untuk khawatir soal minimarket atau sinyal internet yang lemot atau jalanan berlumpur. Ia tahu bagaimana caranya bertahan dengan yang ada. Itu bukan ilmu yang ia pelajari dari buku — itu ilmu yang ia dapat dari bertahun-tahun hidup dengan pas-pasan dan memilih untuk tidak mengeluh.
Tapi sinyal...
Sinyal adalah soal lain.
Nayla menggigit bibir bawahnya.
Ia teringat wajah ibunya — perempuan kecil dengan rambut mulai memutih yang tidur di kasur tipis di kamar yang sama sejak Nayla kecil. Tubuhnya yang dulu kuat dan selalu bergerak kini lebih banyak berbaring. Tekanan darah yang naik turun tidak karuan, kadang disertai pusing yang membuatnya tidak bisa berdiri terlalu lama.
Dan di rumah itu, yang menemani ibunya hanya Rian.
Rian — adik laki-lakinya, sembilan tahun, kelas tiga SD. Anak yang terlalu cepat mengerti bahwa hidup tidak selalu mudah, tapi tetap terlalu kecil untuk menanggung beban yang bukan miliknya.
Kalau sinyal hilang... bagaimana aku tahu keadaan Ibu?
Nayla tidak bisa mengandalkan Rian untuk menghubunginya jika terjadi sesuatu. Rian masih anak-anak. Rian belum mengerti caranya panik dengan tenang. Dan tetangga-tetangga sekitar, sebaik apapun mereka, tidak bisa diminta menjaga orang sakit setiap hari.
Lampu merah di persimpangan menyala. Nayla berhenti.
Di sebelah kanannya, seorang bapak tua membonceng anaknya yang tertidur di jok belakang — kepala si anak terkulai miring, tangan mungilnya menggenggam jaket sang ayah bahkan dalam tidurnya.
Nayla menatap mereka sebentar.
Lalu ia menatap lurus ke depan.
Ayahnya pergi ketika ia masih kelas satu SMA. Bukan pergi yang kembali — pergi yang meninggalkan tanah merah dan batu nisan dan doa yang diulang setiap malam Jumat. Sejak itu, Nayla belajar bahwa tidak ada gunanya menunggu seseorang yang lebih kuat untuk datang dan memperbaiki segalanya.
Jadi ia yang menjadi kuat.
Tapi kuat tidak berarti tidak takut.
Dan malam ini, di bawah langit yang semakin gelap dengan angin sore yang masih tersisa di kulitnya, Nayla mengakui pada dirinya sendiri — hanya pada dirinya sendiri, tidak perlu ada yang tahu — bahwa ia takut.
Bukan takut pada tempat yang jauh dan asing itu.
Tapi takut pada jarak yang akan memisahkannya dari dua orang yang paling ia jaga di dunia ini.
Lampu hijau menyala.
Nayla menarik gas, melaju, dan membiarkan angin menghapus apapun yang hampir jatuh dari sudut matanya