NovelToon NovelToon
Hanya Bisnis, Sayang

Hanya Bisnis, Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Vanessa_Write

"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."

Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.

Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.

Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Permulaan

Malam itu, aula lelang akbar Grand Opulence dipenuhi oleh kemewahan yang mengintimidasi. Langit-langit tinggi ruangan dihiasi oleh belasan lampu gantung kristal Swarovski yang memantulkan cahaya keemasan, menerangi ratusan tamu dari kalangan elite penguasa finansial global, politisi senior, dan para taipan yang mengendalikan roda ekonomi di balik layar.

Aroma parfum mahal bercampur dengan aroma sampanye premium yang mengalir tanpa batas di atas nampan perak para pelayan berseragam rapi. Di balik dentingan gelas kristal dan alunan musik selo yang megah, terdapat sebuah panggung sandiwara di mana ego, kekuasaan, dan uang dipertaruhkan tanpa belas kasihan.

Di tengah kerumunan yang berkilau itu, Elena Alexander berdiri tegak dengan keanggunan yang memukau. Ia mengenakan gaun malam mermaid dari bahan beludru hitam pekat, yang sengaja dipilih untuk memberikan kontras tajam pada kulit putihnya yang bersih. Sebagai CEO baru dari Luminous Beauty, sebuah takhta yang baru ia duduki selama satu bulan pasca-pengunduran diri paksa dewan direksi lama. Elena tahu betul bahwa setiap pasang mata di ruangan ini sedang menilai dirinya. Mereka melihatnya sebagai mangsa empuk. Seorang wanita muda yang dianggap terlalu hijau untuk memimpin imperium kosmetik dan estetika peninggalan mendiang ayahnya.

Namun, fokus Elena malam ini sama sekali bukan untuk mencari investor atau sekadar beramah-tamah demi memperluas jaringan bisnis. Sepasang mata indahnya terkunci rapat pada sebuah altar kaca antipeluru di tengah panggung lelang utama. Di bawah sorotan lampu sorot putih yang dramatis, seuntai kalung dengan permata biru safir berukuran besar berkilau dengan keindahan yang mistis.

The Blue Seraph.

Jantung Elena berdegup kencang, memompa darahnya dengan ritme yang liar. Gelombang memori masa lalu seketika menghantam dadanya dengan rasa sesak yang luar biasa.

Itu adalah kalung milik mendiang ibunya, perhiasan yang menjadi saksi bisu kebahagiaan masa kecilnya, sekaligus barang berharga yang ikut lenyap tanpa jejak bersamaan dengan misteri hilangnya sang ayah, Alexander, sepuluh tahun yang lalu.

Selama satu dekade, Elena mencari keberadaan kalung ini ke berbagai penjuru dunia, dan melihatnya terpajang di rumah lelang malam ini adalah sebuah kejutan yang sekaligus membawa firasat buruk. Bagaimana mungkin perhiasan yang seharusnya berada di tangan penculik atau pembunuh ayahnya, kini bisa dilelang secara legal di tempat ini?

"Hadirin yang terhormat, kita tiba pada puncak acara malam ini," suara lantang sang kurator lelang menggema melalui pengeras suara, memotong riuh rendah obrolan para tamu dan seketika menciptakan keheningan yang sarat akan ketegangan. "Sebuah mahakarya sejarah, The Blue Seraph. Potongan permata biru safir murni seberat delapan puluh karat yang diikat oleh jalinan platinum berlapis berlian mikro. Kita buka penawaran pertama untuk perhiasan legendaris ini mulai dari angka lima puluh juta dolar."

Beberapa papan penawaran langsung terangkat di barisan depan. Para kolektor barang antik dan istri-istri taipan mulai saling sikut, menaikkan angka dengan selisih jutaan dolar dalam hitungan detik.

Elena menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan tangannya yang terasa sedingin es. Ia mengangkat papan penawarannya dengan gerakan mantap yang menarik perhatian beberapa fotografer media bisnis. "Enam puluh juta dolar."

"Enam puluh juta dolar dari CEO Luminous Beauty!" seru sang kurator, memanaskan atmosfer ruangan. "Ada penawaran yang lebih tinggi?"

"Tujuh puluh juta." Seorang pengusaha minyak dari wilayah barat menaikkan harga.

"Delapan puluh juta," sahut Elena tanpa ragu, suaranya terdengar jernih dan tegas di tengah aula yang luas. Ia tidak peduli jika harus menguras seluruh dana darat pribadinya malam ini. Kalung itu harus kembali ke tangannya. Kalung itu adalah satu-satunya petunjuk fisik yang tersisa dari ayahnya.

Kompetisi mulai menyusut hingga menyisakan Elena dan pria pengusaha minyak tersebut. Ketika angka menyentuh sembilan puluh lima juta dolar, lawan Elena akhirnya menggelengkan kepala, mundur dari pertempuran karena menganggap harga tersebut sudah terlampau tidak rasional untuk seuntai kalung safir.

"Sembilan puluh lima juta dolar untuk penawaran pertama... kedua..." Kurator lelang mengangkat palu kayunya, bersiap untuk mengetuk meja.

Elena mengembuskan napas lega, sebuah kemenangan kecil yang hampir ia dekap di dalam dada. Namun, sebelum palu itu sempat menyentuh permukaan kayu, sebuah suara bariton yang berat, dalam, dan dipenuhi oleh otoritas mutlak menyela dari arah sudut ruangan yang remang-remang.

"Seratus juta dolar."

Seluruh ruangan mendadak hening seketika. Bahkan alunan musik selo di latar belakang seolah berhenti bergetar. Elena tersentak, menoleh dengan cepat ke arah asal suara tersebut, seiring dengan ratusan pasang mata tamu lainnya yang ikut berputar.

Dari balik bayang-bayang pilar marmer besar, seorang pria melangkah maju dengan santai. Pria itu bertubuh tinggi tegap, membingkai sempurna sepasang bahu kokoh di balik setelan tuksedo hitam custom-made yang dijahit dengan sangat presisi. Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas, hidung mancung, dan sepasang mata gelap sedingin malam yang sanggup mengintimidasi siapa saja hanya dengan satu kali tatapan.

Adrian Arsa.

Desas-desus kaget langsung berbisik riuh di antara para penonton. Adrian adalah pemilik tunggal dari Arsa Food Group, sebuah raksasa bisnis multinasional yang gurita usahanya mencakup pasokan logistik global.

Di dunia bisnis, Adrian dikenal sebagai sosok predator berdarah dingin yang tidak pernah melepaskan mangsanya. Pria itu kejam, kalkulatif, dan tidak pernah melakukan apa pun tanpa alasan finansial yang menguntungkan. Mengapa seorang penguasa industri logistik tiba-tiba tertarik pada perhiasan wanita seharga seratus juta dolar?

Elena merasakan amarah yang membara mulai membakar dadanya. Ia kembali mengangkat papannya dengan sentakan kasar. "Seratus sepuluh juta!"

Adrian tidak menunjukkan ekspresi terkejut atau kesal. Ia bahkan tidak melihat ke arah papan penawaran. Matanya yang gelap terkunci lurus pada wajah Elena, menatap wanita itu dengan pandangan menilai yang teramat intens dan dingin. "Seratus lima puluh juta dolar."

Ketukan palu kurator lelang berbunyi tiga kali berturut-turut dalam waktu singkat, seolah sang kurator sendiri takut untuk memberikan ruang negosiasi lebih lama kepada pria seperti Adrian.The Blue Seraph resmi jatuh ke tangan Adrian Arsa dengan angka yang fantastis. Ratusan tamu memberikan tepuk tangan formal, sementara Elena berdiri mematung di tempatnya dengan kepalan tangan yang meremas kuat kain gaun beludrunya hingga kukunya memutih. Adrian baru saja merampas satu-satunya harapan Elena di depan matanya sendiri.

Dengan amarah yang tidak bisa lagi dibendung, Elena membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat meninggalkan aula utama, mengabaikan beberapa kolega bisnis yang mencoba menyapanya. Ia menunggu di koridor sepi yang menghubungkan aula dengan pintu keluar VVIP, tempat di mana ia tahu Adrian pasti akan melintas untuk mengambil barang lelangnya.

Benar saja, kurang dari sepuluh menit kemudian, sosok tegap Adrian muncul di ujung koridor, berjalan dengan langkah kaki yang konstan dan berwibawa, diikuti oleh asisten pribadinya yang membawa kotak beludru hitam berisi kalung tersebut.

Elena melangkah maju, menghadang jalur jalan Adrian tepat di tengah koridor yang sunyi. "Apa maumu, Tuan Arsa?" tuntut Elena, suaranya bergetar hebat menahan badai emosi yang meluap-luap. "Kamu tahu persis kalung itu milik keluargaku. Kamu tahu sejarah di balik perhiasan itu! Kenapa kamu sengaja menggunakan kekuasaan dan uangmu hanya untuk merebutnya dariku?"

Adrian menghentikan langkah kakinya tepat dua langkah di depan Elena. Ia memberikan isyarat tangan yang halus kepada asistennya untuk menjauh, menyisakan mereka berdua di koridor berlantai marmer tersebut. Adrian melangkah satu senti lebih dekat, berdiri menjulang di depan Elena hingga bayangan tubuhnya seolah mengurung tubuh ramping wanita itu. Aroma maskulin parfumnya yang mahal bercampur aroma tembakau tipis langsung memenuhi indra penciuman Elena, menciptakan sensasi intimidasi yang pekat.

Adrian menundukkan kepalanya sedikit, menatap langsung ke dalam manik mata indah Elena yang sedang menyala penuh amarah. "Aku tidak sedang merebutnya, Nona Alexander," ucap Adrian dengan suara baritonnya yang rendah, mengalun pelan namun memiliki tekanan yang luar biasa. "Aku sedang mengamankannya dari tangan orang yang salah... dan di saat yang sama, aku sedang mengamankan nyawamu dari takdir yang mengerikan."

Elena mengernyitkan dahi, bingung sekaligus merasa terancam oleh teka-teki yang dilontarkan pria itu. "Apa maksudmu—"

Sebelum Elena sempat menyelesaikan kalimatnya, Adrian sudah menegakkan kembali tubuhnya, berbalik dengan anggun, dan berjalan pergi meninggalkan Elena sendirian di koridor yang sepi. Kalimat misterius itu terus bergema di kepala Elena, menandai awal dari benang merah berbahaya yang kini mulai mengikat takdir mereka berdua.

......BERSAMBUNG......

1
Bu Dewi
seru kak alur ceritanya😍😍😍👍
VanessaJournal: terima kasih atas support nya kak! 😊🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!