Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Pengakuan Aditya (EPILOGI)
Hujan masih turun deras di luar markas Wings of Hades.
Suara petir yang sesekali menyambar langit malam membuat suasana di ruangan itu semakin menyesakkan.
Tidak ada yang berbicara.
Tidak ada yang bergerak.
Semua orang masih terpaku setelah mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Brahmantyo.
"Orang yang menculik Kiara tiga puluh tahun lalu... adalah ayah kandungnya sendiri."
Kalimat itu terasa seperti bom yang meledak di tengah ruangan.
Kiara merasakan seluruh tubuhnya membeku.
Dunia di sekelilingnya seakan menghilang.
Yang tersisa hanya suara detak jantungnya sendiri yang berdentum keras di telinga.
Tidak.
Ini tidak mungkin.
Pasti ada kesalahan.
Pasti ada sesuatu yang belum mereka ketahui.
Matanya perlahan beralih ke arah Aditya.
Pria tua itu berdiri diam.
Tidak membantah.
Tidak marah.
Tidak tertawa seperti biasanya.
Diamnya justru menjadi jawaban paling menyakitkan.
Air mata mulai menggenang di mata Kiara.
"Katakan kalau itu bohong."
Suaranya bergetar.
Tidak ada jawaban.
"Katakan kalau itu tidak benar!"
teriaknya.
Aditya menutup mata.
Dan saat itulah hati Kiara runtuh.
Karena ia tahu.
Jika tuduhan itu salah, pria itu pasti sudah membantah sejak tadi.
Namun ia tidak melakukannya.
Artinya...
Semua itu benar.
Arkan langsung bergerak mendekati Kiara.
Ia memegang bahu istrinya yang mulai gemetar hebat.
"Kiara..."
Namun wanita itu menggeleng.
Air matanya terus mengalir.
"Aku ingin mendengarnya dari mulutnya sendiri."
Tatapannya tidak pernah lepas dari Aditya.
"Jawab aku."
Suasana kembali hening.
Beberapa detik terasa seperti berjam-jam.
Kemudian Aditya membuka matanya perlahan.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu...
Pria itu terlihat tua.
Sangat tua.
Seolah seluruh beban hidup yang selama ini ia sembunyikan akhirnya mulai menghancurkannya dari dalam.
"Ya."
Suaranya pelan.
Namun cukup untuk membuat seluruh ruangan membeku.
"Semua itu benar."
Air mata Kiara langsung jatuh.
Tubuhnya terasa kehilangan tenaga.
Jika bukan karena Arkan yang menopangnya, mungkin ia sudah jatuh sejak tadi.
"Kenapa..."
Itu satu-satunya pertanyaan yang mampu keluar dari bibirnya.
"Kenapa kau melakukan semua ini?"
Aditya menunduk.
Lama sekali.
Seolah sedang mencari jawaban yang bahkan dirinya sendiri tidak mampu temukan.
"Aku tidak pernah menjadi ayah yang baik."
Kiara tertawa pahit.
"Jangan bercanda."
Air matanya semakin deras.
"Kau bahkan tidak pernah menjadi ayah."
Kalimat itu menghantam Aditya seperti pisau.
Namun ia menerimanya tanpa protes.
Karena Kiara benar.
Selama puluhan tahun.
Ia hanya mengawasi dari kejauhan.
Tidak pernah memeluk putrinya.
Tidak pernah mengajarinya berjalan.
Tidak pernah ada saat ia menangis.
Tidak pernah ada saat ia membutuhkan bantuan.
Ia ada.
Namun tidak benar-benar hadir.
Dan itulah dosa terbesar yang tidak pernah bisa ia tebus.
"Aku mengenal ibumu saat aku masih muda."
Suara Aditya terdengar pelan.
Kiara memalingkan wajah.
Ia tidak yakin ingin mendengar semua ini.
Namun ada bagian kecil dalam dirinya yang selalu merindukan jawaban.
Selama hidupnya.
Ia tidak pernah tahu siapa dirinya.
Tidak pernah tahu dari mana asalnya.
Dan sekarang, untuk pertama kalinya, pintu menuju masa lalunya terbuka.
"Apa namanya?"
tanya Kiara pelan.
Mata Aditya berkaca-kaca.
"Laras."
Nama itu membuat ruangan kembali sunyi.
"Laras bukan wanita kaya."
lanjut Aditya.
"Bukan anggota organisasi."
"Bukan orang penting."
"Sama sekali bukan."
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Senyum yang dipenuhi kenangan.
"Dia hanya wanita biasa yang bekerja di sebuah perpustakaan kecil."
Kiara perlahan mengangkat kepala.
"Lalu?"
"Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja."
Aditya tertawa kecil.
"Dulu aku sangat arogan."
"Bahkan lebih buruk daripada sekarang."
Rio sampai mengangkat alis.
"Lebih buruk?"
Aditya mengangguk.
"Dulu aku yakin dunia bisa kubeli dengan uang."
"Dan Laras adalah orang pertama yang mengatakan bahwa aku idiot."
Untuk pertama kalinya.
Beberapa orang di ruangan itu hampir tersenyum.
Hampir.
Namun suasana terlalu berat untuk benar-benar tertawa.
"Aku jatuh cinta padanya."
Tatapan Aditya menerawang jauh.
Seolah sedang melihat masa lalu yang tidak bisa ia sentuh lagi.
"Awalnya aku pikir itu hanya ketertarikan sesaat."
"Tapi semakin aku mengenalnya..."
Suaranya mulai melemah.
"...semakin aku sadar bahwa aku tidak bisa hidup tanpanya."
Kiara menunduk.
Entah kenapa.
Mendengar pria itu berbicara tentang ibunya membuat dadanya terasa sesak.
Karena dari nada suaranya...
Ia tahu perasaan itu nyata.
Sangat nyata.
"Apa ibu mencintaimu?"
tanyanya pelan.
Aditya tersenyum.
Untuk pertama kalinya malam itu.
Senyum yang tulus.
"Iya."
Jawaban itu langsung keluar.
Tanpa keraguan sedikit pun.
Dan justru itulah yang membuat suasana semakin menyakitkan.
Karena jika mereka saling mencintai...
Lalu kenapa semuanya berakhir seperti ini?
"Wings of Hades."
Senyum itu menghilang.
Seketika.
"Organisasi itu menghancurkan semuanya."
Ruangan kembali tegang.
Aditya mengepalkan tangannya.
"Aku terlalu terobsesi pada kekuasaan."
"Aku terlalu sibuk mengejar ambisi."
"Aku berpikir bisa memiliki segalanya."
Tatapannya menjadi kosong.
"Ternyata aku salah."
Kiara bisa melihat penyesalan di wajahnya.
Penyesalan yang mungkin sudah ia bawa selama puluhan tahun.
"Laras memintaku meninggalkan organisasi."
lanjut Aditya.
"Dia memintaku memilih."
"Keluarga atau kekuasaan."
Suara hujan di luar terdengar semakin jelas.
Seolah alam ikut mendengarkan kisah itu.
"Dan kau memilih kekuasaan."
kata Kiara dingin.
Aditya menutup mata.
Beberapa detik kemudian ia mengangguk.
"Iya."
Jawaban itu terasa seperti pisau yang menusuk.
Bahkan Arkan ikut menghela napas berat.
Karena terkadang manusia tidak hancur karena musuh.
Melainkan karena keputusan yang mereka buat sendiri.
"Laras pergi saat sedang mengandung."
Aditya kembali berbicara.
"Dia tidak ingin anaknya tumbuh di dunia yang penuh darah."
Air mata kembali muncul di sudut matanya.
"Aku mencarinya."
"Ke mana pun."
"Berbulan-bulan."
"Bertahun-tahun."
"Tapi aku tidak pernah menemukannya."
Kiara menggigit bibirnya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu...
Ia mulai merasakan sesuatu selain marah.
Kesedihan.
Karena apa pun yang terjadi.
Kisah ini adalah kisah tentang keluarga yang hancur jauh sebelum ia lahir.
"Kemudian suatu hari..."
Suara Aditya menjadi semakin pelan.
"...aku mendapat kabar."
Semua orang menatapnya.
Dan pria itu mengangkat wajah perlahan.
Matanya merah.
Penuh luka lama yang belum sembuh.
"Kabar bahwa Laras telah meninggal."
DEG!
Tubuh Kiara langsung menegang.
Napasnya tercekat.
"Meninggal?"
bisiknya.
Aditya mengangguk perlahan.
"Itulah yang diberitahukan kepadaku."
"Dan sejak hari itu..."
Ia menatap Kiara.
Lama sekali.
"...aku percaya bahwa aku telah kehilangan kalian berdua."
Air mata Kiara kembali jatuh.
Karena untuk pertama kalinya.
Ia mulai menyadari satu hal.
Mungkin...
Hanya mungkin...
Kisah ini tidak sesederhana yang selama ini ia pikirkan.
Dan mungkin masih ada kebenaran lain yang belum terungkap.