Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.
Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.
Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.
Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.
Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?
Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama SMK?
Pagi itu Hana bangun lebih cepat dari biasanya, meski semalaman ia hampir tidak benar-benar terlelap. Ia hanya berguling dari satu sisi kasur ke sisi lain, memikirkan hari yang akan datang. Hari pertama SMK. Tempat baru, suasana baru, orang-orang baru. Pikiran itu berulang-ulang muncul sampai akhirnya ia menyerah dan duduk di tepi kasur ketika alarm belum juga berbunyi.
Kamar masih sepi. Seragam abu-abu putih yang sudah ia setrika rapi tergantung di lemari. Tasnya telah ia siapkan sejak semalam, lengkap dengan buku tulis baru yang masih bersih dan pulpen yang belum pernah dipakai. Sepatunya pun sudah dilap hingga mengilap. Semua tampak siap, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya dirinya yang belum sepenuhnya siap.
Ia berdiri dan melangkah ke depan cermin. Wajahnya terlihat sedikit pucat karena kurang tidur. Jerawat di pipinya belum juga mengempes, dan satu lagi di dahi masih memerah. Ia menatap pantulannya beberapa saat, merasa seperti sedang menilai orang lain.
“Ya sudah lah,” gumamnya pelan, meski hatinya tidak benar-benar merasa sesederhana itu.
Ia mencuci muka lagi, mengoleskan skincare seperti biasanya, lalu menunggu beberapa menit sebelum menepuk-nepuk bedak tipis ke wajahnya. Ia tidak berani memakai terlalu tebal: ia takut justru terlihat berlebihan dan mengundang banyak perhatian. Tangannya sempat berhenti di udara ketika menatap senyumnya sendiri di cermin. Senyum itu tampak kaku, tidak alami.
“Hari pertama,” bisiknya pada diri sendiri, mencoba memberi semangat. “Nggak apa-apa deg-degan.”
Di ruang makan, kakaknya sudah duduk sambil memainkan ponsel. Rambutnya diikat sederhana, tetapi tetap terlihat rapi. Wajahnya bersih tanpa riasan, kulitnya mulus seperti tidak pernah berurusan dengan jerawat.
Hana sempat merasa perbandingan itu tidak adil, tetapi ia segera menepis pikiran tersebut dan duduk di kursi seberang.
“Ih, kamu kelihatan tegang banget,” ujar kakaknya sambil tersenyum. “Deg-degan, ya?”
“Biasa aja,” jawab Hana cepat, meski ia tahu suaranya terdengar kurang meyakinkan.
Kakaknya terkekeh pelan. “Tenang aja. Hari pertama itu memang bikin panik. Tapi nanti juga kamu dapat teman. Orang-orang nggak sejahat itu.”
Kalimat itu terdengar ringan, hampir seperti candaan. Namun, di dalam kepala Hana, kata-kata tersebut memunculkan bayangan lama yang tidak ingin ia ingat. Dulu pun ia berpikir semuanya akan baik-baik saja. Dulu pun ia percaya bahwa orang-orang tidak sejahat itu, tetapi ekspektasi berbeda dari kenyataan, bukan?
Perjalanan menuju sekolah terasa lebih cepat dari biasanya. Ketika motor kakaknya berhenti di depan gerbang SMK, Hana langsung disambut pemandangan yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Gerbang sekolah tampak besar dan ramai. Beberapa siswa berdiri berkelompok, tertawa keras seolah sudah saling mengenal lama. Ada yang sibuk berfoto, ada yang mengobrol santai tanpa beban.
Hana turun dari motor dan mengucapkan terima kasih pelan sebelum kakaknya melaju pergi. Ia berdiri sejenak, menggenggam tali tasnya erat-erat. Untuk beberapa detik, ia merasa seperti berdiri di tengah panggung tanpa persiapan, seolah semua orang bisa melihat kekurangannya dengan jelas.
Pasti kelihatan banget jerawatku. Pasti ada yang mikir, kok mukanya begitu. Ia menunduk sedikit dan melangkah masuk, berusaha terlihat biasa saja. Tidak ada yang benar-benar memperhatikannya, tidak ada yang menunjuk atau berbisik. Namun, pikirannya tetap sibuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan buruk.
Di depan papan pembagian kelas, suasana lebih padat. Ia mendekat perlahan dan menyusuri daftar nama dengan mata yang sedikit gemetar. Setelah beberapa detik, ia menemukan namanya di kelas X BD 2. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, lalu berjalan menyusuri lorong menuju kelas tersebut.
Lorong sekolah terasa panjang dan asing. Suara sepatu yang beradu dengan lantai terdengar lebih keras di telinganya sendiri. Ketika sampai di depan kelas, ia berhenti sebentar untuk menenangkan napas sebelum akhirnya melangkah masuk.
Beberapa siswa sudah duduk dan berbincang. Hana memilih bangku di sisi tengah dekat jendela, bukan pula paling depan, bukan paling belakang. Posisi yang menurutnya cukup aman. Ia membuka tas dan mengeluarkan buku, pura-pura sibuk agar tidak terlihat canggung.
Beberapa menit kemudian, seorang siswi berhenti di samping mejanya. “Boleh duduk sini?” tanyanya dengan senyum ramah.
Hana mendongak. Cewek itu terlihat percaya diri, wajahnya bersih dan ekspresinya santai. “Boleh,” jawab Hana pelan.
“Aku Nisa,” ujarnya sambil duduk.
“Hana.”
“Kamu dari mana?”
“SMP Harapan Jaya.”
“Oh, lumayan jauh juga ya. Aku dari SMP dekat sini. Makanya tadi sudah ketemu beberapa teman lama.”
Hana mengangguk. Ia sempat merasa sedikit minder, tetapi cara Nisa berbicara tidak terkesan menyombongkan diri. Justru terdengar ringan dan bersahabat.
“Nanti kalau kita sama-sama nyasar, minimal nyasarnya bareng,” tambah Nisa sambil terkekeh kecil.
Untuk pertama kalinya pagi itu, Hana tersenyum lebih tulus. Ketika guru masuk dan sesi perkenalan dimulai, suasana kelas menjadi lebih tertib. Satu per satu siswa berdiri menyebutkan nama dan asal sekolah. Jantung Hana kembali berdegup cepat saat namanya hampir dipanggil. Ia merasakan telapak tangannya sedikit dingin.
“Silakan, yang di sebelah jendela,” ujar guru.
Hana berdiri. “Perkenalkan namaku Hana. Dari SMP Harapan Jaya. Salam kenal."
Suaranya tidak gemetar seperti yang ia takutkan. Tidak ada yang tertawa atau berbisik. Beberapa siswa bahkan tersenyum sekilas sebelum giliran berikutnya dimulai. Ketika ia duduk kembali, rasa lega perlahan mengisi dadanya. Ternyata, berdiri dan memperkenalkan diri tidak semenakutkan yang ia bayangkan.
Jam istirahat tiba dan kelas mulai ramai. Hana sempat tetap duduk, berpura-pura merapikan buku. Sebenarnya ia hanya ingin memastikan wajahnya tidak terlalu berminyak. Ia mengambil cermin kecil dari tas dan menatap pantulannya. Jerawat itu masih ada, tetap di sana seperti sebelumnya.
Tiba-tiba, kenangan lama menyelinap tanpa diundang: koridor SMP, suara tawa yang terasa terlalu keras, dua orang yang berdiri terlalu dekat sambil berbisik. Hana langsung menutup cerminnya dan menarik napas dalam. Ia tidak ingin membawa bayangan itu ke tempat baru ini.
“Ke kantin yuk?” suara Nisa membuyarkan pikirannya.
Hana menoleh dan mengangguk. Mereka berjalan bersama menuju kantin yang sudah ramai. Di sana, ia melihat berbagai tipe siswa, ada yang pendiam, ada yang cerewet, ada yang tampak cuek. Tidak semua orang tampil sempurna seperti yang ia bayangkan pagi tadi. Tidak semua wajah bersih tanpa cela, tidak semua terlihat percaya diri.
Pikiran itu membuatnya sedikit lebih tenang. Mungkin selama ini ia terlalu keras pada dirinya sendiri. Mungkin orang lain sebenarnya tidak sepeduli itu.
Sore harinya, setelah pulang, Hana kembali berdiri di depan cermin di kamarnya. Seragamnya sedikit kusut dan rambutnya tidak lagi serapi pagi tadi. Ia menatap dirinya lebih lama, mencoba menilai hari yang telah ia lewati.
Hari ini tidak buruk. Tidak ada yang mengejek. Tidak ada yang membandingkan. Tidak ada yang menyakitinya.
Ia memang masih merasa insecure dan belum sepenuhnya percaya diri, tetapi setidaknya hari ini ia tidak hancur. Itu sudah lebih dari cukup.
Ia menyentuh pipinya pelan dan tersenyum tipis. “Pelan-pelan aja,” ucapnya pada diri sendiri. Ia sadar ia tidak perlu berubah dalam sehari dan tidak harus langsung menjadi orang lain hanya untuk diterima.
Di luar kamar, suara televisi terdengar samar. Hana mematikan lampu dan berbaring di tempat tidur. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa ingin menangis sebelum tidur.
Besok mungkin ia masih akan merasa deg-degan, mungkin ia masih akan merasa minder, tetapi hari ini ia sudah melangkah. Dan untuk sebuah permulaan, itu sudah cukup.