"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Topeng di Meja Perjamuan
Restoran bernuansa Jawa klasik itu terasa begitu tenang, berbanding terbalik dengan gemuruh di dada Imam. Malam ini, ia mengenakan batik terbaiknya. Di usianya yang sudah berkepala lima, Imam masih tampak gagah, meski gurat lelah dan beberapa helai rambut putih tak bisa menyembunyikan usianya.
Di sampingnya, Ameera, putri tunggalnya, tak berhenti tersenyum manis. Gadis itu berkali-kali merapikan kebaya modernnya, tampak sangat gugup sekaligus bahagia. Malam ini adalah acara perkenalan keluarga sebelum khitbah resmi dilaksanakan.
"Papa, penampilanku sudah oke, kan? Ray bilang ibunya sangat tepat waktu. Aku tidak mau memberikan kesan pertama yang buruk," bisik Ameera, jemarinya yang dingin meremas pelan lengan kemeja yang Imam kenakan.
Imam tersenyum lembut, menepuk punggung tangan putrinya. "Anak Papa selalu cantik. Tenang saja, calon mertuamu pasti akan langsung menyukaimu." ucap Imam menenangkan.
Tepat saat kalimat itu selesai diucapkan, pintu geser ruang VIP terbuka. Seorang pemuda tampan dengan kemeja tenun senada dengan kebaya yang dikenakan Ameera melangkah masuk. Itu Rayhan, calon menantu Imam.
"Selamat malam, Om," sapa Rayhan sopan, membungkuk hormat lalu menjabat tangan Imam dengan mantap. "Maaf membuat menunggu. Tadi sempat terjebak macet sebentar." Imam memberikan alasan.
"Ah, tidak apa-apa, Nak Rayhan. Kami juga baru sampai," jawab Imam ramah.
Rayhan kemudian berbalik, memberi jalan bagi wanita yang berjalan di belakangnya. "Om Imam, Ameera... perkenalkan, ini Ibu saya."
Imam mengulas senyum, bersiap mengucapkan salam yang sudah ia latih sejak sore. Namun, kalimat itu mendadak menguap di udara. Lidahnya mendadak kelu. Seluruh pasokan oksigen di sekitar Imam seolah tersedot habis dalam satu detik.
Wanita yang berdiri di hadapannya mengenakan gamis brokat berwarna marun yang anggun, dipadukan dengan hijab senada. Wajahnya masih secantik dulu, hanya menyisakan sedikit kerutan halus di sudut mata. Mata itu... sepasang mata yang puluhan tahun lalu menangis di pelukan Imam sebelum menghilang tanpa jejak.
Habibah.
Dunia seolah berhenti berputar. Suara petikan kecapi yang menjadi latar belakang restoran mendadak samar. Pikiran Imam langsung terlempar ke masa seperempat abad tahun yang lalu. Masa di mana stasiun kereta menjadi saksi perpisahan tragis mereka, saat kemiskinan Imam membuatnya dipaksa mundur oleh keluarga Habibah.
Habibah pun membeku. Pegangannya pada tas jinjingnya mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya terkunci pada manik mata Imam. Ada kilatan syok, luka lama, dan rindu yang menyeruak bergantian di balik pelupuk matanya yang mulai berkaca-kaca.
Imam? Pria paruh baya di depannya ini... adalah Imam-nya?
"Ibu? Ibu tidak apa-apa?" Suara Rayhan memecah keheningan yang mencekam itu. Rayhan menyentuh pundak ibunya yang mendadak kaku seperti patung.
Sentuhan itu seperti sengatan listrik. Habibah adalah wanita yang kuat. Puluhan tahun menjadi orang tua tunggal setelah suaminya meninggal membuatnya terlatih menyembunyikan badai. Dengan kecepatan luar biasa, ia menarik napas dalam, memaksakan sebuah senyuman tipis, lalu menguasai keadaan.
"Ah, iya. Ibu tidak apa-apa, Ray. Hanya sedikit pusing karena AC mobil tadi," bohong Habibah, suaranya agak bergetar namun terdengar meyakinkan di telinga anak-anak muda itu.
Imam pun bukan pria amatir. Sebagai seorang ayah yang sangat menyayangi Ameera, ia tahu satu gerakan salah malam ini bisa menghancurkan kebahagiaan putrinya. Imam menelan ludah, memaksakan senyum formal terbaiknya, dan mengangguk.
"Mari, silakan duduk, Jeng Habibah... Nak Rayhan," ucap Imam. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri saat menyebut nama wanita itu dengan embel-embel 'Jeng'.
Perjamuan makan malam dimulai. Di meja itu, Ameera dan Rayhan sibuk bertukar cerita tentang rencana pernikahan mereka, sesekali tertawa kecil menceritakan bagaimana mereka pertama kali bertemu di kantor.
Namun, di bawah meja, dua pasang tangan milik Imam dan Habibah sama-sama gemetar.
Mereka duduk berhadapan. Setiap kali mata mereka tidak sengaja beradu, ada pesan tak bersuara yang saling melempar tanya. 'Bagaimana kabarmu? Mengapa takdir membawa kita kembali seperti ini? Apakah kamu masih membenciku?'
"Om Imam ini asalnya dari kota yang sama dengan Ibu, lho. Waktu aku cerita Om Imam dari kota S, Ibu langsung diam terus tadi di mobil," celetuk Rayhan santai sambil memotong daging di piringnya.
Ameera ikut menimpali dengan mata berbinar. "Eh, benarkah, Tante? Wah, jangan-jangan Papa dan Tante dulu satu sekolah?" ucap Ameera sekenanya.
Deg.
Jantung Imam berpacu dua kali lebih cepat. Ia melirik Habibah, yang saat itu juga sedang menatapnya dengan tatapan penuh permohonan—seolah memohon agar Imam tidak membongkar kotak pandora yang telah mereka kubur dalam-dalam.
Imam berdehem, mencoba tersenyum sealami mungkin. "Ah, benarkah? Kota S kan luas, Meera. Papa rasa... Papa belum pernah bertemu Jeng Habibah sebelumnya."
Habibah mengembuskan napas perlahan, ada binar kecewa sekaligus lega di matanya. "Iya, Ray, Ameera. Tante rasa juga begitu. Dunia memang sempit, tapi tidak sesempit itu."
Makan malam pun selesai dengan sandiwara yang sempurna. Kedua anak muda itu tampak sangat bahagia melihat orang tua mereka terlihat 'akrab' dan menyetujui hubungan mereka.
Saat berpamitan di lobi restoran, Rayhan dan Ameera berjalan agak di depan untuk mengambil mobil di lobi. Memanfaatkan celah beberapa detik itu, Imam mempercepat langkahnya, berjalan bersisian dengan Habibah.
Tanpa menoleh, dengan suara yang sangat rendah namun sarat akan penekanan, Imam berbisik, "Kita harus bicara, Bah. Besok. Tanpa anak-anak."
Habibah menghentikan langkahnya sejenak, menatap punggung Imam yang berjalan mendahuluinya. Setitik air mata yang sejak tadi ia tahan, akhirnya luruh di pipinya.
Bagaimana mungkin ia bisa merestui pernikahan anaknya, jika setiap kali melihat menantunya nanti, ia akan selalu teringat pada pria yang paling dicintainya seumur hidup?
**
Kebohongan malam itu rupanya menguras habis seluruh energi yang mereka miliki. Begitu pintu mobil tertutup dan mesin dinyalakan, baik Imam maupun Habibah sama-sama banyak diam di dalam mobil. Jalanan kota yang padat merayap tertangkap oleh sorot lampu jalanan, namun pikiran kedua paruh baya itu terbang jauh ke masa lalu.
"Papa lelah, ya?" tanya Ameera lembut dari balik kemudi. Ia sesekali melirik sang ayah yang menyandarkan kepala ke kaca jendela, menatap kosong deretan ruko yang berputar di luar. "Maaf ya, Pa, kalau acaranya terlalu formal. Tapi Ameera senang banget, ternyata Tante Habibah orangnya baik dan anggun sekali."
Imam hanya bergumam samar sebagai jawaban. Tangannya yang bebas meremas lututnya sendiri.
Anggun. Ya, Habibah selalu anggun. Bahkan dua puluh lima tahun lalu, saat wanita itu terisak di bawah guyuran hujan stasiun, memohon agar Imam tidak melepaskan genggaman tangannya, Habibah tidak pernah kehilangan martabatnya.
"Kenapa harus sekarang, Bah?" batin Imam menjerit pedih.
Selama puluhan tahun, Imam mengira luka itu sudah mengering, berubah menjadi parut yang mati rasa setelah ia menikah dengan mendiang istrinya dan membesarkan Ameera. Namun malam ini, hanya dengan satu tatapan dari mata itu, seluruh benteng pertahanan yang ia bangun runtuh tak bersisa. Detak jantung yang ia rasakan saat berhadapan dengan Habibah tadi adalah detak jantung yang sama dengan pemuda miskin tiga puluh tahun lalu—penuh rindu, sekaligus rasa bersalah yang teramat dalam.
"Pa? Papa dengar aku, kan?"
Imam tersentak, lalu memaksakan segaris senyum. "Iya, Meera. Papa dengar. Papa cuma... agak mengantuk." dusta Imam. Tanpa sadar Imam meletakkan telapak tangannya di dada, dan detak itu......
****