hari itu ketika aku berjalan pandangan ku tertuju pada gadis yang merupakan pacar ku tapi dia berjalan dengan pria yang tidak ku kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hitomaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati yang terkubur
Aidan duduk di bangku taman yang sedikit basah oleh embun pagi, pandangannya kosong menatap kedepan Namun pikirannya sibuk memutar ulang adegan yang dia lihat kemarin.
Sore itu seharusnya menjadi hari biasa dia pulang dari tempat les lebih awal dan memutuskan mampir ke minimarket tapi langkah dia terhenti ketika melihat sosok yang dia kenal, mori pacarnya bersama pria lain yang dia tidak di kenal mereka berjalan beriringan, terlalu dekat tertawa dan menghilang bersama di balik pintu hotel.
Hatinya seperti direnggut secara paksa.
Minggu pagi setelah semalaman tidak tidur Aidan mengambil ponselnya dan menelpon mori setelah tersambung Aidan berbicara dengan mori dan memintanya untuk bertemu di taman.
Aidan keluar rumah tanpa banyak bicara, baru beberapa langkah dari gerbang seseorang memanggilnya.
"Aidan" dia menoleh, melin kakak perempuan mori berdiri disana dengan wajah khawatir " Eh.. kak melin, selamat pagi"
Melin menghampirinya dan bertanya " kamu tahu mori dimana? Dia gak pulang semalaman aku udah coba hubungi dia tapi nggak dijawab"
Aidan terdiam sebentar suaranya terdengar berat " Dia bilang mau menginap di rumah temannya sekarang aku mau bertemu dia "
Melin menatapnya heran, mencoba membaca raut wajah Aidan tapi dia tidak bisa mengerti selain kesan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Langit mulai gelap ketika Aidan tiba lebih dulu, angin membawa bau tanah yang khas, dia menunggu di bangku taman tempat biasa dia duduki ketika kencan bersama mori, tempat penuh kenangan kecil yang sekarang terasa asing.
Beberapa menit kemudian mori datang, rambutnya dikuncir sederhana wajah tanpa makeup, Aidan menatapnya namun tidak mengatakan apapun hingga mori duduk disebelahnya
Keheningan memanjang sampai akhirnya Aidan berbicara pelan. " Tadi kak melin bertanya kenapa kamu gak pulang ?" Mori tampak sedikit gugup dan menjawab dengan cepat " aku menginap di rumah teman" Aidan menoleh memandang mori suaranya keluar bertanya dengan tajam " SEORANG PRIA?"
Mori tersentak " eh...?" Suara terkejut keluar tanpa bisa dia tahan, dari mana Aidan tahu? Dalam pikiran mori yang sedang panik. "Apa maksud mu?" Jawab cepat mencoba menyembunyikan rasa panik, Aidan tetap menatapnya.
"Kemarin aku lihat kamu sama pria lain masuk kedalam hotel, SIAPA DIA?" Teriak Aidan dengan amarah
Suasana taman seketika terasa beku, mori menunduk ini pertama kali dia melihat Aidan marah, bahkan saat mereka bertengkar kecil Aidan tidak pernah berteriak dan selalu jadi yang pertama mengalah.
"Dia kakak kelas ku "
Aidan mengangguk pelan tidak puas dengan jawaban itu, tapi cukup untuk membuat hatinya mengambil keputusan "saat kamu bersama kakak kelas mu itu kita masih berpacaran, aku cuman ingin membuat semuanya jelas " Aidan menatap langit yang mulai menurunkan air hujan. " Sekarang hubungan kita sudah selesai"
Hujan mulai turun membasahi mereka berdua , mori berdiri meninggalkan Aidan yang terus menatap langit yang sedang menangis.
Hujan mulai turun dengan deras, membasahi Aidan yang sedang berjalan dengan tatapan kosong pakaiannya basah menempel erat di kulit.
Suara hujan terus menemani langkah kaki Aidan, hingga matanya menangkap cahaya lampu cafe kecil di pinggir jalan.
"Aidan?" dari dalam cafe terdengar suara yang familiar.
Kak melin dengan celemek yang terikat di pinggang dan rambut yang terurai.
Melihat Aidan yang kehujanan melin membuka pintu dan menyuruh Aidan masuk.
" kamu ngapain jalan sendirian basah-basahan begini? Masuk sini cepetan"
Aidan mengangguk dan mengikuti melin masuk kedalam cafe, aroma khas coffee menyambut membawa sedikit ketenangan dalam pikirannya.
melin mengulurkan handuk pada Aidan.
"keringkan badan mu dulu, aku buatkan coffee tunggu sebentar"
Beberapa menit kemudian, melin datang kembali dengan coffe dan semangkuk mie, sederhana tapi terasa seperti pelukan hangat ditengah dinginnya hujan.