Pagi itu Alya bangun sedikit siang karena dia akan ke kampus jam sembilan nanti.Dia hanya tinggal sendiri dikosannya memilih untuk tinggal sendiri katanya biar lebih dekat ke kampus dan lebih mandiri padahal rumah orang tuanya juga tidak terlalu jauh dari kampusnya.
Alya segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus, mengoleskan sedikit bedak dan lipstik agar tidak kelihatan terlalu pucat. Pagi ini dia tidak sarapan karena dia telah mempunyai janji dengan Nia untuk bertemu dengannya di cafe seberang kampus.
Dia menatap map yang ada di atas nakas itu sejanak dia berpikir lagi "apa gua ngga salah Nerima ini" Alya memasukkan map itu kedalam tasnya nanti sebelum pulang dia akan menemui Reihan.
Drrrttt.....
Mama❤️
"Halo ada apa ma" sapanya dengan lesu setelah akhirnya menjawab telepon itu.
"Nanti malam kamu kosongkan waktumu yaa, calon kamu mau mama kenalin langsung, namanya Dika anak teman bisnis papamu. Dia baru datang dari Australia"
Alya mengatupkan rahangnya " Ma Alya belum mau menikah. Alya masih mau fokus sama skripsi-"
" Sudah cukup Itu Alya kamu sudah 23 tahun. Lulus juga belum, kerja juga belum. Mama cuma khawatir kamu terlalu fokus belajar sampai lupa sama masa depan kamu"
Alya trdiam. Ia tahu ibunya tidak jahat. Hanya saja generasi mereka tidak bisa melihat bahwa masa depan perempuan tidak selalu tentang pernikahan yang cepat.
"Ma.......aku sudah ada seseorang"
Hening sejenak di seberang sana.
"Apa" suara ibunya meninggi.
"Alya sudah dekat dengan seseorang. Kami sudah membicarakan soal.......... pernikahan"
"Apa? Siapa? Kok mama ngga tau. Kenapa kamu ngga pernah cerita dari dulu kan mama ngga perlu repor Carikan kamu jodoh"
Alya menatap map itu " nanti malam aku bawa dia kerumah "
Setelah telpon di tutup, tangannya gemetar. Ia baru saja membuat keputusan yang akan merubah hidupnya. Ia tahu ia tak bisa mundur. Hanya ada satu jalan menyetujui tawaran Dr. Reihan
\=\=\=\=
Di kampus Alya langsung mendatangi Nia yang sudah ada di cafe seberang kampus. Alya dan Nia sudah bersahabat sudah lama mulai mereka masih bersekolah di sekolah menengah pertama.
"Udah lama" tanya ku setelah duduk didepannya
" Ngga kok baru lagi"
"Kamu udah pesan makanan, aku belum sarapan, laper banget"
"Lu mau apa biar gw pesenin"
"Spaghetti aja deh sama minumnya lemon tea "
"Oke bentar yaa"
Tak berapa lama pesanan mereka sudah datang, Alya langsung memakannya karena dia memang sudah sangat lapar.
" Jadi gimana yang gw tanya tadi malam" tanya Nia. Dia masih penasaran tentang perjodohan yang dilakukan orang tuanya Alya.
" Bentar gw abisin dulu ini"
Setelah menghabiskan makannya dia langsung menatap ke arah Nia. Apa dia katakannya saja pada Nia tentang tawarannya pak reihan.
" Tadi pagi mama nelpon"
"Trus Tante putri bilang apa sama Lo"
"Mama bilang nanti malam, mama mau ngenalin cowok itu sama gua"
" Terus Lo mau"
"Yaa ngga lah, gua ngga mau sama tuh cowok kenal juga nggak"
" Kan kenalan dulu Alya, tapi ngga mungkin kan Tante putri menyetujui keputusan Lo"
" Yaa memang, tapi gua kan ngga mau nikah muda gua juga punya cita-cita "
"Nia Lo sahabat gua kan,"
"Lo kenapa sih kesambet Lo pagi pagi"
"Ada yang mau gua ceritain ke Lo " Alya menatap ke arah Nia dia ingin menceritakan tentang tawaran itu bagaimanapun dia butuh teman cerita.
"Tapi Lo jangan terkejut yaa.."
"Iya"
"Emm itu soal yang semalam gua yang dipanggil ke ruangannya Pak Reihan, sebenarnya pak Reihan ngga nanyain soal skripsi gua tapi....." Alya menggantungkan ucapnnya
" Tapi apa, cepetan gua penasaran"
"Pak Reihan ngajak gua nikah"
"APA......demi apa coba" Nia refleksi berteriak saking terkejutnya.
"Shuttt.... Kan gua udah bilang jangan teriak"
"Sorry sorry gua terkejut, tapi demi apa coba pak Reihan ngajak Lo nikah"
"Jadi gini ceritanya semalam waktu kita diyaman pak Reihan ngga sengaja dengar..........." Alya menceritakan kejadian semalam bagaiman Reihan tau jika dia tidak mau dijodohkan sampai Reihan yang tertekan karena desakan orang tuanya yang ingin dia cepat menikah dan soal Kontrak itu juga
"Jadi Lo terima" tanya Nia
"Yaaa mau gimana lagi, gua ngga mau nikah muda sama tuh cowok pilihan mama"
"Tapi gua dukung Lo"
\=\=\=\=\=
Alya berdiri ragu di depan ruang dosen.
Dengan tangan yang sedikit gemetar Ia mengetuk pintu ruangan itu.
"Permisi Pak"
“Masuk.”
Reihan berdiri, mengenakan batik biru gelap, rambutnya tertata rapi. Ia menatap Alya singkat,
"Ada apa"
"Emm..soal tawaran yang bapak tawarkan kemarin, apakah masih berlaku Pak"?
Reihan menatapnya sebentar sebelum kembali ke berkas yang ada diatas mejanya. Tapi sorot matanya sedikit melunak.
"Masih"
"Bagaimana, sudah kamu putuskan" lanjutnya
"Sudah pak"
"Lalu"
"Saya menerima tawaran bapak"
Sejenak Reihan menghentikan aktivitasnya kembali menatap ke arahnya.
"Kamu serius"
"Saya serius pak, tapi kita menikah nanti sesuai dengan perjanjian kontrak yang bapak kasih ke saya kemarin"
"Tenang saja setelah satu tahun kita menikah aku akan menceraikan mu dan kamu bisa kembali ke kehidupan mu lagi"
"Tapi saya mau pernikahan kita nanti dirahasiakan, saya tidak mau orang-orang mengetahuinya apalagi anak kampus pak"
"Tenang saja saya juga tidak mau orang-orang mengetahui pernikahan kita"
"Jadi apakah kamu sudah menandatangani kontraknya" tanya Reihan.
"Sudah pak" Alya mengeluarkan map yang berisi surat perjanjian itu dari tasnya dan menyerahkannya kepada Reihan.
Reihan menerima map itu dan menyimpannya kedalam laci mejanya.
"Setelah menikah nanti saya akan kasih salinan surat ini"
"Jika tidak ada keperluan lagi kamu boleh pergi"
Alya masih duduk disana menggenggam tangannya yang sudah keringat dingin itu.
"Anu pak ada yang sesuatu yang ingin saya katakan"
Reihan mengangkat sebelah alisnya "Apa"
"Nanti malam apakah bapak punya waktu, mama saya ingin mengundang bapak untuk makan malam dirumah saya"
"Nanti saya usahakan, kamu kirim saja alamat rumahmu"
"Baik Pak, kalo begitu saya permisi"
Alya segera keluar dari ruangan itu, atmosfer didalamnya sangat berbeda padahal dia sudah biasa bimbingan dengan Reihan tapi kali ini sangat berbeda.
Alya langsung ke tempat parkiran mengambil motornya, malam ini dia akan pulang ke rumah orang tuanya, sesuai dengan janjinya dengan mama nya tadi pagi.
Sesampainya disana dia membuka pagar
Memasukkan motornya kedalam bagasi.
"Assalamualaikum ma"
"Waalaikumsalam tumben lo pulang ke rumah" jawab Devan yang masih fokus pada gamenya, dia Devano putra Pratama adik nya Alya, mereka hanya beda tiga tahun dan sekarang Devan sedang kuliah juga semester tiga tapi dikampus yang berbeda dengan Alya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Nurhikma Arzam
semangat, saran aja ya kak ujung percakapannya jangan lupa pakai tanda titik biar lebih enak di baca☺
2025-08-21
1