Ren Abraham, seorang anak laki-laki yatim piatu bertekad untuk menjadi kuat setelah desanya di hancurkan oleh para penyembah iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pendeta Merah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ren Abraham
Seorang pemuda berambut hitam berdiri di tengah desa yang terbakar, panas dari api menusuk kulitnya, mata hitamnya menatap mayat-mayat warga desa dengan tatapan tidak percaya.
" Jangan..."
Namanya Ren Abraham, wajahnya terbilang imut daripada tampan, tingginya sekitar 160 cm, jauh dari tinggi rata-rata seorang pria.
Di kejauhan, sekelompok orang membunuh dengan membabi buta.
" Hentikan!!! "
••• ••• ••• •••
DETAK!!!
Suara jarum jam.
Ren membuka matanya, dia baru saja memimpikan masa lalunya, di saat desanya di serang oleh para penyembah iblis, dia seharusnya sudah mati bersama para warga lainnya, tapi karena keberuntungannya, dia berhasil melarikan diri.
Untungnya, tepat sehari setelah desanya di serang, akademi Stella di mulai, Ren yang mendapatkan beasiswa pergi untuk menjadikan Stella sebagai tempat tinggal, dia berhasil masuk ke kelas F.
Di kiri dan kanannya, terdapat empat orang yang sedang tertidur, mereka tidur di ranjang tingkat, dan tentu saja akan ada orang di atas Ren juga.
Ren turun dari kasurnya, saat dia melihat keluar jendela, dia menyadari jika sudah pagi.
" Hei kalian, ini sudah pagi jadi bangunlah, aku hanya akan mengatakannya satu kali selebihnya adalah urusan kalian "
Setelah mengatakan itu Ren membuka tirai lalu pergi ke kamar mandi, karena hanya ada satu kamar mandi, dia harus mengantri jika tidak cepat.
Dua orang bangun, mereka semua memiliki wajah kesal.
" Astaga, kau sangat jahat dan tidak setia kawan Ren! "
" Itu benar! "
" Haruskah aku mengambil cermin dan memukulnya ke wajah kalian! " Suara Ren terdengar dari kamar mandi, dia masih ingat bagaimana teman-temannya meninggalkan dia tertidur di kamar sendirian.
" Ayolah kawan, lupakan saja kejadian itu "
Namanya adalah Geri, dan satu lagi namanya Boris, mereka berdua adalah teman sekelas Ren.
" Matamu lupakan, apa kau sudah lupa bagaimana profesor menghukumku waktu itu hah? "
" Hehehe "
Terdengar suara rintikan air, Geri dan Boris tahu jika Ren sudah mulai mandi.
" Buruknya lagi waktu itu adalah hari pertama sekolah aktif, sial! "
Terlambat di hari pertama sekolah aktif membuat nama Ren jelek di mata Profesor, dia di anggap sebagai murid yang suka terlambat dan melanggar aturan.
Penilaian seseorang terhadap orang lain sangat di pengaruhi oleh pertemuan pertama, jika pertemuan pertama buruk, maka pertemuan selanjutnya pasti akan di anggap buruk.
" Berisik sekali..."
Seseorang bangun, namanya Eden, sama seperti Ren, Geri, dan Boris, dia juga kelas F.
" Jika kami tidak berisik kau mungkin masih tidur sekarang! "
Kata Boris bercanda.
Eden melihat temannya yang masih tidur,
tiba-tiba dia memiliki sebuah ide lucu, dia mengambil tali dari laci meja belajarnya lalu dengan hati-hati mengikat kaki temannya.
" Kau benar-benar jahat Eden, Petru akan mengutukmu saat bangun nanti "
" Karena dia masih belum bangun jadi dia tidak tahu akulah yang melakukannya, aku akan mengatakan jika kalian bertigalah yang melakukannya "
Suara Ren terdengar lagi dari kamar mandi.
" Heh...jika kau melakukan itu, aku pastikan kau akan menemukan seluruh tubuhmu terikat keesokan harinya "
" Benar... hahaha! "
Ren keluar dari kamar mandi, menatap Eden sambil menggelengkan kepalanya, meskipun terlihat ramah, Eden sebenarnya orang yang sangat jahat dan nakal, yang dia tahu hanyalah bermain-main.
" Aku duluan! "
Geri mengambil handuknya dan masuk ke kamar mandi, meninggalkan Ren dan yang lain.
Sementara Boris dan Eden sedang mengobrol, Ren mengeluarkan seragamnya, kemeja putih, jas hitam, dan celana hitam, tambahan dasi merah dan lencana bintang putih, tanda yang menunjukkan jika dia adalah rakyat biasa.
Tepat setelah Ren selesai memakai seragamnya, Geri keluar dari kamar mandi, tanpa berbasa-basi Eden masuk kedalam, Boris hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat hal itu.
" Aku berangkat duluan "
Kata Ren sambil mengambil buku pelajarannya.
" Oke! "
Ren mendekati Petru dan menampar wajahnya" Bangun bodoh, sudah pagi! "
Petru bangun dan melihat sekeliling dengan wajah bingung, saat dia mencoba turun dia akhirnya menyadari jika kakinya di ikat.
" Sialan kau Ren..."
" Bukan aku yang melakukannya bodoh! "
Ren keluar dari kamar, dia tidak peduli apakah Petru mempercayainya atau tidak, dia juga tidak peduli apakah Geri dan Boris akan menjelaskannya.
Kamar Ren berada di lantai dua, di lantai pertama dia melihat sudah ada cukup banyak orang yang siap untuk berangkat ke gedung kampus, sama seperti kamarnya, dia mendengar keributan di kanan kirinya.
Di luar, ada tujuh bangunan asrama yang sama, tembok yang terbuat dari batu putih dan atap yang terbuat dari ubin hitam.
Total ada 7 kelas di akademi Stella, di mulai dari yang terendah adalah kelas F, E, D, C, B, A, dan yang tertinggi kelas S.
Berbeda dengan kelas F, murid kelas S mendapatkan kamar pribadi, itulah kenapa mereka tidak perlu mengantri saat ingin mandi, kekurangannya adalah mereka akan terlambat jika tidak bisa bangun pagi.
Gedung kampus tahun pertama berada di kanan asrama, di kirinya ada asrama siswi, Ren melihat banyak gadis datang dari arah yang berlawanan.
" Flame...besok kita lari pagi lagi ya! "
" Ya...jika kamu bangun pagi tentunya "
" Sepertinya itu tidak mungkin, Elene sulit bangun di pagi hari "
Ren melihat seorang gadis berambut bob berwarna cokelat kehitaman, mata lebar berwarna hitam, wajahnya bulat dan lembut.
' Flame Biasfa...siswi paling jenius tahun ini '
Ada banyak cerita tentang Flame, dia adalah murid yang di gadang-gadang akan menjadi Mage bintang 9 di masa depan.
Berbeda dengan Flame, Ren bisa di bilang murid paling terbelakang di akademi, alasannya adalah karena dia tidak mampu menggunakan sihir.
' Yah aku disini berkat beasiswa yang paman berikan karena dia tertarik dengan bakat pedangku '
Semua orang di dunia ini lahir dengan Atribut, Trait, dan Skill, tapi ada satu pengecualian, dalam kasus tertentu, seseorang tidak memiliki Atribut, Ren adalah salah satunya, karena Trait miliknya, Ren tidak memiliki atribut.
Di depan Ren, terdapat gedung lantai 4 yang mewah, sama seperti asrama, temboknya terbuat dari batu putih, atap ubin yang di cat biru, pintu dan jendelanya memakai gaya gothic.
Bersama murid lainnya, Ren masuk kedalam gedung kampus, pergi menuju ruang kelasnya.
Ada enam kelas F, Ren berada di kelas F-5, setibanya disana dia melihat teman-teman sekelasnya, ada yang mengobrol, belajar, dan bermain catur.
Teman sekelas bukan berarti dia kenal semua orang, jumlah murid kelas F-5 mencapai 80 orang, terlebih lagi baru satu minggu kegiatan belajar mengajar di mulai.
Ren duduk di kursinya, menaruh buku pelajarannya di atas meja, dia berniat untuk membaca catatan pelajaran sebelumnya sambil menunggu profesor dan teman-temannya.