NovelToon NovelToon
Cinta Zaenab

Cinta Zaenab

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan sang Elang

Malam itu, angin Makkah berhembus lebih lembut, membawa aroma tanah basah yang mengingatkan Sidik pada wanginya bumi Indonesia setelah hujan. Di depan Ka'bah, Sidik bersimpuh lama sekali. Ia teringat pada tiga wajah yang ia tinggalkan: anak-anaknya yang kini tumbuh tanpa dekapan seorang ayah.

"Zae," panggil Sidik saat mereka kembali ke Baitul Hikmah. "Tugas kita di sini sudah sampai pada titik temu. Aku mendengar suara mereka memanggilku dalam sujudku. Anak-anakku... mereka butuh ayahnya."

Zaenab tersenyum teduh. Sebagai istri yang setia, ia tahu bahwa cinta Sidik bukan hanya miliknya, tapi juga milik darah dagingnya. "Aku ikut ke mana pun Akang melangkah. Jika dulu aku rela merantau untuk mati di sini, kini aku rela pulang untuk menghidupkan cinta di hati anak-anakmu."

Sidik kemudian memanggil Mansur, santri kepercayaannya yang paling cerdas dan jujur. Di bawah lampu temaram Baitul Hikmah, Sidik menyerahkan kunci dan kepemimpinan rumah singgah itu.

"Mansur, jaga tempat ini. Biarkan ia tetap menjadi oase bagi mereka yang terluka. Gunakan ilmu tafsir dan pengobatan yang telah kuajarkan hanya untuk kemaslahatan hamba-Nya," pesan Sidik dengan wibawa yang menggetarkan.

Kepulangan mereka kali ini tidak lagi dengan sembunyi-sembunyi atau rasa sakit hati. Sidik menggunakan kekeramatannya bukan untuk terbang dengan serabut kelapa, melainkan untuk melunakkan hati para pejabat imigrasi sehingga segala urusan dokumen mereka mendadak menjadi lancar dan mudah, seolah jalanan digelar karpet merah untuk mereka.

Setibanya di desa, Ia langsung menuju pusara istri pertamanya dan kemudian memeluk ketiga anaknya yang telah lama merindu.

Di teras rumahnya yang sederhana, Sidik kini dikenal sebagai Mbah Sidik, sang penyembuh dan guru mengaji. Ia tidak lagi memakai seragam veteran, tapi wibawa seorang prajurit tetap terpancar dari sorot matanya yang tenang.

Kepulangan Sang Pejuang

Langkahku kembali menyentuh tanah yang dulu melupa,

Bukan untuk menagih jasa atau meminta rupa.

Aku pulang membawa Makkah di dalam dadaku,

Membawa damai untuk anak-anak yang lama merinduku.

Zaenab berdiri bagai bidadari di ambang pintu,

Menyatukan kepingan hati yang dulu sempat membatu.

Tiga bunga kecil kini kembali merekah di taman,

Disiram doa dan ilmu yang kupetik dari tanah impian.

Biarlah dunia mengingatku sebagai veteran yang hilang,

Namun biarlah anak-anakku mengenalku sebagai ayah yang pulang.

Sebab kemenangan sejati bukan tentang medali di dada,

Tapi tentang pulang ke pelukan keluarga dengan rida yang nyata.

Sidik menghabiskan sisa usianya dengan mengajar tafsir dan mengobati warga desa. Baitul Hikmah di Makkah tetap berjalan subur di bawah asuhan Mansur, sementara di Indonesia, Sidik membangun surga kecilnya sendiri bersama Zaenab dan ketiga anaknya.

Seorang pejuang tidak pernah benar-benar pensiun; ia hanya berganti medan tempur, dari desing peluru menuju ketenangan kalbu.

Mbah Sidik. Selain mengajar mengaji, ia mengabdi sebagai dukun sunat.

Setiap kali ada panggilan dari desa seberang, Mbah Sidik akan mengayuh sepeda ontel tua miliknya. Suara kring-kring dari bel sepedanya menjadi tanda kehadiran sang Dukun sunat. Di boncengan sepedanya, selalu ada tas kulit berisi kitab tafsir dan peralatan khitan.

***

Namun, kedamaian itu terusik. Kabar buruk menyebar seperti api di padang ilalang. Kekuatan asing—sisa-sisa penjajah yang ingin merebut kembali kekayaan alam nusantara—mulai mendarat di pelabuhan-pelabuhan besar. Mereka datang dengan senjata otomatis dan kendaraan lapis baja.

"Kang," Zaenab menahan tangan Sidik saat pria itu mulai mengeluarkan kembali seragam veteran cokelatnya yang sudah tua. "Apakah Akang akan pergi lagi? Anak-anak baru saja merasakan hangatnya pelukanmu."

Sidik menatap Zaenab, lalu beralih ke ketiga anaknya yang berdiri ketakutan di sudut ruangan. Ia mengambil topi veteran, membersihkan debunya, dan memakainya dengan gagah.

"Zae, tanah ini adalah sajadah kita. Jika sajadah ini diinjak-injak oleh sepatu lars mereka, di mana lagi anak-anak kita akan bersujud? Mbah Pupus tidak memberiku ilmu hanya untuk duduk diam di atas ontel sementara negeri ini menjerit."

Mbah Sidik tidak berangkat dengan truk militer. Ia mengayuh sepeda ontelnya menuju garis depan. Para prajurit muda yang melihatnya sempat tertawa. "Mbah, pulang saja! Ini perang, bukan panggung khitanan!" ujar seorang komandan muda.

Mbah Sidik hanya tersenyum tenang. Namun, saat pesawat tempur penjajah mulai menjatuhkan bom, Mbah Sidik turun dari ontelnya. Ia berdiri tegak di tengah padang, merapalkan Ajian Wibawa yang ia pelajari di Makkah.

Tiba-tiba, langit berubah gelap. Angin puyuh bertiup kencang. Mbah Sidik mengambil sepotong bambu runcing dan melemparkannya ke udara. Bambu itu berubah menjadi ribuan rudal balistik nuklir yang menyerang, memburu pesawat musuh.

Seketika, pesawat tempur penjajah meledak semuanya.

Ontel Sang Pejuang

Kring... kring... bunyi bel di tengah desing peluru,

Sepeda tua mengayuh rindu yang menderu.

Bukan lagi tentang mengkhitan bocah-bocah desa,

Tapi tentang memotong nyali mereka yang penuh dosa.

Jubah tawadhu kini berganti zirah doa,

Membasuh bumi dari angkara murka yang bertahta.

Penjajah gemetar melihat satu orang tua

Zaenab, simpan air matamu untuk kemenangan,

Sebab suamimu adalah angin yang tak kenal kekalahan.

Aku pergi dengan ontel, namun kembali dengan kehormatan,

Menjaga merah putih agar tetap menjadi jaminan.

Mbah Sidik bergerak cepat di medan tempur. Di sela-sela pertempuran, ia masih sempat mengobati prajurit-prajurit yang terluka hanya dengan usapan tangan. Pasukan penjajah lari kocar-kacir. Mereka tidak habis pikir bagaimana seorang kakek bersepeda bisa melumpuhkan satu batalyon tank dan pesawat tempur hanya dengan sebuah bambu runcing.

Pasukan penjajah telah mengepung perbatasan desa dengan tank-tank baja dan sensor panas yang paling canggih. Mereka yakin tidak ada satu pun makhluk hidup yang bisa menembus garis pertahanan tersebut. Namun, mereka tidak memperhitungkan seorang veteran yang membawa karomah dari tanah suci.

Mbah Sidik mengusap stang sepedanya yang mulai berkarat. Ia membisikkan doa, lalu mengetuk kerangka sepeda itu tiga kali dengan sisa serabut kelapa dari Makkah.

"Ayo, Kawan Tua. Kita tunjukkan bahwa besi tua pun punya nyawa jika digunakan untuk membela agama dan bangsa," bisiknya.

Begitu pedal dikayuh, keajaiban terjadi. Roda sepeda itu tidak lagi menyentuh tanah, melainkan berputar di atas udara, menciptakan percikan cahaya keemasan. Dalam sekejap, Mbah Sidik dan sepedanya menghilang dari pandangan mata manusia (ilmu halimun). Radar musuh mendadak kacau, hanya menampilkan garis-garis statis yang tak beraturan.

Wush!

Mbah Sidik melesat di antara barisan tank musuh. Ia terbang rendah, melewati kepala para serdadu penjajah yang kebingungan. Setiap kali ia membunyikan bel sepedanya—Kring! Kring!—gelombang suara yang dahsyat tercipta, membuat laras meriam musuh melengkung ke bawah secara ajaib, seolah-olah besi-besi itu tunduk pada kewibawaan Mbah Sidik.

Dari ketinggian, Mbah Sidik melihat pasukan muda Indonesia terdesak di parit-parit pertahanan. Ia memutar sepedanya di angkasa, lalu menukik tajam seperti rajawali. Di tengah terjunan itu, sosoknya terlihat samar-samar didampingi oleh bayangan raksasa Mbah Pupus yang merangkulnya, membuat sosok Mbah Sidik terlihat seperti meteor yang jatuh dari langit.

Penjajah yang melihat penampakan itu berteriak ketakutan, "The Ghost Rider! The Ghost Rider!" Mereka mengira sedang berhadapan dengan hantu prajurit masa lalu.

Mbah Sidik mendarat tepat di tengah markas komando musuh. Hebatnya, tidak ada satu pun peluru yang bisa mengenai tubuhnya; semua proyektil seolah berbelok menghindari dirinya.

Dua roda berputar menembus tabir ruang,

Membawa keberanian yang tak pernah kurang.

Bukan lagi tentang jalan desa yang berbatu,

Tapi tentang menembus awan dengan restu yang satu.

Kring... kring... kematian bagi keangkuhan,

Kring... kring... kemenangan bagi keteguhan.

Ontel tua ini melesat melampaui logika manusia,

Sebab bensinnya adalah iman, mesinnya adalah doa.

1
Ariasa Sinta
q yakin ini cerita asli, begitupun mbah sidik, iya kan thor ?
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
Ariasa Sinta
ya Allah ...
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
Ariasa Sinta
loh loh loh ....
q berasa kaya lagi ngaji thor

siapa kah sebenarnya kang sidik ?
SANTRI MBELING: hehe he. makasih mampir disini juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!