Mobil Paman Eric akhirnya berhenti di depan pagar kayu bercat putih yang sudah mulai mengelupas. Di baliknya, berdiri sebuah rumah tua bergaya Victoria yang nampak hangat meski langit Mistwood sedang kelabu. Inilah rumah peninggalan kakek dan neneknya—tempat yang dulu penuh kenangan masa kecil.
"Kita sampai," ujar Eric sambil mematikan mesin.
Olive turun dan menghirup udara lembap. Aroma tanah basah dan pinus menyeruak masuk ke paru-parunya. Berbeda dengan hiruk-pikuk kota asalnya, di sini segalanya terasa sunyi—begitu sunyi hingga Olive seolah bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
"Selamat datang di rumah barumu, Olive," ucap Bibi Sonya saat membukakan pintu. Rumah itu masih berdiri kokoh meskipun sudah lama tidak dihuni.
"Masuklah, Sayang. Biar pamanmu yang membawa barang-barangmu ke dalam."
Olive tersenyum tipis. "Terima kasih, Bi."
"Tidak ada kata terima kasih untuk keluarga, jangan pernah sungkan." Sonya mengelus kepala Olive dengan sayang. Sentuhan itu membuat Olive terharu; ia merasa seolah ibunya sendiri yang sedang berada di sana.
Olive mengikuti Eric menuju lantai atas. Barang-barangnya tidak banyak, cukup sekali angkut untuk memindahkan semuanya ke kamar di sisi timur yang menghadap halaman depan. Begitu melangkah masuk, rasa familier langsung menyergapnya.
Lantai kayu yang berderit halus, dinding putih salju, serta tirai berenda yang membingkai jendela. Di tengah ruangan, terdapat kasur ukuran sedang yang tampak nyaman. Di sebelah kiri, meja belajar pemberian kakeknya masih berdiri tegak di samping lemari pakaian. Di sisi kanan, sebuah nakas tua dengan lampu tidur klasik melengkapi sudut ruangan, tak jauh dari pintu kamar mandi pribadi.
Olive merasa rindu sekaligus pedih. Kenangan tentang kakek dan neneknya berputar seperti film lama di kepalanya.
Setelah Eric dan Sonya pamit turun untuk memberinya waktu beristirahat, Olive akhirnya sendirian. Ia merasa lega. Di sini, ia tidak perlu memaksakan senyum atau berpura-pura ceria. Ia bebas menatap mendung dari balik jendela, membiarkan kesedihannya mengalir selaras dengan hujan yang mulai turun dengan lebat.
Di balik ketenangannya, Olive menyimpan rapat alasan mengapa ia mengasingkan diri ke kota terpencil ini.
Aku tidak sedang mood untuk menangis habis-habisan, gumamnya lirih. Akan kusimpan sisa air mata ini sampai waktu tidur nanti, saat aku harus mencemaskan hari esok.
Malam harinya, setelah makan malam yang hangat, Olive duduk di kamarnya yang kini sudah rapi dengan seprai baru berwarna gading. Ketukan di pintu memecah lamunannya. Seorang gadis berambut cokelat dengan kuncir kuda masuk membawa dua cangkir cokelat panas.
"Hai, sepupu jauh!" sapa Bella riang. "Maaf tadi tidak sempat menjemput. Dosenku benar-benar gila, kami tidak dilepaskan sebelum tugas selesai."
Olive tersenyum lebar. "Tidak apa-apa, Bel. Terima kasih sudah mau menemaniku tinggal di sini."
"Justru aku yang beruntung bisa kabur dari asrama kampus yang sempit itu." Bella duduk di tepi ranjang dan menyerahkan salah satu cangkir. "Jadi, bagaimana kesan pertamamu tentang Mistwood?"
"Dingin dan lembap?" tebak Olive.
Bella tergelak. "Itu sudah pasti, Kak!" Namun, tawanya mereda saat ia menatap Olive lekat-lekat. "Kenapa Kakak pindah ke sini?"
"Hanya ingin suasana baru," jawab Olive singkat.
"Jawaban yang klasik," gerutu Bella. "Ayolah, Kak, aku tidak bisa dibohongi seperti Paman dan Bibi."
"Apa yang kamu tahu, Adik kecil?" Olive mencoba mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana dengan pria yang kamu sukai itu? Yang kamu ceritakan beberapa bulan lalu?"
"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan, Kakak Sayang."
Olive menghela napas berat. Bella selalu terlalu peka. "Aku belum siap membicarakannya sekarang, Bella. Kalau waktunya tiba, aku pasti cerita."
Bella mengangguk mengerti. Ia tidak ingin memaksa. "Ya sudah. Tidurlah, besok aku akan mengajakmu berkeliling kota. Kau harus membeli pakaian yang lebih tebal jika ingin bertahan di sini."
Setelah Bella keluar dari kamar, Olive berjalan menuju jendela. Dari kejauhan, di balik rimbunnya pohon-pohon besar yang bergoyang tertiup angin malam, ia seolah-olah masih bisa merasakan sepasang mata tajam yang menatapnya dari balik kaca di lantai dua rumah putih itu.
"Kenapa dia menatapku seperti itu?" bisik Olive pada kegelapan.
Ia menutup tirai rapat-rapat, tidak menyadari bahwa di luar sana, di bawah guyuran hujan, sebuah bayangan berdiri diam. Sosok itu menatap lurus ke jendela Olive dengan napas yang menguap di udara dingin.
Olive merebahkan tubuhnya. Ia teringat orang tuanya dan segera mengirim pesan singkat bahwa ia telah sampai dengan selamat. Setelah itu, ia membuka laptop untuk memeriksa email. Sebelum pindah, Olive telah melamar pekerjaan di sebuah restoran terkenal di pinggiran Mistwood. Ia pun berencana melanjutkan hobi menulis novel daringnya di sini. Beruntung, Paman Eric sudah memasang Wi-Fi.
Membaca detail wawancara untuk esok hari membuatnya gugup. Sebagian besar penduduk Mistwood adalah warga lokal yang sudah saling kenal. Sebagai pendatang, Olive merasa terintimidasi.
Ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di depan cermin, ia mengamati pantulan dirinya. Kulitnya yang putih pucat nampak kontras dengan latar belakang kamarnya. Di kota asalnya, Therondia, orang-orang memiliki kulit eksotis karena matahari yang terik. Namun Olive berbeda; ia tetap pucat meski sering terpapar panas, dengan rambut hitam legam bergelombang yang membuatnya tampak lebih muda dari usia 22 tahun.
Meski komunikasinya membaik sejak bekerja di restoran, Olive tetap merasa cemas akan adaptasi dengan orang baru. Apakah ada yang salah dengan otakku? tanyanya pada diri sendiri. Namun ia tahu, penyebabnya tak lagi penting. Yang penting adalah bagaimana ia menghadapi hari esok.
Rasa gelisah itu membuatnya terjaga lama. Hujan yang menderu dan angin yang menyapu jendela seolah ikut menemaninya berpikir. Baru saat hujan mereda menjadi gerimis tipis, Olive akhirnya bisa memejamkan mata dan jatuh terlelap
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments