Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Dan Kematian
POV Aluna
Gaun putih ini terasa terlalu berat untukku.
Bukan karena kainnya.
Tapi karena semua yang menyertainya.
Aku berdiri di depan cermin, menatap pantulan diriku sendiri dengan mata yang nyaris tak mengenali siapa wanita itu.
Aluna Maharani.
Seorang gadis desa… yang hari ini akan menikah dengan pria dari dunia yang bahkan tak pernah berani aku impikan.
Zayn Devandra.
Namanya saja sudah cukup membuatku merasa kecil.
“Aluna…”
Suara ayah terdengar dari balik pintu. Berat. Pelan. Tidak seperti biasanya.
Aku segera berbalik dan membuka pintu.
Ayah berdiri di sana, mengenakan pakaian terbaik yang ia punya. Tapi wajahnya… pucat. Terlalu pucat.
“Ayah…?”
Aku menggenggam tangannya. Dingin.
“Ayah tidak apa-apa,ayah baik baik saja?” tanyaku khawatir.
Ia tersenyum, tapi matanya… penuh sesuatu yang tidak bisa kuartikan.
“Cantik,” gumamnya lirih. “Anak ayah… sudah sebesar ini.”
Dadaku menghangat… sekaligus sesak.
“Ayah kenapa bicara seperti itu…” aku tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana, walau hatiku tiba-tiba tak tenang.
Ayah mengelus kepalaku pelan.
Sentuhannya terasa lebih lama dari biasanya.
“Dengarkan ayah baik-baik, Aluna…”
Nada suaranya berubah.
Serius. Dalam. Seolah waktu kami sangat terbatas.
Aku mengernyit. “Ayah…?”
“Kalau nanti terjadi apa-apa setelah pernikahan ini… kamu harus kuat nak”
Jantungku langsung berdegup tidak nyaman.
“Terjadi apa maksudnya? Ayah tolong jangan bicara seperti itu, hari ini hari pernikahan ku,hari dimana ayah inginkan…”
Tapi ayah tidak menjawab.
Ia hanya menatapku… lama. Terlalu lama.
Seolah sedang menyimpan wajahku untuk terakhir kalinya.
Pernikahan itu berlangsung megah.
Termegah yang pernah kulihat.
Lampu-lampu kristal, gaun mahal, tamu-tamu dengan pakaian elegan… semua terasa seperti mimpi.namun terlihat intim dan tertutup
Mimpi yang terlalu tinggi untuk seorang Aluna.
Di sampingku, Zayn Devandra berdiri tegak.
Tampan. Dingin. Tak tersentuh.
Bahkan sejak awal acara… ia tidak pernah benar-benar menatapku.
Aku hanyalah wanita yang berdiri di sampingnya.
Bukan seseorang yang ia inginkan.
Ijab kabul berlangsung lancar.
Satu kalimat… dan semuanya berubah.
Aku resmi menjadi istrinya.
Istri dari pria yang bahkan tidak kukenal.
Hatiku bergetar.
Bukan hanya karena gugup…
tapi karena harapan kecil yang diam-diam tumbuh.
Mungkin… semuanya akan baik-baik saja.
Tapi harapan itu hancur… bahkan sebelum sempat tumbuh.
“ ALUNA!”
Suara panik itu memecah suasana.
Aku menoleh.
Seorang kerabatku berlari dengan wajah pucat.
“ayahmu…!”
Dunia seakan berhenti.
Kakiku bergerak sebelum pikiranku sempat mencerna.
Aku berlari.
Menarik gaun panjangku tanpa peduli.
“Ayah?!”
Tubuh ayah tergeletak di ruangan samping.
Diam. Tak bergerak.
“Ayah…?” suaraku bergetar.
Aku jatuh berlutut di sampingnya, mengguncang bahunya pelan.
“Ayah bangun… Ayah…”
Tidak ada jawaban.
Tanganku mulai gemetar.
“Ayah… jangan bercanda… Ayah…”
Air mata mulai jatuh tanpa bisa kutahan.
Seseorang menarikku pelan, mencoba menjauhkan.
“Tolong… biarkan kami,yang mengurus ayahmu…”
“TIDAK!” aku berteriak histeris. “Itu ayahku!”
Aku menggenggam tangannya erat.
Masih dingin.
Terlalu dingin.
“Ayah… aku sudah menikah… Ayah bilang ingin melihat aku bahagia…”
Suaraku pecah.
“Tolong bangun… Ayah… jangan tinggalkan aku sendiri…”
Tapi dunia terlalu kejam.
Hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaanku…
justru menjadi hari aku kehilangan segalanya.
Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku kembali berdiri.
Tidak ingat siapa yang menarikku.
Tidak ingat siapa yang mencoba menenangkanku.
Yang kutahu… semuanya kosong.
Sampai suara itu terdengar.
Dingin. Tegas.
“Acara harus tetap dilanjutkan.”
Aku menoleh perlahan.
Tuan Misra Devandra.
Pria yang kini menjadi… mertuaku.
Matanya tajam. Tidak ada kesedihan. Tidak ada empati.
Seolah kematian ayahku… hanyalah gangguan kecil.
“Maaf, tapi ini tidak bisa ditunda,” lanjutnya datar.
Dadaku terasa diremas.
“Ayah saya… baru saja meninggal…” suaraku hampir tak terdengar.
“Tepatnya karena itu, kamu harus kuat,” jawabnya tanpa ekspresi.
Aku membeku.
Ada sesuatu yang… salah.
Tapi aku terlalu hancur untuk berpikir.
Malam itu…
Aku resmi menjadi seorang istri.
Dan juga… seorang anak yang kehilangan ayahnya.
Di dalam kamar yang asing, aku duduk diam di tepi ranjang.
Masih mengenakan gaun pengantin.
Masih dengan air mata yang tak berhenti.
Pintu terbuka.
Zayn masuk.
Langkahnya tenang. Wajahnya tetap dingin.
Ia melepas jasnya… tanpa melihat ke arahku.
Seolah aku tidak ada.
“Mulai sekarang,” suaranya akhirnya terdengar.
Dingin. Tanpa emosi.
“Kita hanya menjalani apa yang harus dijalani.”
Aku mengangkat wajahku perlahan.
Tidak mengerti.
“Apa maksudmu…?”
Zayn menatapku sekilas.
Tatapan itu… kosong.
“Jangan berharap lebih,” lanjutnya. “Karena pernikahan ini bukan seperti yang kamu pikirkan.”
Jantungku terasa jatuh.
“Bukan… seperti yang aku pikirkan, memang nya apa yang bisa aku pikirkan dan harapkan dari pernikahan yang tidak juga aku inginkan?”
Ia tidak menjawab,hanya menatapku sekilas
"sebenarnya apa tujuan kalian ,kenapa harus aku ,kenapa tidak orang lain saja "ucapku
"saya juga tidak mengerti kenapa harus dirimu"jawabnya tanpa menatapku
"kamu dan keluargamu,ingin menjadikan apa,pelayan ,atau apa??"teriakku,bahkan aku tidak peduli dengan tuan muda Zayn Devandra yang semua orang hormati dan menunduk di hadapannya
"nanti juga kamu tahu,,,mungkin"ucapnya kemudian,berjalan menjauh… meninggalkanku dalam kebingungan.
Dan tanpa aku sadari…
Aku telah masuk ke dalam kehidupan yang penuh kebohongan.
Kehidupan… yang bahkan ayahku tidak sempat selamatkan aku darinya.