Kecelakaan Melia
*
*
*
Pagi ini Ariana sengaja bangun lebih awak karena Melia yang akan berangkat dengan jemputan bus pagi hari ini. Ariana membantu Melia membereskan pakaian serta oleh - oleh yang akan di bawa.
" Ibuk sudah penuhkan isi kulkas. Jadi setiap pagi kamu harus sarapan dulu sebelum berangkat kerja. Jangan sampai ibuk pulang, kalu jadi kurus karena sering nggak sarapan ya, Ari." Pesan Melia pada Ariana.
" Iya buk, iya. Lagian ngapain sih ibuk pake belanja banyak gitu. Ari kan bisa sarapan di cafe kalau udah sampai." Bantah Ariana.
" Sarapan di cafe kamu bilang? Kapan kamu sarapan nya? Setiap hari saja kamu selalu datang terlambat terus." Tanya Melia.
" Nggak tiap hari juga kali? Buk." Jawab Ariana membela diri nya.
" Sudah, sudah. Ibuk nggak mau dengam bantahan lagi. Kamu tinggal lakukan apa yang sudah ibuk pesan kan sama kamu. Paham?"
" Siap, bos." Jawab Ariana mengangkat tangan hormat pada Melia.
" Ya sudah. Ibuk berangkat dulu ya. Kamu hati - hati di rumah ya, Ari. Jangan keluyuran kalau sudah pulang kerja. Dan satu lagi jangan kebanyakan begadang. Jaga kesehatan kamu ya."
" Iya, Buk. Ibuk juga jaga kesehatan di sana." Kata Ariana.
Ariana dan Melia pun saling berpelukan sebelum Melia berangkat. Ada sedikit kesedihan ketika Ariana harus berpisah sementara waktu dengan sang ibu. Karena memang sejak kecil kedua wanita beda generasi itu tidak pernah berpisah.
*
*
*
" Bagaimana bisa ini terjadi? Apa tidak ada orang kota yang mengontrol pembangunan nya?" Tanya Gibran saat assisten nya memberi tahu dia kalau kepala proyek kabur dengan membawa gaji pekerja bangunan.
" Ada, pak. Hanya saja dia terlalu pintar mengelabui kita sampai tidak ada yang bisa menebak kecurangan yang dia lakukan. Bahkan dia sengaja mengambil bahan baku bangunan tanpa membayar nya. Dia hanya mengatakan pemilik proyek akan membayar nya di akhir bulan. Dn sekarang beberapa pemilik toko bahan bangunan sudah menghubungi agar segera di bayar kan." Jawab Lian sang assisten.
" Apa saya bisa pakai uang perusahaan untuk membayar semua nya? " Tanya Gibran lagi.
" Tidak bisa, pak. Uang perusahaan akan di gunakan untuk pembangunan Hotel yang baru." Jawab Lian.
" Y a sudah. Berarti sudah tidak ada jalan lain lagi kan. Pakai uang pribadi saya saja. Lagi pula saya mendapatkan uang itu juga dari keringat para pekerja bangunan."
" Baik, pak."
" Urusan kepala proyek, saya serahkan sama kamu. Saya nggak mau dengar alasan apa pun. Bawa dia ke hadapan saya. Jangan sampai polisi menemukan nya." Perintah Gibran.
" Siap, pak." Jawab Lian dengan yakin.
" Kalau begitu, pesan kan saya satu perempuan untuk malam ini." Pinta Gibran.
" Baik, pak." Jawab Lian.
Yakin tidak yakin, setiap perintah yang keluar dari mulut Gibran harus segera di laksanakan. Tidak ada kata gagal dalam kamus Gibran. Dan prinsip itu juga yang sampai sekarang menempel dengan jelas di kening Lian yang sudah mengabdi pada nya selama lima tahun ini.
Siapa yang tidak kenal Gibran. Wajah dan nama nya berseliweran di televisi dan majalah ternama di Jakarta.
Gibran Dirgantara Mehendra adalah sosok CEO yang terkenal dengan sikap dingin dan cueknya. Namun, di balik itu semua, ia adalah pengusaha muda yang berhasil menyaingi para pebisnis senior. Dengan kecerdasan dan ketegasannya dalam mengambil keputusan, Gibran berhasil memenangkan beberapa tender besar yang membuat namanya semakin dikenal dan dihormati di dunia bisnis. Banyak yang iri melihat kesuksesannya yang luar biasa di usia yang masih terbilang muda.
Namun, Gibran tidak pernah membiarkan hal tersebut mengganggu fokusnya dalam mengembangkan perusahaan. Sikapnya yang tenang dan analitis membuatnya dapat memanfaatkan setiap peluang dengan sebaik-baiknya.
*
*
*
" Sudah lah, Ari. Sudah malam, kamu pulang saja. Biar nanti meja dan kursi yang cowok yang kerja kan." Kata Cindy yang masih sibuk dengan catatan nya.
Ariana pun duduk di kursi sebelah Cindy sambil mendesah dan menyandarkan punggung nya ke belakang.
" Lagian malas pulang jam segini, Mbak. Nggak ada ibuk di rumah." Ujar Ariana.
" Memang ibuk kemana? Nggak biasa nya nggak ada di rumah kalau malam." Tanya Cindy.
" Ibuk pergi ke Malang, mbak. Bantuin adik nya yang mau buat acara pernikahan anak nya." Jawab Ariana sambil melipat - lipat kain lap yang dia pegang.
" Kalau nginap di kos nya mbak, kamu mau nggak? Besok kan shift kita sama tuh, masuk siang. Jadi kita bisa siangan dikit bangun nya." Tawar Cindy.
" Memang boleh, Mbak?"
" Ya boleh lah, Ari. Kayak sama siapa saja."
" Kalau gitu gue mau, Mbak. Soal nya ada drakor nih yang mau aku lanjutin nonton nya. Dari kemaren nggak kelar - kelar." Ucap Ariana setuju.
" Kami, drakor terus yang ada di pikiran kamu."
Saat sedang asyik - asyik nya membahas drama korea dengan Cindy, ponsel Ariana tiba - tiba berbunyi. Panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal.
Namun, karena nomor kontak nya tidak ter save, maka Ariana hanya mengacuh kan nya saja hingga panggilan itu kembali masuk untuk yang ketiga kali nya.
" Angkat dulu, Ri. Kali aja penting." Kata Cindy menatap layar ponsel Ariana yang berkedip.
" Paling juga fans gue yang iseng, mbak. Nggak tau dari mana mereka bisa dapat nomor gue."
" Tapi angkat aja dulu. Kalau memang dari fans kamu, kamu bisa matiin lagi kan? Lagian punya Fans bukan nya senang, malah jutek. Ari, Ari."
" Denger nih, Mbak. Gue angkat ya." Ucap Ariana yang menggeser tombol hijau lalu menekan tombol speaker agar Cindy bisa mendengar panggilan telpon itu.
" Halo..."
" Selamat malam. Dengan saudari Ariana?"
" Selamat malam, iya dengan saya sendiri. Ini siapa ya?" Tanya Ariana dengan nada malas.
" Kamu dari pihak kepolisian ingin mengabarkan kalau bus yang di tumpangi oleh saudari Melia mengalami kecelakaan di jalan."
" Apa, pak? Ibuk saya kecelakaan?" Tanya Ariana dengan wajah nya yang seketika menjadi pucat pasi.
" Dan sekarang para korban akan segera di bawa ke rumah sakit Mutiara Jakarta. Silahkan saudara menunggu di sana. Karena belum bisa di pastikan siapa - siapa saja korban yang masih hidup." Kata polisi itu.
Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas, suara polisi di seberang sana seperti menghilang ditelan keheningan.
Cindy yang melihat perubahan drastis pada sahabatnya itu langsung berdiri, mencoba menopang Ariana yang kian limbung.
"Ariana? Ari, kamu baik-baik saja?" Tanyanya khawatir.
Namun, sebelum Ariana bisa menjawab, matanya terpejam dan tubuhnya terkulai lemah. Cindy dengan cepat menangkapnya sebelum terjatuh ke lantai.
"Ariana! Oh Tuhan, tolong! Tolong Ariana pingsan." Cindy berteriak meminta bantuan, sementara para karyawan yang masih berada di Cafe yang mendengar keributan itu bergegas masuk untuk membantu.
***
yang kuat ya Ariana....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments