NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Uang Mengubah Segalanya

Plafon tripleks berjamur itu menatapnya balik. Fais mengerjap pelan.

Angin pagi menerobos celah ventilasi. Membawa bau comberan sisa hujan semalam.

Napasnya teratur. Terlalu teratur. Rongga dadanya tidak lagi berderit seperti engsel reyot setiap kali ia menghirup udara.

Semalam pasti cuma halusinasi. Pasti. Otaknya yang kelelahan pasti meledak sesaat karena dipaksa kerja rodi tujuh hari berturut-turut tanpa nutrisi layak.

Pasti karena kurang tidur. Ya, itu sangat logis.

Ia meraba saku celana kainnya yang basah oleh keringat dingin. Benda persegi panjang itu masih ada. Dingin dan keras.

Tarik napas. Buang. Tarik napas lagi.

Jari kasarnya yang sekarang entah kenapa terasa jauh lebih liat itu mengusap layar. Membuka aplikasi perbankan. Aplikasi sialan yang biasanya hanya ia buka sebulan sekali untuk melihat saldo sisa lima puluh ribu rupiah yang tidak bisa ditarik.

Layar memutar logo hijau. Sinyal jelek keparat.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Lalu angka itu muncul. Tidak kurang satu nol pun dari apa yang ia lihat di pinggir jalan semalam.

Rp1.000.000.000.

Satu miliar.

Ponsel itu nyaris menabrak ubin semen kamarnya. Tangannya bergetar hebat. Bergetar. Bergetar kencang sampai sendi pergelangannya terasa mau putus.

Bukan mimpi. Ini sama sekali bukan mimpi. Uang kotor dari neraka mana ini sebenarnya?

Ia meletakkan ponsel itu perlahan ke lantai. Takut menyentuhnya. Takut angka itu berubah kembali menjadi puluhan ribu jika disentuh terlalu kasar.

Fais mengusap wajahnya. Kulitnya terasa berbeda. Lebih kencang. Lebih kokoh.

Ia bangkit berdiri. Tiba-tiba ia sadar sepenuhnya.

Pinggangnya tidak menjerit minta ampun. Lututnya tidak berderit. Beban berton-ton semen yang kemarin menghancurkan urat punggungnya lenyap menguap. Kosong tanpa sisa.

Ia melangkah ke cermin retak di pojok kamar.

Matanya tidak sayu lagi. Posturnya tegap. Otot di balik kaus oblong robeknya terasa padat secara aneh. Seperti baru disuntik beton cair semalaman.

Peningkatan fisik. Sistem bajingan itu tidak berbohong.

Setengah jam kemudian, ia berdiri di depan meja kasir rumah sakit umum daerah. Bau karbol menyengat hidungnya, bercampur aroma keputusasaan dari puluhan pasien yang antre sejak subuh.

"Total tunggakan rawat inap ayah Anda delapan belas juta," ucap perawat di balik kaca pelindung itu datar.

Matanya menatap jijik ke arah jaket kusam Fais. Tatapan yang sama yang selalu ia terima selama bertahun-tahun. Tatapan merendahkan. Tatapan yang menganggapnya serangga pengganggu fasilitas kelas menengah.

Tapi Fais tidak menunduk hari ini. Tidak seperti biasanya.

Dulu, ia pasti akan menggosok kedua tangannya, memelas meminta keringanan waktu untuk mencicil.

"Bayar pakai kartu." Fais menyelipkan kartu ATM usangnya melewati lubang kaca. Suaranya tidak bergetar.

Perawat itu menaikkan alis. Sangat tinggi. Ia menggesek kartu itu dengan gerakan malas ragu-ragu. Menunggu mesin menolak transaksi seperti yang sudah-sudah.

Mesin EDC berbunyi nyaring. Struk kertas keluar berderit.

Lunas.

Mata perawat itu menganga. Mulutnya sedikit terbuka menatap Fais seolah ia baru saja berubah wujud menjadi mutan.

Fais hanya tersenyum tipis. Sangat sinis.

Uang sungguh bisa menampar mulut orang di gedung ini. Bahkan bisa membeli rasa hormat dadakan dalam dua detik.

Ia berbalik pelan. Menuju apotek rawat jalan. Menebus resep obat ayahnya yang tertunda dua bulan. Resep obat jantung impor yang harganya bisa buat makan keluarganya sebulan penuh.

Lalu ia keluar dari gedung itu. Mampir ke rumah makan di ujung jalan. Membeli lima bungkus rendang ukuran besar. Daging sapi asli. Bukan kuah sisa bercampur sayur layu.

Daging. Daging. Daging.

Perutnya mendadak keroncongan liar. Air liurnya membanjiri mulut hanya dengan mencium uap rempah itu.

Pintu rumah kontrakannya yang lapuk berderit terbuka panjang. Aroma makanan langsung menjajah ruang tamu yang sempit dan sumpek itu.

Ibunya sedang duduk di lantai semen tanpa alas. Melipat tumpukan kardus bekas dengan tangan gemetar.

"Ibu," panggil Fais pelan.

Wanita tua itu mendongak. Matanya merah dan bengkak. Garis kelelahan tergambar tajam di setiap lekuk wajah tuanya.

Fais berjalan mendekat. Ia meletakkan kantong plastik berlogo rumah sakit di atas meja kayu reyot. Di sebelahnya ia susun bungkusan makanan itu.

Ibunya menatap barang-barang itu lama. Tangan keriputnya berhenti melipat kardus seketika.

"Fais... ini apa?" Suaranya bergetar parau.

"Obat Bapak, Bu. Sama makanan. Buat kita makan hari ini."

Ibunya berdiri perlahan dengan susah payah. Menghampiri meja itu seolah ada bahan peledak aktif di sana.

Tangannya ragu-ragu menyentuh plastik obat. Ia melihat deretan kotak obat paten di dalamnya. Lalu ia melihat secarik struk pembayaran yang sengaja Fais letakkan di atasnya.

Lunas. Delapan belas juta.

Air mata langsung tumpah ruah dari sudut mata wanita itu. Bendungan penderitaan itu hancur berantakan di depan kertas struk.

"Dari mana uang sebanyak ini?" Ibunya berbalik mendadak. Mencengkeram kedua lengan Fais erat-erat. "Kau tidak mencuri, kan? Kau tidak merampok di luar sana? Jawab Ibu jujur!"

Kuku ibunya menancap kuat, mencoba menusuk kulit Fais. Tapi anehnya, Fais sama sekali tidak merasa sakit. Dagingnya terlalu kebal menahan tekanan kuku tua itu.

Fais menelan ludah. Kepalanya berputar cepat. Mencari narasi fiktif paling rasional untuk menutupi layar biru keparat semalam.

"Aku dapat bonus proyek, Bu. Mandor kasih uang muka lebih. Katanya karena aku lembur seminggu penuh ngerjain target blok sendirian. Bos besar puas."

Itu bohong. Bohong murahan yang dipoles debu jalanan. Mandornya adalah lintah darat yang takkan pernah sudi memberi sepeser pun bonus.

Tapi ibunya terlalu lelah untuk berpikir kritis. Ibunya menangis tersedu-sedu. Menarik tubuh tegap Fais dan merengkuhnya sekuat tenaga.

"Alhamdulillah... syukur ya Tuhan..." gumam ibunya berkali-kali di ceruk bahu Fais. Tangisnya membasahi kerah jaket usang pemuda itu.

Fais hanya berdiri kaku. Tangannya membalas pelukan ibunya dengan gerakan mekanis.

Matanya menatap kosong ke arah tembok berjamur.

Sistem di kepalanya tetap diam. Proyektor kotak emas semalam masih tersembunyi menunggu di sudut otaknya.

Ia baru saja menjual kewarasannya pada entitas gaib yang memberinya miliaran, dan ibunya mengucap syukur pada Tuhan untuk uang itu.

Ironi sinting yang membuat perut Fais mulas sedikit. Tapi peduli setan. Hutang mereka lenyap. Ayahnya punya peluang hidup.

Pukul dua siang. Matahari menyengat buas tepat di atas ubun-ubun, memanggang aspal proyek pembangunan kompleks elit.

Fais memasang helm kuning kotornya. Berjalan santai melewati tumpukan besi beton berkarat yang berserakan.

Ada yang berubah dengan poros dunia hari ini. Setidaknya menurut fisik Fais.

Biasanya udara debu terasa mencekik. Biasanya ia menyeret kaki kirinya yang selalu nyeri kram akibat saraf kejepit. Biasanya punggungnya melengkung seolah memikul karma ribuan tahun.

Sekarang ia berjalan tegak. Sangat lurus.

Dadanya membusung ke depan secara natural. Matanya menatap lurus tajam ke depan bangunan, bukan lagi menunduk pasrah menatap ujung bot rusaknya.

Langkah demi langkah berlalu enteng. Tubuhnya tidak mengeluarkan keringat dingin meski udara panas melelehkan semangat kuli lain. Sengatan matahari serasa hanya usapan kain hangat di lengannya yang keras.

Ia mendekati tumpukan semen. Mengangkat satu sak berat lima puluh kilogram hanya dengan satu tangan kanannya.

Ringan. Serasa mengangkat guling kapuk.

Ia menyambar satu sak lagi dengan tangan kirinya. Berjalan biasa memindahkan barang itu tanpa terengah sedikit pun.

Beberapa pekerja lain berhenti mengaduk pasir. Menganga lebar melihat pemandangan absurd itu. Mereka mengucek mata yang perih kelilipan debu.

Di dekat bedeng seng, pria paruh baya buncit dengan kumis melintang sedang berdiri bertolak pinggang. Mengisap rokok kretek filternya dalam-dalam.

Mata mandor itu menyipit saat melihat Fais berjalan lurus ke arahnya.

Ada yang salah. Mandor itu langsung merasakannya. Insting jalanan pria itu berteriak waspada.

Anak kurus kurang gizi yang biasanya gampang dibentak itu terlihat sepenuhnya berbeda. Auranya mengancam. Urat dan otot di balik kemeja flanel lusuhnya menonjol memamerkan lekuk yang membahayakan.

Fais berhenti tepat satu meter di depan mandor. Menurunkan seratus kilogram semen itu ke tanah serentak tanpa bantingan.

Lalu Fais menatap mata pria buncit itu lekat-lekat. Tanpa berkedip.

"Ada kerjaan lagi hari ini?" tanya Fais tenang.

Suaranya tidak gemetar. Sama sekali tidak ada nada merendah meminta belas kasihan upah. Datar. Mengintimidasi.

Mandor itu terdiam. Bara rokoknya nyaris membakar sela jarinya sendiri tanpa disadari.

1
ghost
novel ga jelas...ga usah di baca
Ironside: Terima kasih /Joyful/, kalau boleh tahu. Apa yang perlu aku perbaiki?
total 1 replies
ghost
novel tolol
Ironside: Oke /Smile/
total 1 replies
Cecilia
up heii, udh nunggu agak lama masih 25 chapter. 200 chapter lah kakk
Ironside: Apa-apaan kamu Kak /Curse/. Aku sedang revisi /Scream/
total 2 replies
Gege
kan bisa turun di ruangan fitness apartemen, lari diatas tritmil Thor...🤣🤣
Ironside: Iya sih /Facepalm/
total 1 replies
Gege
pelit bener systemnya Thor...dimana mana ada system buat memudahkan, dan banyak cheat..hiburan harapan dalam bentuk tulisan yang mengalir ringan..🤣
Ironside: Untuk perkembangan sifat MC juga, karena pengalamannya sebatas tukang bangunan aja 😆.
total 1 replies
Cecilia
mana Insectnya kak
Ironside: Tidak ada /Scream/
total 1 replies
Yui
Akhirnya setelah 3x bulan purnama, author ini bikin nopel yang ada insectnya /Proud//Proud/
Ironside: Sembarangan /Curse//Curse//Curse/, tidak ada insect di sini /Grievance/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!