Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.
Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.
Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 Rumah yang Tak Pernah Menjadi Rumah
Setelah hampir satu jam berada di ruang BK, akhirnya Sebasta dan Ela diperbolehkan keluar. Guru BK bahkan terlihat sudah terlalu lelah untuk memberi ceramah panjang pada mereka.
“Lain kali kalau mau perang jangan di depan satu sekolah,” gerutu guru itu sebelum menyuruh mereka pergi.
Ela berjalan keluar lebih dulu tanpa memedulikan siapa pun. Baru beberapa langkah meninggalkan ruang BK, sebuah suara memanggilnya.
“Dariela.”
Ela menoleh dan mendapati Miss Nisa, wali kelasnya, sedang berdiri sambil membawa map biru.
“Kamu ikut lomba ice skating antar sekolah minggu depan, kan?” tanya wanita itu lembut.
Ela mengangguk kecil.
Miss Nisa tersenyum tipis lalu menyerahkan sebuah amplop putih.
“Ini undangan untuk orang tua. Sekolah berharap minimal ada salah satu keluarga yang datang.”
Tangan Ela menerima amplop itu pelan.
Ia hanya diam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil.
“Baik, Miss.”
Namun dalam hati, Ela tahu semuanya hanya akan sia-sia.
Ayahnya tidak akan datang.
Dan seperti biasa, yang akan duduk menonton penampilannya nanti kemungkinan hanya Amora seorang.
Sudah biasa.
Sejak umur sebelas tahun, Ela tinggal di rumah oma dan opanya, terpisah dari keluarga utama Raespati. Alasannya sederhana: agar tidak terlalu sering terlihat di rumah utama.
Dan sejak saat itu pula, bertemu Damir Rendra Raespati bukan hal mudah lagi bagi Ela. Bahkan untuk sekadar berbicara dengan ayah kandungnya sendiri, ia harus membuat janji terlebih dahulu melalui sekretaris pribadi Damir.
Lucu sekali hidupnya.
Seorang anak yang harus membuat janji untuk bertemu ayahnya sendiri.
Saat jam sekolah selesai, Ela berjalan menuju area parkiran. Matanya menangkap sosok Damar yang baru saja hendak masuk ke mobil keluarga.
“Damar,” panggil Ela pelan.
Damar menoleh lalu tersenyum hangat seperti biasanya.
“Iya?”
Ela menggenggam tali tasnya pelan.
“Apa hari Sabtu ayah ada waktu?”
Pertanyaan itu membuat senyum Damar sedikit memudar.
“Yah… sayang banget, Sabtu depan kita semua ke Puncak.”
Ela terdiam.
Damar melanjutkan dengan nada hati-hati,
“Buat ngerayain ulang tahun Dhiajeng Kaluna Raespati.”
Dhiajeng Kaluna Raespati.
Anak bungsu keluarga Raespati yang sangat disayang semua orang.
“Apa kamu nggak dikasih tahu Mbok Tuti?” tanya Damar lagi.
Mbok Tuti adalah pelayan lama keluarga Raespati yang sekarang bekerja di rumah oma tempat Ela tinggal.
Ela menggeleng kecil.
“Aku belum dikasih tahu.”
Ia tersenyum tipis meski terasa hambar.
“Aku kira perayaannya di rumah seperti biasa.”
Damar terlihat merasa tidak enak.
“Maaf ya, Ela…”
“Nggak apa.” Ela menggeleng pelan. “Nanti aku coba telepon ayah aja.”
Damar mengangguk lalu tersenyum kecil.
“By, Ela.”
“Hmm.”
Ela membalas senyum itu sebelum berbalik pergi.
Namun setelah punggung gadis itu menghilang dari pandangan, senyum Damar perlahan lenyap. Digantikan tatapan datar penuh pikiran yang sulit dijelaskan.
Karena sebenarnya… Damar tahu jelas kalau Damir mungkin tidak akan menjawab telepon Ela.
Malam mulai turun ketika Ela sampai di rumah besar milik oma dan opanya. Rumah itu sangat besar, terlalu besar untuk ditinggali sendirian.
Oma dan opa sedang berada di rumah utama keluarga Raespati sejak tiga hari lalu.
Amora pergi les.
Dan para pelayan diberi libur bergantian.
Artinya malam ini hanya ada Ela seorang diri di rumah itu.
Ela meletakkan tas sekolahnya di sofa lalu mengikat rambut panjangnya asal sebelum mengambil alat kebersihan.
Ya.
Sang putri es yang terkenal dingin dan arogan itu sekarang sedang membersihkan rumah besar sendirian.
Menyapu.
Mengepel.
Membersihkan kaca.
Merapikan ruang tamu.
Semua itu sudah menjadi rutinitas Ela tiga kali seminggu untuk mendapatkan uang saku tambahan dari omanya.
Kalian mungkin berpikir, kenapa ia tidak meminta uang pada ayahnya saja?
Sebenarnya Damir tetap mengirim uang setiap bulan untuk kebutuhan Ela. Namun oma sengaja mengambil alih semuanya dan memberi Ela seperlunya saja.
Tujuannya hanya satu.
Agar Ela tidak terlalu sering menghubungi Damir.
Mungkin terdengar kejam.
Tapi di keluarga itu, kehadiran Ela memang dianggap kesalahan terbesar.
Karena tujuh belas tahun lalu, saat identitas Ela terbongkar, Lavanya—ibu tirinya—sempat mengalami pendarahan hebat akibat syok dan hampir kehilangan nyawanya bersama bayi yang dikandungnya.
Sejak saat itu, hampir semua orang menyalahkan Ela atas kejadian tersebut.
Padahal saat itu… Ela bahkan belum mengerti apa-apa.
Suara sapu berhenti ketika Ela menatap pantulan dirinya di kaca besar ruang tamu.
Sunyi.
Rumah itu terlalu sunyi.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, senyum kecil yang tadi ia tunjukkan pada Damar benar-benar hilang tanpa sisa.