NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

Saat Alma membuka matanya kembali, dia melihat dirinya kini berada di sebuah tempat dengan nuansa putih. Tempat itu begitu sunyi dan asing, seolah tidak terikat waktu maupun ruang. Suasana di sekitarnya terasa dingin, tapi bukan karena suhu melainkan karena kehampaan yang merayap perlahan ke dalam relung jiwanya.

Di depannya, seperti ada sebuah proyektor besar yang menggantung di udara, memperlihatkan semua adegan yang tampak begitu nyata, seolah ia sedang menonton potongan film tentang kehidupan yang pernah ia kenal, namun bukan miliknya.

Di sana dapat Alma lihat, bagaimana Jasmine dikelilingi oleh banyak orang. Wajahnya bersinar dengan senyum hangat, begitu dicintai, begitu dimuliakan. Di antara kerumunan itu, tampak pula ketiga lelaki itu. Kaiden, Leon, dan Calvin. Masing-masing tersenyum, menikmati kebahagiaan mereka bersama Jasmine.

Adegan terus bergulir, menampilkan Jasmine yang siuman di rumah sakit, Jasmine yang berdiri dengan toga kebanggaan di hari kelulusannya, hingga dirinya yang melangkah anggun mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang terlihat sangat indah. Di sampingnya, Kaiden berdiri dengan ekspresi yang tak pernah Alma lihat sebelumnya. Lembut, tenang, dan penuh cinta. Mereka mengucap janji suci bersama. Hidup mereka bahagia. Sempurna. Bahkan dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampak begitu ceria.

Alma hanya bisa mematung, menatap layar itu dalam diam. Layar yang seperti menertawakan takdirnya. Menyodorkan kebahagiaan orang lain, seolah-olah berkata bahwa dunia ini tak pernah disiapkan untuk dirinya.

Adegan di layar terus berubah. Kini menampilkan kehidupan Leon yang tenang tak ada beban, tak ada rasa bersalah di wajahnya. Kebebasan milik Calvin, dunia yang selama ini diidamkannya, akhirnya menjadi miliknya. Lalu Freya dan teman-temannya, semua terlihat bahagia, tertawa, menjalani hidup tanpa luka.

Dan lalu... bagaimana dengan dirinya? Bagaimana dengan Alma? Bagaimana dengan nasibnya... dan keluarganya?

Seolah menjawab pertanyaannya, adegan di layar kembali berubah. Kali ini menampilkan sebuah pemakaman yang suram. Langit mendung, tanah basah oleh hujan yang baru reda. Di sana, Alma melihat mamah, Ayah, dan kakak laki-lakinya berdiri terpaku di hadapan sebuah nisan.

Tubuh Alma bergetar hebat. Matanya membelalak, dadanya terasa dihantam sesuatu yang jauh lebih menyakitkan dari kematian.

Ayahnya, lelaki yang selalu berdiri tegap dengan kebanggaan, kini tampak rapuh. Pundaknya membungkuk, dan tatapannya kosong. Bahkan untuk berdiri pun, ia tampak berjuang keras. Mamahnya yang selalu tampil anggun dan kuat, kini kehilangan cahayanya. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus, sorot matanya mati. Kakaknya, satu-satunya saudara laki-laki yang selalu menjaganya... kini tampak kacau, berantakan, seperti seseorang yang kehilangan arah hidup.

Ketiganya menunjukkan ekspresi yang sama. Kosong, hancur, penuh keputusasaan. Pandangan yang menusuk hingga ke tulang.

Bagaimana tidak... mereka kehilangan orang yang paling mereka cintai.

Putri mereka. Adik mereka. Alma.

Air mata Alma jatuh, deras dan tanpa jeda. Tangisnya pecah dalam diam. Air mata itu tak pernah habis keluar dari pelupuk matanya. Dia menangis untuk mereka. Untuk rasa bersalah yang tak tertahankan, untuk luka yang tak akan sembuh.

Namun proyektor itu belum berhenti menyiksanya.

Tiba-tiba, layar berganti ke tempat lain. Sebuah toko buku. Di sana, tampak banyak gadis mengantri dengan ekspresi penuh antusiasme.

Beberapa gadis keluar dengan senyum puas sambil memegang sebuah buku. Judulnya: "MY LOVELY JASMINE", tertulis dengan huruf kapital besar dan mencolok.

Para gadis remaja itu tertawa dan mengobrol penuh semangat.

"Sudah lama aku mengincar novel ini. Setiap pre-order selalu kehabisan, itu membuatku sangat kesal."

"Ya, novel onlinenya benar-benar jadi topik terhangat. Banyak juga yang minat versi cetaknya."

"Aku paling suka dengan karakter Jasmine dan Kaiden. Jasmine yang baik hati dan polos, Kaiden yang dingin tapi posesif. Mereka memang cocok. Sayang nggak ada sekuel untuk Calvin dan Leon."

"Di pertengahan bab, aku sampai menangis. Sedikit kasian dengan karakter Alma. Meskipun cuma figuran, tapi author terkesan kejam."

"Ah, aku ingat karakter itu. Sungguh malang. Ketika dia ingin menolong, malah disalahartikan."

"Yah, bisa jadi pelajaran juga. Fitnah itu kejam. Bisa membunuh seseorang."

"Benar. Prilaku Leon juga tidak bisa diterima. Harusnya dia cari tahu dulu sebelum bertindak."

"Hahaha, kita berbicara seolah ini kejadian nyata saja."

"Kau benar. Padahal ini cuma sebuah novel."

"Hahahaha..."

Alma membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

Apa...? Apa yang mereka katakan...?

Bagaimana orang-orang di dalam layar itu tahu semua kejadian yang telah ia alami? Setiap rasa sakit, setiap siksaan, setiap tetes darah dan air mata... semua tahu?

Novel? Maksud mereka... dia hanyalah karakter dalam sebuah cerita?

Bukan nyata?

Seluruh dunia Alma runtuh dalam satu kalimat sederhana: "Padahal ini cuma sebuah novel."

Itulah yang ia tangkap dari pembicaraan para gadis di dalam layar itu.

"Hahahah....HAHAHAHHAHAHHAHAHAHAH! Bagaimana...?"

Tawanya meledak. Namun bukan tawa bahagia. Melainkan tawa putus asa. Tawa yang diliputi luka dan kehancuran.

"Jadi selama ini... semua kehidupanku hanya... palsu? Semua rasa sakit ini... cuma tulisan tangan seseorang?"

Suaranya pecah. Dada Alma seperti tercekik oleh kenyataan pahit yang menusuk hingga ke dasar jiwanya.

"Kenapa... KENAPAAAA!!!" Dia menjerit dengan frustasi. Tapi tak ada yang akan mendengar jeritannya. Tak akan pernah ada.

"KENAPA HARUS AKU YANG MENANGGUNG SEMUA INI!"

Tangisnya mengguncang dunia kosong itu. Rasa pilu, amarah, dan keputusasaan bercampur menjadi satu.

"Tidak bisakah aku menjalani hidup dengan damai?! Kenapa untuk kebahagiaan orang lain... harus aku yang dikorbankan?!"

"Aku juga ingin hidup. Aku juga ingin bahagia!"

Dia bahkan belum sempat melihat keluarganya untuk terakhir kalinya.

"Tolong... tolong aku... AKU MOHON, TOLONG AKU. AKU INGIN HIDUP. SIAPAPUN TOLONG AKU!!!"

Ia tidak tahu kepada siapa ia memohon. Tidak tahu siapa yang akan mendengar. Tapi ia hanya ingin melepaskan semua luka, semua jeritan hati yang selama ini terkubur.

Dan tepat setelah jeritan terakhirnya pecah...

Tempat itu mulai bercahaya. Cahaya yang sangat terang, menyilaukan, menyakitkan mata. Cahaya itu perlahan menyelimuti dirinya, menelan tubuhnya seolah menariknya ke suatu tempat lain.

Alma harus menutup matanya, karena cahaya itu terlalu menyilaukan

🥀🥀🥀

Begitu kelopak matanya terbuka kembali. Yang menyambut pandangannya adalah langit-langit bercat putih gading, dengan ornamen bunga-bunga pastel yang samar tergambar di dinding sekelilingnya. Aroma mawar segar dan vanila menggantung di udara, seperti aroma yang selalu ia hirup setiap pagi. Aroma kamar nya.

Matanya membulat.

Perlahan ia menoleh. Sebuah jendela besar dengan tirai ganda berwarna peach dan putih menyambutnya. Lemari kayu gading di pojok ruangan penuh dengan tumpukan buku yang tersusun rapi. Dan di atas tempat tidur, duduk dengan manis boneka kelinci kecil berwarna krem, hadiah dari kakaknya.

"Ini... kamarku?" gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.

Tangannya bergetar ketika ia meraih selimut yang menyelimuti tubuhnya. Jari-jarinya mencubit kulit di lengan kirinya, kuat, cukup untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi, bukan halusinasi akibat trauma atau kematian.

"Akh..." Rasa sakit itu nyata.

Dia bangkit dengan tergesa, hampir terjatuh karena kaki yang masih lemas. Tubuhnya berbalik ke kanan, dan tatapannya terpaku pada cermin besar yang menempel di dinding. Cermin yang dulu selalu ia hindari, karena setiap kali menatapnya, ia hanya melihat pecahan-pecahan dirinya yang telah dihancurkan oleh mereka.

Tapi kini...

Alma tertegun.

Wajahnya... tidak ada luka. Tidak ada bekas luka bakar yang mencemari pipinya. Tangannya yang kini terbuka lebar, karena gaun tidur tanpa lengan yang ia kenakan tidak menampakkan satu pun lebam atau luka gores. Rambut panjangnya... masih utuh, jatuh dengan lembut di bahunya, mengkilap dan sehat seperti dulu.

"Tidak mungkin..." bisiknya. "Ini tidak masuk akal."

Dengan jantung yang berdegup liar, ia melangkah tergesa ke meja belajar. Ia mengaduk-ngaduk isi lacinya, mencari benda yang bisa memberinya jawaban. Ponselnya.

Ditemukannya benda persegi itu di laci paling atas. Dengan tangan yang gemetar, dia membuka layar kunci.

"02 Juni 2023"

Dunia seakan berhenti.

Napasnya tercekat. Ia membaca ulang tanggal itu sekali lagi, lalu duduk perlahan di kursi belajarnya. Mata terbelalak, bibir gemetar.

"...Hahahahahaha…." Tawa itu meluncur pelan dari tenggorokannya, seperti bisikan yang meledak menjadi kegilaan kecil. "Apa-apaan ini…? Ini… apa ini nyata?"

Dia memejamkan mata erat-erat, mencoba mengingat dengan jelas hari terakhir sebelum semuanya berubah. Ya. Ini adalah titik awal dari semuanya. Titik di mana kehidupannya masih tenang…

Sebelum tragedi itu datang lebih cepat dari yang ia perkirakan. Menghancurkannya tanpa ampun.

Tangannya perlahan menyentuh sebuah kotak kecil di atas meja. Di dalamnya, ada pernak-pernik buatan tangannya. Manik-manik dan gantungan kunci yang ia rancang sendiri, untuk dibagikan kepada anak-anak panti asuhan saat kunjungannya Minggu depan.

Air matanya mengalir tanpa sadar.

"Tuhan… apa ini... keajaiban?" bisiknya lirih. "Apa Kau memberiku kesempatan lagi... hanya untuk hidup... atau untuk memperbaiki semuanya?"

Namun sesaat kemudian, matanya berubah. Dingin. Tajam. Tekad perlahan menyelimuti tatapannya yang semula penuh ketidakpercayaan.

"Bukan hanya memperbaiki," gumamnya penuh ketegasan. "Aku... akan membalas mereka. Satu per satu."

Kemarahan, kesedihan, dan dendam yang selama ini membusuk dalam hatinya kembali bangkit. Ia telah mati. Mereka telah menghancurkannya. Namun kini, ia kembali. Dengan tubuh yang utuh, waktu yang berputar ulang, dan ingatan yang tajam.

"Aku akan buat kalian merasakan apa yang aku rasakan..." bisiknya dengan suara rendah, nyaris seperti mantra. "Kalian pikir kalian menang? Tidak. Permainan ini baru saja dimulai."

Ia berdiri. Dengan tatapan tajam ke arah cermin, Alma menatap pantulan dirinya sendiri. Senyum kecil mengembang di wajahnya. Senyum yang tidak lagi polos dan lugu seperti dulu. Kini, dia adalah seseorang yang berbeda.

"Aku Alma Romily Morrison. Dan kali ini... aku yang memegang kendali."

1
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!