Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
BAB 1
Panas. Itu hal pertama yang langsung nabrak kesadaranku.
Panas yang kering dan nyengat, tapi anehnya... wangi? Ada aroma asap kayu gaharu mewah yang menenangkan, mengalahkan bau debu khas jalanan. Padahal seingatku, aku baru aja turun dari bus kota Kairo. Sisa dingin AC bus masih kerasa di wajahku sebelum...
Aku coba buka kelopak mataku pelan-pelan, rasanya lengket dan berat banget. Pas akhirnya kebuka, bukan atap putih rumah sakit yang aku liat, apalagi langit-langit kamar kontrakanku. Cahaya dari lampu-lampu minyak berukir perunggu bikin bayangan aneh yang nari-nari di dinding.
Aku nyipitin mata.
Di sekelilingku, ada wajah-wajah raksasa asing yang lagi nunduk natap aku. Hidung mereka mancung-mancung parah, matanya gede, tajem, dan berbingkai celak hitam. Pakaian mereka berupa jubah panjang dari kain sutra dan linen halus. Di belakang mereka, ada beberapa perempuan berpakaian lebih sederhana yang lagi nunduk hormat bawa kendi air tembaga.
"Ya Allah... ini di mana? Kok 'perawat'-nya brewokan semua begini?" batinku panik.
Aku coba buka mulut, niatnya mau nanya tegas. "Hei, kalian ini siapa?! Aku di mana?!"
Tapi, lidah dan rahangku kerasa kaku banget. Yang keluar dari tenggorokanku malah lengkingan cadel yang bikin aku sendiri kaget setengah mati.
"Eii... yaya iiy appa?! A'uu ii aamaa?!"
"Lah?" Aku melotot. "Ya Allah... kok suaraku jadi kayak gini?! Mulutku kenapa? Rahangku berasa lembek banget kayak nggak ada tulangnya!"
Belum kelar aku mikir, tiba-tiba sepasang tangan gede, kasar, dan penuh kapalan nyelusup ke bawah badanku, terus... wussh! ngangkat aku ke udara gampang banget.
"EH! Ya Allah, ngapain kalian ngangkat-ngangkat aku?! Turunin dulu, woi!" aku berontak sejadi-jadinya.
Tapi sialnya, badanku kerasa aneh banget. Tanganku gerak-gerak sendiri nggak jelas. Nggak ada tenaga sama sekali. Bapak-bapak brewokan pake jubah mewah yang nggendong aku itu natap aku pake mata berbinar-binar. Terus, dia balik badan ngehadap seorang cewek pucat yang lagi tepar di atas dipan lebar beralas bulu domba tebal.
Bapak itu ketawa lega terus ngomong kenceng banget:
"Undhuri! Ma ajmalaha! Wajhuha ka-falq al-asbah!"
(Lihatlah! Betapa cantiknya dia! Wajahnya berseri seperti fajar yang menyingsing!)
"Sadaqta ya Abi. Inna sawtaha jahwariyy, satakunu imra'atan dhakiyyatan min Bani Asad."
(Benar sekali, Ayah. Suaranya lantang, dia pasti akan tumbuh menjadi perempuan Bani Asad yang cerdas.)
Suara kedua itu bikin aku kaget. Aku ngelirik sebisanya. Seorang remaja cowok umur belasan tahun, pakai jubah kain halus yang rapi, berdiri dengan postur tenang di samping bapak brewokan itu.
Aku langsung kicep. Otak jeniusku yang sering dapet nilai A+ dari dosen sejarah Al-Azhar seolah nge-hang tiga detik.
"Bentar... bentar. Itu barusan mereka ngomong apa? 'Ma ajmalaha'? Struktur bahasanya fusha murni... bahkan aksennya beda. Kayak dialek Quraisy kuno." Jantungku mulai berdegup makin kencang. "Gila... orang-orang ini ngobrol kayak kitab sastra hidup. Terus cowok tadi manggil dia apa? Abi? Bani Asad? Di Kairo aja orang ngomong amiyah campur-campur, mana ada yang ngomong seformal ini!"
Bapak itu ndeketin wajahnya lagi ke aku. Janggutnya yang kasar nyaris nyentuh pipiku. Pas itulah, dari sudut mataku yang masih agak buram, aku ngeliat tanganku sendiri. Tangan itu mungil. Bantet. Berlipat-lipat kayak roti sobek, kemerahan, dan dibungkus kain bedong dari sutra yang lembut.
Aku natap tangan mungil itu. Terus natap wajah bapak raksasa di depanku. Terus natap lagi sekeliling ruangan luas yang dipenuhi wangi gaharu ini.
Realitas akhirnya ngehantam otakku. Jauh lebih keras dari moncong kendaraan yang nabrak tubuhku beberapa saat yang lalu.
"Ya Allah..." napasku tercekat. "Jangan bilang aku reinkarnasi jadi bayi?!"
Aku coba neriakin semua sumpah serapah yang aku tau sekuat tenaga, tapi pita suara rapuh ini malah ngubah makian emosiku jadi ocehan balita yang sama sekali nggak ada sangarnya.
"Baaangeee! Iyyaaayaaan! Angan iiyang a'uu eingaaay aii ayii?!"
Hening sesaat. Beberapa perempuan di belakang sana sampai menutup mulut menahan senyum. Aku syok denger suaraku sendiri. Saking jengkel dan frustrasinya karena kata-kataku gagal total, emosiku langsung meluap. Detik berikutnya, tanpa bisa aku kontrol, air mataku tumpah dan aku menjerit sejadi-jadinya layaknya bayi normal.
"OWEEEEEEKKKK! OWEEEEEEKKKK!"
Bukannya kaget, orang-orang di ruangan batu berhias permadani itu malah ketawa seneng denger tangisan frustrasiku. Bapak brewokan itu nepuk-nepuk punggungku pelan, yang sumpah demi apa pun kerasanya kayak ditepuk papan kayu saking gedenya tangan dia.
Aku terus nangis meraung-raung ngeratapi nasib. Sialnya, sistem motorik bayi ini gampang banget capek. Baru nangis semenit, mataku udah berat banget. Pandanganku pelan-pelan mulai gelap lagi.
"Ya Allah... perasaanku baru sepuluh menit lalu aku masih megang buket bunga kelulusan di depan kampus bareng temen-temenku..."
Hari itu... hari di mana semua pencapaian hidupku hancur berantakan gara-gara aku nyebrang gak liat kanan kiri.
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭