Bab 5 : Bermain Taktik

Gelap. Aku memejamkan mata erat-erat. Jantungku masih berpacu kuat diikuti dengan napas yang tersengal-sengal.

"Kau tidak apa-apa, Nona?" Suara seorang pria menelusup pendengaranku.

Kubuka mata ini dengan tempo yang lambat. Seketika sepasang mata tegas dengan bola mata yang pekat langsung menyambutku. Meski hanya matanya yang terlihat, tapi entah mengapa terasa begitu familiar. Pria ini ... ah, beberapa detik yang lalu, tepatnya di momen yang krusial, pria inilah yang mengulurkan tangan kepadaku dan menarik tubuhku keluar dari kereta kuda yang tak terkendali.

Aku segera bangun saat menyadari ada yang salah dengan posisi kami. Pasalnya, saat ini aku terbaring di atas tubuhnya, sementara ia terkapar di hamparan salju.

"Maaf." Aku langsung menyingkir dari atas tubuhnya.

Tanpa berkata apa pun pria itu ikut bangun dan langsung beranjak seolah bersiap untuk pergi.

"Terima kasih!" ucapku pelan sambil memandang punggungnya. Entah kenapa, rasa familiar itu kembali hadir. Mengingat penyerangan yang baru saja terjadi, aku yakin dia bagian dari kelompok yang disebut pemberontak kerajaan. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, aku pun kembali berkata, "Jangan pergi begitu saja! Kelompokmu sudah menyerangku tanpa sebab!"

Dia berhenti melangkah, lalu berbalik ke arahku. "Tapi aku juga sudah menolong Nona. Jadi kita impas," ujarnya lanjut berjalan.

Masih tak ingin melepas kesempatan, aku kembali berkata, "Aku ke sini untuk mencari seseorang. Apa kau bisa membantuku?"

"Maaf, aku tak punya waktu luang untuk membantu orang-orang dari kerajaan Veridia," cetusnya dingin. Dia bahkan terus berjalan tanpa berbalik ke arahku.

"Bright! Aku mencari pria itu!" ucapku cepat. Aku yakin orang seperti mereka tak suka berbasa-basi. Maka dari itu aku langsung mengatakan tujuanku datang ke daerah mereka.

Seketika langkahnya terhenti. Dia memutar badannya dengan perlahan. Aku bisa melihat kerutan kecil muncul di antara alisnya diikuti sebelah mata yang menyipit.

"Ada urusan apa Anda mencarinya?" tanyanya dengan tenang.

Satu detik. Aku malah tergagap. "Aku ... aku ...."

"Dia bukan orang yang mudah ditemui. Sebaiknya Anda pulang saja!" cetusnya.

"Aku ingin ... dia menjadi suamiku!" Kata-kata itu meloncat begitu saja dari mulutku.

Pupil mata pria itu tampak melebar. Ia lantas melangkah pelan ke arahku dan berhenti tepat di depanku. Pada hitungan detik, ia membungkuk, menyejajarkan tinggi badan kami hingga aku bisa melihat kembali sorot matanya yang tegas.

"Apa Anda baik-baik saja? Padahal kepala Anda sama sekali tidak terbentur, tapi kenapa Anda langsung jadi tidak waras seperti ini," ucapnya dengan nada tak menyenangkan. Dia bahkan berdecak dengan kepala yang menggeleng samar. Ternyata terlalu blak-blakan juga kurang baik, aku malah disangka gila.

Baru saja ketika dia hendak memutar tubuhnya, aku langsung meraih tali topeng yang terikat di kepalanya. Sialnya, pergerakan tanganku terbaca olehnya. Dengan gerakan cepat, ia menangkap pergelangan tanganku hingga membuat tubuhku menempel ke tubuhnya.

"Tak hanya kurang waras, ternyata Nona juga cukup agresif," ucapnya tersenyum miring.

"Bagus! Itu artinya kaulah yang bernama Bright!" ucapku optimis. Ya, mata dan punggung yang terasa begitu familiar itu karena terlihat mirip seperti pangeran Julian. Tidak salah lagi, dia pasti kembaran pangeran Julian. Ternyata menemukannya tidak sesulit yang kubayangkan.

Dia terdiam sejenak, sebelum akhirnya tertawa kecil. "Ah, aku terlalu terkejut karena seorang gadis bangsawan yang cantik dan anggun mendadak memintaku menjadi suaminya. Trikmu cukup cerdas untuk membuat seseorang segera mengakui identitasnya."

"Tapi ucapanku tadi benar-benar serius!"

Bukannya merespon lagi, ia justru melepaskan cekalan tangannya di tanganku kemudian kembali beranjak dengan langkah yang cepat.

"Hei, jangan pergi dulu! Kita belum selesai bicara!" Aku mengangkat gaunku seraya mengejarnya.

"Aku tidak punya waktu meladeni omong kosongmu!" Dia melambaikan tangan ke atas tanpa berbalik. Matanya kukuh menatap ke depan. Kakinya melangkah tegas di atas hamparan salju.

"Kau tidak bisa pergi begitu saja!" ucapku sambil menepuk tangan dengan perlahan.

Pada detik itu juga, Theo, Ciro dan Sam muncul dari sisi kiri, kanan, dan depan. Mereka langsung mengarahkan senapan pada pria itu. Terkepung oleh mereka bertiga, ia lantas memutar badannya ke arahku yang berdiri tepat di belakangnya. Aku tersenyum melihatnya membeku sempurna. Tentu saja ini hanya sebuah gertakan.

"Kau ingin mengajakku bermain-main, Nona?"

"Anggap saja seperti itu!"

"Sayangnya, pengawal Nona kalah banyak dari pasukanku!" ucapnya sambil menyeringai.

Tepat saat ia mengatakan itu, kudengar suara tarikan anak panah dari segala arah tempatku berdiri saat ini. Anehnya, aku tak tahu di mana mereka bersembunyi. Ini menunjukkan betapa terlatih orang-orang itu.

"Turunkan senjata kalian! Apa kalian tidak tahu dia calon ratu di negeri ini?!" teriak Theo dengan lantang.

"Calon ratu?" desis Bright, "ah, menarik! Sebagai bentuk hormatku, Bagaimana jika pengawal Anda saja yang lebih dulu menembakku?" ucapnya sambil melepas topengnya dengan perlahan.

Aku terperangah seketika kala wajahnya terpampang utuh di depanku. Matanya, alisnya, hidungnya, bibirnya, hingga garis rahangnya sama persis dengan pangeran Julian. Bahkan postur tubuh mereka pun tak ada bedanya. Mereka benar-benar identik. Yang membedakan hanyalah potongan rambut.

Melihat sesosok pria yang mirip dengan pangeran Julian, Theo, Ciro dan Sam langsung menurunkan senjata mereka. Sudah jelas, pria di hadapan kami saat ini adalah Bright, pangeran yang kelahirannya tak pernah diketahui pihak istana.

Tunggu, dia langsung membuka topengnya tepat saat mengetahui aku seorang calon ratu. Ini artinya, dia mulai menebak apa yang aku harapkan darinya.

"Hentikan semua ini. Mari kita bernegosiasi!" ucapku padanya.

Prince Julian

Bright

Vibes novel ini mungkin bakal sama kek novel never not sama sang jurnalis yang penuh dengan ketegangan. Tapi alurnya gak seberat keduanya kok karena ini lebih ke romance.

Jangan lupa like dan komeng

Terpopuler

Comments

Yσυʅҽҽ🌹

Yσυʅҽҽ🌹

tau aja engkong kita demen yg romantis.
suka sama jalan ceritanya yg to the point
apalagi gaya bahasa mereka menunjukkan betapa insan² berkelas
kita terseret ke dunia mereka. dipaksa mengikuti adegan demi adegan
rasanya ga mau buru-buru menyudahi membaca tiap kata kalimat dan paragraf
terlalu sayang untuk dilewatkan
bahkan pertemuan mereka bikin kita nano nano campur aduk rasanya
engkong beneran bikin adegan mereka ga bakalan terlupakan
serasa liat film YGZI
moga aja yg baca ketularan pinter kek Alone n Bright
matsuya up nya Kong 💖💖💖

2025-08-04

12

Kᵝ⃟ᴸуυℓ∂єρ

Kᵝ⃟ᴸуυℓ∂єρ

Kalau di Never not bingung antara Shohei dan Rai tapi di Sang Jurnalis Pilihan tetap Key Ayano wkwk
Nah kalau disimi kembali bingung antara Julian dengan Bright meski dari awal piliham udah jatuh ke Bright gak menutup kemungkinan Beralih ke Julian lihat pergerakan dan gebrakan mereka nanti.😂

2025-08-04

6

Kᵝ⃟ᴸуυℓ∂єρ

Kᵝ⃟ᴸуυℓ∂єρ

Good
Tunjukkan keahlianmu dalam bernegosiasi bukannya kamu sudah diakui dalam hal ini Nona.
Seorang Alone tidak hanya mampu membuat Seorang Bright mempercayainya namun dengan kecerdasan Nona Alone sepertinya bisa meyakinkan seorang Bright.

Btw ini kenapa dua² nya pake ganteng coba kan aku bingung milihnya 😂

2025-08-04

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!