3. Bunga Matahari

..."Jadilah seperti bunga matahari. Setia walau terabaikan" ...

______

Sudah satu minggu semenjak Kai kembali. Lelaki itu sama sekali tak pernah mengingkari janjinya untuk menjemput Sherra. Kecuali sore ini, sudah hampir 15 menit Sherra menunggu namun sahabatnya itu tak kunjung datang. Alhasil Sherra harus menelponnya.

"Hallo Kai? Udah dimana? Aku udah pulang"

"....."

"Ouh gaakan jemput ya? "

"..."

"Basket? Wah Semangat ya!"

"..."

"Gapapa kok aku bisa pulang sendiri. Maaf ya ngerepotin"

"...."

"Iya Gapapa aku ngerti kok. Bye have nice day"

Klik

Sambungan terputus. Sherra pun menatap langit. Rintik hujan mulai membasahi tanah sedangkan Sherra masih setia berdiri di koridor sambil sesekali mengucek matanya yang mulai terasa buram

Sepertinya minus mata Sherra bertambah.

Gadis itu menghela nafasnya pelan sambil memikirkan bagaimana caranya untuk pulang.

Biasanya ia akan pulang bersama Kai, sahabatnya yang berada di sekolah berbeda. Atau tidak memaksa diantar pulang oleh Jeff, itupun takkan pernah sampai rumah. Paling sampai halteu dekat rumahnya saja.

Tapi lumayanlah. Daripada ia harus diam di sekolah seperti ini sambil menunggu hujan reda atau paling tidak jalan sedikit sampai halteu untuk memberhentikan taksi.

Sebenarnya bisa saja ia menelpon ojek langganannya sayangnya ponselnya kehabisan daya membuatnya harus pasrah menunggu hujan reda.

Tap

Tap

Tap

Indra pendengarannya menangkap langkah kaki yang berhenti tepat di sampingnya membuat netra coklatnya bergulir menatap sosok di sampingnya dari ujung kakinya ke atas.

"Jeff.... "

Netranya melebar bersama senyumannya yang mengembang.

"Loh Jeff kok bisa ada di sini? Bukannya kata Jojo kamu udah pulang kerumah ya?!"

Jeff hanya menatap Sherra datar. Sial beribu Sial! Niatnya pulang telat adalah agar ia tak bertemu dengan si pengganggu ini. Namun ternyata sama saja bahkan lebih parah.

Karena ternyata gadis itu belum pulang dan kini berada di hadapannya.

"Hm"Jawabnya asal. Sherra mengernyit.

"Hm itu apa? Maksud aku Iya atau enggak? Kamu Beneran pulang? "Jeff menoleh kearah Sherra yang tengah menatapnya dengan tatapan polosnya.

"Gue gak pulang"

"Terus kata Jo-"Netra gadis itu membulat saat menyadari sesuatu "Jadi kamu bohongin aku!"

Ia juga melirik kearah motor Jeff yang masih terparkir, bahkan tempatnya sama sekali tak berubah. Dan kalo dipikir pikir jika Jeff pulang kenapa lelaki itu harus kembali kesini? Bajunya juga tak berubah.

Huh menyebalkan!

"Bukan gue"

"Iya tau Jojo yang bohongin aku. Tapi Jojo kan temen kamu!"Katanya kesal. Jeff mendelik.

"Pokoknya aku gaterima ya di bohongin kaya gini! Sebagai permintaan maaf, kamu harus anter aku pulang! "Jeff mengernyit.

"Kenapa harus gue?!"

"Ya karena kamu udah jahat sama aku! Pokoknya gamau tau kamu harus anter aku pulang!"Jeff mengendikkan bahunya tak terima sedangkan Sherra malah semakin memeluk lengan lelaki itu erat.

"Gue gamau!"ucapnya sambil menghentakkan tangan Sherra.

"Ayolah Jeff Sekali ini aja. Pleasee aku gaada yang jemput. Batre hape aku juga abis" katanya cemberut.

"Ya itu derita lo! "

"Pleasee Jeff. Kamu kan cowo baik pasti gaakan ngebiarin cewe nunggu jemputan sendirian kan?" Jeff terdiam. Otaknya berpikir keras.

Sebenarnya Jeff bukanlah lelaki kasar. Apalagi yang kasar pada perempuan. Bahkan selama Sherra mengejarnya, sekalipun Jeff tak pernah main tangan. Selain menolak gadis itu dengan kata kata pedas saja.

Ia juga bukan lelaki pengecut yang meninggalkan seorang gadis hanya karena rasa egois. Apalagi saat melihat wajah pucat dan bibir kering gadis itu, pasti sedang tak sehat. Maka dengan berat hati Jeff langsung menarik tangan Sherra agar mengekorinya ke parkiran.

"Eh eh kamu bener anter aku pulang?"

Jeff tak menjawab, hingga keduanya sampai di parkiran. Gerimis mulai mereda, kini tergantikan dengan sinar Senja. Seperti dugaannya hujannya takkan lama.

"Pake!"Titahnya menyerahkan helm cadangan itu pada Sherra. Gadis itu masih setia tersenyum.

"Makasi! Kamu baik banget deh"Jeff menatap Sherra aneh. Kenapa gadis itu selalu bereaksi berlebihan?

"Gue anter lo sampe halteu"

"Halteu mana? Kenapa gak sampai rumah aja? Lagian rumah aku dari Halteu Mawar gak jauh kok" Katanya berusaha membujuk. Jeff tak menanggapi dan langsung menaiki motornya.

"Gue buru buru" Sherra yang baru saja menaiki motor Jeff langsung tersenyum tipis.

Selalu saja. Setiap Sherra diantar pulang lelaki itu akan selalu mengantarnya sampai Halteu karena suatu kepentingan. Yang entah apa.

Padahal Sherra sudah tau Jeff hanya tak ingin terlalu dekat dengannya.

"Kalo kamu buru buru, kenapa mau anter aku pulang?"tanya Sherra saat kotor Jeff mulai melaju membelah jalanan kota kembang.

"Kasian"

"Hah? "

"Gue kasian sama lo!"

Sherra terdiam. Diam diam wajahnya melukiskan senyuman tipis.

"Kalo kasian, kenapa kamu gak kasian sama aku yang selalu ngejar kamu? Kenapa kita gak pacaran aja? Kan katanya kamu kasian sama aku"

Jeff berdecak. Sherra benar benar manusia tak tau diri!

"Ngelunjak Lo ya! "

Sherra tertawa keras. Menatap sinar jingga dimana matahari siap tenggelam. Perlahan jemarinya memeluk punggung Jeff lembut.

"Jeff"

"Hm"

"Kamu mau tau bunga favorit aku gak? " Terdengar dengusan dari sana.

"Gak"

"Ihh jawab mau gitu sekali biar aku seneng" lelaki itu hanya bisa menggeram kesal namun setelahnya bersuara lemah.

"Serah lo"

"Oke aku jawab ya" Gadis itu menoleh kearah toko bunga cantik dengan banyaknya bunga anggrek, mawar, melati hingga bunga Matahari yang terus mengikuti cahaya matahari.

Sambil tersenyum ia menjawab.

"Bunga Matahari" Jeff menatap wajah cantik Sherra dari spion dengan alis yang terangkat.

"Kenapa?" Sherra ikut menoleh pada Spion yang sama membuat tatapan mereka bertemu.

"Maksudnya? "

"Kenapa suka bunga matahari" Sherra terkekeh. Gadis itu menghembuskan nafasnya pelan.

"Karena bunga matahari itu setia" Jeff tertawa kecil. Membelokkan arah motornya.

"Simpelnya Bunga matahari selalu mengikuti kemana cahaya matahari pergi dan gak pernah berpaling ke cahaya yang lebih terang sekalipun" Jeff terdiam. Sherra semakin melebarkan senyumnya.

"Sekalipun sinar jingga senja menyapa. Bunga matahari akan tetap menatapnya. Walaupun cahayanya tak seindah bulan terang di langit malam"

Sherra sangat menyukai bunga matahari. Bunga matahari adalah dirinya. Dan Jeff adalah matahari untuknya.

Ia akan terus menatap kemana pun Jeff pergi, mengejarnya kemana pun Jeff ingin tinggal.

Karena Jeff adalah alasannya untuk bertahan.

"Tapi alasan bunga matahari selalu mengikuti matahari bukan karena setia" Elak Jeff.

"Tapi karena bunga matahari menyimpan Auxin. Hormon auxin merupakan suatu hormon tanaman yang mengendalikan pertumbuhan. Biasanya jumlah auxin lebih banyak di sisi yang jauh dari sinar matahari. hal itulah yang menyebabkan batang bunga matahari selalu tumbuh ke arah sinar matahari" Jelasnya mematahkan Steatment Sherra.

"Jadi simpen teori lo itu di pikiran lo sendiri"

Gadis itu terkekeh. Jeff selalu diluar dugaannya. Tak salah ia melabuhkan hatinya pada lelaki pintar ini.

"Tapi tetep aja kan. Intinya Bunga matahari itu setia. Kayak aku ke kamu" Jeff nendesah pasrah.

"Terserah lo"

"Kalo kamu? Apa kesukaan kamu?"Jeff berpikir sebentar. Tapi Sherra sudah menyela.

"Pasti aku kan? "

"Ngimpi Lo!" Sherra terkekeh. "Terus apa? "

"Gue gasuka bunga, tapi gue suka matahari"

"Apa alesannya?"

"Karena dia hangat"

"Itu aja?" Jeff menghela nafasnya pelan saat keduanya berhenti di lampu merah.

"Kalo cuman itu. Aku juga bisa jadi matahari buat kamu"Kata Sherra. Jeff melirik lewat spion.

"Tapi matahari gak pernah mengejar Sher" Sherra terdiam.

"Matahari gak pernah mengejar, menatap atau bahkan mengharapkan bulan, bintang dan benda langit lain. Matahari hanya sendiri dengan langit yang selalu menetap"

"Terus apa aku bisa jadi langit untuk matahari itu? "Jeff terkekeh.

"Lo gaakan pernah bisa jadi langit untuk matahari. Tapi lo bisa jadi bunga matahari. Yang selalu mengejar kemana pun cahaya matahari tanpa berada di sisinya"

Gadis itu tak bersuara. Ia mengerti maksud perumpamaan ini. Dan Ya, Sherra akan selalu menjadi bunga Matahari. Dengan jeff sebagai matahari yang selalu membuatnya terkagum. Dan langit yang entah untuk siapa.

Karena sejatinya. Matahari hanya merindukan langit. Dan bunga matahari hanyalah pelengkap dari setiap filosofi.

Hanya kini Jeff mungkin belum menemukan langitnya.

______

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!