"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Aroma melati yang merebak di seluruh penjuru ruangan keluarga Luna hari ini telah disulap menjadi begitu megah, dipenuhi riuh rendah suara ratusan tamu undangan yang saling berbisik.
Di sudut ruang tengah, Pak Penghulu sudah duduk rapi menghadap meja akad, sesekali merapikan berkas-berkas di depannya dengan raut wajah yang mulai menyiratkan tanya.
Di ambang pintu kamar pengantin, Luna berdiri mematung.
Jemarinya yang berhias ukiran henna putih saling bertautan erat, meremas kain kebaya brokatnya demi meredam gemetar yang kian hebat.
Wajahnya yang cantik di balik riasan tebal tampak begitu cemas.
Sudah satu jam, ia berdiri di sana, menatap jam dinding yang terus berdetak kejam, sementara Fauzan—pria yang seharusnya beberapa menit lalu menjabat tangan ayahnya untuk mengucapkan ijab kabul—belum juga menampakkan batang hidungnya. Teleponnya mati, dan semua temannya bungkam.
Suara deru mesin mobil yang tiba di halaman depan seketika memecah ketegangan di dada Luna.
Secercah harapan membuncah. Luna melangkah maju, senyum tipis perlahan terukir di bibirnya yang mulai pucat.
Ia mengira ketakutannya hanyalah luapan kecemasan pengantin baru biasa.
Namun, senyum itu langsung luruh begitu pintu mobil terbuka.
Bukan Fauzan yang turun dengan setelan jas pengantin, melainkan sosok pria paruh baya bertubuh tegap dan berwibawa dengan raut wajah sekeras batu karang.
"Papa?" gumam Luna, langkahnya tertatih mendekati pria itu.
Matanya melirik ke arah kursi belakang mobil yang kosong.
"Di mana Fauzan, Pa?" tanya Luna.
Mahendra tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut.
Sepasang matanya yang tajam menatap Luna dengan sorot yang sulit diartikan—ada kemarahan, tetapi juga ada rasa iba yang amat mendalam.
Tanpa memedulikan kasak-kusuk para tamu yang mulai riuh melihat kedatangannya yang sendirian, Mahendra mencengkeram lembut lengan Luna.
"Luna, ikut Papa. Kita bicara di dalam," bisik Mahendra, suaranya berat dan penuh penekanan yang tak bisa dibantah.
Mahendra menuntun Luna menjauh dari kerumunan, membawa gadis itu masuk ke dalam ruang kerja ayah Luna yang sepi di bagian belakang rumah.
Begitu pintu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang mencekam, Luna langsung berbalik dengan napas memburu.
"Ada apa, Pa? Kenapa Papa malah mengajakku bicara di sini? Di luar semua orang sudah menunggu. Fauzan di mana?!" tuntun Luna dengan air mata kecemasan mulai menggenang di pelupuk matanya.
Mahendra menghela napas panjang, sebuah beban berat tampak menggelayuti pundaknya yang tegap.
Ia melangkah mendekati Luna, menatap langsung ke dalam manik mata calon menantunya—yang beberapa detik lagi akan berubah statusnya.
"Fauzan tidak akan datang, Luna," ucap Mahendra, suaranya bergetar rendah namun terdengar bagai petir di siang bolong.
"Dia sudah pergi bersama cinta pertamanya, Mila."
Luna terkejut dan jantungnya seolah berhenti berdetak.
"A-apa maksud Papa?" tanya Mila.
"Mereka sudah melakukan akad nikah di tempat lain pagi ini. Fauzan memilih Mila," lanjut Mahendra kejam, menyampaikan kebenaran pahit yang menghancurkan seluruh harga diri putranya sendiri.
Luna menggelengkan kepalanya dengan kuat saat mendengar perkataan dari Mahendra.
Langkahnya mundur satu pijakan, menolak mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
Otaknya mendadak buntu, menolak memproses untaian kalimat yang baru saja keluar dari mulut pria di hadapannya.
"I-ini tidak mungkin, Pa. Papa pasti bercanda, kan? Fauzan mencintaiku. Kami mau menikah hari ini!" suara Luna melengking, pecah bersama air mata yang akhirnya lolos membasahi pipinya.
Dunia Luna runtuh seketika. Seluruh pasokan oksigen di sekitarnya menguap.
Dada gadis itu naik turun dengan cepat, kepalanya mendadak berputar hebat disertai rasa pening yang luar biasa.
Pandangannya mengabur, warna-warni di sekitarnya perlahan menggelap menjadi hitam pekat.
Tubuh Luna limbung, langsung jatuh pingsan kehilangan kesadaran.
"Luna!"
Dengan refleks yang sangat cepat, Mahendra merangsek maju.
Tangan kekarnya dengan sigap menarik pinggang Luna, mendekap tubuh ringkih yang tak berdaya itu ke dalam pelukannya agar kepalanya tidak terbentur lantai marmer yang keras.
Di dalam keheningan ruangan itu, Mahendra mendekap erat tubuh wanita yang seharusnya menjadi menantunya, bersumpah dalam hati bahwa kehancuran ini tidak akan dibiarkan menghancurkan hidup Luna sepenuhnya.
Pintu ruang kerja itu mendadak terbuka dengan kasar.
Kedua orang tua Luna masuk dengan wajah pucat pasi dan kepanikan yang tergambar jelas di mata mereka.
Pemandangan di dalam ruangan langsung membuat ibu Luna memekik tertahan; putri mereka sudah tak sadarkan diri di dalam dekapan Mahendra.
Tanpa membuang waktu, Mahendra langsung mengangkat tubuh ringkih Luna dengan kedua lengan kekarnya.
Langkah kakinya yang lebar dan mantap membawa Luna keluar lewat lorong belakang, menghindari sorotan tamu, menuju ke kamar tidur Luna di lantai bawah.
Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Mahendra membawa Luna ke atas tempat tidur, merebahkan tubuh yang berbalut kebaya pengantin itu di atas seprai putih.
Ibu Luna langsung bersimpuh di tepi ranjang, menangis terisak sambil menggenggam tangan putrinya yang sedingin es.
Sementara sang ayah berdiri mematung di dekat pintu, tubuhnya gemetar menahan amarah dan rasa malu yang teramat sangat.
Mahendra membalikkan tubuhnya sambil menatap tajam namun menenangkan ke arah ayah Luna.
Di luar, suara kasak-kusuk para tamu terdengar kian bising, menuntut kejelasan.
"Tenangkan para tamu dulu," pinta Mahendra dengan suara berat yang penuh wibawa.
"Jangan biarkan masalah ini menjadi konsumsi publik sebelum kita siap. Biar saya yang menjaga Luna di sini."
Jovan yang merupakan Ayah Luna langsung menghela napas berat, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang runtuh.
Dengan guratan frustrasi di wajahnya, papa Luna menganggukkan kepalanya dan keluar dari kamar untuk menghadapi badai di luar sana, diikuti oleh sang istri yang diminta untuk membantu meredam kepanikan keluarga besar.
Kini, kamar bernuansa putih itu mendadak sunyi, menyisakan Mahendra dan Luna yang masih memejamkan mata rapat-rapat.
Mahendra melangkah mendekati meja rias, mengambil sebotol minyak kayu putih yang terletak di sana.
Ia kembali ke sisi ranjang, duduk di tepian kasur lalu menuangkan sedikit cairan hangat itu ke telapak tangannya.
Dengan gerakan yang sangat canggung namun lembut, ia mengusapkan minyak tersebut ke pelipis Luna, lalu mendekatkan botolnya ke hidung gadis itu agar aroma hangatnya bisa merangsang kesadarannya.
Melihat bulu mata Luna yang lentik mulai bergetar samar, Mahendra memajukan tubuhnya. Guratan cemas tak mampu lagi disembunyikannya dari wajah matangnya.
"Luna, apakah kamu mendengar suara papa?" tanya Mahendra lirik, menatap lekat-lekat wajah pucat wanita yang beberapa saat lalu hampir menjadi menantunya, namun kini takdir tampaknya punya rencana lain yang jauh lebih rumit.
Aroma hangat minyak kayu putih perlahan menyeruak, memaksa kesadaran Luna kembali ke permukaan.
Kelopak matanya yang terasa seberat bongkahan batu mulai bergerak samar.
Luna membuka matanya perlahan-lahan dan menatap langit-langit kamar yang familier menyambut pandangannya, disusul oleh bayangan tubuh tegap Mahendra yang berdiri di sisi ranjang, serta sang mama yang rupanya sudah kembali masuk dan duduk bersimpuh di tepi kasur dengan wajah sembap.
"Papa...." gumam Luna lirih.
Ingatan tentang pengkhianatan Fauzan seketika menghantam dadanya seperti godam yang menghancurkan jantungnya.
Seketika itu juga, pertahanannya runtuh. Ia menangis sesenggukan, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Kebaya putih yang melekat di tubuhnya kini terasa seperti kain kafan yang mengubur semua martabatnya.
"Biarkan aku mengakhiri hidupku, Pa. Aku malu. Aku tidak sanggup menghadapi orang-orang di luar, Ma..." tangis Luna pecah, histeris menyuarakan keputusasaannya.
Mama menggelengkan kepalanya dan menangis saat mendengar perkataan dari putrinya.
Beliau memeluk kaki Luna, tak kuasa membayangkan jika putri tunggalnya benar-benar nekat melakukan hal mengerikan itu.
Melihat situasi yang kian emosional dan tidak terkendali, Mahendra mengambil kendali.
Ia menyentuh pundak Mama Luna dengan lembut namun tegas.
"Biar saya yang bicara dengannya. Tolong tunggu di luar sebentar."
Dengan sisa-sisa kekuatannya, mama Luna mengangguk pasrah lalu melangkah keluar, menutup pintu kamar rapat-rapat.
Suasana kamar kembali hening, hanya menyisakan suara isak tangis Luna yang memilukan.
Mahendra kembali duduk di tepian ranjang, menatap lekat-lekat gadis yang sedang hancur di hadapannya.
Tidak ada gurat kepanikan di wajah matangnya, hanya ada ketegasan yang mutlak.
"Mengakhiri hidup? Kamu, mau mati di saat Fauzan sedang berbahagia menikah dengan cinta pertamanya? Memangnya kamu punya tiket surga?" tanya Mahendra, suaranya terdengar dingin namun telak menusuk harga diri Luna.
Luna menghentikan tangisnya sesaat. Ia menurunkan tangannya, lalu memandang wajah Mahendra dengan tatapan tidak percaya.
Bagaimana bisa pria yang hampir menjadi ayah mertuanya ini berbicara sekejam itu di saat dirinya sedang sekarat karena patah hati.
Sebelum Luna sempat memprotes, Mahendra memajukan tubuhnya, menatap langsung ke dalam manik mata Luna yang basah.
"Aku akan menikahimu agar keluarga besarmu tidak malu," ucap Mahendra dengan nada tenang, seolah apa yang baru saja ia katakan bukanlah sebuah keputusan yang akan menjungkirbalikkan hidup mereka.
Luna tertegun, napasnya tercekat di tenggorokan.
"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa. Meskipun usia Papa sudah 50 tahun," sahut Mahendra tanpa keraguan sedikit pun.
Sorot matanya yang tajam memancarkan karisma pria matang yang penuh pengalaman.
Luna menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa luar biasa kering.
"Menikah dengan calon ayah mertuanya sendiri? Pria yang usianya terpaut seperempat abad dengannya?" gumam Luna.
Mahendra berdiri, merapikan jasnya yang sedikit kusut tanpa melepaskan pandangannya dari Luna.
"Mau atau tidak? Kalau tidak, Papa akan pergi sekarang juga dan membiarkan keluarga ini menanggung aibnya sendiri."
Perkataan Mahendra bagaikan vonis. Luna tahu, di luar sana ratusan pasang mata sedang menunggu.
Jika Mahendra pergi, tamatlah riwayat keluarganya.
Sebelum pria itu sempat melangkah menjauh, dengan gerakan refleks yang didorong oleh keputusasaan, Luna menjulurkan tangannya.
Luna menggenggam tangan Mahendra dengan erat.
Kulit tangan Mahendra yang hangat dan kokoh memberikan sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Aku mau, Pa," jawab Luna sambil menatap wajah Mahendra—sang Don Juan yang terkenal dingin, berwibawa, namun selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan.
Mahendra tersenyum tipis, sebuah lengkungan kepuasan yang nyaris tak terlihat di sudut bibirnya.
Ia membalikkan tangannya, kini ganti menggenggam jemari Luna dengan mantap, memberikan rasa aman yang tak terbantahkan.
"Bagus. Anak pintar," bisik Mahendra rendah. Ia menarik lembut tangan Luna, membantunya bangkit berdiri dari ranjang.
"Hapus air matamu. Dan lekas pakai kembali kerudung pengantinmu."
Mahendra bersiap untuk mengajak Luna ke ruang tengah, menuju pelaminan yang telah menanti untuk meresmikan ikatan baru yang akan mengguncang dunia mereka.
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi