NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Konfrontasi Devan dan Bisikan di Ruang Musik

​Bau buku lama, kertas perkamen yang menguning, dan debu halus di udara biasanya selalu berhasil menenangkanku. Aroma itu adalah tempat perlindunganku. Namun, tidak hari ini.

​Dua hari telah berlalu sejak insiden sepatu di ruang kelas Sastra Klasik, dan hidupku yang dulu tenang, membosankan, namun aman layaknya permukaan danau tanpa riak, kini terasa seperti terseret ke dalam pusaran air yang gelap. Devan Mahendra telah resmi menjadi anomali terbesar, sekaligus mimpi buruk terbaruku.

​Malam setelah pertemuan pertama kami, aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Insomnia parah yang sudah hampir setahun ini tidak mengunjungiku, mendadak datang kembali sebagai tamu tak diundang. Ia membawa serta sakit kepala berdenyut yang merambat perlahan dari pangkal leher, naik, dan mencengkeram pelipisku dengan kejam.

​Aku menghabiskan waktu berjam-jam berguling di atas kasur, menatap langit-langit kamarku yang remang-remang, mendengarkan detak jarum jam dinding yang terasa seperti palu godam. Setiap kali aku memejamkan mata, bayangan itu langsung berkelebat di balik kelopak mataku: ujung telinga Devan yang memerah padam, tatapan matanya yang luar biasa kelam seolah menyimpan galaksi kesedihan, dan gerakan bibirnya yang pucat membentuk kalimat, 'Akhirnya, aku menemukanmu lagi.'

​Aku mencoba merasionalkan hal itu. Mungkin ia salah orang. Mungkin ada gadis lain di masa lalunya yang kebetulan memiliki wajah atau perawakan yang mirip denganku. Tapi, jauh di sudut hatiku, sebuah insting purba membisikkan hal lain. Ia menatapku seolah ia mengenal setiap helai rambutku, setiap tarikan napasku.

​Dokter Frans, psikiaterku yang berkacamata tebal dan selalu berbicara dengan nada monoton yang menenangkan, pernah memberiku peringatan keras satu tahun yang lalu.

​"Anya, otak manusia adalah mekanisme pertahanan diri yang luar biasa," ucapnya waktu itu sambil mencatat sesuatu di rekam medisku. "Jika otakmu memutuskan untuk mengunci sebuah folder ingatan karena dianggap terlalu traumatis atau merusak, biarkan saja. Jangan dipaksa dibuka dengan linggis. Jika kau secara sadar memaksa mengakses ingatan yang rusak itu, tubuhmu akan meresponsnya sebagai ancaman. Kau akan merasa pusing, mual, hingga mengalami serangan panik. Biarkan kaset itu terputus, sampai otakmu sendiri yang merasa siap untuk menyambungnya kembali."

​Aku sangat mengingat nasihat itu. Aku tidak pernah mencoba memaksa kaset rusak di kepalaku untuk berputar. Aku membiarkannya.

​Tapi masalahnya sekarang, bukan aku yang berusaha memutar kaset itu. Kehadiran Devan-lah yang secara paksa menekan tombol play, dan alam bawah sadarku meresponsnya dengan kepanikan yang luar biasa.

​Dan sialnya, alam semesta sepertinya sedang sangat senang menjadikanku lelucon.

​Sore ini, pukul empat lebih lima belas menit. Kampus sudah mulai sepi, lorong-lorong yang biasanya riuh oleh langkah kaki dan tawa mahasiswa kini kosong melompong. Sebagian besar penghuni kampus sudah berlarian pulang setengah jam yang lalu karena langit barat telah menggulung awan hitam pekat, meramalkan badai besar yang akan segera tumpah. Udara terasa lembap, dingin, dan berbau ozon—bau khas sebelum hujan lebat turun.

​Aku seharusnya sudah duduk di dalam gerbong kereta komuter yang hangat, menyandarkan kepalaku di kaca jendela, mendengarkan playlist akustik andalanku sambil melihat rintik hujan.

​Namun, takdir memaksaku berada di gedung seni kampus yang tua dan menyeramkan ini. Tepatnya, berjalan menuju ruang musik lama di lantai tiga.

​Pak Haris, yang entah kenapa begitu terobsesi menjadikan kami partner akademis di setiap kesempatan, dengan santainya menugaskanku dan Devan untuk mengambil sebuah kotak kayu berisi properti pentas drama yang tertinggal di ruangan tersebut. "Kalian yang paling terakhir keluar kelas, kan? Tolong ambilkan kotaknya dan bawa ke ruang dosen. Ini akan masuk poin keaktifan," begitu katanya dengan senyum tanpa dosa.

​"Kau tunggu saja di bawah," suara Devan yang rendah dan dingin memecah lamunanku saat kami baru saja menaiki anak tangga lantai dua. Ia tidak menoleh padaku. Ia berjalan dua langkah di depanku. Nada suaranya datar, seolah ia sedang berbicara dengan makhluk yang kapasitas otaknya berada jauh di bawahnya. "Kau berjalan terlalu lambat. Kakimu terlalu pendek."

​Langkahku terhenti. Aku mencengkeram tali tote bag kanvasku kuat-kuat. Kepalaku yang masih berdenyut sisa migrain semalam membuat sumbu kesabaranku menjadi luar biasa pendek.

​"Ini tugas kelompok, Devan. Pak Haris menyuruh kita berdua," balasku sengit, memaksakan diri melangkah lebih cepat untuk menyejajari langkah panjangnya. Aku tidak tahu dari mana keberanian ini datang. Biasanya, aku lebih suka diam, menunduk, dan menghindari segala bentuk konfrontasi dengan manusia mana pun. Tapi ada sesuatu dari Devan—dari sikap angkuhnya yang seolah menolak eksistensiku—yang entah mengapa selalu memancing sisi keras kepalaku keluar.

​"Aku tidak butuh bantuan untuk mengangkat satu kotak kayu sialan. Tunggu saja di bawah," ulangnya. Kali ini ia menoleh sedikit dari atas bahunya. Tatapannya menembusku seperti udara kosong.

​"Dan membiarkanmu mengambil pujiannya sendirian jika kau bertemu Pak Haris di ruang dosen nanti? Tidak sudi," desisku. "Aku juga butuh nilai."

​Devan mendengus. Sebuah suara sinis yang sangat menyebalkan. Ia tidak mendebatku lagi dan membiarkanku mengikutinya layaknya anak itik yang keras kepala, menaiki sisa anak tangga menuju lantai tiga.

​Lantai tiga gedung seni selalu dikenal sebagai tempat yang jarang dijamah. Lorongnya panjang, minim ventilasi cahaya, dan jajaran pintu ruangannya ditutup rapat. Cat dindingnya yang berwarna krem sudah mulai mengelupas di sana-sini. Hujan akhirnya turun, membombardir atap seng gedung dan memukul-mukul kaca jendela lorong dengan brutal. Cahaya matahari sore seketika padam, digantikan oleh keremangan yang muram.

​Kami tiba di depan sebuah pintu kayu ganda berwarna cokelat gelap dengan plakat kuningan kusam bertuliskan Ruang Musik.

​Devan mendorong pintu itu hingga berderit panjang, suara engsel karatan yang membuat bulu romaku berdiri. Bau apak yang menyengat langsung menyergap penciumanku—campuran antara debu tebal, kayu lapuk, dan udara yang sudah berbulan-bulan tidak bersirkulasi.

​Kini, kami berada di dalam ruang musik yang terbengkalai itu. Ruangan ini cukup luas namun terasa sangat pengap. Sebuah piano grand klasik teronggok di sudut ruangan, ditutupi oleh kain putih yang sudah menguning dan dipenuhi noda debu. Lantai kayu parketnya berderit panjang setiap kali sol sepatuku atau sepatu boots Devan berpijak di atasnya.

​Aku meraba dinding di dekat pintu, mencari sakelar. Saat kutekan, lampu neon panjang di langit-langit hanya berkedip-kedip redup selama tiga detik, mendengung seperti lalat sekarat, sebelum akhirnya mati sepenuhnya. Konsleting.

​Cahaya di dalam ruangan kini hanya bergantung pada pendaran temaram berwarna abu-abu yang menembus masuk dari dua jendela kaca besar yang basah oleh hujan deras di luar sana.

​"Sial," umpatku pelan. Ruangan ini terlalu gelap untuk mencari sebuah kotak kecil. Aku merogoh saku tote bag-ku dengan tergesa-gesa, mencari ponsel untuk menyalakan fitur senter. Namun tas itu terlalu penuh dengan buku, tanganku meraba-raba dengan panik.

​Tiba-tiba, suara klik besi yang tajam dan beresonansi terdengar di tengah ruangan.

​Suara itu disusul oleh percikan bunga api kecil. Detik berikutnya, sebuah cahaya kecil menyala. Apinya tidak murni berwarna kuning oranye seperti korek gas biasa. Di bagian dasarnya, api itu memancarkan warna biru pendar yang sangat cantik namun misterius.

​Cahaya api kecil itu menerangi sebagian wajah Devan dari arah bawah, menciptakan bayang-bayang dramatis yang mempertegas garis rahangnya yang keras, tulang pipinya yang tajam, dan hidungnya yang bangir. Ia sedang memegang sebuah korek api Zippo perak bermotif ukiran usang di tangan kanannya. Api itu menari-nari tertiup angin yang masuk dari celah jendela, memantulkan dua titik cahaya keemasan di pupil matanya yang hitam pekat.

​"Tidak perlu ponsel. Aku sudah melihatnya. Kotaknya ada di sudut sana," ujar Devan. Suaranya memecah derau hujan di luar. Ia menunjuk dengan dagunya ke arah tumpukan kursi rusak dan kardus di dekat lemari usang di seberang ruangan.

​Aku mengangguk kaku, meski ia tak menyuruhku, aku mulai berjalan melangkah dengan hati-hati mendekati tumpukan barang rongsokan tersebut, dipandu oleh redupnya cahaya dari korek Zippo yang ia pegang. Devan melangkah pelan di belakangku, menjaga cahayanya tetap menyinari jalanku.

​Aku berjongkok di dekat lemari usang, mencoba menyingkirkan beberapa tumpukan kardus untuk mencari properti yang dimaksud Pak Haris. Namun, gerakanku melambat. Pikiranku sama sekali tidak berada pada kardus-kardus ini.

​Rasa penasaran yang menggerogotiku seperti parasit sejak dua hari lalu kini membengkak hingga ke batas maksimal. Kesunyian di antara kami, yang hanya diisi oleh suara napas kami dan derai hujan, terasa terlalu menyiksa untuk kutanggung lebih lama lagi. Aku tak peduli lagi pada peringatan Dokter Frans. Aku tak peduli pada aura intimidatif pemuda di belakangku ini.

​Aku menjatuhkan kardus di tanganku, menghentikan pencarianku. Aku berdiri perlahan, lalu memutar tubuhku untuk berbalik menatapnya.

​"Kenapa kau memusuhiku?" tanyaku tiba-tiba. Suaraku terdengar lebih keras dari yang kurencanakan, membelah suara hujan badai di luar jendela.

​Devan, yang sedang berdiri dengan santai bersandar pada sisi sebuah rak buku kayu yang kosong, menghentikan gerakannya. Ia sedang memandangi api di koreknya. Mendengar pertanyaanku, ia perlahan mengangkat wajahnya. Cahaya api itu bergetar, membuat bayangan di wajahnya ikut bergeser, menyembunyikan sebagian ekspresinya dalam kegelapan.

​"Aku tidak memusuhimu," jawabnya datar. Nada suaranya begitu hampa, seolah ia sedang membaca teks berita.

​Aku mendengus keras, rasa frustrasiku meledak. "Jangan berbohong padaku. Caramu menatapku seolah aku ini penyakit menular, caramu bicara padaku dengan nada merendahkan di kelas, kau seolah sangat membenciku, Devan!"

​Aku melangkah maju, memangkas sedikit jarak di antara kami. Tanganku mengepal di sisi tubuh. "Tapi di saat yang sama, kau terus-terusan mengawasiku. Kau melihatku diam-diam saat kelas berlangsung. Aku punya kebiasaan mengobservasi orang, Devan. Itu satu-satunya kelebihanku. Kau tidak bisa membodohiku dengan wajah dinginmu itu. Kalau kau punya masalah denganku, kalau aku pernah melakukan kesalahan padamu yang tidak kuingat, katakan saja langsung! Jangan bersikap seperti pengecut yang hanya berani menyiksa orang lewat diam!"

​Hening.

​Ruang musik itu seakan menyedot seluruh udara. Hanya terdengar suara petir yang menggelegar jauh di langit.

​Devan tidak bergerak selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Ia menatapku tanpa berkedip. Api di korek Zippo-nya bergoyang hebat tertiup angin yang menerobos masuk dari celah bingkai jendela yang keropos.

​Lalu, dengan satu gerakan pergelangan tangan yang sangat mulus dan cepat, ia menutup penutup logam korek api itu.

​Klik.

​Sumber cahaya satu-satunya itu mati seketika. Ruangan kembali ditelan keremangan yang suram. Mataku butuh beberapa detik untuk menyesuaikan diri dengan transisi cahaya yang drastis, menyisakan siluet-siluet abu-abu di sekitarku.

​Sebelum aku bisa mencerna apa yang terjadi, Devan sudah bergerak.

​Ia melangkah maju. Bukan langkah lambat yang malas, melainkan langkah panjang dan cepat bak seekor serigala malam yang akhirnya memutuskan untuk menerkam mangsanya yang terlalu banyak bicara. Aku refleks memundurkan kakiku karena terkejut. Sepatuku terseret mundur di atas lantai parket, hingga akhirnya punggungku menabrak keras rak kayu tua di belakangku. Debu-debu halus berterbangan dari atas rak, membuat hidungku gatal.

​Devan tidak menghentikan langkahnya. Ia terus maju hingga ia berdiri tepat di hadapanku. Jarak di antara kami menyusut hingga nyaris tidak ada. Ini terlalu dekat. Jauh melewati batas toleransi ruang personal yang kubangun selama bertahun-tahun.

​Ia mengangkat kedua lengannya yang panjang, meletakkan telapak tangannya yang besar dan dingin di pinggiran rak kayu, tepat di sebelah kanan dan kiri kepalaku. Buku-buku jarinya memutih karena cengkeramannya pada kayu rak tersebut.

​Ia mengurungku. Sepenuhnya.

​Aku menahan napas secara refleks. Jantungku memompa darah dengan kecepatan yang menyakitkan, berdegup liar di sangkar rusukku. Tubuhnya menjulang di depanku, memblokir sisa cahaya abu-abu dari jendela. Aku bisa merasakan napasnya yang tidak teratur menerpa puncak kepalaku. Wangi hujan dan aroma mint yang segar itu kini bercampur dengan aroma feromon maskulin yang pekat, sebuah aroma yang memabukkan sekaligus mengirimkan sinyal bahaya ke seluruh sarafku.

​"Kau bilang aku pengecut?" bisiknya.

​Suaranya sangat dekat, menggema langsung di gendang telingaku. Suara itu serak, rendah, dan bergetar sangat hebat. Sama sekali bukan suara ketus, angkuh, dan tak bernada yang selama ini ia tampilkan di kelas. Ini adalah suara seseorang yang sedang berdiri di tepi jurang kewarasan.

​Aku mencoba menelan ludah, tapi tenggorokanku terasa seperti diisi oleh pasir. Aku mengumpulkan seluruh sisa keberanianku, mendongakkan wajahku di tengah keremangan untuk menantang tatapannya.

​Dan apa yang kulihat di sana membuat seluruh pertahananku runtuh berserakan.

​Mata kelam yang menatapku dari jarak sedekat ini tidak memancarkan kemarahan, arogansi, atau kebencian seperti yang kutuduhkan. Melainkan kesakitan. Sebuah keputusasaan yang sangat dalam, berdarah-darah, dan mengakar begitu kuat. Kelopak matanya kembali memerah, urat-urat merah tipis terlihat di bagian putih matanya, persis seperti saat pertama kali ia menatapku di depan kelas waktu itu.

​"A-apa yang kau lakukan? Mundur, Devan," desisku. Suaraku bergetar hebat, merusak otoritas yang berusaha kubangun.

​Aku mengangkat kedua tanganku, bermaksud mendorong dadanya menjauh. Telapak tanganku menyentuh dada kemeja flanelnya. Di balik kain itu, aku bisa merasakan detak jantungnya. Detaknya sama gilanya dengan detak jantungku. Memburu dan keras. Dan anehnya, tubuhnya terasa begitu dingin di bawah telapak tanganku, berbanding terbalik dengan panas yang mendadak menjalar di seluruh wajah dan leherku.

​Ia tidak bergeser satu milimeter pun meskipun aku mendorongnya. Tubuhnya sekeras batu karang.

​Sebaliknya, ia malah semakin menundukkan kepalanya, wajahnya mendekat ke wajahku. Ujung hidung kami nyaris bersentuhan. Matanya mengunci mataku dengan intensitas yang begitu menyiksa, menelanjangiku, membuatku nyaris menangis tanpa tahu apa alasannya. Dadaku terasa sesak oleh emosi yang bukan milikku.

​"Masih ada waktu untuk lari dariku, Anya," katanya pelan. Suaranya terdengar seperti geraman hewan terluka yang tertahan di kerongkongan.

​Ia mengangkat tangan kanannya dari rak kayu. Dengan gerakan yang luar biasa lambat dan penuh keraguan, jemarinya yang panjang dan sedingin es itu menyentuh rahang bawahku. Ia menengadahkan wajahku dengan lembut, sangat kontras dengan postur tubuhnya yang mengancam, namun sentuhannya terasa posesif tak terbantahkan.

​Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap tulang pipiku yang pucat. Sentuhan dingin kulitnya di wajahku mengirimkan sengatan listrik ke seluruh sistem saraf pusatku. Sentuhan ini... usapan ini... entah mengapa terasa begitu familiar. Begitu aman, namun sekaligus menghancurkan.

​Kilatan rasa sakit yang tajam seketika menghantam pangkal kepalaku bagai ditusuk paku. Aku memejamkan mata erat-erat, mendesis kesakitan. Bayangan-bayangan abstrak, warna-warna acak, dan suara-suara berdengung berkelebat liar di balik kelopak mataku.

​Suara tawa lepas. Wangi rumput sehabis hujan. Sebuah janji yang dibisikkan di bawah pohon. Suara sirine ambulans yang meraung membelah malam. Genangan darah yang memantulkan lampu jalan.

​"Atau..." suara bariton Devan kembali menarikku dari pening yang menyiksa, menahan kewarasanku yang nyaris tergelincir.

​Aku membuka mataku yang mulai berkaca-kaca. Ia sedang menatap bibirku sejenak, sebuah tatapan lapar yang segera ia sembunyikan, sebelum kembali menatap mataku dengan tatapan memohon yang menyayat hati.

​"Maukah kau ikut denganku melihat wujud dunia yang sebenarnya, Anya? Maukah kau melihat kenyataan di balik kebohongan yang kau hidupi saat ini?" tanyanya getir.

​"Dunia... kenyataan... apa maksudmu?" suaraku bergetar, nyaris berupa rintihan.

​Aku setengah mati ingin melepaskan diri, berlari keluar dari ruangan ini, dan memanggil sekuriti. Tapi tubuhku mengkhianatiku. Sesuatu di dalam diriku—jiwaku yang rusak—meneriakkan perintah aneh untuk tetap berada di sini, tetap berada di dalam kurungan lengannya, meminta lebih banyak sentuhannya.

​Devan mendekatkan bibirnya ke telinga kiriku. Napasnya yang hangat dan wangi mint menerpa kulit leherku, membuat seluruh bulu halus di tubuhku meremang. Saat ia berbisik, suaranya pecah berkeping-keping. Pertahanannya runtuh. Di balik suara itu, ada kepedihan dan pencarian selama tiga tahun yang tak pernah terucapkan.

​"Kau berjanji akan menungguku malam itu," bisiknya parau. Aku bisa merasakan sebelah tangannya yang masih memegang rahangku ikut bergetar. Ia menahan tangis yang mengancam tumpah. "Kau berjanji kita akan lari bersama. Kau memintaku membawamu pergi dari neraka keluargamu. Kenapa... kenapa kau melupakan semuanya, Nya? Kenapa kau membiarkan mereka menghapusku dari hidupmu seolah aku tidak pernah ada?"

​Duniaku seketika berhenti berputar.

​Paru-paruku menolak untuk menarik oksigen. Mataku membelalak lebar dalam kegelapan ruang musik. Rentetan ucapan itu... kalimat putus asa itu. Itu bukanlah racauan mahasiswa mabuk atau orang gila. Nada suaranya terlalu nyata. Kesakitannya terlalu tulus.

​Itu adalah sebuah kunci. Kunci berkarat yang dipaksa masuk secara brutal ke dalam gembok titanium yang menyegel otakku selama tiga tahun ini.

​Menunggu? Lari bersama? Keluargaku menghapusnya?

​Penyangkalan yang selama ini kubangun runtuh menjadi debu. Rasa sakit di pelipisku meledak menjadi serangan migrain yang benar-benar membutakan penglihatan. Telingaku mendengung hebat, sebuah tinitus bernada tinggi yang menenggelamkan suara hujan di luar. Napasku memburu, memendek menjadi engapan-engapan kecil karena aku tidak bisa menghirup udara. Ruang musik, rak kayu, wangi hujan, dan wajah Devan yang panik mendadak mengabur, tergantikan oleh tunnel vision yang menggelap di bagian tepinya.

​Tubuhku kehilangan seluruh kekuatannya. Otot-otot kakiku melemas seperti agar-agar. Aku merosot ke bawah, jatuh ke arah lantai parket yang dingin.

​Namun, sebelum tubuhku sempat menghantam lantai, kedua lengan kokoh Devan dengan pergerakan kilat menyambar tubuhku. Ia menangkapku, menarikku erat-erat ke dalam dadanya, melindungiku dari benturan.

​Hal terakhir yang kurasakan sebelum kesadaranku sepenuhnya ditarik jatuh ke dalam lubang hitam tanpa dasar adalah kehangatan pelukannya yang begitu putus asa, aroma kertas terbakar yang menenangkan dari tubuhnya, dan suaranya yang meneriakkan namaku berulang kali dengan nada panik yang menyayat hati.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​FADE IN:

​INT. KAMAR ANYA (MASA LALU) - MALAM HARI

​Suasana sangat kacau dan mencekam. Di luar jendela kamar, hujan badai turun dengan brutal. Angin menderu marah. Ruangan kamar remaja itu gelap gulita, hanya sesekali disinari oleh kilatan cahaya petir putih yang menyambar menyilaukan.

​Kamera fokus (Close-Up) pada wajah ANYA (16 tahun). Wajahnya pucat pasi, dibanjiri oleh air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Napasnya tersengal. Tangannya gemetar hebat saat ia tergesa-gesa melipat dan memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam sebuah ransel kain kusam di atas kasur.

​Suara GEDORAN KERAS dari arah pintu kamar membuat ANYA terlonjak mundur.

​BAM! BAM! BAM!

​Terdengar suara ketukan keras yang lebih mirip seperti hantaman kepalan tangan, disusul oleh teriakan MARAH SEORANG PRIA DEWASA yang serak dan penuh otoritas. Itu adalah suara Ayah Anya dari balik pintu kamar yang terkunci rapat dari dalam.

​AYAH ANYA (O.S.)

(Suaranya menggelegar, penuh kebencian dan ancaman yang mengerikan)

"Buka pintunya sekarang juga, Anya! Jangan berani-berani membangkang pada Ayah! Ayah tidak akan pernah membiarkan putriku bergaul, apalagi lari dengan anak pembunuh murahan seperti si Devan itu! BUKA PINTUNYA!"

​ANYA tersedu. Ia menjatuhkan ranselnya, merosot duduk di lantai bersandar pada ranjang. Ia menutupi telinga kirinya dengan telapak tangan kuat-kuat, mencoba menghalau teriakan mengerikan itu. Sementara tangan kanannya memegang erat sebuah ponsel usang yang layarnya menyala terang dalam kegelapan.

​Di layar ponsel itu, tertera nama kontak: 'Devan (Masa Depanku)'

​Dengan ibu jari yang bergetar tak terkendali, ANYA menekan ikon panggilan. Ia menempelkan layar ponsel itu ke telinga kanannya. Terdengar nada sambung. Sekali. Dua kali. Lalu diangkat.

​ANYA

(Berbisik panik, menangis tertahan, suaranya dipenuhi ketakutan absolut)

"Devan... hiks... Devan, tolong aku. Aku mohon, jemput aku sekarang juga. Ayah tahu semuanya. Dia... dia mengurungku. Di pertigaan jalan biasa dekat taman. Aku akan melompat dari jendela, aku akan menunggumu malam ini, apa pun yang terjadi. Tolong bawa aku pergi dari sini..."

​Tiba-tiba, suara PRANGGG!

​Kaca jendela kamar di atas Anya pecah berantakan berkeping-keping. Seseorang dari arah taman bawah baru saja melempar batu bata besar ke arah jendelanya.

​ANYA menjerit histeris.

​Ponsel itu terlepas dari genggaman tangannya yang berkeringat, terlempar, dan jatuh membentur lantai kayu. Layarnya seketika retak seribu.

​Kamera bergerak Extreme Close-Up menyorot ke arah layar ponsel yang retak di atas lantai. Panggilan masih terhubung dengan detik waktu yang terus berjalan.

​Di tengah suara hujan, pecahan kaca, dan gedoran pintu yang semakin brutal, suara DEVAN terdengar sayup-sayup namun penuh kepanikan dari speaker ponsel yang retak itu.

​DEVAN (V.O., dari dalam ponsel)

(Berteriak, sangat cemas dan putus asa)

"Anya?! Anya, apa yang terjadi?! Nya, kau di sana?! Tahan, aku datang sekarang! Jangan ke mana-mana, aku mohon tunggu aku!"

​Suara dobrakan keras—pintu kamar akhirnya jebol dari engselnya—terdengar menggelegar ke seluruh penjuru ruangan.

​Kamera merekam siluet besar seorang pria (Ayah) melangkah masuk diiringi kilat petir, lalu layar seketika terputus dan berubah menjadi hitam pekat.

​FADE OUT.

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!